Pindah Kota, Pindah Hidup
Tiga bulan lalu, gue pindah ke Pekanbaru.
Kedengarannya biasa. Padahal buat gue, ini bukan pindah kota. Ini pindah hidup.
Sebelumnya, selama kurang lebih tujuh tahun, hidup gue ada di Pangkalan Kerinci. Kota yang nggak banyak gaya, tapi cukup buat bikin rutinitas terasa aman. Pekanbaru sebenarnya nggak jauh beda. Bedanya cuma satu, fasilitas lebih banyak, dan jarak ke rumah terasa lebih dekat, secara geografis, juga emosional.
April 2023, gue dapet pesan di LinkedIn dari HRD RS Awal Bros Group. Isinya sederhana: “Apakah sedang open opportunity?,".
Di titik itu, gue sedang berada di fase karier yang, kalau mau jujur, cukup nyaman. Tujuh tahun di APRIL Group, dikelilingi orang dari berbagai negara, budaya, dan latar belakang. Fasilitas oke. Benefit jalan. Work-Life, gak balance, tapi cukup seimbang, olahraga, cuti, kerja, bermalas-malasan.
Dan seperti banyak keputusan hidup lain yang terasa penting, kebingungannya juga datang pelan-pelan.
Mei 2023, setelah mikir cukup lama dan berdiskusi dengan diri sendiri lebih sering dari yang seharusnya, gue akhirnya bilang iya.
Juli 2023, gue resmi pindah. Bukan karena karier lama gue buruk. Justru karena terlalu stabil.
Di satu titik, gue sadar, hidup gue rapi, tapi rasanya datar. Dan gue pengin ngerasain sesuatu lagi, entah itu capek, bingung, atau belajar dari awal.
Pindah itu berat. Bukan karena kotanya. Tapi karena yang ditinggal itu sudah keburu jadi “rumah”.
Keluarga, sahabat, dan teman-teman dekat gue nggak banyak ngomong. Mereka cuma bilang, “Coba aja.”
Hari-hari terakhir di sana diisi dengan hal-hal kecil yang bakal kangen, obrolan receh, rutinitas yang nggak pernah gue sadari pentingnya, dan momen-momen yang baru terasa berharga pas sudah mau pergi.
Perpisahan memang nggak pernah rapi. Ada pilu. Ada ragu. Ada tanya, “Gue ngapain sih?,".
Tapi hidup jarang menunggu kita siap sepenuhnya. Sekarang gue di Pekanbaru. Masih belajar. Masih adaptasi. Masih sering kangen.
Tapi setidaknya, gue tahu satu hal, gue nggak tinggal di tempat yang sama hanya karena takut berubah.
--------
Untuk SAHABAT RAPP,
Terima kasih sudah jadi bagian dari hari-hari gue, saat gue kuat, juga saat gue nggak terlalu tahu arah.
Bakalan kangen. Sampai ketemu di kesempatan lain. See You Again.
(Beli sekrup di Toko Hokkie.
Rere left the group.)
Comments
Post a Comment