Tuesday, September 21, 2021

Thank You Greys and Popor !

Halo blog. 
Kekenyangan makan kue bulan. Kue yang dimakan hanya sekali dalam setahun. Hahaha!
Anyway, Happy Mooncake Festival !!!.

Jam 9.45 pm baru masuk kamar setelah bekerja 13 jam. Belum bisa tidur, jadinya saya kembali membersihkan sarang laba-laba di e-mail dan blog. Masih ya buka email? Mungkin passion saya adalah bekerja. Wakakaka

Anyway, saya ingin melanjutkan cerita tentang gara-gara Olimpiade Tokyo 2020 cabor badminton kemarin. Saat itu saya benar-benar sedang gundah gulana, sedih, banyak tidur, broken heart¿¿ dan merenung sambil bergumam dalam hati "Why is this happening to me?".

Greysia Polii, saya tidak begitu akrab dengan nama ini, hanya tahu kalau Greys atlet badminton, tetapi saat menjadi Gold Medalist di Tokyo Olympic, saya benar-benar mencari tahu, kok bisa sih orang ini juara?.

Gak perlulah saya paparkan cerita Greysia Polii, sudah bisa dibaca di internet. Dari kisah hidup dia yang saya ambil adalah formula:

Hasil=Niat+Usaha+Doa.

Waktu itu udah diatur sama Tuhan, Tuhan udah nyediain apa yang kita butuhin, asal kita usaha dan berani jemput.  Kalau kata Alm. Glenn Fredly, semua itu sudah diatur dan terjadi pada waktunya.

Apalagi saya nonton vlog Greys yang paling baru, saya jadi termotivasi. Memang ya, ucapan itu adalah bagian dari doa kita. Kadang kita gak sadar, perkataan yang hanya dilontarkan dari mulut kita, itu terjadi. 

Secara tidak sengaja, saya juga keterusan menonton youtube, scrolling instagram, accidentally, Greys bagus banget pertemanannya. Saya bisa banyak mengambil contoh dari Greys untuk soal itu. Dia punya teman dekat gak hanya dari Indonesia. Doski juga punya good relationship dengan atlet-atlet badminton negara lain, terutama dengan atlet Thailand, Sapsiree Taerattanachai (Popor) dan Atlet Korea Selatan, Chang Ye-na. 

Walaupun tinggal di lingkungan banyak banget expats, saya sulit membangun pertemanan dekat dengan mereka, jadi hanha sekedar kerja saja. Atau mungkin saya harus keluar dari ke-INTJ-an ini, tinggalkan kasurmu dan bergaullah, hahaaha. Atau mungkin di sini memang individualis yang tinggi, karena gak jarang sama tetangga sebelah gak tau nama, hanya say hi atau angkat alis aja kalo ketemu. 

Kalau di remind ulang, dulu saya pernah nonton Popor, waktu Asian Games 2018 (sebelum ada yang bergumam "Kok gak nonton yang Indonesia?" Ya karena cuma sempat nonton itu dan memang lagi ada business trip di Jakarta, jadi curi-curi waktu hahaha). Tapi saat itu saya sekedar nonton untuk menghilangkan penat setelah presentasi yang memusingkan kepala. Jadi gak begitu antusias. Waktu itu sempat ngeliat fansnya Popor ini lumayan banyak juga sampe bawa spanduk, untung gak ada bendera Slank di sana. Terlalu maniiiiiis......

Setelah Olimpiade ini, barulah saya menonton seluruh pertandingan Greys dan Popor di youtube, yeap, ALL TOURNAMENT. Repeat again, ALL! Mulai dari mereka "ginuk-ginuk", sampai sekarang.
Mungkin ada yang kelewat juga ya. Tapi saya pastikan menonton semuanya.

Yeap, itu adalah salah satu kegiatan untuk mendistraksi kecemasan, kesedihan saya, jadi saya menonton seluruh pertandingan mereka.  Ditambah masih lockdown sejak 16 Maret 2020. Sangat-sangat membantu.

What a suprise! Badminton Thailand juga sangat bertumbuh. Saya juga kagum dengan Popor, memang kerja keras tidak mengkhianati hasil karena gak ada orang dalam, hahahaha. Just kiddingKeliatan banget dari prestasi-prestasi Popor. Salah satunya menjadi pemain pertama yang menangkan Grand Prix Gold pada 3 cabang badminton, yaitu single, women's double dan mix double. Sulit banget buat fit in di masing-masing cabang tuh. Kemudian cerita saat dia mengalami cedera dan kemudian bangkit dan berprestasi lagi bikin termotivasi.

Ternyata Popor juga sama dengan Greys, dia juga mementingkan pendidikan. Popor telah lulus kuliah 2014 silam. Sepertinya atlet-atlet Thailand rata-rata menyeimbangkan antara pendidikan dan karir olahraga mereka. Salut! Work life balance! Beda banget emang sama saya yang work life integration. Apalagi weekend, siap-siap on call. Hahahaha. It’s okay, because i can’t go anywhere. But, sometimes i need off day, rebahan di kasur adalah surga duniaaaa.

Lalu, Popor memiliki penampilan yang unik, bisa dikatakan trendy. Walaupun dia, ya, bisa dikatakan tomboy, wajah, rambut selalu on point pada setiap kesempatan. Bagus banget bangun personal brandingnya. Patut ditiru.

Last but not least, sampai sekarang saya belum bercerita secara langsung ke orang apa yang saya rasakan, apa yang saya pikirkan, karena memang sepertinya saya belum mampu dan belum sanggup. Saya mungkin bukan tipe orang yang bisa langsung berbicara lisan ke orang-orang, terutama hal-hal terlalu personal.

Mungkin secara tidak langsung mereka berdua menemani saya melewati hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidup. Bahkan saya sekarang juga bermain badminton, selain itu kadang juga diselingi dengan jogging dan golf. Lumayan membantu mengatasi ini semua. 

Saya jadi sadar, setiap orang punya kemampuan menyembuhkan diri, tergantung motivasi dan apa yang membuat mereka menemukan semangatnya lagi.

Thank you so much both of you. You have given many life lessons, how to work hard, how to rise from adversity. 

Hope you doing well at Sudirman Cup, Uber Cup, Indonesia Open, Indonesia Master and more tournaments in the future. Go Fight Win! 

Semoga kalian selalu menjadi terang di tempat yang gelap.
Semoga kalian terus menjadi garam di luar lautan.

See you in PARIS 2024 ! Hahaha
Semoga ya, setelah Tokyo gagal karena pandemi, paris jangan sampai gagal.
Semoga pandemi ini segera menjadi endemik, jadi bisa kemana-mana lagi.
Semoga Yang Punya Hidup bisa mengabulkan doa kita semua. 

Sehat Selalu yaaaaa semuanyaaaa

Share:

Friday, September 3, 2021

Gara-Gara Olimpiade Tokyo 2020

Kali ini ceritanya agak panjang.
Berbicara pandemi COVID-19, berbicara banyak hal. 
Banyak sekali hal-hal yang berbeda hampir 2 tahun belakangan. Banyak yang kehilangan mata pencaharian, banyak yang menahan rindu untuk tidak bertemu orang terkasih mereka, banyak yang kehilangan orang terkasih mereka dan banyak lagi. 

Juga bagi saya. 
Tahun 2020 dan 2021 ini membuat saya compang-camping dari segi mental saya. 2 tahun ini seperti melewati quarter life crisis, kekecewaan, kehilangan datang secara beruntun. Saya sempat bertanya apakah Tuhan sedang menghukum saya atau menguji saya yang tak serajin dulu berdoa dan beribadah kepadaNya. Atau saya terlalu lelah bekerja tiada henti tanpa menghibur diri sendiri karena tinggal di remote area yang sedang lockdown.

Bahkan saya merasa tidak ingin melakukan hal-hal lain. Saya benar-benar dalam keadaan demotivasi dan tidak ada keinginan melakukan apa pun selain kerja, nonton film, tidur atau makan. Rasanya seperti sakit hati, marah, kecewa, sedih. Saya benar-benar kehilangan daya dan energi untuk melakukan sesuatu.

Sejujurnya saya tidak tahu mengapa demikian. Saya hanya percaya, ketika my mom and dad pergi beberapa tahun lalu, saya percaya "Time Will Heal". Tapi kali ini berbeda sekali. Ternyata waktu gak bisa menyembuhkan.

Ditambah dengan keparnoan saya karena COVID-19. Saya benar-benar menjaga jarak dari kehidupan luar. Saya sedikit lelah harus SWAB PCR karena tracing rekan kantor yang kadang dalam 1 minggu bisa 2 kali. Iya, saya masih Work From Office karena memang saya bekerja di remote area, jadi WFH tidak terlalu diperlukan.

Suatu malam, sambil menghadap langit-langit kamar dengan lampu yang sudah dimatikan, saya berpikir 

"Sampai kapan sih begini? Sampai kapan saya harus begini? Sampai kapan harus merasa seperti ini. Apa lagi yang harus saya lakukan,".

Beruntung saya memiliki google dan teman yang menyarankan untuk melakukan meditasi. Pada suatu meditasi, saya disuggest untuk mencoba untuk memaafkan diri sendiri dan orang yang pernah membuat saya sedih, sakit hati, marah atau pun kecewa. Berat banget. Memang belum sepenuhnya, tapi saya merasa sekarang perlahan saya mulai sedikit-sedikit untuk memaafkan.

Ternyata meditasi belum sepenuhnya membuat saya tenang dan senang.

Suatu waktu ketika saya melakukan isoman menunggu SWAB PCR setelah melakukan kontak erat dengan rekan yang positif COVID-19, saya sangat stres. Saya di kamar sendirian, menunggu hari SWAB karena saat itu weekend dan memang petugas SWAB sedang off. Jadi saya harus SWAB di hari Senin. 

Selama 3 hari itu, saya merasa dalam tekanan. Saya bingung apa yang akan saya lakukan. Saya takut imun saya turun. Kemudian, secara tidak sengaja, di Instagram, saya menemukan postingan kalau saat itu sedang berlangsung Olimpiade Tokyo 2020. Tanpa pikir panjang, saya berlangganan Vidio, berharap semua cemas dan kekhawatiran saya, bisa hilang.

Awalnya saya nonton berbagai pertandingan, saya bingung, karena saya tidak mengerti. Akhirnya, saya hanya menonton basket dan badminton. Namun, karena saya terbiasa nonton NBA, jadi terasa kurang seru. Bukan sombong, tapi itulah yang saya rasakan.

Saya akhirnya fokus menonton badminton saja. tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga negara lainnya, seperti Thailand, China dan Korea. Ternyata seru dan memang diluar dugaan. Pertandingan-pertandingan mulai menghibur saya. Seolah-olah mendistraksi perasaan cemas kala itu. Saya lupa apa yang saya rasakan saat itu dan hanya fokus pada pertandingan.

Hari SWAB PCR pun datang dan bertepatan dengan Final Women's Double. Saya pergi swab pagi-pagi supaya bisa nonton Greysia Polii dan Apriyani Rahayu. Saya kira Greysia masih bermain dengan Nitya Krishinda Maheswari. Sudah ama sekali saya tidak update dengan yang namanya badminton. Hahaha

Walaupun tidak segreget pertandingan-pertandingan sebelumnya. Tetapi saat Indonesia menang, saya menjadi terharu karena sudah lama tidak menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan terharu, mungkin terakhir 2009 lalu, my last tournament sebelum fokus UN dan kuliah.

Ternyata dengan hanya menonton pertandingan olahraga, kita bisa melupakan hal-hal yang kurang berkenan dalam hati dan pikiran kita.

To be Continue



Share:

Tuesday, August 24, 2021

When God Takes You Back

Waktu akan terasa sangat pelan. Jantung selalu berdegup kencang tiap ponsel berdering

Mungkin itu yang dirasakan keluarga pasien COVID-19 yang berada di rumah sakit. Belakangan ini banyak sekali berita-berita duka yang berseliweran di gawai saya. Mereka berpulang karena COVID-19. Tak sedikit yang kehilangan orang-orang terkasih mereka, bahkan ada yang sekaligus. Yang paling bikin hati sedih adalah melihat seorang ibu kehilangan anak laki-lakinya, bukan karena COVID-19, tetapi efek dari long itu. Membayangkan saja saya sangat sedih. 

Seorang teman April lalu, kehilangan ayahnya, kemudian Juli ini kehilangan ibu mertua. Biasanya ia menulis obituari ketika orang-orang sekitar dia mangkat. Namun, kali ini sulit baginya untuk menulis. Tidak mudah. Juga bagi saya, mengingat orang-orang terkasih yang sudah tidak berada di dekat saya, rasanya sangat berat. Walaupun dalam bentuk postingan di Instagram, kadang membicarakannya membuat luka bathin itu muncul kembali. Saya bahkan memilih untuk tidak membicarakannya atau melihat fotonya karena itu cukup berat untuk dibicarakan, karena...yah... belum sanggup. Kehilangan itu ...menyesakkan.

Mungkin butuh waktu untuk siap bercerita banyak soal kehilangan orang tercinta, yang lain hanya sebatas menjawab pertanyaan lalu mengalihkan pembicaraan lainnya karena itu cukup berat untuk dibicarakan. Atau kita memilih untuk terlihat biasa saja sambil tidak memikirkan hal yang pahit itu. Kadang kita meminta teman-teman kita yang lain untuk bersikap biasa saja saat kita merasakan kehilangan.

Banyak dari kita dulu mikir bahwa kita gak sanggup kehilangan orang tua, anggota keluarga kita, teman, pasangan, pacar. Kita gak bisa bayangin. Tapi waktu itu terjadi, kita masih bisa bernapas dan mencoba untuk memproses kenyataan yang kita alami, yaitu kehilangan.  

Saya ingat kalimat ini, tapi saya lupa siapa yang berbicara

"Ada beberapa kesedihan yang sudah membuat kita tidak lagi sesak jika sudah mengalaminya berkali-kali. Tetapi, tidak dengan kematian. Tidak sama sekali"

Kita hanya bisa mengingat moment-moment manis bersama mereka. Saat hidup adalah kecupan di pipi dan gelora di dada. Tak lebih dan tak kurang. Segalanya terasa pas. Moment-moment seperti ini tak bisa dipotret. Terlalu dangkal pula bila diumbar. Ini murni punya kita, bukan siapa pun di luar sana.

Memang, kehilangan orang yang kita sayang bukan hal yang mudah. Saat rindu tak bisa lagi diobati dengan sebaris pesan dan sepenggal suara ditelpon karena sudah terpisah alam. It’s hard to forget someone who gave us so much remember. That memory will always hurt.

Seperti Sheila on 7 bilang:

Sekeras apapun menangis, takkan mengubah yang telah terjadi. Kita harus melepaskan
Semua tempat jalan waktu bersama, setiap kata yang telah diucapkan, bagai warisan yang telah disiapkan, kita harus menjaganya

Selamat jalan

Sampai jumpa 

Sending love and prayers to my beloved ones. I will always miss you,my dear. My prayers always for you.



Share:

Monday, May 10, 2021

Kenapa Kita Harus Jadi Social Media Ambassador di Perusahaan?

Dua tahun belakang, saya mendapatkan tantangan baru bergabung dengan tim Digital Media APRIL, tempat saya bekerja. Namun, pekerjaan sebelumnya sebagai External Communication tetap saya jalankan secara bersamaan.

Bergabung di tim digital media merupakan hal yang menarik untuk di kulik. Saya yang dulu tergabung dalam Social Media Ambassador sekarang menjadi bagian dari tim yang mengelola social media perusahaan. Kok ya perlu perusahaan menggunakan karyawan sebagai Ambassador? Kan bisa membayar para influencer untuk mengkampanyekan perusahaan? Kok karyawan mau sih jadi Ambassador?

Awalnya saya bahkan tidak mengetahui untuk apa sih tugas sebagai Ambassador perusahaan. Posting di social media mengenai perusahaan di akun pribadi apa tidak kehilangan followers? Mengkampanyekan program perusahaan di akun pribadi karyawan apakah mereka efektif untuk membantu branding perusahaan?

Dari yang saya lihat, ternyata menjadikan karyawan sebagai Ambassador perusahaan tidaklah sulit. Saat ini orang-orang menggunakan smartphone, hampir sebagian dari kita menggunakan social media. Social media adalah bagian yang tak terpisahkan oleh kehidupan kita saat ini. Sebut saja Facebook, Twitter, Instagram, TikTok bisa dibilang banyak digunakan masyarakat. Orang-orang akan tertarik dengan apa yang orang lain posting, kehidupan pribadi, pencapaian, dan hal-hal yang menyedihan.

Nah balik lagi mengapa perusahaan memilih karyawan sebagai Social Media Ambassador mereka?  

Selain menaikkan personal branding mereka, para netizen yang budiman ternyata trust people more than they trust companies. It’s that simple. Karyawan menjadi media paling efektif sebagai channel komunikasi perusahaan kepada pihak eksternal. Juga, karyawan akan dengan ikhlas untuk mengkampanyekan pesan-pesan, nilai-nilai yang dianut oleh perusahaan, karena mereka adalah bagian dari penting dari perusahaan. Selama 8 jam lebih, mereka menghabiskan waktu untuk belajar, berkarir dan mencari nafkah di perusahaan tersebut.

Social Media Ambassador APRIL bersama Iman Usman

Karyawan juga dapat meningkatkan company branding perusahaan dengan membantu meng-amplify postingan terkait perusahaan di akun pribadi mereka sehingga membuat relasi antara perusahaan, karyawan dan orang eksternal yang melihat.

Dengan karyawan menjadi Social Media Ambassador, reputasi perusahaan dapat menjadi lebih baik di mata para masyarakat. Masyarakat juga mengetahui apa saja promo, program dan kehidupan di perusahaan tersebut. Dan itu mereka berikan secara sukarela tanpa ragu-ragu.

Ternyata, saya gak kehilangan followers, tapi malah bertambah !

Yuk jadi Social Media Ambassador perusahaan.

 

Share:

Tuesday, April 20, 2021

Jadi Orang Baik

Kita adalah orang baik.

Sebuah paradox.

Terkadang, orang yang merasa baik adalah orang yang paling sering menyakiti orang lain. Tapi orang yang nyadar, dia bisa berlaku jahat ke orang lain, dia akan berbuat baik kepada orang.

Kalimat yang menyatakan bahwa kita harus berbuat baik kepada orang, karena nantinya orang tersebut akan membalas berbuat baik kepada kita. Terdengar semacam take and give.

Kalau di pikir-pikir, sebagai manusia, harusnya kita berbuat baik kepada orang bukan karena ingin diperlakukan baik, tetapi kita melakukan perbuatan baik itu karena itulah yang benar.

Tapi...

Kita tetap saja sebagai manusia ada aja yang gak sukanya sama orang. Kadang mereka membuat kita sedih, kadang mereka membuat kita kecewa, kadang mereka membuat kita marah.

Kalau dipikir-pikir ya, itu adalah yang diluar ekspektasi kita. Kita terlalu berharap orang lain itu berperilaku sesuai dengan yang kita harapkan. Tentu gak bisa dong.



Share:

Saturday, April 3, 2021

Self-Healing dan Kurangi Perasaan Negatif

Sedikit ringan.

Itulah yang saya rasakan beberapa waktu belakangan. Semenjak saya memilih jeda dari rutinitas kerja yang setahun tiada henti, saya akhirnya 'melarikan' diri sejenak. Saat itu saya benar-benar dalam keadaan demotivasi dan tidak ada keinginan melakukan apa pun selain kerja, nonton film, tidur atau makan. Rasanya seperti sakit hati, marah, kecewa, sedih. Mungkin kebiasaan ini dianggap malas, tetapi pada saat itu saya benar-benar kehilangan daya dan energi untuk melakukan sesuatu. Andai saja energi itu bisa di refill seperti teh ocha di Sushi Tei, mungkin saya bisa setiap hari me-refill nya, tapi sayangnya tidak.

Waktu itu saya hanya berkata dalam hati "Time will heal". Tapi faktanya adalah waktu gak bisa menyembuhkan. 

Pada saat melarikan diri itu, saya benar-benar berpikir, kok bisa? Kenapa hal ini tidak bisa pindah dari diri saya? Kenapa saya tidak bisa pindah? Lalu banyak pertanyaan muncul dalam kepala yang bikin pusing mencari jawabannya, sampai ngerasa kok hidup begini sih? Apa yang salah sih? Saya sadar saat itu saya benar-benar dalam kondisi tidak baik-baik saja.

Seorang berkata :

"Mungkin harus maafin orang-orang yang berada di masa lalu, supaya hidup ke depan terasa ringan, Atau memaafkan diri sendiri dan jangan terlalu keras dengan diri sendiri,"

Kalimat itu sontak membuat saya berpikir. Apa benar saya belum memaafkan orang-orang yang pernah menyinggung saya? Bahkan saya benar-benar tidak sadar itu terjadi.

Sambil memandang ke luar jendela, saya begitu banyak berpikir tentang apa yang saya rasakan. Flashback terhadap hal-hal yang membuat saya sedih. Ternyata, selama ini saya membuang energi terhadap orang-orang yang dulu pernah mungkin secara tidak sengaja menyakiti, entah saya yang terlalu take something personally. Saya sadar kalau hal itu yang membuat saya stress, mungkin aja pikiran seperti itu membuat kolesterol saya naik terus. Haahaha

Mikir keras sampai sembelit

Singkat cerita kemudian saya memilih untuk mengikuti meditasi, melatih pernapasan, menulis apa yang saya rasakan, ya semacam self healing gitu. Saya melakukan meditasi setiap hari, bangun tidur dan sebelum tidur. Kadang-kadang suka skip juga sih. Tetapi saat ini mulai terasa berdamai, walaupun belum 100 persen. Saya pun tidak ingin buru-buru dengan proses ini karena ini adalah salah satu tahap menuju self love

Dari sana, dampak lainnya, saya pun ingin menghilangkan perasaan-perasaan negatif dalam diri saya. Mulai dari belajar melihat sisi yang positif dari berbagai hal, lebih banyak bersyukur sama yang udah dipunya dan mulai berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Mengurangi mengeluh terhadap sesuatu, kalau pun secara tidak sengaja keluar dari mulut saya, saya langsung mencoba"Udah-udah gak usah, stop, stop,". Saya cuma mau kurang-kurangin mengeluh.

Dari sana, perlahan saya mulai paham bahaya mengeluh. Apalagi ngeluh ke orang lain. Karena bisa aja mereka yang tadinya bersemangat, bisa banget ter-influence untuk jadi malas. Saya sadar betapa bahayanya orang-orang yang mentalnya ngeluh mulu.

Sekarang?

Sampai sekarang saya mencobanya, tetapi efeknya mulai terasa. Buktinya, saya mulai membuka blog dan menulis tulisan yang rada serius. Dibalik semua itu, saya mulai paham, bukan waktu yang menjadi obat bagi luka kita, tetapi kemampuan diri kita untuk menyembuhkanlah yang menjadi obat yang paling penting dalam menyembuhkan kesakitan kita.

Yuk bisa yuk

Share:

Tuesday, February 23, 2021

Setahun Covid dan Clubhouse

Akhirnya saya merasakan cuti dan pulang ke rumah setelah 1 tahun. #thankscovid19 yang sudah membuat banyak perubahan kehidupan di bumi ini. Bagi saya sendiri, perubahan itu adalah saya jadi lebih sering mandi, bersih-bersih dan masak. Hehehe.



Virus yang belum ada obatnya yang katanya diperbesar oleh media. Satu tahun belakangan kita sudah terbiasa dengan mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas. 

Walaupun sudah setahun, kita belum bisa beradaptasi dengan COVID-19 karena takut tertular atau menularkan orang. Tapi, saya melihat di masyarakat kita COVID-19 ini seperti tidak ada atau tidak nyata. Tetap berkegiatan, berkumpul, tidak menggunakan masker dan tidak mengikuti protokol kesehatan.

Yeap.

Sebagian dari kita mungkin belum menemukan formula yang ampuh untuk beradaptasi dengan virus ini. Tapi apa pun itu, semoga kita terus menjaga kesehatan diri kita masing-masing.

By the way...

Beberapa hari lalu, Clubhouse adalah kata yang menjadi trending di twitter dan sedang diperbincangkan banyak orang. 

Sebuah aplikasi yang saat ini cuma ada di iOS ini digunakan sebagau ajang diskusi ngobrolin apa aja secara virtual. Ada yang sebagai pembicara, moderator dan pemateri. Ya seperti kita ikutan zoom, tapi gak pake video, hanya suara.

Banyak artis, influencer, musisi, orang-orang terkenal (memang yang pertama kali populer karena Elon Musk) sampe anak sekolahan pake Clubhouse ini. Tidak seperti platform media sosial lainnya, Clubhouse ini seperti podcast, tetapi kamu masih bisa bertanya langsung, dan berkontribusi dalam obrolan tersebut. Platform ini tidak ada chat, Clubhouse hanya fokus pada obrolan. 

Seperti sedang mendengarkan TED Talks atau semacamnya tanpa iklan, tanpa embel-embel marketing lainnya. Mungkin nanti ketika akan ada di android, akan ada iklannya, mungkin saat ini.

Namun, Clubhouse ada bahayanya untuk para PR, karena banyak pimpinan perusahaan terlibat sebagai pembicara di platform tersebut. Bisa saja saat obrolan ngadol-ngidul mereka bisa mengeluarkan terkait apa yang seharusnya tidak mereka bicarakan kepada publik terkait perusahaan.

Ini merupakan tantangan PR saat ini. Banyak pemimpin perusahaan menjadi narasumber berbagai event atau bahkan ig story yang mungkin secara tiba-tiba. Memang, di zaman digital ini semakin membuat kita berhati-hati dalam mengeluarkan kata-kata.

Apa PR harus punya Iphone?

Share: