Monday, May 10, 2021

Kenapa Kita Harus Jadi Social Media Ambassador di Perusahaan?

Dua tahun belakang, saya mendapatkan tantangan baru bergabung dengan tim Digital Media APRIL, tempat saya bekerja. Namun, pekerjaan sebelumnya sebagai External Communication tetap saya jalankan secara bersamaan.

Bergabung di tim digital media merupakan hal yang menarik untuk di kulik. Saya yang dulu tergabung dalam Social Media Ambassador sekarang menjadi bagian dari tim yang mengelola social media perusahaan. Kok ya perlu perusahaan menggunakan karyawan sebagai Ambassador? Kan bisa membayar para influencer untuk mengkampanyekan perusahaan? Kok karyawan mau sih jadi Ambassador?

Awalnya saya bahkan tidak mengetahui untuk apa sih tugas sebagai Ambassador perusahaan. Posting di social media mengenai perusahaan di akun pribadi apa tidak kehilangan followers? Mengkampanyekan program perusahaan di akun pribadi karyawan apakah mereka efektif untuk membantu branding perusahaan?

Dari yang saya lihat, ternyata menjadikan karyawan sebagai Ambassador perusahaan tidaklah sulit. Saat ini orang-orang menggunakan smartphone, hampir sebagian dari kita menggunakan social media. Social media adalah bagian yang tak terpisahkan oleh kehidupan kita saat ini. Sebut saja Facebook, Twitter, Instagram, TikTok bisa dibilang banyak digunakan masyarakat. Orang-orang akan tertarik dengan apa yang orang lain posting, kehidupan pribadi, pencapaian, dan hal-hal yang menyedihan.

Nah balik lagi mengapa perusahaan memilih karyawan sebagai Social Media Ambassador mereka?  

Selain menaikkan personal branding mereka, para netizen yang budiman ternyata trust people more than they trust companies. It’s that simple. Karyawan menjadi media paling efektif sebagai channel komunikasi perusahaan kepada pihak eksternal. Juga, karyawan akan dengan ikhlas untuk mengkampanyekan pesan-pesan, nilai-nilai yang dianut oleh perusahaan, karena mereka adalah bagian dari penting dari perusahaan. Selama 8 jam lebih, mereka menghabiskan waktu untuk belajar, berkarir dan mencari nafkah di perusahaan tersebut.

Social Media Ambassador APRIL bersama Iman Usman

Karyawan juga dapat meningkatkan company branding perusahaan dengan membantu meng-amplify postingan terkait perusahaan di akun pribadi mereka sehingga membuat relasi antara perusahaan, karyawan dan orang eksternal yang melihat.

Dengan karyawan menjadi Social Media Ambassador, reputasi perusahaan dapat menjadi lebih baik di mata para masyarakat. Masyarakat juga mengetahui apa saja promo, program dan kehidupan di perusahaan tersebut. Dan itu mereka berikan secara sukarela tanpa ragu-ragu.

Ternyata, saya gak kehilangan followers, tapi malah bertambah !

Yuk jadi Social Media Ambassador perusahaan.

 

Share:

Tuesday, April 20, 2021

Jadi Orang Baik

Kita adalah orang baik.

Sebuah paradox.

Terkadang, orang yang merasa baik adalah orang yang paling sering menyakiti orang lain. Tapi orang yang nyadar, dia bisa berlaku jahat ke orang lain, dia akan berbuat baik kepada orang.

Kalimat yang menyatakan bahwa kita harus berbuat baik kepada orang, karena nantinya orang tersebut akan membalas berbuat baik kepada kita. Terdengar semacam take and give.

Kalau di pikir-pikir, sebagai manusia, harusnya kita berbuat baik kepada orang bukan karena ingin diperlakukan baik, tetapi kita melakukan perbuatan baik itu karena itulah yang benar.

Tapi...

Kita tetap saja sebagai manusia ada aja yang gak sukanya sama orang. Kadang mereka membuat kita sedih, kadang mereka membuat kita kecewa, kadang mereka membuat kita marah.

Kalau dipikir-pikir ya, itu adalah yang diluar ekspektasi kita. Kita terlalu berharap orang lain itu berperilaku sesuai dengan yang kita harapkan. Tentu gak bisa dong.



Share:

Saturday, April 3, 2021

Self-Healing dan Kurangi Perasaan Negatif

Sedikit ringan.

Itulah yang saya rasakan beberapa waktu belakangan. Semenjak saya memilih jeda dari rutinitas kerja yang setahun tiada henti, saya akhirnya 'melarikan' diri sejenak. Saat itu saya benar-benar dalam keadaan demotivasi dan tidak ada keinginan melakukan apa pun selain kerja, nonton film, tidur atau makan. Rasanya seperti sakit hati, marah, kecewa, sedih. Mungkin kebiasaan ini dianggap malas, tetapi pada saat itu saya benar-benar kehilangan daya dan energi untuk melakukan sesuatu. Andai saja energi itu bisa di refill seperti teh ocha di Sushi Tei, mungkin saya bisa setiap hari me-refill nya, tapi sayangnya tidak.

Waktu itu saya hanya berkata dalam hati "Time will heal". Tapi faktanya adalah waktu gak bisa menyembuhkan. 

Pada saat melarikan diri itu, saya benar-benar berpikir, kok bisa? Kenapa hal ini tidak bisa pindah dari diri saya? Kenapa saya tidak bisa pindah? Lalu banyak pertanyaan muncul dalam kepala yang bikin pusing mencari jawabannya, sampai ngerasa kok hidup begini sih? Apa yang salah sih? Saya sadar saat itu saya benar-benar dalam kondisi tidak baik-baik saja.

Seorang berkata :

"Mungkin harus maafin orang-orang yang berada di masa lalu, supaya hidup ke depan terasa ringan, Atau memaafkan diri sendiri dan jangan terlalu keras dengan diri sendiri,"

Kalimat itu sontak membuat saya berpikir. Apa benar saya belum memaafkan orang-orang yang pernah menyinggung saya? Bahkan saya benar-benar tidak sadar itu terjadi.

Sambil memandang ke luar jendela, saya begitu banyak berpikir tentang apa yang saya rasakan. Flashback terhadap hal-hal yang membuat saya sedih. Ternyata, selama ini saya membuang energi terhadap orang-orang yang dulu pernah mungkin secara tidak sengaja menyakiti, entah saya yang terlalu take something personally. Saya sadar kalau hal itu yang membuat saya stress, mungkin aja pikiran seperti itu membuat kolesterol saya naik terus. Haahaha

Mikir keras sampai sembelit

Singkat cerita kemudian saya memilih untuk mengikuti meditasi, melatih pernapasan, menulis apa yang saya rasakan, ya semacam self healing gitu. Saya melakukan meditasi setiap hari, bangun tidur dan sebelum tidur. Kadang-kadang suka skip juga sih. Tetapi saat ini mulai terasa berdamai, walaupun belum 100 persen. Saya pun tidak ingin buru-buru dengan proses ini karena ini adalah salah satu tahap menuju self love

Dari sana, dampak lainnya, saya pun ingin menghilangkan perasaan-perasaan negatif dalam diri saya. Mulai dari belajar melihat sisi yang positif dari berbagai hal, lebih banyak bersyukur sama yang udah dipunya dan mulai berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Mengurangi mengeluh terhadap sesuatu, kalau pun secara tidak sengaja keluar dari mulut saya, saya langsung mencoba"Udah-udah gak usah, stop, stop,". Saya cuma mau kurang-kurangin mengeluh.

Dari sana, perlahan saya mulai paham bahaya mengeluh. Apalagi ngeluh ke orang lain. Karena bisa aja mereka yang tadinya bersemangat, bisa banget ter-influence untuk jadi malas. Saya sadar betapa bahayanya orang-orang yang mentalnya ngeluh mulu.

Sekarang?

Sampai sekarang saya mencobanya, tetapi efeknya mulai terasa. Buktinya, saya mulai membuka blog dan menulis tulisan yang rada serius. Dibalik semua itu, saya mulai paham, bukan waktu yang menjadi obat bagi luka kita, tetapi kemampuan diri kita untuk menyembuhkanlah yang menjadi obat yang paling penting dalam menyembuhkan kesakitan kita.

Yuk bisa yuk

Share:

Tuesday, February 23, 2021

Setahun Covid dan Clubhouse

Akhirnya saya merasakan cuti dan pulang ke rumah setelah 1 tahun. #thankscovid19 yang sudah membuat banyak perubahan kehidupan di bumi ini. Bagi saya sendiri, perubahan itu adalah saya jadi lebih sering mandi, bersih-bersih dan masak. Hehehe.



Virus yang belum ada obatnya yang katanya diperbesar oleh media. Satu tahun belakangan kita sudah terbiasa dengan mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas. 

Walaupun sudah setahun, kita belum bisa beradaptasi dengan COVID-19 karena takut tertular atau menularkan orang. Tapi, saya melihat di masyarakat kita COVID-19 ini seperti tidak ada atau tidak nyata. Tetap berkegiatan, berkumpul, tidak menggunakan masker dan tidak mengikuti protokol kesehatan.

Yeap.

Sebagian dari kita mungkin belum menemukan formula yang ampuh untuk beradaptasi dengan virus ini. Tapi apa pun itu, semoga kita terus menjaga kesehatan diri kita masing-masing.

By the way...

Beberapa hari lalu, Clubhouse adalah kata yang menjadi trending di twitter dan sedang diperbincangkan banyak orang. 

Sebuah aplikasi yang saat ini cuma ada di iOS ini digunakan sebagau ajang diskusi ngobrolin apa aja secara virtual. Ada yang sebagai pembicara, moderator dan pemateri. Ya seperti kita ikutan zoom, tapi gak pake video, hanya suara.

Banyak artis, influencer, musisi, orang-orang terkenal (memang yang pertama kali populer karena Elon Musk) sampe anak sekolahan pake Clubhouse ini. Tidak seperti platform media sosial lainnya, Clubhouse ini seperti podcast, tetapi kamu masih bisa bertanya langsung, dan berkontribusi dalam obrolan tersebut. Platform ini tidak ada chat, Clubhouse hanya fokus pada obrolan. 

Seperti sedang mendengarkan TED Talks atau semacamnya tanpa iklan, tanpa embel-embel marketing lainnya. Mungkin nanti ketika akan ada di android, akan ada iklannya, mungkin saat ini.

Namun, Clubhouse ada bahayanya untuk para PR, karena banyak pimpinan perusahaan terlibat sebagai pembicara di platform tersebut. Bisa saja saat obrolan ngadol-ngidul mereka bisa mengeluarkan terkait apa yang seharusnya tidak mereka bicarakan kepada publik terkait perusahaan.

Ini merupakan tantangan PR saat ini. Banyak pemimpin perusahaan menjadi narasumber berbagai event atau bahkan ig story yang mungkin secara tiba-tiba. Memang, di zaman digital ini semakin membuat kita berhati-hati dalam mengeluarkan kata-kata.

Apa PR harus punya Iphone?

Share:

Sunday, January 31, 2021

Ngomongin JOMO

Sarah Gibson jadi trending topic di dunia maya.
Siapa Sarah Gibson? Saya yang tidak tahu Sarah Gibson ini langsung searching di google
"Siapa Sarah Gibson?"
Kemudian link berita dari liputan 6 keluar
Ini beritanya; 


Ternyata Sarah Gibson adalah sahabat dari Awkarin, ternyata juga selebgram, Memang, belakangan saya kurang update dengan selegram-selebgram itu. Masih belum ada yang bisa saya ambil dari mereka untuk diaplikasikan ke kehidupan saya. Saya sudah tidak takut untuk ketinggalan hal-hal yang happening.

Apalagi saat ini banyak konten yang berseliweran di media sosial yang banyak menunjukkan trend-trend terkini. Eksistensi digital membuat kita terobsesi dengan banyak hal. Kita tak ingin ketinggalan berbagai postingan keributan politik, meme-meme usil yang menggelitik, tempat nongkrong  yang sedang hits, dan foto-foto liburan teman yang membuat iri.

Tapi buat apa sih? buat apa? 

Saya menemukan istilah di internet The Joy of Missing Out (JOMO) sepupu dari FOMO. Gak apa-apa kalau gak ikut trend. Benefit menjadi JOMO itu :

  1. Menikmati Waktu Istirahat. Kita sudah stress bekerja, sudah banyak tekanan hidup. Kita perlu untuk charge energi kita kembali. Kita perlu untuk menikmati waktu istirahat kita supaya terus waras.
  2. Memutuskan hubungan dengan media sosial (sementara juga boleh). Media sosial dianggap sebagai salah satu penyebab utama FOMO dan untuk memanfaatkan JOMO sebaik-baiknya, ada baiknya menyisihkan sedikit waktu untuk tidak bermain media sosial dan menikmati waktu tanpa media sosial. Bisa baca buku, olahraga, nonton film dan hal-hal positif lainnya.
  3. Be Present.  Kita benar-benar hidup di ruang fisik. Kita bisa menikmati waktu bersantai kita, ya me time lah istilah zaman sekarang. Bisa memanfaatkan waktu dengan orang yang kita cintai.
Menikmati JOMO jangan sampai menjadi lupa dengan bersosialisasi dengan manusia ya.




Share:

Wednesday, January 6, 2021

A Whole New World - Aladin

Baru-baru ini saya mendapatkan kiriman buku dari Pak Agung Laksama. Director Corporate Affairs APRIL tempat saya bekerja. Judul bukunya ADAPT or Die. Bukunya membahas tentang perubaha di dunia Public Relations (PR) dan bagaimana para praktisi PR ini beradaptasi dengan dunia saat ini. Daaaaan langsung dapat ucapan dan tanda tangan si penulis. Pesannya : Teruslah memberi inspirasi dan stay creative, Re !! Waaaaaaah.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup saya, nama saya tercantum dalam buku ini pada bagian ucapan terima kasih. heheheh. Speechless. Karena selama ini nama saya hanya tercantum di skripsi-skripsi teman-teman saya. 

Oke kita lanjutkan. 



Buku ini terdiri dari 5 bab, yaitu :

  1. A Whole New World
  2. New Era of Journalism
  3. AI-Dari Fiksi Menjadi Realita
  4. Embracing Complexity
  5. What PR Will Look Like
Dalam Bab 1 memaparkan bagaimana harus terus berevolusi karena dunia industri terus bergerak, menemukan hal-hal yang baru, selalu berubah-ubah, seperti platform sebagai media untuk promosi semakin banyak dan pola belanja konsumen juga berubah. Mau tidak mau, para praktisi PR juga harus ikut zaman ini. Kita harus bisa memanfaatkan teknologi, karena teknologi bukan lagi menjadi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan. 

Saya merasa seperti de javu, karena saya pernah juga menulis artikel ini tentang perubahan cara kerja kita di awal-awal pandemi. 

Bab ini juga membahas bagaimana perubahan eksistensi generasi muda saat ini. Banyak Gen Y dan Gen Z mengidap #FOMO atau Fear of Missing Out. Mereka takut tertinggal oleh zaman, mereka takut tidak dibilang anak yang hitz, takut tidak update dan ingin eksis.

Selain #FOMO, di sini juga dibahas tentang #JOMO (Joy of Missing out) kebalikannya. Mereka tidak takut tidak disebut gaul, tidak update, dan tidak memiliki perasaan harus mengikuti sebuah trend. Mereka yang #JOMO ini lebih tertarik dengan kebahagiaan mereka sendiri daripada harus mengikuti orang lain.

Selain itu, Bab dari judul lagu Aladin ini juga membahas tentang fake influencer dan fake followers. Praktisi PR tidak boleh terpengaruh dengan banyaknya followers. Mereka harus benar-benar memeriksa sebuah akun yang memiliki followers banyak untuk memasarkan produk atau brand mereka. Saat ini followers bisa dibeli menggunakan berbagai cara.

Postingan saya, tentang Kecemasan Finansial ini berasal dari banyaknya informasi mengenai konten tentang bagaimana pengaturan urusan keuangan. Banyak sekali konten-konten seperti itu yang lalu lalang, baik itu di Instagram, Twitter maupun di TikTok.

Cara nabung sekarang CHEEEEEECK. 

Dan informasi yang overload  itu membuat bingung.  Nah, pada buku ini dijelaskan bagaimana praktisi PR bisa mengqmbil perhatian audiens terhadap konten yang hanya 8 detik. Karena saat ini orang-orang sudah balas membaca dan banyak pula yang hanya membaca judul.

Ini dari Bab A Whole New World ini menurut saya adalah bagaimana praktisi PR bisa beradaptasi dengan cepat di zaman teknologi saat ini. Pembuatan konten tidak lagi sekadar kuantitas, tetapi konten yang berkualitas agar para audiens bisa tertarik.

Kapan-kapan kita lanjutin lagi.
Sudah jam 11.00 PM, waktunya menghibur diri sendiri.

Share:

Monday, December 28, 2020

Kecemasan Finansial

11.49 pm.
Jam di laptop saya.
Saya hanya membuka email, mengecek satu per satu email masuk, mencari sesuatu hal yang saya butuhkan, kemudian membuka blog ini.

Pikiran saya benar-benar lari sana-sini. Memikir usia hampir 30 tahun beberapa tahun lagi, saya memikirkan apa saja yang sudah dilakukan dan apa yang belum dilakukan. Salah satu yang membuat pusing adalah kecemasan finansial

Belakangan ini, di media sosial kita mungkin bersliweran informasi tentang how to manage money, right? Itu benar-benar membuat saya berpikir, selama saya kerja 5 tahun lebih, kemana saja uang saya selama ini ? Padahal saya bukan sandwich generation. Kalau dipikir-pikir uang saya pergi menjadi kotoran semua. Atau apa karena terlalu banyak informasi seperti itu membuat saya cemas? Reading some bullshit on the internet, brainwashed? 

Benar-benar membuat saya cemas.

Ditambah dengan impian saya untuk melanjutkan sekolah di salah satu sekolah paling bagus, menurut saya, dimana biaya per semesternya bikin geleng-geleng kepala. 5 tahun dengan gaji di tempat yang sekarang, saya rasa 3 tahun tabungan belum bisa mencukupi.

Saya bahkan sudah menerapkan hidup minimalis, jika saya hitung, tabungan saya belum cukup. 

Fiuh, benar-benar membuat pusing kepala. Sampai saya berpikir untuk mencari pekerjaan sampingan selain pekerjaan tetap.

Menghindari pusing kepala itu, sepulang kerja hari ini, saya menonton Up In The Air. Filmnya bagus. Menceritakan seorang lelaki yang pekerjaannya memecat orang dan mengharuskan dia untuk melakukan perjalanan bisnis dari satu kota ke kota lainnya. Dia sangat suka dengan perjalanan tersebut, naik pesawat kelas bisnis, menginap di hotel mewah. 

Ucapan yang terngiang-ngiang sampai saya menulis di blog ini adalah
Kita membebani diri kita sendiri sehingga tak bisa bergerak. Jangan salah, bergerak adalah hidup

Kalimat yang diucapkan Ryan Bingham tersebut langsung membuat saya berpikir bahwa saat ini saya hanya stuck di sini, tidak kemana-mana. Saya harus bergerak, bergerak untuk maju, memperbaiki beberapa hal untuk mencapai tujuan. Bergerak dan terus bergerak. Bergerak dan berpindah. Jangan kebanyakan berpikir, just do it. Rezeki gak kemana. Semoga segera dipertemukan dengan hal-hal yang baik.

Harus dimulai dengan menyusun jadwal. Just Do It, jangan terlalu banyak berpikir.

Harus punya semangat yang sama seperti di kala sekolah dulu.

Awal-awal COVID-19 benar-benar banyak kursus yang saya ambil, mulai dari Communications Strategies, Management Conflict, Kursus bahasa Inggris sampe The Fundamentals of Digital Marketing Google yang ada ujiannya.

Please don't overthinking

Let's start !!! 

Share: