Tuesday, November 10, 2020

Untuk Kamu yang Gagal...

Untuk mereka yang gagal.
Sudah berapa kali kamu gagal dalam mencapai hal yang kamu inginkan?
Sudah berapa banyak waktu yang kamu korbankan untuk hal yang kamu inginkan?
Sudah berapa banyak cara yang kamu lakukan?
Sudah berapa banyak doa yang kamu pinta ke Tuhan?

Tapi,
Usaha kalian masih gagal.

Berapa kali kamu merasa dunia ini berhenti?
Berapa kali kamu merasa capek berusaha?

Orang lain selalu bilang,
"Semangat"
"Mungkin bukan rezeki"
"Ada takdir Tuhan yang lebih baik"
"Mungkin belum berjodoh"
Kalimat dari orang lain yang memberikan kita dorongan untuk bangkit lagi yang terkadang tak berarti untuk kalian yang sudah berkali-kali berniat, berusaha dan berdoa. Namun, tetap gagal.

Orang lain :
"Bersyukur udah dikasih semangat daripada tidak dikasih"

Kadang perasaan ingin menyerah mungkin saja muncul. Yap benar. Hidup memang gak adil dan penuh dengan kegagalan. Ada hal-hal yang memang nggak tercipta buat kamu. Sakit sih, apalagi kalau sudah berjuang mati-matian tapi, ok nggak hoki sih. 



Kalo gagal, ya sedih. Sekecil apapun rasanya pasti ada sedihnya, kecewanya. Rasakan dulu… it's okay. IT IS OKAY. Jangan toxic positivity.

"Positive thinking"

Pasti ada yang muak dengan kalimat ini. Ya benar, berpikir saja tidak cukup. Tidak ada sejarahnya masalah rumit tiba-tiba selesai hanya dengan kekuatan pikiran.

Satu-satunya hal yang bisa menyelesaikan masalah adalah tindakan.

Kalau diingat-ingat, bertindaklah seperti Thomas Alva Edison, Tesla, Alexander Graham Bell, Galileo. Kalau mereka gak penah gagal, kita gak akan merasakan kenikmatan duniawi ini.

Untuk kalian yang sedang gagal dan bingung di persimpangan jalan, sedihnya hari ini aja di saat gagal, keesokan harinya harus semangat lagi. 

Share:

Friday, October 23, 2020

Review Story of Kale : When Someone's in Love

Rekan-rekan saya yang solimin,
Menghabiskan waktu di akhir pekan, saya memilih untuk tidak kemana-mana dan hanya berbaring sembari mengingat apa yang akan saya lakukan di Jumat menjelang magrib, ya tepatnya karena pandemi, saya memilih seperti itu. Saya pun ingat, beberapa hari yang lalu, beli tiket nonton bioskop untuk pertama kalinya selama COVID-19 dengan harga Rp 10.000- belum termasuk pajaknya.

Banyak postingan di Instagram saya menunggu film ini. Mungkin karena ceritanya dekat dengan keseharian kita, bagaimana berhubungan, bagaimana menghadapi pasangan. Jadi banyak anak muda yang fit in sama jalan ceritanya.

Lho, kok murah?
Emangnya di Pangkalan Kerinci ada bioskop?

Ya gak ada. Kali ini untuk pertama kalinya saya nonton bioskoponline.com. Kalau kalian sebelumnya nonton film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) pasti kalian tahu cowok yang buaya-in awan. Saya memilih buaya karena lebih Indonesia, kalau yang Fu*k boy itu terdengar kasar banget.




Yup betul. KALE. 

Actually, saya kurang tertarik dengan film cinta-cintaan apalagi yang bucin-bucinan. Alasan saya menonton ini hanya ingin menikmati hiburan yang disajikan selama pandemi, sekaligus ingin melihat untuk kedua kalinya akting Ardhito Pramono. Musisi yang sangat menginfluence saya untuk kembali  mendengarkan musik-musik jazz zaman kuno dan lagu-lagunya yang menentramkan. Kedua, saya penasaran dengan drummer band Arah, Azizah Hanum berakting di film ini. Untuk kalian ketahui, Aziza Hanum adalah News Anchor CNN Indonesia. Menurut saya, Hanum biasa ia dipanggil sedikit berbeda dengan news Anchor lain. Ia punya dua sisi yang berbeda. Setelah Robert Harianto sisi lainnya suka mengoleksi sneaker Air Jordan 1 dan punya konten sendiri, Hanum pun begitu. Satu sisi ia adalah jurnalis yang serius di televisi dengan membacakan berita, di sisi lain ia adalah orang yang selalu terlihat happy. Kok tahu? hampir semua podcast atau wawancara yang ia lakukan diluar pekerjaannya sebagai jurnalis saya sudah menontonnya. Kesimpulannya dia menginspirasi.

Awal film ini saya sedikit kaget dengan kalimat yang dikeluarkan Dinda yang diperankan oleh Aurelie. Ketika Kale sedang bermain piano, ia mengucapkan kata putus kepada Kale. Dalam pikiran saya "Kok ya langsung putus, ini pasti ceritanya beralur mundur dan maju,". Ternyata tebakan saya benar. 


Saya pikir, dalam film Kale ini ada Angkasa, Aurora dan Awan. Ternyata pemain filmnya ada 7 orang :
  1. Kale
  2. Dinda
  3. Hanum
  4. Tanta
  5. Roy
  6. Gilbert
  7. Argo
Dan yang paling banyak dialognya 
  1. Kale
  2. Dinda
  3. Hanum
  4. Tanta
  5. Argo 
Oke, balik lagi ke cerita, setelah Dinda minta putus sama Kale, kita diajak flashback pertemuan Dinda dengan Kale. Waktu itu Dinda masih menjadi bucinnya Argo dan menjalani hubungan yang toxic, tapi dia gak sadar, Argo ini kasar banget dah. Melihat itu, Kale turun tangan menjadi super heronya Dinda. 

"Kalau dia sayang sama kamu, dia gak kasarin kamu, Din," - Kale

"Kamu pantas dapat yang lebih baik," - Kale


Terdengar seperti buaya jantan, kan. Saat adegan ini gue ingat film Dilan 1990 yang membuat saya dan teman saya saling bertatapan dengan menghela napas.


Singkat cerita mereka akhirnya jadian di depan Circle K saat band Arah yang di manageri oleh Dinda tour. Kale saat itu menjadi additonal player untuk Arah. Saat Kale nembak Dinda memang terlihat seperti drama sekali.

Kemudian kita dibawa untuk kembali ke situasi Dinda minta putus ke Kale. Kale hanya bingung mengapa Dinda minta putus tiba-tiba. 

"Aku gak mau ada dihubungan ini," - Dinda.

"Gak ada, Le. Gak ada orang yang bisa bertanggung jawab atas kebahagiaan hidup kita selain diri kita sendiri," - Dinda


Terdengar seperti buaya betina bukan?
Setelah kale memaksakan kenapa Dinda minta putus. Akhirnya dia menjawab karena dia selingkuh dan ingin menikah. Tapi, dia tidak diketahui menikah dengan siapa, hanya saja, saat band Arah tour, Kale bertemu Argo di lift hotel tempat mereka menginap dan Kale terkejut. 

Kale menemui Dinda dan mempertanyakan apakah Argo mendatangi Dinda. Dengan menjelaskan singkat, Dinda hanya bilang kalau Argo pamit karena dia mau menikah.

Saya sebagai penonton berasumsi, Dinda akan menikah dengan Argo. 

Tidak lama setelah itu, Kale mengaku sudah bosan bermusik dan ingin menjadi managernya Arah.


Ternyata Film ini adalah awal cerita Kale menjadi buaya bagi Awan karena Kale di-buaya-in oleh Dinda. 

"Emang kita ini apa?"
"Kamu maunya apa?"


Film dari Angga Sasongko ini sejak film NKTCHI adalah kisah-kisah yang dekat kehidupan sehari-hari kita. Mulai dari :
  1. Usahakan apa yang ingin kita dapatkan
  2. Berani berpendapat
  3. Toxic Relationship
  4.  Sebuah hubungan seringkali tidak berjalan sesuai harapan dan bagaimana itu terjadi
Saat ini, kata TOXIC amat populer seantero negeri dan layak untuk dijual. Ditambah dengan visual yang estetik yang saat ini disukai berbagai usia. Film ini menurut saya cukup merakyat walaupun terlalu drama bagi saya pribadi. Dan tidak membuat penonton bingung untuk jalan ceritanya yang alur mundur.


Secara sosiologis, interaksi atas dasar romantisme cinta adalah rasional. Kalau kata Weber, sarana atau cara yang digunakan atau prinsip yang dipegang sejalan dengan ends. Nah, disini Kale memegang cara yang digunakan untuk menjalani suatu hubungan harus menjalin komunikasi yang terbuka dengan pasangannya. Tapi Kale belum tahu tujuan hubungannya kemana. Nah, Kale ini mengingatkan saya ke Self- Interaction kalau dia bertindak sebagai aku objek sekaligus aku subjek.

Nah, kalau Dinda anak konflik banget. Dengan berkonfliknya dia dengan Argo, mereka bisa nikah.

Tidak terlalu banyak ingat persoalan sosiologis saat ini. Jadi rindu kuliah dan diskusi haha.

Oke kita sudahi sampai di sini postingan review film Kale-kale-an yang ternyata di film ini menjadi sad boy.
Share:

Monday, October 19, 2020

Sudah by Ardhito Pramono

2021 gak lebih dari 2,5 bulan lagi.
2020 gak kemana-mana, gak pulang. Ya sudah, masih bersyukur masih bisa menghirup oksigen.

2020 adalah tahun yang luar biasa diangkat ke udara kemudian dijatuhkan ke bumi. Ya bisa dibilang sedih, perpisahan demi "grow up". Setelah itu ya seperti gak ada pegangan. Ditambah perasaan abai membunuh perlahan.

Sampai disuatu titik, otak bilang
"Penting untuk diingat, mutusin berhenti bukanlah hal yang mudah. Terlebih dunia ini nuntut kita untuk terus berlari, berhenti mungkin keputusan yang sulit. Sedangkan untuk tahu kapan harus berhenti, gak semua orang punya kemampuan untuk tahu ini. Yeap, pada suatu titik kita kudu paham kalau that is not belong to me. Mungkin sulit dilakuin, mungkin kultur kita yang nuntut kita terus berusaha. We cannot have everything in life".

Jahat banget ini pikiran sendiri, sampe mikir gitu. Sampe bener-bener bangun, kerja, pulang. Bener-bener kosong aja.

Di tengah ketidakjelasan itu, saya menghibur dengan bermain piano portable yang saya beli online. Ya memang, selama pandemi salah satu menghibur diri dengan menjadi musisi kamar kw 100. Tidak sengaja menemukan lagu "SUDAH" punya Ardhito Pramono. Mendengarkan lagu itu di waktu yang tepat banget. Hati sedang gundah dan sedang merasa nothing

Lagu "SUDAH" ini bener-bener ngajarin untuk ikhlas aja atas apapun yang terjadi diluar rencana kita ditahun ini. 

“Ada lebih banyak dalam diri kita daripada yang kita tahu jika kita bisa dibuat untuk melihatnya. Mungkin, selama sisa hidup kita, kita tidak mau menerima kurang"

Semoga persimpangan ini nantinya akan jelas dan terang. Amiin
Share:

Friday, September 11, 2020

Work Life Integration

Bulan Maret 2020, sejarah untuk Work From Home di mulai. Kita mulai menyadari bahwa ada realitas yang berubah, yaitu ternyata keberadaan di kantor tidak terlalu penting. Kita tidak sungkan untuk menonton Netflix atau bermain game saat bekerja karena bekerja dari rumah. Mungkin hidup setelah COVID-19 tidak akan pernah sama.

Selama pandemic kita bekerja melalui aplikasi zoom call atau sejenisnya yang terkadang ada gangguan-gangguan kecil seperti ada suara motor, anak menangis atau anak muncul di depan layar zoom. Rekan kerja atau atasan kita tidak akan menilai kita tidak professional, tetapi hal tersebut biasa dan bisa terjadi bagi siapa saja yang bekerja di rumah. 

Sekarang kita mulai terbiasa bekerja di tempat umum, di rumah teman, di kosan teman dan dimanapun yang kita mau. Tidak perlu kita harus izin atau harus menunggu jam pulang kantor untuk bertemu keluarga atau teman kepada atasan kita, asalkan pekerjaan kita selesai. Work Life Balance mungkin bergeser menjadi work-life-integration. Ya, antara kehidupan dan pekerjaan saling terintegrasi.


Tapi...
Saya berpikir apakah sebenarnya sekarang perbedaan waktu antara hidup atau bekerja menjadi samar? Atau jam kerja semakin lama semakin hilang?

Semua ini hanya bayangan saya saja. Karena saya belum WFH. Hehehehehe
Share:

Friday, August 21, 2020

Lakukan Ini Setiap Hari Bersama Pacar

Kata cinta mungkin muncul di benak saat ini. Kegembiraan, harapan, kepercayaan dan keamanan. Terkadang kesedihan dan kekecewaan juga muncul diantara itu. Mungkin tidak ada kamus yang bisa membuat kita terhubung daripada kata cinta.

Kita pun gak pernah diajarin bagaimana cara mencintai. Membangun persahabatan, pacaran, menikah, punya anak. Dengan harapan kita semua tahu bagaimana mencintai. Tapi, pada kenyataannya kita sering menyakiti dan gak menghormati orang yang kita cintai, seperti menyalahkan teman yang menghabiskan waktu kita, membaca pesan Whatsapp pacar atau mempermalukan seseorang di depan umum. Mungkin kita berada hubungan yang sehat atau gak sehat. Ya, benar, itu merupakan bagian dari menjadi manusia.

Hampir semua orang memulai suatu hubungan dengan perasaan yang menyenangkan dan menggembirakan. Kasih sayang dan emosi. Biasanya setiap hubungan yang baru membuat kita sering menghabiskan waktu bersama, mudah melewatkan banyak hal. Diri merasa sangat beruntung, seperti ketimpa duit Rp 1 M. Mengucapkan kata I love you lebih cepat, sering chattingan, sering telponan. Bahkan kita gak sabar ketika dia merespon dengan lambat.

Apakah kita merasa terkekang? Apakah kamu merasa hidupmu jauh dari keluarga, teman, atau sahabatmu karena hubunganmu dengan pacar? Berarti kamu Bucin.

Mungkin dari semua ini kita belajar bahwa bukanlah bagaimana suatu hubungan dimulai, melainkan bagaimana ia berkembang. Awal hubungan baru, please perhatikan perasaan kita. Apakah kita terlalu cepat suka, terlalu cepat mencintai? Apakah kita memiliki ruang untuk bernapas? 

Pada suatu masa, kita pernah cemburu. Tapi, ada yang kadar cemburuannya ektrim. Pacar kita menjadi lebih penuntut, harus mengabari kita dengan siapa sepanjang waktu, mengikuti kita kemana saja, offline maupun online. Posesif dan gak percayaan !  Kamu dituduh menggoda orang lain, selingkuh dan menolak penjelasan kita ketika kita memberi tahu mereka kalau mereka gak perlu khawatir. Harusnya gak gini sih.

Dalam hubungan yang tidak sehat, kata-kata digunakan sebagai senjata. Obrolan yang dulunya menyenangkan, ringan, berubah menjadi kejam dan memalukan. Pertengkaran yang penuh air mata dan bikin frustasi, kata-kata makian dan menyakitkan setelah itu diikuti permintaan maaf dan janji bahwa itu tidak terulang lagi. Pada titik ini kadang kita seperti berada di roller coaster sehingga kita tidak menyadari betapa gak sehat dan berbahayanya hubungan itu.

Kalau teman saya bilang “Semua itu bisa diubah, asal keduanya mau berubah”. Caranya dengan berkomunikasi dengan baik, terbuka, saling menghormati, sabar dan itu bisa kita lakukan setiap hari.
 

Share:

Thursday, August 6, 2020

Cara Belanja Gen Z

Beberapa waktu belakangan, saya mendownload TikTok untuk menghapus dahaga penasaran saya terhadap platform yang katanya banyak dibenci oleh generasi saya, generasi Z. Awalnya, saya memang kurang tertarik bermain TikTok yang 'katanya' berisikan prang berjoget-joget. Namun, ternyata anggapan itu tidak benar, paling benar ! Tapi, tergantung awalnya kita interest kemana dan di timeline kita akan muncul video-video yang kita sukai.

Nah, di timeline saya yang tidak banyak orang joget-joget, ternyata banyak anak usia sekolah, kuliah, ya bisa dibilang generasi Z sering posting barang yang mereka beli. Ternyata setelah saya perhatikan, ada perbedaan dengan generasi saya, sebagai generasi millenial dalam berbelanja.

Adanya pergeseran nilai. Mereka lebih terfokus pada nilai. mereka melihat suatu produk tersebut dan benar-benar memahami siapa pembuatnya, bahan bakunya berasal darimana, apa misi dari produk tersebut dan hal-hal lainnya. Ya, sepertinya mereka melakukan sesuatu lebih jauh dan mempercepat sebuah trend.

Mereka mau mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk membeli barang-barang yang sustainable agar nantinya mereka tidak merasa bersalah saat menggunakannya. Mereka lebih memperhatikan nilai-nilai sosial, status dan sebagainya.


Mereka sepertinya tidak menganggap kemewahan dari brand yang ditempel di tas, kemeja, sepatu sebagai identitas mereka. Mereka benar-benar ingin menjadi unik, menjadi berbeda. Bahkan, jika sesuatu barang itu mahal, mereka akan tetap mau membelinya. Mereka ingin jadi diri sendiri dan mereka nyaman.

Kalau dulu mungkin tidak banyak pilihan. Sekarang sudah banyak, jadi mereka bisa memilih yang sesuai dengan apa yang mereka cari dan yang mereka inginkan. Ditambah dengan media sosial secara keseluruhan sebagai platfrom yang sangat pas untuk mengiklankan suatu produk.

Selebriti aja sekarang sepertinya kurang dipercaya oleh Gen Z ini. Kenapa? saya melihat saat ini banyak suatu brand yang suka meng-endorse barang ke mikro influencer. Mereka memposting suatu produk dan saling berkomentar satu sama lain sehingga menciptakan dialog yang kolaboratif agar produk ini dapat dipercaya oleh Gen Z ini. Ada lagi yang menggunakan jasa influencer, jika influencer satu pake ini, mereka akan beli.

Konsep pemasaran telah berubah. Generasi X mereka lihat sebuah iklan produk di televisi dan saat iklan itu muncul, ada kebahagiaan yang muncul. Generasi Y mengkombinasikan dari televisi dan pendapat dari orang sekitarnya. Kalau Gen Z lebih memfilter. Mereka mendengarkan pendapat orang lain, dan melihat banyak di social media. Jika itu memberikan pengaruh dan sejalan dengan mereka. mereka akan pakai.

Huh.

Padahal emang sih, kalau di pikir-pikir, kebanyakan barang mahal itu nyaman.

Share:

Sunday, July 12, 2020

Half A Year in 2020

Udah bulan Juli 2020 aja.
Gila ya. Udah setengah tahun berlalu nih kehidupan di tahun 2020. 
Ngapain aja di 2020?
Ya, tetap menjadi budak korporat dengan gaji Alhamdulillah pas-pasan, pas-pas bisa makan, pas-pas bisa beli skin care murah, pas-pasan bisa beli tiket Air Asia ke Malaysia, pas-pas bisa ikut ibadah qurban setiap tahun. Alhamdulillah. Konon, kata Ustad, orang yang sering bersyukur InsyaAllah rezekinya akan bertambah, Amiin.

Terus ngapain aja di tahun 2020?
Ya banyak. Some I can't say. Ya menikmati kelas online. Selama Karantina setelah dari China kemarin, saya ikut kursus The Fundamental of Digital Marketing dari Google, Alhamdulillah sudah lulus dan dapat sertifikatnya. Ini kursus gratis. Rekan-rekan terkasih bisa coba di Google Digital Garage.


Selain itu, saya juga ikutan kelas-kelas online seperti Politik dan Sosial, sebagai bentuk kerinduan saya dengan kuliah dan membahas teori-teori berat. 

Jujur, saya rindu kuliah, rindu belajar dan diskusi dengan orang yang berkecimpung di dunia akademis. Saya merasa ilmu sosial itu berkembang, apalagi sekarang, banyak yang bisa dikulik seiring berkembangnya zaman. 

Saya punya niat dan keinginan kuliah master yang besar, bukan karena ikut-ikutan teman-teman saya yang kuliah S2, tapi jujur, saya tidak ingin jadi pikun. Jadi, sekarang saya berusaha untuk terus belajar darimana saja. Kemarin terakhir saya ikutan kelas online Brand & Marketing. Sebagai public relation dan punya jobdesk media konvensional dan digital, harus mengerti yang mana Brand dan Marketing serta tata caranya. Maklum, saya lulusan sosiologi dan nyemplung di dunia PR sedikit gamang dengan istilah-istilah komunikasi yang berseliweran dikepala saya seperti nyamuk magrib.

Sejak tahun lalu, saya pun mulai rajin belajar bahasa Inggris bersama mentor bahasa Inggris saya, Austin, tapi karena ia menolak menjadi budak korporat, dia pun memilih resign. Sekarang saya masih mencoba belajar dari internet, mendengarkan Ted, nonton Late-late Show With James Corden. Yap, susaaaah sekali untuk belajar bahasa Inggris. Harusnya saya les private bahasa Inggris ya dulu, bukan les matematika hahahaha.

Saya harus bisa dan pasti bisa.

Beberapa kampus idaman saya ya UI dan ITB, tapi kalau dikasih lebih sama Tuhan, saya mau kuliah di Nottingham di Inggris, Adelaide di Australia, dan NTU di Singapore. 3 itu aja deh, udah cukup.

Jadi? Kamu hanya pengen kuliah aja?
Tentu saja tidak. Saya pun ingin berkarir lebih baik di tempat yang baik pula. Ingin punya banyak pengalaman dan menjadi ahli di bidang public relation, baik secara teori dan praktiknya.  Saya pun ingin jadi leader, bukan bos suatu saat nanti. 

Waduh, seperti wawancara kerja dan beasiswa. Hahaha soalnya kebanyakan wawancara, tapi belum ada offering yang cocok *eiiiits hahaha canda.

Cukup deh nyampahnya, udah mahrib.



Share: