Tuesday, June 28, 2022

Feel Blessed Met Popor Sapsiree

Tulisan ini merupakan lanjutan dari postingan Story of Comeback Stronger.

Ada sebuah keinginanntahun lalu, yaitu menonton turnamen badminton secara langsung di Bali. Namun, apalah daya, waktu itu masih lockdown, dan memang turnamentnya tidak ada penonton dikarenakan masih pandemi. Jadi, nonton virtual saja dan berdoa semoga tahun 2022 bisa menonton langsung.

Tahun 2022, ada informasi bahwa Indonesia Master 2022 dan Indonesia Open 2022 bakal dibuka untuk penonton namun terbatas. Mendengar informasi itu, saya pun senang karena keinginan menonton secara langsung bakal jadi kenyataan. Saya pun tidak mau ketinggalan informasi untuk ini. Setiap hari lihat update informasi mengenai penjualan tiket di Istora Senayan. 

Saya memutuskan untuk membeli tiket Indonesia Master 2022. Saat tiket online dibuka, saya memutuskan untuk beli tiket quarterfinal dulu, nanti saja beli on the spot untuk semifinal dan final, jadi lihat situasi. Biasanya, Popor Sapsiree dan Hendra Setiawan lolos ke babak ini. 

Membeli tiket seperti melakukan rebutan kelas pas kuliah dulu, karena siapa cepat dia dapat. Dan akhirnya saya bersyukur dapat tiket quarterfinal. Saya pun mengajukan cuti untuk menonton idola saya. Lalu, pesan tiket pesawat, dan booking hotel di dekat GBK supaya bisa jalan kaki ke Istora Senayan.

H-1 quarterfinal, saat itu, saya nonton sambil istirahat siang. Ternyata Popor kalah, Hendra Setiawan juga kalah. HHHHMMMM. Walaupun begitu, saya tetap pergi. Siapa tahu bisa bertemu langsung idola, Kalau kata Haruki Murakami dalam Novel Norwegian Wood, aku ingin bertemu denganmu dan berbicara panjang. Tidak ketemu tidak apa-apa, mau ngerasain euforia EA EA EA.

Hari keberangkatan pun tiba, saya terbang menuju Jakarta dengan sakit perut. Sampai di hotel saya mules dan kemudian menghubungi teman saya untuk menemani makan dan mencari obat.

Tak disangka, saya bertemu Popor!!!

POPOR !!!!! 

Kemudian dengan gaya sok cool, tapi senang sekali dalam hati, saya menyapa dan minta izin untuk foto bareng. Dan rasanya, saya pun tak bisa mengungapkannya. Tak bisa ditulis lewat kata-kata. 

Esoknya saya bertemu lagi di lift dan mengobrol sebentar. Nah, singkat cerita Popor kembali ke lantai kamar saya untuk mengambil suatu barang. Namun, barangnya belum sampai. Dan akhirnya dia menunggu sambil ngobrol-ngobrol. 

"Ngobrol, dikasih gift sama idola, foto dan video rasanya aku bakalan gak tidur semalaman" tapi ternyata tidur juga hahahha.


Sampai sekarang, saya pun tidak bisa mengungkapkan bagaimana rasanya bertemu dan berbicara dengan idola saya yang satu ini. 

Amazing June 2022. One of my dream come true. Met my favorite badminton player after so many years of being a big fan since I was little and feel blessed to have talked to her.

She is really humble person and really kind. Unfortunately, I haven't been able to watch her in the final. It’s okay, I will watch you in another game.

Always support you no matter what. You’ll never walk alone. GO FIGHT WIN!

Let’s pick up a more shining sun, Champ!

See you next year and see you in PARIS 2024😉

Share:

Friday, June 17, 2022

Story of Comeback Stronger

Tulisan ini saya tulis ketika tahun lalu, ketika saya dalam kondisi tidak benar-benar baik. Hanya saja, saya belum berani untuk mempublish di blog saya. Sekarang kenapa? Entah, mungkin saya menyadari ada hal-hal baik yang mesti dibagikan.

Here we go:

Sudah lama sekali saya tidak menulis. Bahkan, baca buku saja sudah tidak ada gairah.

Hal ini sudah saya rasakan sejak 2020. Setelah saya mengikuti ujian masuk Magister UI, saya kembali, kemudian lockdown, dan juga dilanda patah hati. Hidup seperti biasa tanpa ada keinginan ini dan itu. Tidak banyak hal yang saya lakukan saat itu, hanya bekerja, makan, menonton film dan tidur. Hal-hal tersebut yang saya ulangi. Beruntung saat itu tidak terlalu berpengaruh dengan pekerjaan saya. Saya masih bisa bekerja dengan baik, bahkan masih tidak takut dinas ke China saat covid-19 lagi gila-gilanya di sana.

And next year, this was the first time that I felt these uncomfortable thoughts. I was really disappointed. I've tried my best, but the results are not good. And with an unreasonable reason. Memang, hidup tidak adil sih, tapi why me?. Berminggu-minggu saya memikirkan why, why and why. But telling people about it was showing weakness. I just kept it inside.

Ada seseorang yang mengatakan “Saya kira kamu bakal down setelah itu,”. Benar, diluar mungkin saya terlihat biasa saja, tidak terjadi apa-apa. Tapi ketika mendengar kalimat itu, saya benar-benar merasa stress, emotional roller coaster. Itulah alasan saya untuk tidak bercerita kepada orang lain, karena kita yang mengalami, mereka tidak benar-benar tahu, ketika kita bercerita, mereka tidak benar-benar tahu apa yang kita rasakan. Ya sudah, telan saja.
 
Pernah suatu malam, saya duduk, saya diam sebentar dan tidak sadar melihat jam sudah pukul 1.15 pagi.

“Oh man, so late,”.

And the all of sudden, like, out of nowhere, just, BOOM!”.

“Oh no”.

This is the first time that this happened in my life. Just the whole weight of stress came flooding in. And next day, I didn’t remember anything of the rest of my life activity, which is mind-blowing. I feel I was just another zone on another planet.

Pada saat itu, all wanna do is just curl up in a dark room, and, like, just not to see the world. But, saya masih sadar hidup tidak boleh seperti itu. Saya pun berusaha mencari formula bagaimana keluar dari masa-masa buruk ini.

Saya berusaha untuk mencari di google bagaimana mengatasi ini untuk diri sendiri dulu tanpa bantuan orang lain. Karena saya masih dalam kondisi lockdown, jadi belum bisa pergi kemana-mana.

Saya mencoba menonton youtube how to deal with it, how to beat it. Akhirnya, I did some meditation, mencoba hal-hal yang menyenangkan hati saya dulu untuk mendistract hal-hal negative dalam pikiran, kebetulan pada saat itu, ada olimpiade Tokyo dan saya tidak pernah melewatkan untuk menonton olimpiade ini, terutama badminton. Entah mengapa, saya selalu suka dengan badminton walaupun saya dulu bermain basket. Saya jarang melewati pertandingan badminton, terutama menonton idola saya sejak masa kecil, Super Lin Dan, Taufik Hidayat, Tony Gunawan, Hendra Setiawan, Lilyana Natsir, Greysia Polii, dan Sapsiree Taerattanachai. Beberapa dari mereka sudah pensiun dan saat itu yang bisa saya tonton hanya Greysia Polii dan Sapsiree alias Popor.

Saya tahu perjalanan mereka berdua sampai sekarang, Greysia bertukar-tukar pasangan, didiskualifikasi dari olimpiade London, cedera, partnernya cedera dan lainnya. Popor yang masih muda bisa juara Youth Olympic Games di Singapura, main semua cabang, single, women double dan mix double. Bagaimana ia berpasangan dengan Maneepong Jongjit, bagaimana dia ngetwit sekitar tahun 2011-2013, dan dia cedera pada 2017 saat Sea Games di Malaysia.

Saya kepikiran hal-hal itu. Kok bisa ya mereka masih bisa terus menjalani profesi sebagai atlet dengan baik walaupun dilanda berbagai macam ‘Gempa Bumi’ dalam hidup mereka? I was inspired by their story of how they was comeback and play really really well. Greysia Polii bisa jadi juara olimpiade, dan Popor bisa back to back juara di awal tahun 2021.

And saya tergerak untuk mencoba hal baru, bermain badminton. Saya belum pernah bermain badminton di lapangan badminton dan belum pernah punya raket sendiri. Akhirnya, I bought racket and played 3 times a week.

Dan sejak itu, saya merasa pikiran saya makin baik. Sementara saya masih bisa menemukan cara agar bisa waras saat ini. Semoga tidak perlu penanganan khusus. Mungkin saat ini saya sedang bertumbuh dewasa.

Thx to Greysia and Popor. Mungkin bagi orang-orang ini hal kecil, tapi bagi saya sangat berarti. Secara tidak langsung saya diarahkan Tuhan ke arah ini. Jika saya tidak pernah menonton Olimpiade, saya tidak akan ingat bagaimana mereka menjalani profesi ini. Saya jadi ingat 2015 dan 2018 nonton mereka langsung. Hanya saja saya bukan tipe yang mengabadikan moment, jadinya ya sudah, moment itu dalam pikiran saja, mungkin next harus ya. Semoga bisa menonton langsung. Semoga Covid segera selesai. Dan OPEN BORDEEEEERRRRR.

Ameen.



Dan akhirnya tahun ini border kembali dibuka. 2 tahun pandemi seperti cukup lama. Up and down dan sekarang secara perlahan kembali ke kehidupan sedia kala walaupun di beberapa sisi ada yang berubah.

Share:

Saturday, April 16, 2022

2 Years Long Enough, Our Life is Back

Akhirnya aku bisa kembali ke haribaan my hometown.

Baru sadar, dalam 3 bulan, aku mondar mandir Jakarta-Bali-Semarang-Pangkalan Kerinci-Jakarta dan  akhirnya aku kembali ke pelukan kasur di rumahku.

Ini long weekend, biasanya aku akan stay di Jakarta, menikmati kota Jakarta dengan segala isi dan pergaulannya. Tapi kali ini aku ingin kembali ke rumah, menikmati hal-hal yang tidak bisa aku dapatkan di Jakarta.

2 tahun sudah pandemi, setelah melalui berbagai PPKM, multiple lockdowns, puluhan swab PCR, kehidupan yang sangat dinamis saat pandemi, dengan tiga vaksin. Perlahan aku merasakan kehidupanku akan normal kembali seperti sedia kala.

I'm grateful for this.

Bersyukur masih bisa berkumpul bersama keluarga di bulan yang penuh suci. Berdiskusi tentang masa depan, keluarga dan pasangan.

Bersyukur bisa bertemu dan bercengkrama dengan teman seperjalanan. Teman belasan tahunku. Ia sudah berubah haluan sebagai vegetarian, suka yoga dan meditasi. Mungkin sebentar lagi ia akan berubah menjadi Reza Gunawan atau Adjie Santoso. Bagiku menarik sekali. Melihat perubahan sebuah kehidupan. 

Beberapa memori masa kecil seperti skip di pikiranku. Kadang aku ngerasa terlalu banyak hal hilang dalam perjalanan kita dari kecil hingga dewasa.

Pertemuan ini seperti bukanlah kebetulan, tetapi dirancang secara diam-diam. masing-masing dari kita punya garis kehidupan yang telah digambarkan. Dan masing-masing dari kita, kalau diizinkan akan salling bersinggungan. 

Bersyukur bisa menyelesaikan 1 pekerjaan walaupun sedang libur. Walaupun sedang libur, saya berusaha menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai. Lelah pasti, karena harus membagi waktu antara waktu bersenang-senang dan bekerja. Mungkin ke depan aku harus lebih rapih mengatur cara kerja.

Intinya, long weekend ini seperti refleksi diri untuk mensyukuri apa yang sudah didapatkan selama pandemi.

Semoga terus bisa merasakan nikmat syukur dari Yang Punya Hidup.


Berburu cerita Dumbledoree


Share:

Thursday, March 3, 2022

Mengambil Makna Hidup dari Lagu Diri - Tulus

Hari ini kau berdamai dengan dirimu sendiri

Kau maafkan semua salahmu ampuni dirimu

Hari ini ajaklah lagi dirimu bicara mesra

Berjujurlah pada dirimu kau bisa percaya

Maafkan semua yang lalu

Ampuni hati kecilmu

Luka-luka hilanglah luka

Biar tentram yang berkuasa

Kau terlalu berharga untuk luka

Katakan pada dirimu

Semua baik-baik saja

Bisikanlah

Terima kasih pada diri sendiri

Hebat dia terus menjagamu dan sayangimu

Suarakan bilangg padanyajangan paksakan apapun

Suarakan ingatkan terus aku makna cukup

Luka-luka hilanglah luka

Biar senyum jadi senjata

Kau terlalu berharga untuk luka

Katakan pada dirimu

Semua baik-baik saja

Bila lelah menepilah

Atur napasmu

Lirik diatas adalah lirik dari Lagu Diri dari Tulus.

Saya hari ini baru saja mendengarkan lagu Diri dari Tulus dari album Manusia ketika saya bekerja di Nyepi ini, Memang benar-benar Nyepi di kamar sendirian.

Ketika mendengarkan lagu ini, sebentar saya terhentak, maknanya dalam sekali. Sebagai manusia, kita sering bermurah hati untuk memaafkan orang lain, namun terkadang kita keras pada diri sendiri. Memaafkan berarti sudah ikhlas dan berdamai terhadap sesuatu.

Biasanya kita sering merasa tidak adil, merasa tersakiti atau pun terluka. Hati sangat sakit setiap kali mengingatnya.

Salah satunya obat adaah berdamai. Berdamai dengan diri sendiri. Lepaskan semua beban, tidak perlu menyalahkan diri atas apa yang terjadi. Semua itu terjadi karena memang harus terjadi. Kita hanya perlu mengambil pelajaran dari masalah itu, tidak perlu mengambil bebannya.

Dunia memang sekeras itu, tapi kita harus lebih tangguh. Kita berani menghadapi dunia karena berdamai dengan diri sendiri.

Tim Tulus memang sangat pintar dalam membaca pasar. Tren mental health yang kerap dibicarakan oleh orang banyak, ditangkap oleh Tim Tulus untuk mengeluarkan album manusia. 

Tapi dari semua itu, lewat lagu ini kita seperti diajak untuk memaafkan diri kita sendiri, memaafkan diri agar luka dalam diri kita hilang dan mengajak kita untuk terus bersyukur dalam hidup.

Merenungi hidup 


Share:

Thursday, February 17, 2022

Feel Normal in Bali

 Halo-halo.

It's Me. Back to my lovely blog although some people not using blogs this time, I still create some stories in here.

Okay,

I just go back from my long-long annual leave, 18 days!.

Hahahahaha

After 1 year, there is nothing like staying at home for real comfort. Nothing is better than going home to family and eating good food and relaxing. 

And I went to Bali for a week. But, I really don't' excited. I felt just normal. I saw the surrounding environment and try to enjoy the views of mountains, lakes, temples, and rice fields.

This holiday is a kind of distraction to get rid of the tired mind.

hhmmm.

It's time to sleep and tomorrow will be good for me. Amiin



Share:

Thursday, January 6, 2022

Tuesday, October 26, 2021

Mindset of Being A Writer From Raditya Dika

Kemarin saya mendengarkan podcast Raditya Dika tentang menjadi seorang penulis. Raditya Dika adalah salah satu idola saya dalam hal menulis. Ketika saya masih SMP, saya SD, saya membaca blognya http://kambingjantan.com dan ketika saya SMA, saya menonton filmnya Kambing Jantan. Sebagai introverted introvert ketika itu, saya memang lebih suka menyampaikan sesuatu hal melalui tulisan atau chatting. Saya pun membuat blog di tahun 2009 dan sampai sekarang masih suka menulis. Mungkin bisa dibilang, karena menulis saya bisa bekerja di perusahaan sekarang, walaupun saya tidak pernah sekolah komunikasi atau pun kursus menulis.

Okay, we are back to his podcast. Menurut Raditya Dika, menulis itu adalah bahan baku dari banyak sekali hal yang bisa kita lakukan. Jika kita ingin menjadi Youtuber, akan lebih  mudah ide-ide konten tersebut ditulis. Dalam film pun, skenario juga harus ditulis. Jadi bisa dibilang menulis itu adalah fondasi utama dari karya kreatif.

Menulis itu bukan untuk kita keliatan keren.

Menulis itu bukan untuk kita kaya.

Menulis itu bukan untuk kita terkenal.

Celakanya, semakin kita berharap soal uangnya, maka semakin kita jauh dari uang. Kita akan menbak-nebak bagaimana menjadi laku, bagaimana cara bikinnya menjadi laku. Menebak-nebak selera pasar itu berbahaya. Ia menyarankan agar seseorang yang ingin menjadi penulis untuk menghindari pretensi itu, ingin kaya dan ingin terkenal.

Menulislah karena kamu punya kegelisahan yang ingin kamu sampaikan. Pada dasarnya, menulis itu adalah salah satu cara kita mengungkapkan sesuatu di hati kita yang ingin orang lain dengarkan. Misalnya, tulislah sebuah argument, orang lain sering melewatkan itu. 

Kenapa penting sekali untuk membuat argument? Karena dengan adanya argument, kita peduli dengan naskahnya. Karena juga tak sabar melihat orang lain memahami argumentasi kita.

Berbicara soal mood. Banyak yang mengatakan bahwa menulis mengikuti mood. Itu salah. Mood itu harus dijemput. Ide itu juga bukan untuk kita menanti kapan wangsit tiba, tapi sama dengan mood, ide itu juga harus dijemput.

Caranya dengann memikirkan tentang kejujuran yang pengen disampaikan dalam sebuah argument. Bagaimana mengembangkannya, bagaimana membuatnya menjadi menarik. Jadi, jangan menunggu mood. 

Kesimpulannya:

1. Menulis itu bukan buat kaya dan terkenal, tapi menyampaikan argumentasi untuk orang lain tahu

2. Jangan menunggu mood dan ide, karena semua itu harus dicari dan dijemput

3. Harus banyak baca dan mengkonsumsi cerita di sekitar, tapi dengan pendekatan intelektual. Tapi harus dibedah alur ceritanya. Kenapa gue mau tonton filmnya, apa argumennya, kenapa karakternya menarik, kenapa mau menonton sampai habis. Karena cara terbaik belajar menulis adalah dengan mempelajari tulisan orang lain seperti buku dan film. 

So, ada banyak cara dan jalan untuk kita belajar selama kita mau. 

Share: