Showing posts with label Rahasia kecil. Show all posts
Showing posts with label Rahasia kecil. Show all posts

Tuesday, September 21, 2021

Thank You Greys and Popor !

Halo blog. 
Kekenyangan makan kue bulan. Kue yang dimakan hanya sekali dalam setahun. Hahaha!
Anyway, Happy Mooncake Festival !!!.

Jam 9.45 pm baru masuk kamar setelah bekerja 13 jam. Belum bisa tidur, jadinya saya kembali membersihkan sarang laba-laba di e-mail dan blog. Masih ya buka email? Mungkin passion saya adalah bekerja. Wakakaka

Anyway, saya ingin melanjutkan cerita tentang gara-gara Olimpiade Tokyo 2020 cabor badminton kemarin. Saat itu saya benar-benar sedang gundah gulana, sedih, banyak tidur, broken heart¿¿ dan merenung sambil bergumam dalam hati "Why is this happening to me?".

Greysia Polii, saya tidak begitu akrab dengan nama ini, hanya tahu kalau Greys atlet badminton, tetapi saat menjadi Gold Medalist di Tokyo Olympic, saya benar-benar mencari tahu, kok bisa sih orang ini juara?.

Gak perlulah saya paparkan cerita Greysia Polii, sudah bisa dibaca di internet. Dari kisah hidup dia yang saya ambil adalah formula:

Hasil=Niat+Usaha+Doa.

Waktu itu udah diatur sama Tuhan, Tuhan udah nyediain apa yang kita butuhin, asal kita usaha dan berani jemput.  Kalau kata Alm. Glenn Fredly, semua itu sudah diatur dan terjadi pada waktunya.

Apalagi saya nonton vlog Greys yang paling baru, saya jadi termotivasi. Memang ya, ucapan itu adalah bagian dari doa kita. Kadang kita gak sadar, perkataan yang hanya dilontarkan dari mulut kita, itu terjadi. 

Secara tidak sengaja, saya juga keterusan menonton youtube, scrolling instagram, accidentally, Greys bagus banget pertemanannya. Saya bisa banyak mengambil contoh dari Greys untuk soal itu. Dia punya teman dekat gak hanya dari Indonesia. Doski juga punya good relationship dengan atlet-atlet badminton negara lain, terutama dengan atlet Thailand, Sapsiree Taerattanachai (Popor) dan Atlet Korea Selatan, Chang Ye-na. 

Walaupun tinggal di lingkungan banyak banget expats, saya sulit membangun pertemanan dekat dengan mereka, jadi hanha sekedar kerja saja. Atau mungkin saya harus keluar dari ke-INTJ-an ini, tinggalkan kasurmu dan bergaullah, hahaaha. Atau mungkin di sini memang individualis yang tinggi, karena gak jarang sama tetangga sebelah gak tau nama, hanya say hi atau angkat alis aja kalo ketemu. 

Kalau di remind ulang, dulu saya pernah nonton Popor, waktu Asian Games 2018 (sebelum ada yang bergumam "Kok gak nonton yang Indonesia?" Ya karena cuma sempat nonton itu dan memang lagi ada business trip di Jakarta, jadi curi-curi waktu hahaha). Tapi saat itu saya sekedar nonton untuk menghilangkan penat setelah presentasi yang memusingkan kepala. Jadi gak begitu antusias. Waktu itu sempat ngeliat fansnya Popor ini lumayan banyak juga sampe bawa spanduk, untung gak ada bendera Slank di sana. Terlalu maniiiiiis......

Setelah Olimpiade ini, barulah saya menonton seluruh pertandingan Greys dan Popor di youtube, yeap, ALL TOURNAMENT. Repeat again, ALL! Mulai dari mereka "ginuk-ginuk", sampai sekarang.
Mungkin ada yang kelewat juga ya. Tapi saya pastikan menonton semuanya.

Yeap, itu adalah salah satu kegiatan untuk mendistraksi kecemasan, kesedihan saya, jadi saya menonton seluruh pertandingan mereka.  Ditambah masih lockdown sejak 16 Maret 2020. Sangat-sangat membantu.

What a suprise! Badminton Thailand juga sangat bertumbuh. Saya juga kagum dengan Popor, memang kerja keras tidak mengkhianati hasil karena gak ada orang dalam, hahahaha. Just kiddingKeliatan banget dari prestasi-prestasi Popor. Salah satunya menjadi pemain pertama yang menangkan Grand Prix Gold pada 3 cabang badminton, yaitu single, women's double dan mix double. Sulit banget buat fit in di masing-masing cabang tuh. Kemudian cerita saat dia mengalami cedera dan kemudian bangkit dan berprestasi lagi bikin termotivasi.

Ternyata Popor juga sama dengan Greys, dia juga mementingkan pendidikan. Popor telah lulus kuliah 2014 silam. Sepertinya atlet-atlet Thailand rata-rata menyeimbangkan antara pendidikan dan karir olahraga mereka. Salut! Work life balance! Beda banget emang sama saya yang work life integration. Apalagi weekend, siap-siap on call. Hahahaha. It’s okay, because i can’t go anywhere. But, sometimes i need off day, rebahan di kasur adalah surga duniaaaa.

Lalu, Popor memiliki penampilan yang unik, bisa dikatakan trendy. Walaupun dia, ya, bisa dikatakan tomboy, wajah, rambut selalu on point pada setiap kesempatan. Bagus banget bangun personal brandingnya. Patut ditiru.

Last but not least, sampai sekarang saya belum bercerita secara langsung ke orang apa yang saya rasakan, apa yang saya pikirkan, karena memang sepertinya saya belum mampu dan belum sanggup. Saya mungkin bukan tipe orang yang bisa langsung berbicara lisan ke orang-orang, terutama hal-hal terlalu personal.

Mungkin secara tidak langsung mereka berdua menemani saya melewati hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidup. Bahkan saya sekarang juga bermain badminton, selain itu kadang juga diselingi dengan jogging dan golf. Lumayan membantu mengatasi ini semua. 

Saya jadi sadar, setiap orang punya kemampuan menyembuhkan diri, tergantung motivasi dan apa yang membuat mereka menemukan semangatnya lagi.

Thank you so much both of you. You have given many life lessons, how to work hard, how to rise from adversity. 

Hope you doing well at Sudirman Cup, Uber Cup, Indonesia Open, Indonesia Master and more tournaments in the future. Go Fight Win! 

Semoga kalian selalu menjadi terang di tempat yang gelap.
Semoga kalian terus menjadi garam di luar lautan.

See you in PARIS 2024 ! Hahaha
Semoga ya, setelah Tokyo gagal karena pandemi, paris jangan sampai gagal.
Semoga pandemi ini segera menjadi endemik, jadi bisa kemana-mana lagi.
Semoga Yang Punya Hidup bisa mengabulkan doa kita semua. 

Sehat Selalu yaaaaa semuanyaaaa

Share:

Friday, September 3, 2021

Gara-Gara Olimpiade Tokyo 2020

Kali ini ceritanya agak panjang.
Berbicara pandemi COVID-19, berbicara banyak hal. 
Banyak sekali hal-hal yang berbeda hampir 2 tahun belakangan. Banyak yang kehilangan mata pencaharian, banyak yang menahan rindu untuk tidak bertemu orang terkasih mereka, banyak yang kehilangan orang terkasih mereka dan banyak lagi. 

Juga bagi saya. 
Tahun 2020 dan 2021 ini membuat saya compang-camping dari segi mental saya. 2 tahun ini seperti melewati quarter life crisis, kekecewaan, kehilangan datang secara beruntun. Saya sempat bertanya apakah Tuhan sedang menghukum saya atau menguji saya yang tak serajin dulu berdoa dan beribadah kepadaNya. Atau saya terlalu lelah bekerja tiada henti tanpa menghibur diri sendiri karena tinggal di remote area yang sedang lockdown.

Bahkan saya merasa tidak ingin melakukan hal-hal lain. Saya benar-benar dalam keadaan demotivasi dan tidak ada keinginan melakukan apa pun selain kerja, nonton film, tidur atau makan. Rasanya seperti sakit hati, marah, kecewa, sedih. Saya benar-benar kehilangan daya dan energi untuk melakukan sesuatu.

Sejujurnya saya tidak tahu mengapa demikian. Saya hanya percaya, ketika my mom and dad pergi beberapa tahun lalu, saya percaya "Time Will Heal". Tapi kali ini berbeda sekali. Ternyata waktu gak bisa menyembuhkan.

Ditambah dengan keparnoan saya karena COVID-19. Saya benar-benar menjaga jarak dari kehidupan luar. Saya sedikit lelah harus SWAB PCR karena tracing rekan kantor yang kadang dalam 1 minggu bisa 2 kali. Iya, saya masih Work From Office karena memang saya bekerja di remote area, jadi WFH tidak terlalu diperlukan.

Suatu malam, sambil menghadap langit-langit kamar dengan lampu yang sudah dimatikan, saya berpikir 

"Sampai kapan sih begini? Sampai kapan saya harus begini? Sampai kapan harus merasa seperti ini. Apa lagi yang harus saya lakukan,".

Beruntung saya memiliki google dan teman yang menyarankan untuk melakukan meditasi. Pada suatu meditasi, saya disuggest untuk mencoba untuk memaafkan diri sendiri dan orang yang pernah membuat saya sedih, sakit hati, marah atau pun kecewa. Berat banget. Memang belum sepenuhnya, tapi saya merasa sekarang perlahan saya mulai sedikit-sedikit untuk memaafkan.

Ternyata meditasi belum sepenuhnya membuat saya tenang dan senang.

Suatu waktu ketika saya melakukan isoman menunggu SWAB PCR setelah melakukan kontak erat dengan rekan yang positif COVID-19, saya sangat stres. Saya di kamar sendirian, menunggu hari SWAB karena saat itu weekend dan memang petugas SWAB sedang off. Jadi saya harus SWAB di hari Senin. 

Selama 3 hari itu, saya merasa dalam tekanan. Saya bingung apa yang akan saya lakukan. Saya takut imun saya turun. Kemudian, secara tidak sengaja, di Instagram, saya menemukan postingan kalau saat itu sedang berlangsung Olimpiade Tokyo 2020. Tanpa pikir panjang, saya berlangganan Vidio, berharap semua cemas dan kekhawatiran saya, bisa hilang.

Awalnya saya nonton berbagai pertandingan, saya bingung, karena saya tidak mengerti. Akhirnya, saya hanya menonton basket dan badminton. Namun, karena saya terbiasa nonton NBA, jadi terasa kurang seru. Bukan sombong, tapi itulah yang saya rasakan.

Saya akhirnya fokus menonton badminton saja. tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga negara lainnya, seperti Thailand, China dan Korea. Ternyata seru dan memang diluar dugaan. Pertandingan-pertandingan mulai menghibur saya. Seolah-olah mendistraksi perasaan cemas kala itu. Saya lupa apa yang saya rasakan saat itu dan hanya fokus pada pertandingan.

Hari SWAB PCR pun datang dan bertepatan dengan Final Women's Double. Saya pergi swab pagi-pagi supaya bisa nonton Greysia Polii dan Apriyani Rahayu. Saya kira Greysia masih bermain dengan Nitya Krishinda Maheswari. Sudah ama sekali saya tidak update dengan yang namanya badminton. Hahaha

Walaupun tidak segreget pertandingan-pertandingan sebelumnya. Tetapi saat Indonesia menang, saya menjadi terharu karena sudah lama tidak menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan terharu, mungkin terakhir 2009 lalu, my last tournament sebelum fokus UN dan kuliah.

Ternyata dengan hanya menonton pertandingan olahraga, kita bisa melupakan hal-hal yang kurang berkenan dalam hati dan pikiran kita.

To be Continue



Share:

Tuesday, August 24, 2021

When God Takes You Back

Waktu akan terasa sangat pelan. Jantung selalu berdegup kencang tiap ponsel berdering

Mungkin itu yang dirasakan keluarga pasien COVID-19 yang berada di rumah sakit. Belakangan ini banyak sekali berita-berita duka yang berseliweran di gawai saya. Mereka berpulang karena COVID-19. Tak sedikit yang kehilangan orang-orang terkasih mereka, bahkan ada yang sekaligus. Yang paling bikin hati sedih adalah melihat seorang ibu kehilangan anak laki-lakinya, bukan karena COVID-19, tetapi efek dari long itu. Membayangkan saja saya sangat sedih. 

Seorang teman April lalu, kehilangan ayahnya, kemudian Juli ini kehilangan ibu mertua. Biasanya ia menulis obituari ketika orang-orang sekitar dia mangkat. Namun, kali ini sulit baginya untuk menulis. Tidak mudah. Juga bagi saya, mengingat orang-orang terkasih yang sudah tidak berada di dekat saya, rasanya sangat berat. Walaupun dalam bentuk postingan di Instagram, kadang membicarakannya membuat luka bathin itu muncul kembali. Saya bahkan memilih untuk tidak membicarakannya atau melihat fotonya karena itu cukup berat untuk dibicarakan, karena...yah... belum sanggup. Kehilangan itu ...menyesakkan.

Mungkin butuh waktu untuk siap bercerita banyak soal kehilangan orang tercinta, yang lain hanya sebatas menjawab pertanyaan lalu mengalihkan pembicaraan lainnya karena itu cukup berat untuk dibicarakan. Atau kita memilih untuk terlihat biasa saja sambil tidak memikirkan hal yang pahit itu. Kadang kita meminta teman-teman kita yang lain untuk bersikap biasa saja saat kita merasakan kehilangan.

Banyak dari kita dulu mikir bahwa kita gak sanggup kehilangan orang tua, anggota keluarga kita, teman, pasangan, pacar. Kita gak bisa bayangin. Tapi waktu itu terjadi, kita masih bisa bernapas dan mencoba untuk memproses kenyataan yang kita alami, yaitu kehilangan.  

Saya ingat kalimat ini, tapi saya lupa siapa yang berbicara

"Ada beberapa kesedihan yang sudah membuat kita tidak lagi sesak jika sudah mengalaminya berkali-kali. Tetapi, tidak dengan kematian. Tidak sama sekali"

Kita hanya bisa mengingat moment-moment manis bersama mereka. Saat hidup adalah kecupan di pipi dan gelora di dada. Tak lebih dan tak kurang. Segalanya terasa pas. Moment-moment seperti ini tak bisa dipotret. Terlalu dangkal pula bila diumbar. Ini murni punya kita, bukan siapa pun di luar sana.

Memang, kehilangan orang yang kita sayang bukan hal yang mudah. Saat rindu tak bisa lagi diobati dengan sebaris pesan dan sepenggal suara ditelpon karena sudah terpisah alam. It’s hard to forget someone who gave us so much remember. That memory will always hurt.

Seperti Sheila on 7 bilang:

Sekeras apapun menangis, takkan mengubah yang telah terjadi. Kita harus melepaskan
Semua tempat jalan waktu bersama, setiap kata yang telah diucapkan, bagai warisan yang telah disiapkan, kita harus menjaganya

Selamat jalan

Sampai jumpa 

Sending love and prayers to my beloved ones. I will always miss you,my dear. My prayers always for you.



Share:

Monday, May 10, 2021

Kenapa Kita Harus Jadi Social Media Ambassador di Perusahaan?

Dua tahun belakang, saya mendapatkan tantangan baru bergabung dengan tim Digital Media APRIL, tempat saya bekerja. Namun, pekerjaan sebelumnya sebagai External Communication tetap saya jalankan secara bersamaan.

Bergabung di tim digital media merupakan hal yang menarik untuk di kulik. Saya yang dulu tergabung dalam Social Media Ambassador sekarang menjadi bagian dari tim yang mengelola social media perusahaan. Kok ya perlu perusahaan menggunakan karyawan sebagai Ambassador? Kan bisa membayar para influencer untuk mengkampanyekan perusahaan? Kok karyawan mau sih jadi Ambassador?

Awalnya saya bahkan tidak mengetahui untuk apa sih tugas sebagai Ambassador perusahaan. Posting di social media mengenai perusahaan di akun pribadi apa tidak kehilangan followers? Mengkampanyekan program perusahaan di akun pribadi karyawan apakah mereka efektif untuk membantu branding perusahaan?

Dari yang saya lihat, ternyata menjadikan karyawan sebagai Ambassador perusahaan tidaklah sulit. Saat ini orang-orang menggunakan smartphone, hampir sebagian dari kita menggunakan social media. Social media adalah bagian yang tak terpisahkan oleh kehidupan kita saat ini. Sebut saja Facebook, Twitter, Instagram, TikTok bisa dibilang banyak digunakan masyarakat. Orang-orang akan tertarik dengan apa yang orang lain posting, kehidupan pribadi, pencapaian, dan hal-hal yang menyedihan.

Nah balik lagi mengapa perusahaan memilih karyawan sebagai Social Media Ambassador mereka?  

Selain menaikkan personal branding mereka, para netizen yang budiman ternyata trust people more than they trust companies. It’s that simple. Karyawan menjadi media paling efektif sebagai channel komunikasi perusahaan kepada pihak eksternal. Juga, karyawan akan dengan ikhlas untuk mengkampanyekan pesan-pesan, nilai-nilai yang dianut oleh perusahaan, karena mereka adalah bagian dari penting dari perusahaan. Selama 8 jam lebih, mereka menghabiskan waktu untuk belajar, berkarir dan mencari nafkah di perusahaan tersebut.

Social Media Ambassador APRIL bersama Iman Usman

Karyawan juga dapat meningkatkan company branding perusahaan dengan membantu meng-amplify postingan terkait perusahaan di akun pribadi mereka sehingga membuat relasi antara perusahaan, karyawan dan orang eksternal yang melihat.

Dengan karyawan menjadi Social Media Ambassador, reputasi perusahaan dapat menjadi lebih baik di mata para masyarakat. Masyarakat juga mengetahui apa saja promo, program dan kehidupan di perusahaan tersebut. Dan itu mereka berikan secara sukarela tanpa ragu-ragu.

Ternyata, saya gak kehilangan followers, tapi malah bertambah !

Yuk jadi Social Media Ambassador perusahaan.

 

Share:

Tuesday, April 20, 2021

Jadi Orang Baik

Kita adalah orang baik.

Sebuah paradox.

Terkadang, orang yang merasa baik adalah orang yang paling sering menyakiti orang lain. Tapi orang yang nyadar, dia bisa berlaku jahat ke orang lain, dia akan berbuat baik kepada orang.

Kalimat yang menyatakan bahwa kita harus berbuat baik kepada orang, karena nantinya orang tersebut akan membalas berbuat baik kepada kita. Terdengar semacam take and give.

Kalau di pikir-pikir, sebagai manusia, harusnya kita berbuat baik kepada orang bukan karena ingin diperlakukan baik, tetapi kita melakukan perbuatan baik itu karena itulah yang benar.

Tapi...

Kita tetap saja sebagai manusia ada aja yang gak sukanya sama orang. Kadang mereka membuat kita sedih, kadang mereka membuat kita kecewa, kadang mereka membuat kita marah.

Kalau dipikir-pikir ya, itu adalah yang diluar ekspektasi kita. Kita terlalu berharap orang lain itu berperilaku sesuai dengan yang kita harapkan. Tentu gak bisa dong.



Share:

Saturday, April 3, 2021

Self-Healing dan Kurangi Perasaan Negatif

Sedikit ringan.

Itulah yang saya rasakan beberapa waktu belakangan. Semenjak saya memilih jeda dari rutinitas kerja yang setahun tiada henti, saya akhirnya 'melarikan' diri sejenak. Saat itu saya benar-benar dalam keadaan demotivasi dan tidak ada keinginan melakukan apa pun selain kerja, nonton film, tidur atau makan. Rasanya seperti sakit hati, marah, kecewa, sedih. Mungkin kebiasaan ini dianggap malas, tetapi pada saat itu saya benar-benar kehilangan daya dan energi untuk melakukan sesuatu. Andai saja energi itu bisa di refill seperti teh ocha di Sushi Tei, mungkin saya bisa setiap hari me-refill nya, tapi sayangnya tidak.

Waktu itu saya hanya berkata dalam hati "Time will heal". Tapi faktanya adalah waktu gak bisa menyembuhkan. 

Pada saat melarikan diri itu, saya benar-benar berpikir, kok bisa? Kenapa hal ini tidak bisa pindah dari diri saya? Kenapa saya tidak bisa pindah? Lalu banyak pertanyaan muncul dalam kepala yang bikin pusing mencari jawabannya, sampai ngerasa kok hidup begini sih? Apa yang salah sih? Saya sadar saat itu saya benar-benar dalam kondisi tidak baik-baik saja.

Seorang berkata :

"Mungkin harus maafin orang-orang yang berada di masa lalu, supaya hidup ke depan terasa ringan, Atau memaafkan diri sendiri dan jangan terlalu keras dengan diri sendiri,"

Kalimat itu sontak membuat saya berpikir. Apa benar saya belum memaafkan orang-orang yang pernah menyinggung saya? Bahkan saya benar-benar tidak sadar itu terjadi.

Sambil memandang ke luar jendela, saya begitu banyak berpikir tentang apa yang saya rasakan. Flashback terhadap hal-hal yang membuat saya sedih. Ternyata, selama ini saya membuang energi terhadap orang-orang yang dulu pernah mungkin secara tidak sengaja menyakiti, entah saya yang terlalu take something personally. Saya sadar kalau hal itu yang membuat saya stress, mungkin aja pikiran seperti itu membuat kolesterol saya naik terus. Haahaha

Mikir keras sampai sembelit

Singkat cerita kemudian saya memilih untuk mengikuti meditasi, melatih pernapasan, menulis apa yang saya rasakan, ya semacam self healing gitu. Saya melakukan meditasi setiap hari, bangun tidur dan sebelum tidur. Kadang-kadang suka skip juga sih. Tetapi saat ini mulai terasa berdamai, walaupun belum 100 persen. Saya pun tidak ingin buru-buru dengan proses ini karena ini adalah salah satu tahap menuju self love

Dari sana, dampak lainnya, saya pun ingin menghilangkan perasaan-perasaan negatif dalam diri saya. Mulai dari belajar melihat sisi yang positif dari berbagai hal, lebih banyak bersyukur sama yang udah dipunya dan mulai berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Mengurangi mengeluh terhadap sesuatu, kalau pun secara tidak sengaja keluar dari mulut saya, saya langsung mencoba"Udah-udah gak usah, stop, stop,". Saya cuma mau kurang-kurangin mengeluh.

Dari sana, perlahan saya mulai paham bahaya mengeluh. Apalagi ngeluh ke orang lain. Karena bisa aja mereka yang tadinya bersemangat, bisa banget ter-influence untuk jadi malas. Saya sadar betapa bahayanya orang-orang yang mentalnya ngeluh mulu.

Sekarang?

Sampai sekarang saya mencobanya, tetapi efeknya mulai terasa. Buktinya, saya mulai membuka blog dan menulis tulisan yang rada serius. Dibalik semua itu, saya mulai paham, bukan waktu yang menjadi obat bagi luka kita, tetapi kemampuan diri kita untuk menyembuhkanlah yang menjadi obat yang paling penting dalam menyembuhkan kesakitan kita.

Yuk bisa yuk

Share:

Thursday, December 10, 2020

It's Not About Me

Beberapa hari yang lalu, saya menonton TED x dimana sang speaker, seorang wasit bernama Frederik Imbo membahas bagaimana menjadi orang yang tidak baper alias bawa perasaan. Saya tertarik dengan pembahasan tersebut supaya saya bisa menjadi orang yang don't take things personally. Apapun.

Sulit?

Tentu saja. 

Dalam video tersebut, ia mengatakan bahwa  kita harus santai saja. Jangan terlalu anggap serius perkataan orang, just relax. Mengapa kita harus mengambil hati dari perkataan orang lain kepada kita, mungkin sesuatu yang kurang enak, tapi kenapa kita harus jadi baper?

Jika saya merasa sakit hati, tersinggung, merasa dikhianati oleh orang lain, itu hal yang membuat jiwa kita lelah. Kita bisa overthinking di setiap perkataan orang. Dan itu, menguras energi. Energi itu yang harusnya kita gunakan untuk hal yang lebih penting. 

Bukankah itu jauh lebih mudah?

Strategi yang harus diterapkan adalah dengan berpikir bahwa sesuatu tersebut bukan tentang diri kita. It's not about us, it's not about me. Perkataan orang lain terhadap kita, itu bukan tentang kita. Katakan dalam hati, ini bukan tentang saya. Mungkin mereka saja yang kurang berpikir atau tidak cukup bisa untuk berpikir jernih sebelum berbicara.

Orang mungkin akan terus mengejek, menyindir, meremehkan, mengkritik, mengabaikan kita. Mereka dapat menghancurkan dengan kata-kata. Tapi ingat, apapun yang mereka lakukan atau katakan, Saya harus menjaga value sebagai manusia. 

Belajar itu sulit, siapa suruh belajar?

Share:

Monday, November 30, 2020

Be A Minimalist

Minimalism : A Documentary About The Important Things.

Film dokumenter yang menceritakan tentang gaya hidup minimalis. Film yang dirilis pada tahun 2015 silam ini memaparkan dasar-dasar dan manfaat dari gaya hidup minimalis. Film ini menjelaskan bawa gaya hidup minimalis adalah mengkomsumsi hal-hal yang wajib dan bernilai dalam hidup kita, membeli barang-barang yang benar-benar kita butuhkan. Intinya, kita hanya mengkomsumsi hal-hal yang bernilai dalam kehidupan kita. 


Film yang dirilis tahun 2015 ini sudah saya tonton beberapa kali karena saya tertarik untuk menerapkan hidup minimalis tersebut. Akhirnya, hampir 1,5 tahun saya menerapkan hidup minimalis. Sulit? Tentu saja.

Dulu sekali, saya banyak membeli barang-barang yang tidak saya butuhkan. Tapi, sekarang mulai berangsur-angsur meninggalkan kebiasaan tersebut. Bahkan, sudah 1 tahun lebih saya tidak membeli pakaian. Karena saya mulai berpikir untuk memakai barang yang masih bagus dan tidak menumpuk barang di kamar. Saya juga sudah membagikan baju-baju saya yang tidak terpakai kepada orang-orang. Jadi sekarang, saya hanya memakai baju yang memang saya butuh dan saya pakai sehari-hari.

Saat akan membeli barang, saya sekarang mikirnya berbulan-bulan. Misalnya sepeda. Kemarin semangat menggebu-gebu untuk membeli sedang berapi-api. Tapi, saya berpikir kembali "Kepake gak ini barang? nanti jangan-jangan jadi pajangan aja,". Akhirnya saya pun tidak jadi membelinya. Karena menurut saya nantinya barang itu tidak berfungsi dengan baik untuk saya. Kalau mau olahraga pun biasanya saya jalan kaki sore-sore di kompleks atau bermain basket.

Dalam berbelanja, sepertinya rasa menggebu-gebu ingin membeli itu ada pada saat kita sedang hunting barangnya, tapi saat barangnya sampai di depan mata kita malah jadi biasa aja, Bener gak sih?

Mungkin dengan gaya hidup minimalis kita bisa menemukan kebahagiaan-kebahagiaan kecil dalam hidup. 
Share:

Tuesday, November 10, 2020

Untuk Kamu yang Gagal...

Untuk mereka yang gagal.
Sudah berapa kali kamu gagal dalam mencapai hal yang kamu inginkan?
Sudah berapa banyak waktu yang kamu korbankan untuk hal yang kamu inginkan?
Sudah berapa banyak cara yang kamu lakukan?
Sudah berapa banyak doa yang kamu pinta ke Tuhan?

Tapi,
Usaha kalian masih gagal.

Berapa kali kamu merasa dunia ini berhenti?
Berapa kali kamu merasa capek berusaha?

Orang lain selalu bilang,
"Semangat"
"Mungkin bukan rezeki"
"Ada takdir Tuhan yang lebih baik"
"Mungkin belum berjodoh"
Kalimat dari orang lain yang memberikan kita dorongan untuk bangkit lagi yang terkadang tak berarti untuk kalian yang sudah berkali-kali berniat, berusaha dan berdoa. Namun, tetap gagal.

Orang lain :
"Bersyukur udah dikasih semangat daripada tidak dikasih"

Kadang perasaan ingin menyerah mungkin saja muncul. Yap benar. Hidup memang gak adil dan penuh dengan kegagalan. Ada hal-hal yang memang nggak tercipta buat kamu. Sakit sih, apalagi kalau sudah berjuang mati-matian tapi, ok nggak hoki sih. 



Kalo gagal, ya sedih. Sekecil apapun rasanya pasti ada sedihnya, kecewanya. Rasakan dulu… it's okay. IT IS OKAY. Jangan toxic positivity.

"Positive thinking"

Pasti ada yang muak dengan kalimat ini. Ya benar, berpikir saja tidak cukup. Tidak ada sejarahnya masalah rumit tiba-tiba selesai hanya dengan kekuatan pikiran.

Satu-satunya hal yang bisa menyelesaikan masalah adalah tindakan.

Kalau diingat-ingat, bertindaklah seperti Thomas Alva Edison, Tesla, Alexander Graham Bell, Galileo. Kalau mereka gak penah gagal, kita gak akan merasakan kenikmatan duniawi ini.

Untuk kalian yang sedang gagal dan bingung di persimpangan jalan, sedihnya hari ini aja di saat gagal, keesokan harinya harus semangat lagi. 

Share:

Monday, October 19, 2020

Sudah by Ardhito Pramono

2021 gak lebih dari 2,5 bulan lagi.
2020 gak kemana-mana, gak pulang. Ya sudah, masih bersyukur masih bisa menghirup oksigen.

2020 adalah tahun yang luar biasa diangkat ke udara kemudian dijatuhkan ke bumi. Ya bisa dibilang sedih, perpisahan demi "grow up". Setelah itu ya seperti gak ada pegangan. Ditambah perasaan abai membunuh perlahan.

Sampai disuatu titik, otak bilang
"Penting untuk diingat, mutusin berhenti bukanlah hal yang mudah. Terlebih dunia ini nuntut kita untuk terus berlari, berhenti mungkin keputusan yang sulit. Sedangkan untuk tahu kapan harus berhenti, gak semua orang punya kemampuan untuk tahu ini. Yeap, pada suatu titik kita kudu paham kalau that is not belong to me. Mungkin sulit dilakuin, mungkin kultur kita yang nuntut kita terus berusaha. We cannot have everything in life".

Jahat banget ini pikiran sendiri, sampe mikir gitu. Sampe bener-bener bangun, kerja, pulang. Bener-bener kosong aja.

Di tengah ketidakjelasan itu, saya menghibur dengan bermain piano portable yang saya beli online. Ya memang, selama pandemi salah satu menghibur diri dengan menjadi musisi kamar kw 100. Tidak sengaja menemukan lagu "SUDAH" punya Ardhito Pramono. Mendengarkan lagu itu di waktu yang tepat banget. Hati sedang gundah dan sedang merasa nothing

Lagu "SUDAH" ini bener-bener ngajarin untuk ikhlas aja atas apapun yang terjadi diluar rencana kita ditahun ini. 

“Ada lebih banyak dalam diri kita daripada yang kita tahu jika kita bisa dibuat untuk melihatnya. Mungkin, selama sisa hidup kita, kita tidak mau menerima kurang"

Semoga persimpangan ini nantinya akan jelas dan terang. Amiin
Share:

Friday, September 11, 2020

Work Life Integration

Bulan Maret 2020, sejarah untuk Work From Home di mulai. Kita mulai menyadari bahwa ada realitas yang berubah, yaitu ternyata keberadaan di kantor tidak terlalu penting. Kita tidak sungkan untuk menonton Netflix atau bermain game saat bekerja karena bekerja dari rumah. Mungkin hidup setelah COVID-19 tidak akan pernah sama.

Selama pandemic kita bekerja melalui aplikasi zoom call atau sejenisnya yang terkadang ada gangguan-gangguan kecil seperti ada suara motor, anak menangis atau anak muncul di depan layar zoom. Rekan kerja atau atasan kita tidak akan menilai kita tidak professional, tetapi hal tersebut biasa dan bisa terjadi bagi siapa saja yang bekerja di rumah. 

Sekarang kita mulai terbiasa bekerja di tempat umum, di rumah teman, di kosan teman dan dimanapun yang kita mau. Tidak perlu kita harus izin atau harus menunggu jam pulang kantor untuk bertemu keluarga atau teman kepada atasan kita, asalkan pekerjaan kita selesai. Work Life Balance mungkin bergeser menjadi work-life-integration. Ya, antara kehidupan dan pekerjaan saling terintegrasi.


Tapi...
Saya berpikir apakah sebenarnya sekarang perbedaan waktu antara hidup atau bekerja menjadi samar? Atau jam kerja semakin lama semakin hilang?

Semua ini hanya bayangan saya saja. Karena saya belum WFH. Hehehehehe
Share:

Friday, August 21, 2020

Lakukan Ini Setiap Hari Bersama Pacar

Kata cinta mungkin muncul di benak saat ini. Kegembiraan, harapan, kepercayaan dan keamanan. Terkadang kesedihan dan kekecewaan juga muncul diantara itu. Mungkin tidak ada kamus yang bisa membuat kita terhubung daripada kata cinta.

Kita pun gak pernah diajarin bagaimana cara mencintai. Membangun persahabatan, pacaran, menikah, punya anak. Dengan harapan kita semua tahu bagaimana mencintai. Tapi, pada kenyataannya kita sering menyakiti dan gak menghormati orang yang kita cintai, seperti menyalahkan teman yang menghabiskan waktu kita, membaca pesan Whatsapp pacar atau mempermalukan seseorang di depan umum. Mungkin kita berada hubungan yang sehat atau gak sehat. Ya, benar, itu merupakan bagian dari menjadi manusia.

Hampir semua orang memulai suatu hubungan dengan perasaan yang menyenangkan dan menggembirakan. Kasih sayang dan emosi. Biasanya setiap hubungan yang baru membuat kita sering menghabiskan waktu bersama, mudah melewatkan banyak hal. Diri merasa sangat beruntung, seperti ketimpa duit Rp 1 M. Mengucapkan kata I love you lebih cepat, sering chattingan, sering telponan. Bahkan kita gak sabar ketika dia merespon dengan lambat.

Apakah kita merasa terkekang? Apakah kamu merasa hidupmu jauh dari keluarga, teman, atau sahabatmu karena hubunganmu dengan pacar? Berarti kamu Bucin.

Mungkin dari semua ini kita belajar bahwa bukanlah bagaimana suatu hubungan dimulai, melainkan bagaimana ia berkembang. Awal hubungan baru, please perhatikan perasaan kita. Apakah kita terlalu cepat suka, terlalu cepat mencintai? Apakah kita memiliki ruang untuk bernapas? 

Pada suatu masa, kita pernah cemburu. Tapi, ada yang kadar cemburuannya ektrim. Pacar kita menjadi lebih penuntut, harus mengabari kita dengan siapa sepanjang waktu, mengikuti kita kemana saja, offline maupun online. Posesif dan gak percayaan !  Kamu dituduh menggoda orang lain, selingkuh dan menolak penjelasan kita ketika kita memberi tahu mereka kalau mereka gak perlu khawatir. Harusnya gak gini sih.

Dalam hubungan yang tidak sehat, kata-kata digunakan sebagai senjata. Obrolan yang dulunya menyenangkan, ringan, berubah menjadi kejam dan memalukan. Pertengkaran yang penuh air mata dan bikin frustasi, kata-kata makian dan menyakitkan setelah itu diikuti permintaan maaf dan janji bahwa itu tidak terulang lagi. Pada titik ini kadang kita seperti berada di roller coaster sehingga kita tidak menyadari betapa gak sehat dan berbahayanya hubungan itu.

Kalau teman saya bilang “Semua itu bisa diubah, asal keduanya mau berubah”. Caranya dengan berkomunikasi dengan baik, terbuka, saling menghormati, sabar dan itu bisa kita lakukan setiap hari.
 

Share:

Sunday, July 12, 2020

Half A Year in 2020

Udah bulan Juli 2020 aja.
Gila ya. Udah setengah tahun berlalu nih kehidupan di tahun 2020. 
Ngapain aja di 2020?
Ya, tetap menjadi budak korporat dengan gaji Alhamdulillah pas-pasan, pas-pas bisa makan, pas-pas bisa beli skin care murah, pas-pasan bisa beli tiket Air Asia ke Malaysia, pas-pas bisa ikut ibadah qurban setiap tahun. Alhamdulillah. Konon, kata Ustad, orang yang sering bersyukur InsyaAllah rezekinya akan bertambah, Amiin.

Terus ngapain aja di tahun 2020?
Ya banyak. Some I can't say. Ya menikmati kelas online. Selama Karantina setelah dari China kemarin, saya ikut kursus The Fundamental of Digital Marketing dari Google, Alhamdulillah sudah lulus dan dapat sertifikatnya. Ini kursus gratis. Rekan-rekan terkasih bisa coba di Google Digital Garage.


Selain itu, saya juga ikutan kelas-kelas online seperti Politik dan Sosial, sebagai bentuk kerinduan saya dengan kuliah dan membahas teori-teori berat. 

Jujur, saya rindu kuliah, rindu belajar dan diskusi dengan orang yang berkecimpung di dunia akademis. Saya merasa ilmu sosial itu berkembang, apalagi sekarang, banyak yang bisa dikulik seiring berkembangnya zaman. 

Saya punya niat dan keinginan kuliah master yang besar, bukan karena ikut-ikutan teman-teman saya yang kuliah S2, tapi jujur, saya tidak ingin jadi pikun. Jadi, sekarang saya berusaha untuk terus belajar darimana saja. Kemarin terakhir saya ikutan kelas online Brand & Marketing. Sebagai public relation dan punya jobdesk media konvensional dan digital, harus mengerti yang mana Brand dan Marketing serta tata caranya. Maklum, saya lulusan sosiologi dan nyemplung di dunia PR sedikit gamang dengan istilah-istilah komunikasi yang berseliweran dikepala saya seperti nyamuk magrib.

Sejak tahun lalu, saya pun mulai rajin belajar bahasa Inggris bersama mentor bahasa Inggris saya, Austin, tapi karena ia menolak menjadi budak korporat, dia pun memilih resign. Sekarang saya masih mencoba belajar dari internet, mendengarkan Ted, nonton Late-late Show With James Corden. Yap, susaaaah sekali untuk belajar bahasa Inggris. Harusnya saya les private bahasa Inggris ya dulu, bukan les matematika hahahaha.

Saya harus bisa dan pasti bisa.

Beberapa kampus idaman saya ya UI dan ITB, tapi kalau dikasih lebih sama Tuhan, saya mau kuliah di Nottingham di Inggris, Adelaide di Australia, dan NTU di Singapore. 3 itu aja deh, udah cukup.

Jadi? Kamu hanya pengen kuliah aja?
Tentu saja tidak. Saya pun ingin berkarir lebih baik di tempat yang baik pula. Ingin punya banyak pengalaman dan menjadi ahli di bidang public relation, baik secara teori dan praktiknya.  Saya pun ingin jadi leader, bukan bos suatu saat nanti. 

Waduh, seperti wawancara kerja dan beasiswa. Hahaha soalnya kebanyakan wawancara, tapi belum ada offering yang cocok *eiiiits hahaha canda.

Cukup deh nyampahnya, udah mahrib.



Share:

Thursday, April 16, 2020

Kurangi Beban Petugas Medis Lewat Misi Kemanusiaan

Sore itu, Rabu, tanggal 8 April 2020 telepon saya berdering. Ternyata Pak Agung Laksamana, Corporate Affairs Director APRIL. Beliau menelpon untuk menawari saya sebuah misi kemanusiaan, menjemput Alat Pelindung Diri (APD) langsung ke Shanghai, Tiongkok bersama tim Tanoto Foundation dan RGE, bang Fembiarta dan bang Yosea. Tanoto Foundation bukan nama baru ditelinga saya, saat kuliah dulu, saya disupport oleh yayasan ini hingga lulus. Saya pun tanpa pikir panjang, langsung menyanggupi untuk berangkat pada esok hari, Kamis 9 APRIL 2020 ke Jakarta. Saat hampir semua orang ketakutan, menarik diri, dan menghindari kemungkinan terpapar virus Covid-19. Saya enggan menyerah dari penyakit itu, yang bisa jadi diturunkan Tuhan untuk menguji nilai-nilai kemanusiaan kita.

Dari kiri ke kanan : Bang Yosea, Bang Fembiarta dan saya saat sebelum kebrangkatan di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Senin (13/04/20)

Saat itu saya berada di Pangkalan Kerinci, operasional PT RAPP tempat saya bekerja dan belajar empat tahun belakangan. Lalu, saya mempersiapkan kebutuhan pribadi untuk dibawa pada misi ini. Tidak terlalu banyak. Saya langsung mengabari keluarga, sempat ada kekhawatiran. Tapi saya berusaha meyakinkan bahwa ini penting dan saya akan selalu waspada saat perjalanan nanti. Mereka pun mendukung misi saya. Kakak saya berkata "Semoga ini menjadi amal jariyah kamu".

Sampai di Jakarta, kami diberikan semangat, motivasi dan keyakinan untuk misi kemanusiaan ini, salah satunya oleh Pak Anderson Tanoto, Direktur RGE. Hal itu yang menambah keyakinan saya dan tim untuk menjemput APD yang dibutuhkan oleh pahlawan kesehatan kita saat ini.

Saat saya posting perjalanan ini di media sosial, saya mendapatkan banyak dukungan yang luar biasa dari teman-teman. Hal itu menambah semangat dan energi saya untuk melakukan misi kemanusiaan ini.

Senin, 13 April 2020 dinihari, kami terbang dengan pesawat Garuda Indonesia Boeing 777 – 300 ER yang dicarter oleh Tanoto Foundation. Kami juga terbang bersama 8 relawan dari Garuda Indonesia, 4 pilot, dan sekitar 4 pramugara dari Bandara Internasional Soekarno Hatta. Yap, saya adalah satu-satunya perempuan dalam misi kemanusiaan ini. Bukti bahwa, perempuan juga bisa ikut dalam misi kemanusiaan seperti ini.

Sesaat sebelum take off menuju Shanghai, Tiongkok

Perjalanan sekitar enam jam ditempuh. Sekitar pukul 6 pagi, kami mendarat di Bandara Internasional Pudong, Shanghai, Tiongkok. Kemudian kami semua langsung memakai pakaian APD lengkap guna untuk keselamatan diri. Mulai dari baju APD, sarung tangan, masker dan kacamata pelindung. 

Tim relawan mulai memasukkan bantuan total bantuan seberat 30 ton ke dalam pesawat satu per satu. Untuk diketahui, tim relawan dari Garuda Indonesia adalah karyawan maskapai tersebut yang rela menyisihkan tenaga dan waktu mereka untuk bantuan APD ini. Mereka mulai mengisi barang bantuan mulai dari kabin hingga kursi penumpang. Saya menyadari, menggunakan APD saat bekerja seperti itu adalah tantangan yang cukup sulit. Selain panas, mereka sesekali meminta kepada saya apakah masih ada sarung tangan karet, karena punya mereka sudah robek. Saat itu terbayang oleh saya jika para petugas medis ini pasti sangat kesulitan memakainya. Salut dengan mereka.

Tim Relawan tengah mengangkut bantuan APD di Bandara Pudong, Shanghai, Tiongkok
Tim relawan mulai menyusun satu per satu bantuan APD pada cabin dan bangku-bangku pesawat
Bantuan selesai diletakaan di posisinya. Kami siap menuju Jakarta, Indonesia.

Tak sampai empat jam, barang bantuan selesai disusun di dalam pesawat. Mereka menggunakan jaring agar bantuan APD ini tidak bergerak dan tetap berada pada posisinya serta tidak rusak. Setelah itu, kami pun menanggalkan pakaian APD ini dan mengumpulkannya ke dalam plastik untuk dibuang. Tim relawan totalitas dalam bekerja, termasuk Crew Garuda Indonesia, mereka juga total dalam memimpin penerbangan ini dan memastikan tim kami dan semua relawan mendapatkan pelayanan yang layak selama penerbangan. Semoga terus diberikan kesehatan dan keberkahan.

Tim relawan kelelahan usai mengangkut bantuan APD

Perjalanan ke Jakarta pun langsung dimulai. Di tengah perjalanan, para tim relawan terlihat sangat lelah. Bagaimana tidak, mereka kurang tidur, kemudian langsung mengangkut bantuan APD seberat 30 ton yang terdiri dari  1 juta masker, 1 juta sarung tangan, 100ribu alat pelindung diri, dan 3 ribu kacamata pelindung. Sungguh pekerjaan yang tidak mudah.


Dukungan sang Captain Pilot pada penerbangan misi kemanusiaan untuk para petugas media kita.

Mendarat kembali di Indonesia sekitar pukul 16.30 WIB. Seusai mendarat, kami pun melakukan berbagai tes kesehatan, termasuk test cepat atau rapid test COVID-19 melalui pengambilan darah. Kami bersyukur semuanya negatif !.

Para manajemen pun telah menunggu untuk menjemput kami setelah memastikan barang bantuan sudah dikelola dengan baik dan disalurkan ke BNPB yang nantikan didistribusikan ke petugas medis kita.

Keesokan harinya, saya kembali ke Pangkalan Kerinci, tidak lupa saya karantina mandiri selama 14 hari. Saat perjalanan pulang, saya berpikir:

Kalau saja saya memilih untuk rebahan sehari, saya tidak akan membuat perubahan akan stok APD yang jumlahnya tinggal tak seberapa.
Apa lagi yang saya punya, sebagai manusia kalau bukan rasa kemanusiaan, kepedulian, dan membantu sesama.
Pengalaman yang sangat luar biasa, walau terselip sedikit getirnya, tapi support dukungan tim dan teman-teman terkasih semua, jadi energi yang luar biasa.
Semoga Tuhan mampukan kita melewati ini semua.

Stay Safe teman-teman terkasihku ! Yuk apresiasi mereka dengan menjalankan pola hidup sehat !

Berikut video singkat perjalanan saya 


Share:

Friday, July 26, 2019

PUASA SOCIAL MEDIA

Perbincangan antara dua manusia :

👧 : Aku kok ngerasa susah fokus, susah tidur, sering cemas, ya?
👦 : Lha? kok bisa? Emang lagi banyak kerjaan?
👧 : Engga sibuk-sibuk amat kok. Kenapa ya? apa harus ke rumah sakit? tapi aku gak sakit apa-apa.
👦 : hhhmmm. Atau keseringan lembur kali. Coba kurangi lembur. Gak ada orang kaya karena lembur.
👧 : Ya gimana, namanya juga kerja. 
👦 : Belakangan aku sering lihat socmed kamu update terus. Kenapa? Lagi stress ya?
👧 : Mungkin. Tapi aku ngerasa makanku mulai banyak dan dalam 3 minggu naik sekilo. Aneh.
👦 : Nah, berarti kamu stress. Ya namanya juga kerja pasti ada stressnya. Kalau lagi stress, cerita, jangan dipendam. Itu bahaya, nanti kamu mati ! Minimal nanti kamu gila, mau? Coba deh relaksasi. Luangkan waktu buat diri sendiri, baca Al Quran, lakuin hobi, santai gitu. 
👧 : Kan udah cuti 2 minggu lalu. Tapi masih aja kayak gitu.
👦 : Atau kebanyakan main hp kali. Main sosmed. 
👧 : Kayaknya iya sih. Sering kali aku lihat hp. Gak bunyi pun aku rasa hp ku bunyi. Terngiang-ngiang di telinga.
👦 : Tuh kan. Kebanyakan main hp, liat hp, main socmed. Coba deh Puasa Socmed atau kurangilah-kurangilah paling enggak.
👧 : Bisa jadi sih. Belakangan sering lihat-liat instagram sampe lupa waktu. 
👦 : Tuh !
👧 : Tapi kan bosan kalau gak ngapa-ngapain.
👦 : Bosan juga bisa diobatin sama cara lain. Apa kek gitu.  Coba deh kurangi. Paling bagus puasa sih. Aku udah berapa tahun ya gak pakai socmed? Lupa ah. Tapi yang jelas, waktu gak pake socmed, aku jadi ngerasa nyaman. Kalau lagi pengen ngobrol sama orang, langsung ngubungi orangnya, minta waktu duduk bareng di ruang yang sama. Kalau rindu ngomong langsung, I miss you like I miss the rain. Jadi nikmatin koneksi yang sesungguhnya daaaaaaaan aku bisa fokus buat kerja keras bagai kuda.

---------
Saya jadi ingat waktu saya belajar sosiologi dulu, di zaman yang secanggih ini, seperti yang dikatakan Anthony Giddens, tak ada waktu dan ruang yang istimewa, ruang semakin lama semakin tidak dipakai, maksudnya dalam orang berhubungan dengan orang yang berjauhan jarak fisik.

Media sosial saat ini lebih banyak digunakan sebagai alat pencitraan diri oleh banyak orang, mereka berdramaturgi, begitu dikatakan oleh Erving Goffman. Membangun citra diri sebaik mungkin dan di share di akun miliknya sendiri dan atau menggunakan buzzer.

Kita semakin pasif, semakin tidak bisa membedakan antara yang nyata atau hanya sekedar tontonan. Kita kehilangan substansi pertemuan yang sesungguhnya, kualitas melebihi kuantitas. Mungkin di masa depan pertemuan di dunia nyata adalah hal yang langka, mungkin.

Ah, tapi saya tidak suka berdrama, apalagi berdramaturgi.
Share:

Tuesday, July 23, 2019

Brexit dan Kembali ke Awal

Halo.
Lagi menunggu hujan reda. Sudah lebih 3 jam. Scrolling handphone, baca-baca artikel lalu mati gaya. Oh iya, berita menarik hari ini terpilihnya Boris Johnson, Brexiteer dan mantan walikota London. Apakah dia mampu membawa Inggris keluar dari UE? Mari lihat saja nanti.

Bingung mau ngapain lagi, tapi gak mau ngobrol sama orang, lagi flu berat. Hachim. Hachim.

Well, sepanjang hari ini saya  mendengarkan lagu dari OST Twivortiare. Kembali ke Awal yang dinyanyiin sama Glenn Fredly, salah satu penyanyi favorit saya. So deep. Kalau gak salah, saya pernah beli novelnya Ika Natasha yang gambarnya lambang twitter itu kan, ya?. Tahun lalu saya beli dan belum sempat (belum ada niat) untuk baca. Jangan ditiru ya.

Lagu ini ngomongin tentang hubungan yang kalau dilanjutin ayo, udahan ayo juga. Malas chat tapi kangen. Ketemu tapi sibuk main handphone. Dieman tapi ga marahan. Gak ngabarin berminggu-minggu lalu tiba-tiba ngajak jalan tanpa rasa bersalah. Hubungan yang sudah difase berbahaya. Selagi masih waras, coba deh selamatin hubunganmu, ajak ketemu, bicarakan daei hati ke hati masing-masing, dan salah satu caranya ya 'KEMBALI KE AWAL' dan mengingat segala manis diawal dulu.

Pernah gak sih di fase ini?
Mau lanjut atau mau udahan?

Lirik lagu yang saya suka:
'Berikankan ku alasan untuk tetap bersamamu, setelah lelah berharap'
 'Berjarak dengan waktu, semoga mendewasakan arti rasa satu itu'. 

Beberapa hari ke depan, lagu ini akan terus saya dengarkan di telinga. 
hehehehehe

Share:

Tuesday, July 16, 2019

Menjadi Dewa..sa?

Umur baru.
Semakin ke sini berpikir tentang rencana ke depan. Sudah mulai kurang bersemangat untuk berkumpul ramai-ramai seperti dulu, nongkrong haha hihi. Lebih memilih nongkrong untuk lebih perluasan pergaulan, sama temen lama atau hal yang gak bikin berat. Makin ke sini semakin kecil circle pertemanan. Mulai berpikir bahwa tidak ingin kehidupan pribadi di sosial media. Kita berteman dengan siapa, nongkrong dengan siapa, pacaran dengan siapa, cukuplah kita saja yang tahu. 

Apa itu dewasa?

Mungkin.

Kadang memang, kejutan Tuhan memang bisa mengalahkan penelitian secanggih apapun di muka bumi. Banyak hal yang terjadi beberapa bulan belakangan, yang tidak bisa saya prediksikan sebelumnya. Bahkan, tidak pernah bisa saya prediksikan. 

Tapi, seperti banyak orang bilang, life must go on. Jalani saya, terus berdoa yang terbaik, terus bersyukur dan jangan lupa bersenang-senang.

Tiba-tiba diingatkan kembali lagu 9 tahun lalu Adhitia Sofyan -  Number One. Lagu yang enak didengar simple dan bermakna. Seorang teman pernah berkata lagunya simple banget, mendalam. 


Cause you don't even have to try you already my number one

Intinya kita gak butuh jadi apapun, kita tuh udah nomor satu. Dengernya aja udah terharu ges.
Share:

Tuesday, March 26, 2019

Kenapa Jadi Kutu Loncat ?


Saya bisa dikatakan sebagai kutu loncat. Pekerjaan pertama saya adalah jurnalis di Tribun Pekanbaru. Saya menggeluti pekerjaan ini hanya 1 tahun 3 bulan. Kemudian saya lopat ke PT RAPP sebagai Public Relation. Saya bekerja di sini sudah 3 tahun.

Mengapa saya pindah?

Bukan money orientied. Oke, jujur saja sebagai jurnalis gaji saya dengan saat ini berbeda, kalau gaji lebih besar dari sebelumnya itu bonus. Saya berpikir jika saya lebih memilih untuk pindah, saya jadi lebih banyak tahu mengenai situasi pekerjaan, peraturan, bahkan di lingkungan kerja.

Saya ingat ada salah satu pejabat yang ada di Pemerintahan Pekanbaru, ketika saya menjadi wartawan, dia sangat manis kepada saya. Ketika bertemu kembali dengan saya sebagai karyawan di RAPP, dia hanya datar dan tidak seperti biasanya. Silahkan menilai sendiri.

Saya berpikir untuk pindah karena ingin menilai dan mengembangkan kemampuan yang saya miliki.

Sudah 3 tahun, apakah saya ingin pindah?
Jujur saja, 60:40. Ketika ada kesempatan yang baik datang, saya akan pikirkan kembali. Ada kesempatan untuk lebih banyak belajar, saya akan pikirkan matang-matang.

Namun, ada teman saya, yang dalam kurun waktu 1 tahun, dia sudah bekerja di 3 perusahaan. Simak videonya diatas ya

Share: