Showing posts with label Rahasia kecil. Show all posts
Showing posts with label Rahasia kecil. Show all posts

Thursday, April 16, 2020

Kurangi Beban Petugas Medis Lewat Misi Kemanusiaan

Sore itu, Rabu, tanggal 8 April 2020 telepon saya berdering. Ternyata Pak Agung Laksamana, Corporate Affairs Director APRIL. Beliau menelpon untuk menawari saya sebuah misi kemanusiaan, menjemput Alat Pelindung Diri (APD) langsung ke Shanghai, Tiongkok bersama tim Tanoto Foundation dan RGE, bang Fembiarta dan bang Yosea. Tanoto Foundation bukan nama baru ditelinga saya, saat kuliah dulu, saya disupport oleh yayasan ini hingga lulus. Saya pun tanpa pikir panjang, langsung menyanggupi untuk berangkat pada esok hari, Kamis 9 APRIL 2020 ke Jakarta. Saat hampir semua orang ketakutan, menarik diri, dan menghindari kemungkinan terpapar virus Covid-19. Saya enggan menyerah dari penyakit itu, yang bisa jadi diturunkan Tuhan untuk menguji nilai-nilai kemanusiaan kita.

Dari kiri ke kanan : Bang Yosea, Bang Fembiarta dan saya saat sebelum kebrangkatan di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Senin (13/04/20)

Saat itu saya berada di Pangkalan Kerinci, operasional PT RAPP tempat saya bekerja dan belajar empat tahun belakangan. Lalu, saya mempersiapkan kebutuhan pribadi untuk dibawa pada misi ini. Tidak terlalu banyak. Saya langsung mengabari keluarga, sempat ada kekhawatiran. Tapi saya berusaha meyakinkan bahwa ini penting dan saya akan selalu waspada saat perjalanan nanti. Mereka pun mendukung misi saya. Kakak saya berkata "Semoga ini menjadi amal jariyah kamu".

Sampai di Jakarta, kami diberikan semangat, motivasi dan keyakinan untuk misi kemanusiaan ini, salah satunya oleh Pak Anderson Tanoto, Direktur RGE. Hal itu yang menambah keyakinan saya dan tim untuk menjemput APD yang dibutuhkan oleh pahlawan kesehatan kita saat ini.

Saat saya posting perjalanan ini di media sosial, saya mendapatkan banyak dukungan yang luar biasa dari teman-teman. Hal itu menambah semangat dan energi saya untuk melakukan misi kemanusiaan ini.

Senin, 13 April 2020 dinihari, kami terbang dengan pesawat Garuda Indonesia Boeing 777 – 300 ER yang dicarter oleh Tanoto Foundation. Kami juga terbang bersama 8 relawan dari Garuda Indonesia, 4 pilot, dan sekitar 4 pramugara dari Bandara Internasional Soekarno Hatta. Yap, saya adalah satu-satunya perempuan dalam misi kemanusiaan ini. Bukti bahwa, perempuan juga bisa ikut dalam misi kemanusiaan seperti ini.

Sesaat sebelum take off menuju Shanghai, Tiongkok

Perjalanan sekitar enam jam ditempuh. Sekitar pukul 6 pagi, kami mendarat di Bandara Internasional Pudong, Shanghai, Tiongkok. Kemudian kami semua langsung memakai pakaian APD lengkap guna untuk keselamatan diri. Mulai dari baju APD, sarung tangan, masker dan kacamata pelindung. 

Tim relawan mulai memasukkan bantuan total bantuan seberat 30 ton ke dalam pesawat satu per satu. Untuk diketahui, tim relawan dari Garuda Indonesia adalah karyawan maskapai tersebut yang rela menyisihkan tenaga dan waktu mereka untuk bantuan APD ini. Mereka mulai mengisi barang bantuan mulai dari kabin hingga kursi penumpang. Saya menyadari, menggunakan APD saat bekerja seperti itu adalah tantangan yang cukup sulit. Selain panas, mereka sesekali meminta kepada saya apakah masih ada sarung tangan karet, karena punya mereka sudah robek. Saat itu terbayang oleh saya jika para petugas medis ini pasti sangat kesulitan memakainya. Salut dengan mereka.

Tim Relawan tengah mengangkut bantuan APD di Bandara Pudong, Shanghai, Tiongkok
Tim relawan mulai menyusun satu per satu bantuan APD pada cabin dan bangku-bangku pesawat
Bantuan selesai diletakaan di posisinya. Kami siap menuju Jakarta, Indonesia.

Tak sampai empat jam, barang bantuan selesai disusun di dalam pesawat. Mereka menggunakan jaring agar bantuan APD ini tidak bergerak dan tetap berada pada posisinya serta tidak rusak. Setelah itu, kami pun menanggalkan pakaian APD ini dan mengumpulkannya ke dalam plastik untuk dibuang. Tim relawan totalitas dalam bekerja, termasuk Crew Garuda Indonesia, mereka juga total dalam memimpin penerbangan ini dan memastikan tim kami dan semua relawan mendapatkan pelayanan yang layak selama penerbangan. Semoga terus diberikan kesehatan dan keberkahan.

Tim relawan kelelahan usai mengangkut bantuan APD

Perjalanan ke Jakarta pun langsung dimulai. Di tengah perjalanan, para tim relawan terlihat sangat lelah. Bagaimana tidak, mereka kurang tidur, kemudian langsung mengangkut bantuan APD seberat 30 ton yang terdiri dari  1 juta masker, 1 juta sarung tangan, 100ribu alat pelindung diri, dan 3 ribu kacamata pelindung. Sungguh pekerjaan yang tidak mudah.


Dukungan sang Captain Pilot pada penerbangan misi kemanusiaan untuk para petugas media kita.

Mendarat kembali di Indonesia sekitar pukul 16.30 WIB. Seusai mendarat, kami pun melakukan berbagai tes kesehatan, termasuk test cepat atau rapid test COVID-19 melalui pengambilan darah. Kami bersyukur semuanya negatif !.

Para manajemen pun telah menunggu untuk menjemput kami setelah memastikan barang bantuan sudah dikelola dengan baik dan disalurkan ke BNPB yang nantikan didistribusikan ke petugas medis kita.

Keesokan harinya, saya kembali ke Pangkalan Kerinci, tidak lupa saya karantina mandiri selama 14 hari. Saat perjalanan pulang, saya berpikir:

Kalau saja saya memilih untuk rebahan sehari, saya tidak akan membuat perubahan akan stok APD yang jumlahnya tinggal tak seberapa.
Apa lagi yang saya punya, sebagai manusia kalau bukan rasa kemanusiaan, kepedulian, dan membantu sesama.
Pengalaman yang sangat luar biasa, walau terselip sedikit getirnya, tapi support dukungan tim dan teman-teman terkasih semua, jadi energi yang luar biasa.
Semoga Tuhan mampukan kita melewati ini semua.

Stay Safe teman-teman terkasihku ! Yuk apresiasi mereka dengan menjalankan pola hidup sehat !

Berikut video singkat perjalanan saya 


Share:

Friday, July 26, 2019

PUASA SOCIAL MEDIA

Perbincangan antara dua manusia :

👧 : Aku kok ngerasa susah fokus, susah tidur, sering cemas, ya?
👦 : Lha? kok bisa? Emang lagi banyak kerjaan?
👧 : Engga sibuk-sibuk amat kok. Kenapa ya? apa harus ke rumah sakit? tapi aku gak sakit apa-apa.
👦 : hhhmmm. Atau keseringan lembur kali. Coba kurangi lembur. Gak ada orang kaya karena lembur.
👧 : Ya gimana, namanya juga kerja. 
👦 : Belakangan aku sering lihat socmed kamu update terus. Kenapa? Lagi stress ya?
👧 : Mungkin. Tapi aku ngerasa makanku mulai banyak dan dalam 3 minggu naik sekilo. Aneh.
👦 : Nah, berarti kamu stress. Ya namanya juga kerja pasti ada stressnya. Kalau lagi stress, cerita, jangan dipendam. Itu bahaya, nanti kamu mati ! Minimal nanti kamu gila, mau? Coba deh relaksasi. Luangkan waktu buat diri sendiri, baca Al Quran, lakuin hobi, santai gitu. 
👧 : Kan udah cuti 2 minggu lalu. Tapi masih aja kayak gitu.
👦 : Atau kebanyakan main hp kali. Main sosmed. 
👧 : Kayaknya iya sih. Sering kali aku lihat hp. Gak bunyi pun aku rasa hp ku bunyi. Terngiang-ngiang di telinga.
👦 : Tuh kan. Kebanyakan main hp, liat hp, main socmed. Coba deh Puasa Socmed atau kurangilah-kurangilah paling enggak.
👧 : Bisa jadi sih. Belakangan sering lihat-liat instagram sampe lupa waktu. 
👦 : Tuh !
👧 : Tapi kan bosan kalau gak ngapa-ngapain.
👦 : Bosan juga bisa diobatin sama cara lain. Apa kek gitu.  Coba deh kurangi. Paling bagus puasa sih. Aku udah berapa tahun ya gak pakai socmed? Lupa ah. Tapi yang jelas, waktu gak pake socmed, aku jadi ngerasa nyaman. Kalau lagi pengen ngobrol sama orang, langsung ngubungi orangnya, minta waktu duduk bareng di ruang yang sama. Kalau rindu ngomong langsung, I miss you like I miss the rain. Jadi nikmatin koneksi yang sesungguhnya daaaaaaaan aku bisa fokus buat kerja keras bagai kuda.

---------
Saya jadi ingat waktu saya belajar sosiologi dulu, di zaman yang secanggih ini, seperti yang dikatakan Anthony Giddens, tak ada waktu dan ruang yang istimewa, ruang semakin lama semakin tidak dipakai, maksudnya dalam orang berhubungan dengan orang yang berjauhan jarak fisik.

Media sosial saat ini lebih banyak digunakan sebagai alat pencitraan diri oleh banyak orang, mereka berdramaturgi, begitu dikatakan oleh Erving Goffman. Membangun citra diri sebaik mungkin dan di share di akun miliknya sendiri dan atau menggunakan buzzer.

Kita semakin pasif, semakin tidak bisa membedakan antara yang nyata atau hanya sekedar tontonan. Kita kehilangan substansi pertemuan yang sesungguhnya, kualitas melebihi kuantitas. Mungkin di masa depan pertemuan di dunia nyata adalah hal yang langka, mungkin.

Ah, tapi saya tidak suka berdrama, apalagi berdramaturgi.
Share:

Tuesday, July 23, 2019

Brexit dan Kembali ke Awal

Halo.
Lagi menunggu hujan reda. Sudah lebih 3 jam. Scrolling handphone, baca-baca artikel lalu mati gaya. Oh iya, berita menarik hari ini terpilihnya Boris Johnson, Brexiteer dan mantan walikota London. Apakah dia mampu membawa Inggris keluar dari UE? Mari lihat saja nanti.

Bingung mau ngapain lagi, tapi gak mau ngobrol sama orang, lagi flu berat. Hachim. Hachim.

Well, sepanjang hari ini saya  mendengarkan lagu dari OST Twivortiare. Kembali ke Awal yang dinyanyiin sama Glenn Fredly, salah satu penyanyi favorit saya. So deep. Kalau gak salah, saya pernah beli novelnya Ika Natasha yang gambarnya lambang twitter itu kan, ya?. Tahun lalu saya beli dan belum sempat (belum ada niat) untuk baca. Jangan ditiru ya.

Lagu ini ngomongin tentang hubungan yang kalau dilanjutin ayo, udahan ayo juga. Malas chat tapi kangen. Ketemu tapi sibuk main handphone. Dieman tapi ga marahan. Gak ngabarin berminggu-minggu lalu tiba-tiba ngajak jalan tanpa rasa bersalah. Hubungan yang sudah difase berbahaya. Selagi masih waras, coba deh selamatin hubunganmu, ajak ketemu, bicarakan daei hati ke hati masing-masing, dan salah satu caranya ya 'KEMBALI KE AWAL' dan mengingat segala manis diawal dulu.

Pernah gak sih di fase ini?
Mau lanjut atau mau udahan?

Lirik lagu yang saya suka:
'Berikankan ku alasan untuk tetap bersamamu, setelah lelah berharap'
 'Berjarak dengan waktu, semoga mendewasakan arti rasa satu itu'. 

Beberapa hari ke depan, lagu ini akan terus saya dengarkan di telinga. 
hehehehehe

Share:

Tuesday, July 16, 2019

Menjadi Dewa..sa?

Umur baru.
Semakin ke sini berpikir tentang rencana ke depan. Sudah mulai kurang bersemangat untuk berkumpul ramai-ramai seperti dulu, nongkrong haha hihi. Lebih memilih nongkrong untuk lebih perluasan pergaulan, sama temen lama atau hal yang gak bikin berat. Makin ke sini semakin kecil circle pertemanan. Mulai berpikir bahwa tidak ingin kehidupan pribadi di sosial media. Kita berteman dengan siapa, nongkrong dengan siapa, pacaran dengan siapa, cukuplah kita saja yang tahu. 

Apa itu dewasa?

Mungkin.

Kadang memang, kejutan Tuhan memang bisa mengalahkan penelitian secanggih apapun di muka bumi. Banyak hal yang terjadi beberapa bulan belakangan, yang tidak bisa saya prediksikan sebelumnya. Bahkan, tidak pernah bisa saya prediksikan. 

Tapi, seperti banyak orang bilang, life must go on. Jalani saya, terus berdoa yang terbaik, terus bersyukur dan jangan lupa bersenang-senang.

Tiba-tiba diingatkan kembali lagu 9 tahun lalu Adhitia Sofyan -  Number One. Lagu yang enak didengar simple dan bermakna. Seorang teman pernah berkata lagunya simple banget, mendalam. 


Cause you don't even have to try you already my number one

Intinya kita gak butuh jadi apapun, kita tuh udah nomor satu. Dengernya aja udah terharu ges.
Share:

Tuesday, March 26, 2019

Kenapa Jadi Kutu Loncat ?


Saya bisa dikatakan sebagai kutu loncat. Pekerjaan pertama saya adalah jurnalis di Tribun Pekanbaru. Saya menggeluti pekerjaan ini hanya 1 tahun 3 bulan. Kemudian saya lopat ke PT RAPP sebagai Public Relation. Saya bekerja di sini sudah 3 tahun.

Mengapa saya pindah?

Bukan money orientied. Oke, jujur saja sebagai jurnalis gaji saya dengan saat ini berbeda, kalau gaji lebih besar dari sebelumnya itu bonus. Saya berpikir jika saya lebih memilih untuk pindah, saya jadi lebih banyak tahu mengenai situasi pekerjaan, peraturan, bahkan di lingkungan kerja.

Saya ingat ada salah satu pejabat yang ada di Pemerintahan Pekanbaru, ketika saya menjadi wartawan, dia sangat manis kepada saya. Ketika bertemu kembali dengan saya sebagai karyawan di RAPP, dia hanya datar dan tidak seperti biasanya. Silahkan menilai sendiri.

Saya berpikir untuk pindah karena ingin menilai dan mengembangkan kemampuan yang saya miliki.

Sudah 3 tahun, apakah saya ingin pindah?
Jujur saja, 60:40. Ketika ada kesempatan yang baik datang, saya akan pikirkan kembali. Ada kesempatan untuk lebih banyak belajar, saya akan pikirkan matang-matang.

Namun, ada teman saya, yang dalam kurun waktu 1 tahun, dia sudah bekerja di 3 perusahaan. Simak videonya diatas ya

Share:

Thursday, January 24, 2019

Jangan Jadi Down Sama Hidup

Bulan pertama di tahun 2019 hampir selesai.
Bagaimana hidup?
Berjalan dengan seperti biasa.

Bagaimana harapan?
Tidak terlalu berekspekstasi tinggi, tapi tetap saja kecewa.

Mengapa?
Perasaan-perasaan mengganggu seperti merasa tidak dihargai, tidak ada apresiasi, tidak ada hal-hal baru, seperti berjalan di tempat, nothing special. membosankan.

Mark Manson dalam buku "Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat" mengatakan secara pribadi kita bertanggung jawab atas segala hal dalam hidup kita. Kita bisa mengendalikan segala hal yang menimpa kita dengan cara kita merespon. 

Bagaimana cara merespon?
Ya dengan mengatakan kepada pikiran bodo amat atau I don't care about that. Tapi, tidak ada yang namanya tidak peduli, kita sebagai manusia pasti peduli terhadap sesuatu. 

Harus ada pelampiasan.

Yap. benar. Mencari pelampiasan terhadap sesuatu hal yang mengecewakan memang perlu. Namun, pelampiasan harus dilakukan dengan kegiatan-kegiatan positif. Ketika dipandang rendah, ya kamu harus menunjukkan yang terbaik dari diri kamu, buat mereka nanti menyesal dengan penilaian mereka selama ini. Mungkin terlihat kejam, tapi setidaknya kita bisa memotivasi diri kita sendiri dengan hal tersebut.

Mencoba hal-hal baru.
Dengan kondisi sekarang, saya menjadi punya waktu untuk mencoba hal-hal baru seperti menonton film dokumenter Brexit : The Uncivil War. Menonton TED X bagaimana mereka speech di depan umum. Bagaimana bisnis berjalan, bagaimana strategi untuk mengembangkan diri, membuat video  mengenai edukasi dan lainnya.  Intinya hal-hal baru tersebut menambah pengetahuan.



Saya gak mau membawa perasaan-perasaan yang menggangu ini dalam diri. Semacam penyakit yang kian menggerogoti diri. Tidak baik. Membuat diri jadi down tidak baik. Masih banyak hal-hal yang menyenangkan untuk dilakukan, masih banyak hal-hal baru yang dapat dipelajari. Jangan jadi katak di dalam tempurung. Jangan malas untuk belajar, jangan tunggu disuapi baru belajar. 

Kalau tidak ada diberikan kesempatan belajar bagaimana?
Halah, belajar bisa dari siapa saja dan darimana saja. Buat kesempatan sendiri. Ketuk sendiri. Tapi jika tetap tidak diberikan kesempatan? Sebagai orang dewasa, sudah harus tahu berbuat apa. 

Jangan lupa kalau...
Kesuksesan apa pu selalu dimulai dari titik awal. Titik nol. 
Setidak nyaman apa pun situasi kariermu sekarang, selalu ada jalan untuk mencari peluang yang lebih baik.
Yakin.
Semua ini pasti lebih baik dari pada diam di rumah dan mengganggur seharian.

Tetap Semangat.
Share:

Sunday, December 30, 2018

Ready for Run in 2019

Satu hari menuju 2019.
Setahun belakangan, terlalu complicated. Terlalu banyak stress, terlalu banyak mikir, terlalu pasrah.  Jalani saja.

Di tahun 2018 ini saya banyak belajar mengenai hidup dan jenis-jenis manusia yang kurang baik etikanya. Percuma pintar, cerdas, tapi etikanya di kehidupan sosial dan bermasyarakat kurang. Saya masih bermimpi dengan hidup sesuai struktural fungsional, berjalan dengan fungsi masing-masing. Atau mereka memang menjalankan fungsi sebagai manusia yang kurang beretika? Idk.

Tahun 2017 lalu, target di tahun 2018, saya bisa bahasa Inggris. Alhamdulillah, sekarang little bit lah. Tahun depan saya ingin menambah skor TOEFL dan berharap bisa mengikuti IELTS. Lalu ingin lebih mahir public speaking dan menjadi Humas yang cerdas. Sekarang saya mulai buat video untuk kaum millenial, mulai belajar bermanfaat untuk semua orang lewat karya dan memberikan apa yang saya bisa. Tidak lupa, saya belum menggenapi mimpi saya untuk melanjutkan pendidikan master. Mau ambil bisnis atau manajemen. Tahun lalu saya buka website LPDP, lalu mencatat kampus mana yang sesuai. Kalau ditanya mau kemana, jawaban awal saya ingin ke Inggris, kedua Singapore, ketiga SBM ITB. 

Tahun lalu saya dapat penawaran untuk beasiswa ke Rusia, belum full beasiswa tapi... ada beberapa hal yang membuat saya untuk memutuskan untuk tidak melanjutkan.

Selain itu, yang terpikirkan oleh saya saat ini adalah di tahun 2019 saya ingin menonton konser Harry Styles. wakakakakaka. Semoga tahun 2019 bisa nonton Harry Styles.

Kenapa?
Saya selalu mengikuti 1D sejak dulu. Ketika mereka bubar atau hiatus, saya gak sedih, band sebesar The Beatles aja bisa bubar dan sampai sekarang mereka masih punya pendengar setia. 
Ketika si Harry keluarin album, denger lagu-lagunya ternyata oke punya, genre rock n roll kerasa banget ya walaupun mirip salah satu band dunia juga saya lupa, tapi saya tetap mendengar karya Harry Styles. Wekawekaweka.

rantika.com
Harry Styles saat OTRA bersama 1D di Jakarta 2015 lalu

Well,

Mungkin badai kehidupan masih akan menyerang, kekecewaan datang. Namun, saya harus siap dengan semua itu dengan menyiapkan mental sekuat baja. 

Tapi...
Hidup itu sebenarnya tidak pernah hitam-putih, baik-buruk, rajin-malas, pintar-bodoh. Ini yang memenjara kewarasan kita. Kita terlalu meng-over simplify hidup menjadi label-label dan garis-garis yang tegas. Padahal hidup tak pernah sekaku dan membosankan itu, ia cair dan bergaris putus-putus. Kita bisa jadi apa saja. Tak harus hitam, tak harus putih, tak harus baik, tak harus buruk. Kita bisa jadi keduanya atau campurannya. Kita bisa baik dan jahat sekaligus. Sejak dulu begitu, kita aja yang sering lupa dengan kenyataan sederhana itu.

I will never look back now.
I'm ready to run.

Amiin.
Share:

Sunday, December 24, 2017

Racauan Akhir Tahun

Wuuuuuuz.
2017 terasa begitu cepat. Sampai saya tak menyadarinya. Berjalan begitu saja.

2017.
Tahun pertama tanpa kedua orangtua saya. 9 tahun tanpa Ibu, 1 setengah tahun tanpa Abah. Beliau ini seperti injeksi penyemangat saya.

Ibu saya misalnya, disiplin dan ontime. Selalu ada target dalam mengerjakan sesuatu dan pastinya jika mencapai target, selalu ada apresiasi. Selalu menyediakan yang saya butuhkan, bahkan disaat saya tidak meminta. Bagi beliau, liburan itu perlu untuk meregangkan saraf-saraf yang keriting. Gunung dan sawah adalah destinasi favoritnya. Krisdayanti adalah penyanyi favorit beliau. Selalu menonton Krisdayanti di televisi tanpa melewatkannya sedikitpun. Jantung melemahkan hari-hari beliau yang selalu bersemangat. Bolak-balik rumah sakit jadi rutinitas selama 6 bulan hingga akhirnya beliau menyerah ketika subuh 6 Januari 2007. Saya sempat down setelah kepergian beliau. Waktu itu 2 bulan menjelang UN saya tidak fokus belajar dan hanya bermain game. Kemudian akhirnya saya tidak lulus di SMA idaman. Tapi tidak apa-apa, 6 bulan sekolah di Gonz sedikit demi sedikit mengembalikan keceriaan saya. Menjadi manusia susila terpelajar. Sesuai Mars nya.

Abah. Wiserman, seperti namanya, pria bijaksana. Setelah Ibu pergi, saya adalah roommate beliau. Selalu berusaha menjadi ibu sekaligus bapak. Santai dan menolak tua. Mau belajar dengan cara apapun, terserah yang penting hasilnya bagus. Kalau lagi malas ya udah gak usah sekolah atau kuliah, tapi harus bertanggung jawab dengan nilai. Suka nonton hockey, baseball, basket dan tentu saja, acara reality show Korea. Hobi menelpon anaknya, apalagi ketika saya merantau, setiap subuh beliau membangunkan saya melalui telpon, selalu menjemput saya di perhentian bus, kemudian kami bersenang-senang menikmati weekend. Mei 2016 beliau sudah jadi penghuni tetap rumah sakit. Tanggal 28 Juni 2016 sebuah kabar menabrak saya kalau beliau anfal dan saya pun langsung pulang dari kantor menuju rumah. Ketika sampai dirumah sakit, nafas Abah hanya tinggal satu-satu. Hanya 5 menit ketika saya sampai, beliau langsung pergi tidur dengan tenang saat adzan magrib h-4 Idul Fitri. Ternyata beliau hanya ingin menunggu saya. Sampai sekarang saya masih menyesal dan merasa bersalah tidak pulang di minggu terakhir karena harus kerja keluar kota. Salah besar memang.

Sekarang, pulang ke rumah dengan rasa yang beda. Tidak dikamar yang sama, menghabiskan weekend bukan ditempat yang sama saat bersama Abah. Hanya tidak ingin bersedih terlalu dalam.

2017.
Saya baru sadar, tahun ini saya tidak membeli buku. Tidak pula membaca buku yang ada. Padahal, masih ada buku yang belum selesai saya baca, IQ84, Dunia Kafka milik Haruki Murakami dan Kegilaan Peradaban Michel Foulcaut. Entah apa yang membuat saya kehilangan gairah membaca buku.

2017.
Tahun dimana saya jarang sekali menulis di blog. Keinginan menulis itu selalu ada, namun tidak bisa. Saya menuduh rutinitas menumpulkan otak saya. Saya memikirkan dua hal yang menyebabkan ketumpulan itu. Otak dan pikiran saya telah habis dimakan rutinitas. Bukan karena sering dipakai, justru karena tak pernah digunakan. Rutinitas dan kesibukan menumpulkan pikiran dengan cara yang yang saya tak tahu bagaimana.

2017.
Saya kembali menyalakan Playstation. Bukan tanpa alasan, Playstation mungkin alat penipuan diri bagi saya. Untuk menghilangkan 'hal-hal yang menyakitkan dalam hidup atau mengusir dementor'.

2017.
Dulu bareng-bareng siapa sih?. Ternyata semuanya sudah selesai.

2017 berlalu begitu saja. Menengguk kapitalisme. Karena kapitalisme selalu menang.
Share:

Tuesday, June 20, 2017

Seperti Kata Tulus

Sedang tidak bersemangat.

Sampai tak bisa tidur.

Tiba-tiba teringat dengan keluhan-keluhan yang terucap di dalam mulut. Bukan tidak bersyukur, tapi kesal dengan sesuatu yang harusnya bisa mengeluarkan ide dan pendapat tapi terpaksa tidak dikeluarkan demi menghindari perdebatan panjang.

Entah berapa lama akan bertahan di posisi itu. Jujur, rasanya ingin pindah ke tempat lain. Tapi pikiran-pikiran menganggu seperti "apakah saya bisa survive? Apakah saya bisa cemerlang?" selal membuat ragu.

Tida betah. Perlakuan-perlakuan yang yang dirasa tidak patut semakin hari membuat hari menjadi kelam.

Memikirkan hal itu membuang waktu. Tapi fikiran itu selalu muncul. Rasanya rugi memikirkan hanya 1 debu dan kerikil.Kerikil yang kecil, tapi menyakitkan.

Selali membahas hal yang sama. Padahal masih banyak hal-hal baik yang harusnya dibicarakan.

Jangan terpancing dan terpengaruh orang lain. Jangan larut dalam kebencian dan luka hati. Tolong bangkit.

Please. Be the best. Show your action. Show your skill. Just breathe. I can do it.
Tidak selamanya dalam posisi ini. Kata Tulus " yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik".
Share:

Thursday, January 12, 2017

Stress ! Go Out !

Beberapa hari belakangan, saya sedang kondisi dengan mood yang tidak baik alias stres. Mungkin saja saya sedang butuh liburan atau hiburan yang tidak biasa, akhirnya membuat bahagia. Banyak hal yang diluar kendali saya. Entah syndrome apa namanya.
Untuk mengusirnya, saya mencoba beberapa formula, diantaranya :
1.  Membersihkan Kamar
Memberishkan lemari pakaian saya yang tidak terlalu berantakan. Saya melakukan hal itu karena saya ingin lebih rapi saja, tidak lebih. Saya melipat pakaian saya serapi mungkin dan menyusun sesuai dengan item-itemnya Kemeja dengan kemeja, kaos dengan kaos, celama dengan celana, pakaian dalam dengan pakaian dalam bercampur dengan kaos kaki sapu tangan. Satu yang yang membuat saya senang baru-baru ini adalah mengepel lantai. Yap. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya mengepel lantai. hahahahaha. Lantai kamar saya yang sudah bersih saya pel lagi agar wangi dan lantai kamar menjadi bercahaya. hehehe. Tidak lupa saya jugamembersihkan barang-barang saya yang berada di bawah tempat tidur. Kegiatan ini mengingatkan saya dengan member Leeteuk Super Junior yang suka bersih-bersih. Heuheu
2. Berselancar di Dunia Maya
Seperti sekarang, saya melanglang buana di dunia maya. Apakah itu posting foto di Instagram saya @sarirezki atau membaca artikel aneh-aneh dan lainnya. Di dunia maya, saya tidak perlu bertemu dengan orang lain, bersalaman dengannya secara langsung, tidak perlu basa-basi, kemudian tertawa palsu. Saya bebas ingin kemana saja dan melakukan apa di dunia maya. Memang saya sudah menikmati candu dunia modern. Satu hal yang membuat saya bertanya-tanya, maya itu cewek atau cowok? Dia digajikah sama aplikasi medsos? hanya Maya yang tahu

Maia gak pake y tapi pake i
3. Nonton Drama Korea
Sudah lama saya tidak merasakan sensasi bahagia menonton drama Korea. Saat ini saya sedang mengkonsumsi drama Lee Minho dan Jun Ji Hyun , The Legend of Blue Sea. Kegiatan ini cukup ampubh menghilangkan kerutan yang ada di otak saya beberapa saat. Saya sedang menanti episode 16 nya. HAHAHAHA

Lee Minho mermaid
Sumber : google

4. Baca Buku
Yap. Membaca buku membuat saya sedikit berkhayal dengan ceritanya. Apalagi membaca buku Haruki Murakami, saya harus fokus. Karena butuh imajinasi yang lebih. Pokoknya saya membaca yang sedikit berat atau novel puitis yang menyentuh perasaan saya. 
Share:

Friday, January 6, 2017

Pulang ke Pekanbaru

sesungguhnya saya tidak tahu akan menuliskan apa. 
Sudah lama saya tidak menulis di blog saya, lama sekali rasanya.

Sabtu ini saya masih masuk kerja setengah hari. Tapet jam 13.00 WIB siang nanti, saya pulang ke Pekanbaru dengan bus karyawan. Iya, pulang ke rumah.

Setiap hari saya begitu merindukan rumah dan beserta isinya. Saya seperti pulang ke pangkuan orang-orang terkasih. 

Jujur, saya trauma untuk tidak pulang setiap minggu. Saya sedikit menyesal ketika saya tidak pulang karena ada pekerjaan, tetapi saat itu Abah saya sedang dirawat di Rumah Sakit. Saya bilang saya akan pulang minggu depannya, tapi ternyata saya pulang empat hari sebelum hari Sabtu. 

Saya takut tidak bertemu dengan keluarga jika tidak pulang setiap minggunya. Sekarang saya selalu mengusahakan setiap minggu pulang ke Pekanbaru ingin melihat mereka, mungkin saja saya tidak bertemu mereka di minggu yang akan datang, umur tidak ada yang tahu.
Share:

Wednesday, November 30, 2016

Menikmati Kamu

1 Desember 2016.

Sekarang saya sedang berada di kota kembang, Bandung. Rasanya tidak ingin pulang. Memang ini bukan yang pertama kali, kali ini berbeda karena sudah bekerja mungkin ya. Hahahaha. Entah kenapa saya tidak ingin pulang dan kembali bekerja.

Bandung.

Saya suka kota ini karena lumayan sejuk dari Pangkalan Kerinci atau Pekanbaru. Tetapi saya tidak ingin tinggal disini, ramai dan jalanan sempit.


Saya hanya ingin menikmati Bandung dan bercengkrama dengan orang terkasih. Tidak dengan hiruk pikuknya. Menikmati obrolan santai. Menikmati bangunan-bangunan tua yang keren-keren. Menikmati kamu (?). Sesederhana itu.

Share:

Saturday, October 1, 2016

Kegairahan Baca Buku

Sekarang saya merindukan bagaimana Raditya Dika mengocok perut saya ketika masa sekolah. Saya rindu bagaimana Coelho membuat bingung kemudian memotivasi hidup. Saya rindu bagaimana Murakami menemani kesendirian saya.

Tiga penulis itu adalah penulis favorit saya. Diusia remaja saya gemar membaca Raditya Dika. Namun sekarang, setelah saya baca bukunya kembali, perasaan menggebu tidak seperti saya membacanya ketika tahun 2006 sampai 2011. Mungkin waktu itu saya memasuki umur 20. Umur menuju pendewasaan. Namun saya tetap menikmati karya-karyanya hingga sekarang.

Lalu, berbeda dengan Paulo Coelho, cerita-cerita perjalanan hidup yang memberikan semangat juga tidak terlalu menggiurkan ketika membacanya sekarang. Ketika saya membaca The Alchemist, saya begitu bersemangat. Namun ketika membaca Adultnya, saya malah tidak menemukan perasaan yang sama seperti membaca The Alchemist, Aleph dan lainnya.

Haruki Murakami. Penulis yang hobi lari ini membuat saya jatuh cinta dengan watanabe dalam bukunya Norwegian Wood. Saya masih menikmati buku-buku orang Jepang ini.

Dibalik semua itu, saat ini kegairahan membaca buku saya mulai berkurang. Saya pun tidak tahu mengapa demikian. Saya seperti kehilangan hal-hal kecil dalam hidup.

Banyak buku yang belum selesai dibaca. Tetapi setiap ke toko buku selalu menambah bacaan baru.
Share:

Saturday, July 30, 2016

Biasanya

Tidak bisa tidur.
Sudah pukul 01.42 dinihari.

Rumah rasanya beda. Beda banget.Setiap pulang kerumah, selalu emosional, ada yang hilang. Masih gak percaya. Biasanya Abah selalu telpon saya saat perjalan puang dari Pangkalan Kerinci ke Pekanbaru. Setiap Sabtu siang, suara beliau selalu terdengar diujung telepon "Dijemput dimana, nak?". Sekarang sudah tidak ada lagi. Setiap saya masuk rumah biasanya dari jendela pasti melihat Abah sedang nonton. Sekarang pun tv jarang ada yang nonton. Biasanya juga kita setiap weekend minum kopi di boffet abang dan makan nasi goreng di dekat Djuanda. Sekarang itu itu sudah jadi kenangan dalam pikiran saya.

Di mess, biasanya setiap pagi Abah selalu telpon membangunkan saya. "Bangun lagi, jangan tidur lagi, jangan lupa sholat". Rasanya hidup ini komplit.

Setelah Abah tidak ada, saya seperti kehilangan, kehilangan tujuan saya melakukan hal ini dan itu untuk siapa, dunia seperti mengecil dan menghimpit saya. Sampai saya susah menderetkan kata demi kata di blog ini. Tulisan ini adalah yang pertama saya tulis setelah kepergian beliau.

Abah
Sebulan sudah aku tanpamu
Rasanya berat
Kok cepat ya
Baru aja kemarin maaf-maafan sebelum masuk puasa, rupanya kita gak bareng di lebaran kali ini.
Maaf karena gak sering pulang tiap minggu.
Maaf, gak bisa pulang di minggu terakhir yang harusnya saya bisa lihat abah,nyesal banget rasanya gak pulang.
Tenang di sana Abah, I always love you, my handsome Dad. Sudah bahagia sama Ibu di sana.


Share:

Saturday, December 19, 2015

Pacar dan Pasangan

Malam ini, sambil mendengarkan lagu OST Once-Falling Slowly yang membuat pikiran tenang, lampu kamar yang sudah dimatikan, hujan gerimis yang membuat suram menghilang, terbesit dalam pikiran saya tentang suatu hal.

Entahlah.
Saya pun tidak dapat membayangkanya.

Saya melihat orang-orang yang disekeliling saya, tentunya yang sedang berpacaran ataupun yang telah menikah, hidupnya terlihat bahagia. Padahal, loving can hurt, loving can hurt, sometimes, kata Ed Sheeran di awal lagu Photograph . Tapi toh mereka tetap bersama dan terus menjalankan hidup. Tanpa takut kejadian sebelumnya yang menyakitkan, terulang kembali.

Dari yang saya lihat, mereka hanya saling mengabari satu sama lain, pergi nge date, melihat handphone sambil senyum-senyum seperti orang gila. Hanya itu. Entah apa yang terjadi dalam perasaan mereka. Hal itu dilakukan berulang-ulang, apa tidak bosan melakukan hal-hal yang itu-itu saja?. Saya sering mendengarkan lagu-lagu romantis dan saya merasa senang, sampai tak bisa diungkapkan lewat tulisan, apakah seperti itu ya?.

Kalau saya melihat orang-orang yang sudah seharusnya menikah tapi belum menikah, terlihat kesepian. Aneh. Seperti tak ingin melakukan hal yang menyenangkan dalam hidupnya.
Bagi saya, yang pernah patah hati hebat, untuk jatuh cinta itu sulit. Sebab, hati saya dicabik-cabik dengan pedang yang bercahaya di film Starwars lightsaber itu. Semacam ada trauma psikologis kalau gagal lagi, patah hati lagi. Bahkan sekarang, saya susah jatuh cinta, bagi saya cinta itu perlu usaha. Hati saya seperti es, dingin, super kuat, seperti cakar wolverine ada di film X-men yang sudah dilapisin sama besi adamantium.  Mungkin agak lebay.
Share:

Thursday, December 10, 2015

Mau Apa ?

Di luar sedang hujan. 6,8,12 Brian Mcknight sedang diputar. Sambil tiduran miring, saya menyentuh huruf-huruf di hp pintar saya untuk merangkai sebongkah curhat.

Saya masih berpikir apa tujuan saya tahun depan? Saya belum tahu. Saya hanya berharap tahun yang lebih baik, hidup yang lebih baik, berkualitas dan bersahaja. Semakin banyak beribadah.

Tapi, semua itu, menurut saya, hanya sebuah pengharapan umum. Secara spesifik, saya tidak tahu apa tujuan saya. Saya merasa iba dengan diri saya sendiri.

Sekarang, lagu sudah berganti dengan petikan gitar Adam Sandler, Grow old with you. Lagunya romantis sekali, cocok dinyanyikan saat pernikahan. Tapi ini tidak ada hubungannya dengan tujuan saya untuk menikah. Tahun depan, saya tidak ada berencana, bahkan berpikir untuk menikah. Mungkin delapan atau 10 tahun dari sekarang. Bahkan saya tak bisa membayangkan hidup dengan orang lain.

Pertanyaan yang selalu dalam otak saya sekarang, tujuan saya apa sekarang? Jangka panjangnya apa? Saya belum tahu.
Untuk sekolah lagi masih ada, tetapi tidak terlalu.

Sekarang dalam pikiran saya hanya ingin sedikit berkelana, sebentar saja.  Ke tempat asing, menghirup suasana yang berbeda entah budaya atau pemandangan yang asing bagi saya. Kemudian merasakan rindu rumah, keluarga, rindu guling. Itu yang sekarang saya inginkan. Saya sempat punya keinginan untuk singgah sebentar ditempat-tempat asing, tujuannya hanya sekedar untuk merasakan rindu rumah.

Mau jadi penulis buku? Mulai menulis saja belum. Ide saya belum ada untuk hal yang akan saya tulis. Setidaknya saya ingin punya satu karya, buku. Apapun itu genrenya. Tapi belum juga saya realisasikan.
Saya terlalu banyak berpikir. Terus berpikir. Saya takut gagal. Kegagalan yang membuat saya terjun ke bawah dan susah bangkit. 

Saya kesal. Ini harus bagaimana?
Baiklah. Malam sudah larut, pukul 12.50 WIB. Senandung romantis Till There was You The Beatles bersenandung syahdu.
Share:

Tuesday, November 17, 2015

Ada Sesuatu Yang Selesai

Lebih enak menulis saya daripada aku. Entah kenapa, saat membacanya terlihat ramah, renyes.

Saya tak pernah menyangka punya sebuah relationship yang complicated sekali setelah kita memilih berjalan masing-masing tanpa kabar. Namun, semesta mempertemukan kita, di rumah saya.. Masing-masing kita tidak membicarakan masa lalu. Pembicaraan masih sama, suka ngalor-ngidul.

Suatu malam, pembicaraan serius terjadi. Kita tidak akan bersinggungan lagi, perasaan kita. Terucap dari mulutnya.

Kita sudah mencoba saling bersinggungan. Tetapi kita tidak bisa. Entah apa yang membuat kita berbeda. Mungkin agama atau saya yang belum siap.

Semua tidak bisa dipaksakan. Kita saling bertatapan, hening tanpa kata, menutup pembicaraan sambil melambaikan tangan . Hati saya bergetar, saya melamun menatap dinding kamar saya. Diam.

Saya merasa ada sesuatu yang telah selesai. Yang tak bisa disatukan oleh semesta, bagaimanapun caranya.
Share:

Sunday, September 13, 2015

Ketika Kita Mulai Lemah Karena Asap

Ini postingan kedua saya tentang kabut asap.

Hampir sebulan kami masyarakat Riau menghirup partikel debu halus yang berbahaya. Bahkan kami lupa, bagaimana rasanya menghirup udara segar yang semestinya kami dapatkan. Hak kami menghirup udara segar direbut oleh negara yang sukanya sekongkol dengan pelaku pembakar hutan.

Setiap hari kami mengeluh dengan tebalnya asap. Setiap hari kami menuliskan isi keluhan kami di media sosial. Tapi kabut asap tak juga hilang.

Setiap hari ratusan hotspot terdeteksi satelit. Itu baru yang terdeteksi, mungkin masih banyak lagi yang tak terdeteksi. Setiap hari membaca berita, kami merasa marah. Tapi, mau marah yang bagaimana? Protes sudah dilakukan berbagai kalangan. Tapi asap tak kunjung pergi dari Riau.

Bahkan kami sudah membawa Tuhan ke masalah ini. Kami berdoa menurut agama masing-masing. Umat Islam sholat Istiqo, umat kristiani berdoa di gereha, umat Budha berdoa di Vihara, Hindu di pura. Sekarang harapan kami cuma satu, Tuhan yang maha kuasa. Kami hampir kehilangan kepercayaan kepada pemerintah. Tak bisa menuntaskan masalah ini. Bahkan menurut mereka ini bukan kategori bencana.

Kami mengundang Presiden Jokowi ke daerah-daerah yang diselimuti asap. Perintahkan lansung kepada jajarannya untuk memadamkan api. Kalau tak padam, jangan beranjak dari sana. Tapi apa daya, dia sudah ada di Arab Sana. Katanya kunjungan kerja. Slogan Ayo Kerja hanya cerita belaka.

Pemerintah daerah masing-masing saling menyalahkan "ini kabut asap kiriman Jambi, ini kabut asap kiriman Sumsel, ini kabut asap kiriman Riau". Entahlah, kebiasaan kita mengkambinghitamkan. Kemudian kita disuruh mengambil hikmah dibalik bencana.

Kami sekarang hanya pasrah. Mau mengungsi kemana? Hampir seluruh Sumatera diselimuti kabut asap. Kami hanya bisa berkumpul dan beribadah dengan keluarga. Kami pasrah, sampai mana kabut asap ini menyerang tubuh kami yang mulai lemah karena asap.

Semoga Tuhan selalu menjaga kita semua dan mencelakai mereka pelaku pembakar hutan.

Share:

Tuesday, July 14, 2015

Postingan di Hari Ulang Tahun

Hari ini saya ulang tahun. Tak ada yang spesial. Terlewati begitu saja. Bahkan saya hampir lupa tanggal 14 Juli hari ini. Saya pikir hari ini masih tanggal 13. Seperti tahun lalu, saya masih diingatkan tepat pukul 00.00 malam oleh serangan bbm dan line saya berbunyi. 

Saya bangun dengan kesal sambil mengambil hp yang ada di samping saya. Lalu saya buka buka passwordnya dan membuka aplikasi bbm yang hanpir ketika banyak bbm masuk, dia lelet seperti siput berjalan. Tapi ketika membukanya  saya tersenyum, ternyata orang-orang ini masih ingat ulang tahun saya. Tak sampai terharu , saya lalu membalas satu persatu bbm itu, saya membalas saat itu juga karena menghargai orang-orang yang ngucapin ultah tepat pada pergantian hari di bulan yang penuh berkah.

Padahal di Facebook, tanggal lahir saya tidak dipublish. Beberapa tahun belakangan saya tak suka perayaan ulang tahun saya, hanya perayaan saja, tak lebih. Saya bersyukur dan senang masih ada yang ingat ulang saya dan mendoakan saya menjadi orang yang lebih baik.

Saya pun tak ingin kado apa-apa, saya hanya ingin sepatu baru, ps3, ipod baru, hp baru, sepeda baru, Lego, kacamata baru, tiket liburan dan masih banyak lagi.HEHEHEHEHE.

Saya bersyukur punya orang-orang yang selalu ada untuk saya, orang-orang yang tak seberapa banyak ini selalu mensupport saya setiap hari. Semoga secepatnya kita "melarikan diri" bersama-sama. In My Life i Love You More.

Dihari yang baik ini, saya pikir masih banyak pencapaian-pencapaian saya yang belum tercapai. Sekolah lagi, liburan dan menelurkan karya dan bertemu dia. Semua itu masih ada dalam list, hanya saja saya masih belum serius merealisasikannya. Semoga Tuhan melancarkan semuanya .
Sekarang saya kehabisan kata-kata.

Thank God, Thanks my family, my Vulgar Friends, and all my friends.
Share:

Thursday, April 30, 2015

Bercerita Tentang Sepi

Dari tadi saya mengetik, kemudian menghapus, mengetik lagi, kemudian menghapus lagi. Yang saya tulis maksudnya cuma satu, tentang rasa sepi dalam diri manusia.

Entah mengapa saya begitu susah menuliskannya. Sama seperti saya saat buang air besar kemarin. Susah dan butuh usaha keras. Maaf analogi saya sedikit jorok, itu sekarang yang ada dipikiran saya.

oke here goes :

Saya mengerti mengapa Tuhan menyusupkan rasa sepi ke dalam diri umatnya, ternyata untuk mendekatkan diri denganNya. Mungkin sebagian diantara kita termasuk saya, hanya mengingat Tuhan ketika kondisi jiwa atau mood kita sedang tidak baik. Misalnya, masalah yang sedang kita jalani terasa berat, sehingga mengakibatkan pikiran suram dan perasaan gelisah, tapi tidak basah.

Walaupin kita mempunyai seseorang yang selalu ada buat kita, tetap tak bisa menghapus rasa resah dan gelisah yang ada dipikiran dan hati kita. Padahal kita sudah menceritakan apa yang kita rasakan, tapi itu tak cukup membuat kita lega.

Bebeda, ketika kita berdoa kepada Tuhan, perasaan dan pikiran yang suram tersebut hilang seketika. Itulah yang selalu saya rasakan.

Sebagai makhluk ciptaannya, terkadang saya sering lupa kewajiban saya, tapi Tuhan tidak pernah lupa apa yang saya inginkan dan saya butuhkan. Dari sekian juta doa saya ketika kecil, beberapa dikabulkanNya. Tapi saya saat ini masih sangat sangat kurang bersujud dan beribadah kepadaNya.

Setelah saya baca kembali, tulisan saya yang ini terdengar semacam pengakuan dosa, dan kekesalan saya terhadap diri saya sendiri. Saya memang dalam kondisi yang tak baik. Terlalu banyak volume tekanan dari berbagai penjuru. Membuat hati tak tenang.

Sudah dua hari ini saya bertemu dengan orang-orang yang pernah ada di kehidupan saya di masa lalu lewat sebuah mimpi. Orang-orang yang pernah dikatakan spesial. Saya tak ingat mimpinya bagaimana, yang saya ingat hanya bermimpi bertemu mereka, sesederhana itu.

Padahal saya sebelum tidur tak oernah berpikir tentang mereka, setelah mimpi ini barulah saya memikirkan, apasih maksudnya. Kenapa kok bisa dimimpiin gitu ya?

Share: