Tuesday, February 23, 2021

Setahun Covid

Akhirnya saya merasakan cuti dan pulang ke rumah setelah 1 tahun. #thankscovid19 yang sudah membuat banyak perubahan di kehidupan di bumi ini. 

Virus yang belum ada obatnya yang katanya diperbesaran oleh media. 1 tahun belakangan kita sudah terbiasa dengan mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas. 

1 tahun sudah Covid-19 berada disekitar kita. Kita belum bisa beradaptasi dengan COVID-19 karena takut tertular atau menularkan orang. Pertama di tempat kerja, beberapa pemerintahan sudah mulai mengadakan kegiatan ceremonial. Tentunya dengan cara yang baru, seperti kita lihat dibanyak tempat.

Tapi, saya melihat di masyarakat COVID-19 ini seperti tidak ada. Mereka sudah mulai beradaptasi dengan virus ini, mereka tetap berkegiatan di luar, tetap ke mesjid, tetap ke pasar, tetap bertemu dengan keluarga mereka setiap hari.

Yeap.

Sebagian dari kita mungkin belum menemukan formula yang ampuh untuk beradaptasi dengan virus ini. Tapi apa pun itu, semoga kita terus menjaga kesehatan diri kita masing-masing.

By the way...

Beberapa hari lalu, Clubhouse adalah kata yang menjadi trending di twitter dan sedang diperbincangkan banyak orang. 

Sebuah aplikasi yang saat ini cuma ada di iOS sebagai ajang diskusi ngobrolin apa aja secara virtual. Ada yang sebagai pembicara, moderator dan pemateri. Ya seperti kita ikutan zoom, tapi gak pake video, hanya suara.

Banyak artis, influenser, musisi, orang-orang terkenal (memang yang pertama kali populer karena Elon Musk) sampe anak sekolahan pake Clubhouse ini. Tidak seperti platform media sosial lainnya, Clubhouse ini seperti podcast, tetapi kamu masih bisa bertanya langsung, dan berkontribusi dalam obrolan tersebut. Platform ini tidak ada chat, Clubhouse hanya fokus pada obrolan. 

Seperti sedang mendengarkan TED Talks atau semacamnya tanpa iklan, tanpa embel-embel marketing lainnya. Mungkin nanti ketika akan ada di android, akan ada iklannya, mungkin saat ini.

Begitulah satu terakhir yang terasa singkat.

Share:

Sunday, January 31, 2021

Ngomongin JOMO

Sarah Gibson jadi trending topic di dunia maya.
Siapa Sarah Gibson? Saya yang tidak tahu Sarah Gibson ini langsung searching di google
"Siapa Sarah Gibson?"
Kemudian link berita dari liputan 6 keluar
Ini beritanya; 


Ternyata Sarah Gibson adalah sahabat dari Awkarin, ternyata juga selebgram, Memang, belakangan saya kurang update dengan selegram-selebgram itu. Masih belum ada yang bisa saya ambil dari mereka untuk diaplikasikan ke kehidupan saya. Saya sudah tidak takut untuk ketinggalan hal-hal yang happening.

Apalagi saat ini banyak konten yang berseliweran di media sosial yang banyak menunjukkan trend-trend terkini. Eksistensi digital membuat kita terobsesi dengan banyak hal. Kita tak ingin ketinggalan berbagai postingan keributan politik, meme-meme usil yang menggelitik, tempat nongkrong  yang sedang hits, dan foto-foto liburan teman yang membuat iri.

Tapi buat apa sih? buat apa? 

Saya menemukan istilah di internet The Joy of Missing Out (JOMO) sepupu dari FOMO. Gak apa-apa kalau gak ikut trend. Benefit menjadi JOMO itu :

  1. Menikmati Waktu Istirahat. Kita sudah stress bekerja, sudah banyak tekanan hidup. Kita perlu untuk charge energi kita kembali. Kita perlu untuk menikmati waktu istirahat kita supaya terus waras.
  2. Memutuskan hubungan dengan media sosial (sementara juga boleh). Media sosial dianggap sebagai salah satu penyebab utama FOMO dan untuk memanfaatkan JOMO sebaik-baiknya, ada baiknya menyisihkan sedikit waktu untuk tidak bermain media sosial dan menikmati waktu tanpa media sosial. Bisa baca buku, olahraga, nonton film dan hal-hal positif lainnya.
  3. Be Present.  Kita benar-benar hidup di ruang fisik. Kita bisa menikmati waktu bersantai kita, ya me time lah istilah zaman sekarang. Bisa memanfaatkan waktu dengan orang yang kita cintai.
Menikmati JOMO jangan sampai menjadi lupa dengan bersosialisasi dengan manusia ya.




Share:

Wednesday, January 6, 2021

A Whole New World - Aladin

Baru-baru ini saya mendapatkan kiriman buku dari Pak Agung Laksama. Director Corporate Affairs APRIL tempat saya bekerja. Judul bukunya ADAPT or Die. Bukunya membahas tentang perubaha di dunia Public Relations (PR) dan bagaimana para praktisi PR ini beradaptasi dengan dunia saat ini. Daaaaan langsung dapat ucapan dan tanda tangan si penulis. Pesannya : Teruslah memberi inspirasi dan stay creative, Re !! Waaaaaaah.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup saya, nama saya tercantum dalam buku ini pada bagian ucapan terima kasih. heheheh. Speechless. Karena selama ini nama saya hanya tercantum di skripsi-skripsi teman-teman saya. 

Oke kita lanjutkan. 



Buku ini terdiri dari 5 bab, yaitu :

  1. A Whole New World
  2. New Era of Journalism
  3. AI-Dari Fiksi Menjadi Realita
  4. Embracing Complexity
  5. What PR Will Look Like
Dalam Bab 1 memaparkan bagaimana harus terus berevolusi karena dunia industri terus bergerak, menemukan hal-hal yang baru, selalu berubah-ubah, seperti platform sebagai media untuk promosi semakin banyak dan pola belanja konsumen juga berubah. Mau tidak mau, para praktisi PR juga harus ikut zaman ini. Kita harus bisa memanfaatkan teknologi, karena teknologi bukan lagi menjadi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan. 

Saya merasa seperti de javu, karena saya pernah juga menulis artikel ini tentang perubahan cara kerja kita di awal-awal pandemi. 

Bab ini juga membahas bagaimana perubahan eksistensi generasi muda saat ini. Banyak Gen Y dan Gen Z mengidap #FOMO atau Fear of Missing Out. Mereka takut tertinggal oleh zaman, mereka takut tidak dibilang anak yang hitz, takut tidak update dan ingin eksis.

Selain #FOMO, di sini juga dibahas tentang #JOMO (Joy of Missing out) kebalikannya. Mereka tidak takut tidak disebut gaul, tidak update, dan tidak memiliki perasaan harus mengikuti sebuah trend. Mereka yang #JOMO ini lebih tertarik dengan kebahagiaan mereka sendiri daripada harus mengikuti orang lain.

Selain itu, Bab dari judul lagu Aladin ini juga membahas tentang fake influencer dan fake followers. Praktisi PR tidak boleh terpengaruh dengan banyaknya followers. Mereka harus benar-benar memeriksa sebuah akun yang memiliki followers banyak untuk memasarkan produk atau brand mereka. Saat ini followers bisa dibeli menggunakan berbagai cara.

Postingan saya, tentang Kecemasan Finansial ini berasal dari banyaknya informasi mengenai konten tentang bagaimana pengaturan urusan keuangan. Banyak sekali konten-konten seperti itu yang lalu lalang, baik itu di Instagram, Twitter maupun di TikTok.

Cara nabung sekarang CHEEEEEECK. 

Dan informasi yang overload  itu membuat bingung.  Nah, pada buku ini dijelaskan bagaimana praktisi PR bisa mengqmbil perhatian audiens terhadap konten yang hanya 8 detik. Karena saat ini orang-orang sudah balas membaca dan banyak pula yang hanya membaca judul.

Ini dari Bab A Whole New World ini menurut saya adalah bagaimana praktisi PR bisa beradaptasi dengan cepat di zaman teknologi saat ini. Pembuatan konten tidak lagi sekadar kuantitas, tetapi konten yang berkualitas agar para audiens bisa tertarik.

Kapan-kapan kita lanjutin lagi.
Sudah jam 11.00 PM, waktunya menghibur diri sendiri.

Share:

Monday, December 28, 2020

Kecemasan Finansial

11.49 pm.
Jam di laptop saya.
Saya hanya membuka email, mengecek satu per satu email masuk, mencari sesuatu hal yang saya butuhkan, kemudian membuka blog ini.

Pikiran saya benar-benar lari sana-sini. Memikir usia hampir 30 tahun beberapa tahun lagi, saya memikirkan apa saja yang sudah dilakukan dan apa yang belum dilakukan. Salah satu yang membuat pusing adalah kecemasan finansial

Belakangan ini, di media sosial kita mungkin bersliweran informasi tentang how to manage money, right? Itu benar-benar membuat saya berpikir, selama saya kerja 5 tahun lebih, kemana saja uang saya selama ini ? Padahal saya bukan sandwich generation. Kalau dipikir-pikir uang saya pergi menjadi kotoran semua. Atau apa karena terlalu banyak informasi seperti itu membuat saya cemas? Reading some bullshit on the internet, brainwashed? 

Benar-benar membuat saya cemas.

Ditambah dengan impian saya untuk melanjutkan sekolah di salah satu sekolah paling bagus, menurut saya, dimana biaya per semesternya bikin geleng-geleng kepala. 5 tahun dengan gaji di tempat yang sekarang, saya rasa 3 tahun tabungan belum bisa mencukupi.

Saya bahkan sudah menerapkan hidup minimalis, jika saya hitung, tabungan saya belum cukup. 

Fiuh, benar-benar membuat pusing kepala. Sampai saya berpikir untuk mencari pekerjaan sampingan selain pekerjaan tetap.

Menghindari pusing kepala itu, sepulang kerja hari ini, saya menonton Up In The Air. Filmnya bagus. Menceritakan seorang lelaki yang pekerjaannya memecat orang dan mengharuskan dia untuk melakukan perjalanan bisnis dari satu kota ke kota lainnya. Dia sangat suka dengan perjalanan tersebut, naik pesawat kelas bisnis, menginap di hotel mewah. 

Ucapan yang terngiang-ngiang sampai saya menulis di blog ini adalah
Kita membebani diri kita sendiri sehingga tak bisa bergerak. Jangan salah, bergerak adalah hidup

Kalimat yang diucapkan Ryan Bingham tersebut langsung membuat saya berpikir bahwa saat ini saya hanya stuck di sini, tidak kemana-mana. Saya harus bergerak, bergerak untuk maju, memperbaiki beberapa hal untuk mencapai tujuan. Bergerak dan terus bergerak. Bergerak dan berpindah. Jangan kebanyakan berpikir, just do it. Rezeki gak kemana. Semoga segera dipertemukan dengan hal-hal yang baik.

Harus dimulai dengan menyusun jadwal. Just Do It, jangan terlalu banyak berpikir.

Harus punya semangat yang sama seperti di kala sekolah dulu.

Awal-awal COVID-19 benar-benar banyak kursus yang saya ambil, mulai dari Communications Strategies, Management Conflict, Kursus bahasa Inggris sampe The Fundamentals of Digital Marketing Google yang ada ujiannya.

Please don't overthinking

Let's start !!! 

Share:

Thursday, December 10, 2020

It's Not About Me

Beberapa hari yang lalu, saya menonton TED x dimana sang speaker, seorang wasit bernama Frederik Imbo membahas bagaimana menjadi orang yang tidak baper alias bawa perasaan. Saya tertarik dengan pembahasan tersebut supaya saya bisa menjadi orang yang don't take things personally. Apapun.

Sulit?

Tentu saja. 

Dalam video tersebut, ia mengatakan bahwa  kita harus santai saja. Jangan terlalu anggap serius perkataan orang, just relax. Mengapa kita harus mengambil hati dari perkataan orang lain kepada kita, mungkin sesuatu yang kurang enak, tapi kenapa kita harus jadi baper?

Jika saya merasa sakit hati, tersinggung, merasa dikhianati oleh orang lain, itu hal yang membuat jiwa kita lelah. Kita bisa overthinking di setiap perkataan orang. Dan itu, menguras energi. Energi itu yang harusnya kita gunakan untuk hal yang lebih penting. 

Bukankah itu jauh lebih mudah?

Strategi yang harus diterapkan adalah dengan berpikir bahwa sesuatu tersebut bukan tentang diri kita. It's not about us, it's not about me. Perkataan orang lain terhadap kita, itu bukan tentang kita. Katakan dalam hati, ini bukan tentang saya. Mungkin mereka saja yang kurang berpikir atau tidak cukup bisa untuk berpikir jernih sebelum berbicara.

Orang mungkin akan terus mengejek, menyindir, meremehkan, mengkritik, mengabaikan kita. Mereka dapat menghancurkan dengan kata-kata. Tapi ingat, apapun yang mereka lakukan atau katakan, Saya harus menjaga value sebagai manusia. 

Belajar itu sulit, siapa suruh belajar?

Share:

Monday, November 30, 2020

Be A Minimalist

Minimalism : A Documentary About The Important Things.

Film dokumenter yang menceritakan tentang gaya hidup minimalis. Film yang dirilis pada tahun 2015 silam ini memaparkan dasar-dasar dan manfaat dari gaya hidup minimalis. Film ini menjelaskan bawa gaya hidup minimalis adalah mengkomsumsi hal-hal yang wajib dan bernilai dalam hidup kita, membeli barang-barang yang benar-benar kita butuhkan. Intinya, kita hanya mengkomsumsi hal-hal yang bernilai dalam kehidupan kita. 


Film yang dirilis tahun 2015 ini sudah saya tonton beberapa kali karena saya tertarik untuk menerapkan hidup minimalis tersebut. Akhirnya, hampir 1,5 tahun saya menerapkan hidup minimalis. Sulit? Tentu saja.

Dulu sekali, saya banyak membeli barang-barang yang tidak saya butuhkan. Tapi, sekarang mulai berangsur-angsur meninggalkan kebiasaan tersebut. Bahkan, sudah 1 tahun lebih saya tidak membeli pakaian. Karena saya mulai berpikir untuk memakai barang yang masih bagus dan tidak menumpuk barang di kamar. Saya juga sudah membagikan baju-baju saya yang tidak terpakai kepada orang-orang. Jadi sekarang, saya hanya memakai baju yang memang saya butuh dan saya pakai sehari-hari.

Saat akan membeli barang, saya sekarang mikirnya berbulan-bulan. Misalnya sepeda. Kemarin semangat menggebu-gebu untuk membeli sedang berapi-api. Tapi, saya berpikir kembali "Kepake gak ini barang? nanti jangan-jangan jadi pajangan aja,". Akhirnya saya pun tidak jadi membelinya. Karena menurut saya nantinya barang itu tidak berfungsi dengan baik untuk saya. Kalau mau olahraga pun biasanya saya jalan kaki sore-sore di kompleks atau bermain basket.

Dalam berbelanja, sepertinya rasa menggebu-gebu ingin membeli itu ada pada saat kita sedang hunting barangnya, tapi saat barangnya sampai di depan mata kita malah jadi biasa aja, Bener gak sih?

Mungkin dengan gaya hidup minimalis kita bisa menemukan kebahagiaan-kebahagiaan kecil dalam hidup. 
Share:

Tuesday, November 10, 2020

Untuk Kamu yang Gagal...

Untuk mereka yang gagal.
Sudah berapa kali kamu gagal dalam mencapai hal yang kamu inginkan?
Sudah berapa banyak waktu yang kamu korbankan untuk hal yang kamu inginkan?
Sudah berapa banyak cara yang kamu lakukan?
Sudah berapa banyak doa yang kamu pinta ke Tuhan?

Tapi,
Usaha kalian masih gagal.

Berapa kali kamu merasa dunia ini berhenti?
Berapa kali kamu merasa capek berusaha?

Orang lain selalu bilang,
"Semangat"
"Mungkin bukan rezeki"
"Ada takdir Tuhan yang lebih baik"
"Mungkin belum berjodoh"
Kalimat dari orang lain yang memberikan kita dorongan untuk bangkit lagi yang terkadang tak berarti untuk kalian yang sudah berkali-kali berniat, berusaha dan berdoa. Namun, tetap gagal.

Orang lain :
"Bersyukur udah dikasih semangat daripada tidak dikasih"

Kadang perasaan ingin menyerah mungkin saja muncul. Yap benar. Hidup memang gak adil dan penuh dengan kegagalan. Ada hal-hal yang memang nggak tercipta buat kamu. Sakit sih, apalagi kalau sudah berjuang mati-matian tapi, ok nggak hoki sih. 



Kalo gagal, ya sedih. Sekecil apapun rasanya pasti ada sedihnya, kecewanya. Rasakan dulu… it's okay. IT IS OKAY. Jangan toxic positivity.

"Positive thinking"

Pasti ada yang muak dengan kalimat ini. Ya benar, berpikir saja tidak cukup. Tidak ada sejarahnya masalah rumit tiba-tiba selesai hanya dengan kekuatan pikiran.

Satu-satunya hal yang bisa menyelesaikan masalah adalah tindakan.

Kalau diingat-ingat, bertindaklah seperti Thomas Alva Edison, Tesla, Alexander Graham Bell, Galileo. Kalau mereka gak penah gagal, kita gak akan merasakan kenikmatan duniawi ini.

Untuk kalian yang sedang gagal dan bingung di persimpangan jalan, sedihnya hari ini aja di saat gagal, keesokan harinya harus semangat lagi. 

Share: