Posts

Showing posts with the label Kacau

Hal-Hal Kecil yang Bikin Gue Tetap Waras

Sejak 2021, gue belajar satu hal yang kelihatannya sepele tapi cukup menyelamatkan kepala gue, kalau hidup lagi kacau, kita nggak selalu butuh jawaban besar. Kadang cukup nemu satu hal kecil yang bikin kita tetap waras. Tahun itu pandemi bikin hari-hari jadi seragam, bangun, kerja, olahraga, tidur, awalnya masih bisa ditoleransi, lama-lama rasanya kosong. Di satu fase isolasi mandiri gara-gara kontak sama rekan kerja yang kena virus yang namanya nggak usah disebut, gue iseng nonton Olimpiade badminton, tanpa niat apa-apa selain pengin lihat sesuatu yang nggak minta gue mikir.  Dari situ, entah gimana ceritanya, gue jadi rutin main badminton, sampai akhirnya ikut turnamen kantor dan dapet runner-up ganda putri under 30, iya, ini bagian yang masih sering gue ceritain ulang karena lumayan bikin bangga. Tapi hidup kan nggak pernah lurus, beberapa waktu kemudian kondisi down itu datang lagi, dan di situ gue sadar bahwa bahkan hal yang bikin kita senang pun nggak selalu cukup. Gue balik ...

Internet Addict

Image
Sudah lama tidak menulis di blog ini. Belakangan kebiasaan lama seperti membaca buku dan menulis di blog jarang sekali saya laksanakan. Hasrat untuk melakukan kedua hal tersebut semacam pergi dari jiwa saya. Padahal, banyak buku yang belum saya selesaikan, diantaranya Kafka on The Shore, IQ84- nya Haruki Murakami, Antalogi Rasa- Ika Natasa, dan Ubur-ubur Lembur- Raditya Dika dan ada beberapa buku dari Desi Anwar juga belum selesai. Bahkan, beberapa buku tersebut saya lupa meletakkan dimana. Kacau sekali. Well, dua tahun belakangan tidak ada hal-hal baru yang saya lakukan. Malahan, saya seperti menjadi internet addict. Sekarang saya tidak bisa hidup tanpa smartphone. Tak ada signal internet kadang membuat saya cemas dan senang (you know what I mean). Waktu saya habis akan internet. Melihat pesan di Grup Whatsapp yang terkadang tak penting, tak pula saya merespon, melihat insta-story rekan-rekan terkasih, nonton konser di youtube. Saya merasa berlebihan menggunakan internet, say...

RASAKANLAH ASAP

Image
Kualitas udara berbahaya di papan ISPU kota Pekanbaru. Sudah seminggu lebih kualitas udara Pekanbaru tidak sehat, bahkan sekarang berbahaya. Angka penderita ISPA sudah mencapai puluhan ribu, data terakhir dinas kesehatan Riau mengatakan sudah 12.262 warga Riau terkena Ispa, dan Pekanbaru menjadi penderita ISPA teratas, sejak 29 Juni hingga 6 September 2015 mencapai angka 2160. Mau kemana kita mengungsi? Mau kemana? Kalau yang punya duit biza keluar kota, kalau kere? Rasekan lah kalian warga Riau. Bahkan memyemprotkan parfum ke baju, sudah bau asap. Sudah dipadamkan, kemudian muncul lagi, dipadamkan muncul lagi. Semuanya rugi, yang tidak rugi pembakar lahan. Siapa yang di salahkan? Saya mengatakan banyak pihak. Saat ini memang banyak yang menyalahkan pemerintah, itu tidak salah, silahkan lanjutkan, buat sampai media asing memberitakan. Postinglah sepuasnya, kawan, tulis keluh kesahmu di media sosial dengan hastag #18TAHUNDENGANASAP . Karena sebagai warga kita berhak mendapatkan ud...

PALSU

Aku merasa hidupku terasa palsu sekarang. Aku menipu diri sendiri. Apa yang aku kerjakan adalah sesuatu yang takku sukai. Berbasa basi dengan orang lain, berpura-pura tidak terjadi apa-apa, merecoki negara (pemerintah), menerima telpon dari nomor yang tak dikenal, atau berpura-pura tertarik dengan suatu topik. Atau bertemu orang-orang yang bertopeng baik. Ada lagi obrolan yang sedikit "kasar" atau hal-hal yang kurang bagus sering aku dengarkan. Hal-hal yang tak lazim dibicarakan. Hampir setahun ini, aku menghabiskan waktu di luar rumah. Menulis disuatu tempat sampai malam. Dulunya aku tak seperti ini, aku hanya sesekali pergi ketempat ramai, itupun kalau diajak temanku, tapi sekarang, hampir setiap hari. Saat ini aku merasa dimanfaatkan beberapa orang, bukan drama. Ketika memberi yang baik, malah mendapatkan yang kekecewan. Padahal hidup harua seimbang, soalnya "kita sama-sama cari duit". Aku punya hasrat untuk keluar dari suasana seperti ini, tetapi aku ragu, ...

PIKNIK

Image
Saat ini saya tidak tahu apa yang akan saya tulis. Terlalu banyak hal-hal yang saling bertabrakan dalam pikiran saya. Bahkan saya sulit untuk mengurainya satu persatu. Hal-hal tersebut seperti rantai makanan yang selalu berkesinambungan dalam hidup. Ah, sial. Sekarang John Lennon sedang mendendangkan Blackbird karya Si sang puitis Paul McCartney The Beatles . Lagunya seperti mengajak saya untuk semangat. Saya seperti diajak untuk mengambil hal positif ditengah situasi yang negatif.  The Beatles / Google.com Saat mendengarkan lagu ini, saya  seperti berada di dalam kereta, pergi mengasingkan diri ke suatu tempat. Sambil melihat pohon yang hijau, saya melamum, memikirkan hal ringan. Seperti yang saya lakukan tahun lalu, ke tempat teman baik saya dan pergi ke tempat tinggi, merasakan udara segar lalu buang kentut di sana. Atau dua tahun lalu, saat perjalanan ke Bogor, tapi ditengah jalan saya dibunuh ganasnya oleh kemacetan Jakarta. Saya ingat, ketika Adhitia ...

Ketika Menulis Puisi Sapardi

Bulan ini saya sempat menulis penggalan puisi populer karya Sapardi tentang hujan di bulan Juni . " Tak ada yang lebih tabah dari hujan di bulan Juni, tapi hujan di bulan Agustus juga tak kalah tabah..." Saat itu saya hanya menulis untuk lucu-lucuan saja. Dan ternyata saat ini saya merasakannya. Belum sampai seminggu. Almost everyday, i hear dirty words. Tumbuang, demon, pantek, stupid, etc.The first words ever directed to me, directly, saya masih ingat itu. Seriously, kata-kata itu tak terdengar baik untuk saya yang hidup dengan lurus-lurus saja, biasa-biasa saja. Semakin lama saya kehilangan semangat, semakin lama semakin malas. Saya sadar, It's real world. Saya sadar, saya punya kemampuan yang tak seberapa dalam semua hal. Saya juga sadar sering melakukan kesalahan. Tapi apa yang saya dengar diluar pikiran saya. Ya, memang. Kalau kata Mario Teguh , Hidup itu tak seperti yang kamu mau, katanya. Saya sadar tidak semua orang yang saya temui berperil...

I Will Stay

Sedih. Saya berpikir apa yang sudah saya lakukan di masa lalu, apa yang sudah saya tinggalkan. Kesalahan saya di masa lalu. Banyak hal yang ingin ditumpahkan, banyak rasanya ingin diceritakan. Tapi sangat susah merangkai kata-kata yang akan dikeluarkan dari mulut. Saya terkadang kesal. Hal itu tidak bisa keluar. Jujur, terkadang saya merasa kesepian, butuh teman untuk bercerita hal-hal yang serius, remeh temeh, hal-hal yang sedikit gila. Jujur, saya sekarang sedang tidak bersemangat untuk melakukan apa yang setiap hari menjadi rutinitas saya. Saya seperti dibunuh oleh rutinitas. Tapi saya harus melanjutkannya. Jujur, sekarang saya tak begitu bahagia. Seperti ditertawakan semesta dan semesta berkata, apa yang kamu lakukan sekarang? Apa itu tujuanmu? Jujur, saya sekarang kehilangan semangat. Butuh injeksi tapi tak tahu formula apa yang saya butuhkan. Jujur, saya rindu membaca Coelho, Murakami, dan bacaan yang buat saya seperti hidup kembali. Sambil mendengar playlist ringan. Sep...

Dari Coldplay Hingga Norwegian Wood

Kembali saya ingin menulis di blog saya yang tak seberapa ini. Saat ini saya sedang mendengarkan fix you nya Coldplay . Sudah lama saya tak mendengarkan band asal Inggris ini. Sebelum tidur yang saya dengarkan Ed Sheeran , The beatles , Glenn Fredly , dan dia haa. HAHAHAHAHAHAAA. Coldplay ini lagu-lagunya menenangkan. Mereka menyuguhkan musik yang easy listening, kalau nyanyi itu gak mesti teriak-teriak. Saya paling suka dengan The Scientist . Entah mengapa, merasuki jiwa. Mari tinggalkan coldplay, saya ingin bercerita tentang novel yang baru saya baca. Novel yang sudah lama saya ingin baca, Norwegian Wood karya penulis Jepang , Haruki Murakami . Judulnya sama dengan lagu The Beatles yang Norwegian Wood. Bagi saya, ceritanya agak sedikit vulgar , tapi cara Murakami menuliskannya keren abis. Ia menulis dengan detail. Tokoh yang biasa saja tapi apa yang dialami tokoh tersebut luar biasa. Sekali lagi, ceritanya sedikit vulgar. Ketika saya ke Gramedia , saya awalnya ingi...

Aku Ingin Pulang

Jam kantor sudah menunjukkan 10.55. Dimana di jalan sudah sepi. Volume kendaraan sudah berkurang. Saya masih di kantor untuk mmelanjutkan piket rutin yang entah kapan berakhir, setiap hari. Suasana kantor hari ini sangat sepi, beberapa dari redaktur libur hari ini. Ditengah kegiiatan piket yang membosankan ini, saya hanya ingin mengatakan Aku Ingin Pulang, memeluk guling dengan khusyuk.

Jaman Apa Ini

Beberapa hari berlalu dengan kurang menyenangkan, kurang mengenakkan. Saya masih dalam fase-fase mencari, terus mencari dan mencari apa-apa yang dituntut. Dari mencari, sebagian ada hasil, sebagian tidak. Saya hanya saja menganggap bahwa saya mendapatkan hal-hal yang tidak adil. Merasa sudah berlari tetapi kenyataannya masih lari ditempat. Di luar sana dituntut untuk menjadi macam-macam, bekerja, sukses, kaya, mapan, punya keluarga yang sakinah, membesarkan anak-anak soleh, membeli mobil (kalau bisa dua), liburan ke luar negeri, dan mengikuti perkembangan jaman beserta gadget-gadgetnya. Semua itu melahirkan pusing di kepala tentang harus menjadi ini dan itu, baiknya punya abc sampai xyz. Dan di luar sana, diharus mempunyai mimpi-mimpi besar raksasa, mewujudkan dengan pantang menyerah seperti Oprah. Pokoknya kita harus punya mimpi besar, seperti tak ada tempat untuk orang yang tak punya ambisi besar. Sampai saya bertanya-tanya sebenarnya jaman apa yang sedang saya hidupi ini.

Beribadah

Entah apa yang saya pikirkan sekarang sehingga saya membuka blog saya untuk menulis sesuatu, apapun. Saya sedang dalam kondisi sedang tidak dekat dengan Tuhan, tidak seperti apa yang dulu saya lakukan. Saya menjadi sering abai dengan beribadah. Sebagai muslim, saya sering meninggalkan Sholat dan mengaji. Kebanyakan manusia, termasuk saya, sering menyalahkan setan dalam hal ini, setan terlalu menggoda saya.  Saya begitu malas untuk mengerjakan kewajiban saya sebagai muslim, padahal saya tahu sholat itu tiang agama, pondasi dari segala amal ibadah saya di dunia, tetapi saya masih tidak melakukannya. Apa saya tidak takut masuk neraka? Saya masih takut masuk neraka. Saya masih ingat perkataan seseorang kalau sholat itu melindungi kita dari perbuatan keji dan munkar, ritual untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Tetapi saya merasa sangat malas untuk melakukannya akhir-akhir ini. Tetapi saya sering membaca buku agama, mendengar ceramah, berdzikir. Tetapi untuk sholat saya merasa sa...

Ini - Itu - Mereka - Kita

Kali ini saya merasa dalam keadaan yang kurang beruntung... dalam segi hal pekerjaan. Sebutlah saya sudah menganggur sejak februari 2014 ini. Beberapa pekerjaan ada yang menolak dan ada yang menolak saya. Saya ditolak mungkin tidak sesuai dengan kualifikasi perusahaan tersebut, dan yang saya tolak karena bekerja di luar kota. Tapi Alhamdulillah beberapa rupiah walaupun tidak banyak, masih mengalir ke dompet saya. Memang, saya tidak diberi izin oleh keluarga saya untuk keluar kota, karena berbagai macam pertimbangan. Saya sering dibilang bodoh atau suka buang-buang kesempatan, tapi tidak itu yang saya pikir, saya tidak ingin bekerja yang tidak di beri izin oleh Bapak saya, karena izin orangtua itu sangat berarti untuk saya, ya terserah buat orang-orang yang selalu bilang saya buang-buang kesempatan. Setidaknya saya tidak membuang-buang hari-hari saya dengan Bapak saya, saya bisa melihatnya setiap hari di usia tua beliau, bertemu beliau setiap hari atau pergi ke suatu tempat b...

Hal Yang Dituntut

Ada hal yang mengganggu ketenangan saya sekarang. Ada beberapa pertanyaan yang mengganggu, membuat kesal. Pertanyaan seolah-olah cepat lulus tidak ada gunanya. “buat apa lulus cepat kalau akhirnya nganggur juga?”. “Ngapain harus di Pekanbaru, Pekanbaru enggak berkembang”.   “enggak bosan nganggur?”. Mungkin bagi banyak orang lulus cepat adalah sebuah impian, bagi saya lulus dengan cepat itu adalah keberuntungan. Saya beruntung mendapatkan dosen pembimbing yang terbaik, saya beruntung sifat malas dan pesimis saya hilang ketika saya mengerjakan skripsi, saya beruntung diberi kesempatan untuk mendaftar wisuda yang kala itu sudah tutup, saya beruntung bisa membahagiakan Bapak saya, melihat anak terakhirnya yang ia besarkan 7 tahun sendiri dapat lulus dengan cepat. Bagi saya yang paling penting dari semua itu adalah bagian terakhir dari lulus dengan cepat. Lulus dimana saat orang tua berbahagia setulus-tulusnya untuk anak yang dibesarkannya dengan keringat dan air mata. ...