Thursday, January 6, 2022

Tuesday, November 30, 2021

Take Life Lessons From Popor Sapsiree Taerattanachai & Greysia Polii

This was the first time that I felt these uncomfortable thoughts. 

I just... I didn't know where to go with it.

And no one knew what I was going through. 'cause I had trained myself to show no weakness. and that was something that I was proud of until, 2020. The thoughts were coming more, more and more. But telling people about it was showing weakness. And I didn't know to handle it. So I just always kept it inside.

One day, my mind had completely consumed me all day and every day and I just lost people who always support me. It was a really stressful, emotional roller coaster. One day, I sit down, I calm down just a little bit. And for some reason, I glance at the time clock. It says 1:15 am. 

"Oh man, so late"

And then all of a sudden, like, out of nowhere, just.. BOOM!

"Oh no"

This is the first time that this has happened in my life. Just the whole weight of the stress came flooding in. 

"Am I gonna get sick?"

"Did I eat too much?"

"Did I eat too little?"

"Did I Get Enough Sleep?"

Just nonstop thoughts. I can't stop this. There was nowhere to go, and there was no hiding. I was all of sudden...all alone. My only safe place was now taken. But deep down, you can't show it. So I have to keep going on my life. 

I don't remember anything of the rest of my activity at that time, which is mind-blowing. I feel I was just in another zone on another planet.

I wake up the next day and think, "How am I gonna get through this?"

Trying desperately to figure out a way to just stop having these thoughts.

I went to my office and the thoughts just start flooding back again. 

I had physically and mentally and emotionally drained my whole life for that moment. The thought of pulling out was just unheard of. 

I started thinking for a second, I'm like, ... I didn't know.

My life at that time was a living hell. I was in so much pain mentally. All wanna do is just curl up in a dark room, and, like, just not see the world. But I have to work. At that time, I went to the office, food court, and my room. Repeat.

I start thinking about the worst of things and needed distractions. But I still think I don't need professional help.

Deep down, it really ate at me that I could never get back to my normal life. 

Going back and conquering the demons that took everything away from me and changed my life.

I'm listening to talks on youtube about how to deal with it, how to beat it. Thinking "How am I gonna get through this?" I mean just basically, I feel desperate. I didn't know what to do. My life at the "pain".

I did some meditation. Watching Olympic games. I always watch Olympic games, especially badminton. It's like a tradition in my life to watch this match, I used to watch it with my mom and my dad, but now I'm watching it alone.

At that time I watched Mixed Double, Dechapol/Sapsiree against Yuta/Arisa. While watching it, Sapsiree's face is familiar. I try to remember where I saw her.

OMG, I saw her at BCA Indonesia Open 2015 and Asian Games 2018 in Istora Senayan and refresh my mind by watching badminton tournaments.

And Greysia Polii, I just knew she is her best friend. 

And to relieve my "pain", distraction my "pain", I google Sapsiree and Greysia Polii. I was inspired by their story of how they come back and play really really well. 

Greysia Polii disqualification at the 2012 London Olympics, her partner, Nitya Krishinda Maheswari, retired after Rio 2016, shoulder surgery, and the loss of her brother late last year.

Sapsiree was injured when SEA Games 2017 in KL, Malaysia. I know what athletes think when they get injured cause I was a student-athlete. I got ankle injury and my waist, not because of basketball, but because of an accident. I did therapy and recovered for 2 years. And in the end, I have to choose, to love my body or not at all. At that time I had been goals and ambitions, graduated school, and studied nuclear physics. Walauwee, why I talk about myself 😑.

And now  Greysia is a gold medalist in Tokyo Olympic 2020 and Sapsiree (Popor) is ranked number 2 in the world.

After that, I was inspired by their story. I try to remove "my pain" with the sport. I dared myself to go in for sport again. The last time I did sport was in 2020, then I fell down the stairs and had to recover for a few months.  Hehehe

I bought Racket and played badminton. 3 times a week. Furthermore, I also play golf once a week. And apparently, it helped me by easy stages.

I also watch all their match. whatever time the matches are, I will be happy to watch them. 

Um, it's really important because it's not as easy as that. If I didn't watch their match, I have no idea if I'd still be here, and writing about it.

Maybe for other people, it's simple, but for me, it means a lot.

Thank you Greysia and Popor. Even though I don’t know you guys, you have made positive impacts and helped me get out from “ The Circle of Hell”. 

Always inspiring people!

Good luck with all tournaments this year. Make history again. And be Champions!

Go Fight Win!

Take care, stay safe, stay happy, stay winning!, Champs!  




Share:

Tuesday, October 26, 2021

Mindset of Being A Writer From Raditya Dika

Kemarin saya mendengarkan podcast Raditya Dika tentang menjadi seorang penulis. Raditya Dika adalah salah satu idola saya dalam hal menulis. Ketika saya masih SMP, saya SD, saya membaca blognya http://kambingjantan.com dan ketika saya SMA, saya menonton filmnya Kambing Jantan. Sebagai introverted introvert ketika itu, saya memang lebih suka menyampaikan sesuatu hal melalui tulisan atau chatting. Saya pun membuat blog di tahun 2009 dan sampai sekarang masih suka menulis. Mungkin bisa dibilang, karena menulis saya bisa bekerja di perusahaan sekarang, walaupun saya tidak pernah sekolah komunikasi atau pun kursus menulis.

Okay, we are back to his podcast. Menurut Raditya Dika, menulis itu adalah bahan baku dari banyak sekali hal yang bisa kita lakukan. Jika kita ingin menjadi Youtuber, akan lebih  mudah ide-ide konten tersebut ditulis. Dalam film pun, skenario juga harus ditulis. Jadi bisa dibilang menulis itu adalah fondasi utama dari karya kreatif.

Menulis itu bukan untuk kita keliatan keren.

Menulis itu bukan untuk kita kaya.

Menulis itu bukan untuk kita terkenal.

Celakanya, semakin kita berharap soal uangnya, maka semakin kita jauh dari uang. Kita akan menbak-nebak bagaimana menjadi laku, bagaimana cara bikinnya menjadi laku. Menebak-nebak selera pasar itu berbahaya. Ia menyarankan agar seseorang yang ingin menjadi penulis untuk menghindari pretensi itu, ingin kaya dan ingin terkenal.

Menulislah karena kamu punya kegelisahan yang ingin kamu sampaikan. Pada dasarnya, menulis itu adalah salah satu cara kita mengungkapkan sesuatu di hati kita yang ingin orang lain dengarkan. Misalnya, tulislah sebuah argument, orang lain sering melewatkan itu. 

Kenapa penting sekali untuk membuat argument? Karena dengan adanya argument, kita peduli dengan naskahnya. Karena juga tak sabar melihat orang lain memahami argumentasi kita.

Berbicara soal mood. Banyak yang mengatakan bahwa menulis mengikuti mood. Itu salah. Mood itu harus dijemput. Ide itu juga bukan untuk kita menanti kapan wangsit tiba, tapi sama dengan mood, ide itu juga harus dijemput.

Caranya dengann memikirkan tentang kejujuran yang pengen disampaikan dalam sebuah argument. Bagaimana mengembangkannya, bagaimana membuatnya menjadi menarik. Jadi, jangan menunggu mood. 

Kesimpulannya:

1. Menulis itu bukan buat kaya dan terkenal, tapi menyampaikan argumentasi untuk orang lain tahu

2. Jangan menunggu mood dan ide, karena semua itu harus dicari dan dijemput

3. Harus banyak baca dan mengkonsumsi cerita di sekitar, tapi dengan pendekatan intelektual. Tapi harus dibedah alur ceritanya. Kenapa gue mau tonton filmnya, apa argumennya, kenapa karakternya menarik, kenapa mau menonton sampai habis. Karena cara terbaik belajar menulis adalah dengan mempelajari tulisan orang lain seperti buku dan film. 

So, ada banyak cara dan jalan untuk kita belajar selama kita mau. 

Share:

Tuesday, August 24, 2021

When God Takes You Back

Waktu akan terasa sangat pelan. Jantung selalu berdegup kencang tiap ponsel berdering

Mungkin itu yang dirasakan keluarga pasien COVID-19 yang berada di rumah sakit. Belakangan ini banyak sekali berita-berita duka yang berseliweran di gawai saya. Mereka berpulang karena COVID-19. Tak sedikit yang kehilangan orang-orang terkasih mereka, bahkan ada yang sekaligus. Yang paling bikin hati sedih adalah melihat seorang ibu kehilangan anak laki-lakinya, bukan karena COVID-19, tetapi efek dari long itu. Membayangkan saja saya sangat sedih. 

Seorang teman April lalu, kehilangan ayahnya, kemudian Juli ini kehilangan ibu mertua. Biasanya ia menulis obituari ketika orang-orang sekitar dia mangkat. Namun, kali ini sulit baginya untuk menulis. Tidak mudah. Juga bagi saya, mengingat orang-orang terkasih yang sudah tidak berada di dekat saya, rasanya sangat berat. Walaupun dalam bentuk postingan di Instagram, kadang membicarakannya membuat luka bathin itu muncul kembali. Saya bahkan memilih untuk tidak membicarakannya atau melihat fotonya karena itu cukup berat untuk dibicarakan, karena...yah... belum sanggup. Kehilangan itu ...menyesakkan.

Mungkin butuh waktu untuk siap bercerita banyak soal kehilangan orang tercinta, yang lain hanya sebatas menjawab pertanyaan lalu mengalihkan pembicaraan lainnya karena itu cukup berat untuk dibicarakan. Atau kita memilih untuk terlihat biasa saja sambil tidak memikirkan hal yang pahit itu. Kadang kita meminta teman-teman kita yang lain untuk bersikap biasa saja saat kita merasakan kehilangan.

Banyak dari kita dulu mikir bahwa kita gak sanggup kehilangan orang tua, anggota keluarga kita, teman, pasangan, pacar. Kita gak bisa bayangin. Tapi waktu itu terjadi, kita masih bisa bernapas dan mencoba untuk memproses kenyataan yang kita alami, yaitu kehilangan.  

Saya ingat kalimat ini, tapi saya lupa siapa yang berbicara

"Ada beberapa kesedihan yang sudah membuat kita tidak lagi sesak jika sudah mengalaminya berkali-kali. Tetapi, tidak dengan kematian. Tidak sama sekali"

Kita hanya bisa mengingat moment-moment manis bersama mereka. Saat hidup adalah kecupan di pipi dan gelora di dada. Tak lebih dan tak kurang. Segalanya terasa pas. Moment-moment seperti ini tak bisa dipotret. Terlalu dangkal pula bila diumbar. Ini murni punya kita, bukan siapa pun di luar sana.

Memang, kehilangan orang yang kita sayang bukan hal yang mudah. Saat rindu tak bisa lagi diobati dengan sebaris pesan dan sepenggal suara ditelpon karena sudah terpisah alam. It’s hard to forget someone who gave us so much remember. That memory will always hurt.

Seperti Sheila on 7 bilang:

Sekeras apapun menangis, takkan mengubah yang telah terjadi. Kita harus melepaskan
Semua tempat jalan waktu bersama, setiap kata yang telah diucapkan, bagai warisan yang telah disiapkan, kita harus menjaganya

Selamat jalan

Sampai jumpa 

Sending love and prayers to my beloved ones. I will always miss you, my dear. My prayers always for you.



Share:

Monday, May 10, 2021

Kenapa Kita Harus Jadi Social Media Ambassador di Perusahaan?

Dua tahun belakang, saya mendapatkan tantangan baru bergabung dengan tim Digital Media APRIL, tempat saya bekerja. Namun, pekerjaan sebelumnya sebagai External Communication tetap saya jalankan secara bersamaan.

Bergabung di tim digital media merupakan hal yang menarik untuk di kulik. Saya yang dulu tergabung dalam Social Media Ambassador sekarang menjadi bagian dari tim yang mengelola social media perusahaan. Kok ya perlu perusahaan menggunakan karyawan sebagai Ambassador? Kan bisa membayar para influencer untuk mengkampanyekan perusahaan? Kok karyawan mau sih jadi Ambassador?

Awalnya saya bahkan tidak mengetahui untuk apa sih tugas sebagai Ambassador perusahaan. Posting di social media mengenai perusahaan di akun pribadi apa tidak kehilangan followers? Mengkampanyekan program perusahaan di akun pribadi karyawan apakah mereka efektif untuk membantu branding perusahaan?

Dari yang saya lihat, ternyata menjadikan karyawan sebagai Ambassador perusahaan tidaklah sulit. Saat ini orang-orang menggunakan smartphone, hampir sebagian dari kita menggunakan social media. Social media adalah bagian yang tak terpisahkan oleh kehidupan kita saat ini. Sebut saja Facebook, Twitter, Instagram, TikTok bisa dibilang banyak digunakan masyarakat. Orang-orang akan tertarik dengan apa yang orang lain posting, kehidupan pribadi, pencapaian, dan hal-hal yang menyedihan.

Nah balik lagi mengapa perusahaan memilih karyawan sebagai Social Media Ambassador mereka?  

Selain menaikkan personal branding mereka, para netizen yang budiman ternyata trust people more than they trust companies. It’s that simple. Karyawan menjadi media paling efektif sebagai channel komunikasi perusahaan kepada pihak eksternal. Juga, karyawan akan dengan ikhlas untuk mengkampanyekan pesan-pesan, nilai-nilai yang dianut oleh perusahaan, karena mereka adalah bagian dari penting dari perusahaan. Selama 8 jam lebih, mereka menghabiskan waktu untuk belajar, berkarir dan mencari nafkah di perusahaan tersebut.

Social Media Ambassador APRIL bersama Iman Usman

Karyawan juga dapat meningkatkan company branding perusahaan dengan membantu meng-amplify postingan terkait perusahaan di akun pribadi mereka sehingga membuat relasi antara perusahaan, karyawan dan orang eksternal yang melihat.

Dengan karyawan menjadi Social Media Ambassador, reputasi perusahaan dapat menjadi lebih baik di mata para masyarakat. Masyarakat juga mengetahui apa saja promo, program dan kehidupan di perusahaan tersebut. Dan itu mereka berikan secara sukarela tanpa ragu-ragu.

Ternyata, saya gak kehilangan followers, tapi malah bertambah !

Yuk jadi Social Media Ambassador perusahaan.

 

Share:

Tuesday, April 20, 2021

Jadi Orang Baik

Kita adalah orang baik.

Sebuah paradox.

Terkadang, orang yang merasa baik adalah orang yang paling sering menyakiti orang lain. Tapi orang yang nyadar, dia bisa berlaku jahat ke orang lain, dia akan berbuat baik kepada orang.

Kalimat yang menyatakan bahwa kita harus berbuat baik kepada orang, karena nantinya orang tersebut akan membalas berbuat baik kepada kita. Terdengar semacam take and give.

Kalau di pikir-pikir, sebagai manusia, harusnya kita berbuat baik kepada orang bukan karena ingin diperlakukan baik, tetapi kita melakukan perbuatan baik itu karena itulah yang benar.

Tapi...

Kita tetap saja sebagai manusia ada aja yang gak sukanya sama orang. Kadang mereka membuat kita sedih, kadang mereka membuat kita kecewa, kadang mereka membuat kita marah.

Kalau dipikir-pikir ya, itu adalah yang diluar ekspektasi kita. Kita terlalu berharap orang lain itu berperilaku sesuai dengan yang kita harapkan. Tentu gak bisa dong.



Share:

Saturday, April 3, 2021

Self-Healing dan Kurangi Perasaan Negatif

Sedikit ringan.

Itulah yang saya rasakan beberapa waktu belakangan. Semenjak saya memilih jeda dari rutinitas kerja yang setahun tiada henti, saya akhirnya pulang ke rumah sejenak. Saat itu saya benar-benar dalam keadaan demotivasi dan tidak ada keinginan melakukan apa pun selain kerja, nonton film, tidur atau makan. Rasanya seperti sakit hati, marah, kecewa, sedih. Mungkin kebiasaan ini dianggap malas, tetapi pada saat itu saya benar-benar kehilangan daya dan energi untuk melakukan sesuatu. Andai saja energi itu bisa di refill seperti teh ocha di Sushi Tei, mungkin saya bisa setiap hari me-refill nya, tapi sayangnya tidak.

Waktu itu saya hanya berkata dalam hati "Time will heal". Tapi faktanya adalah waktu gak bisa menyembuhkan. 

Pada saat melarikan diri itu, saya benar-benar berpikir, kok bisa? Kenapa hal ini tidak bisa pindah dari diri saya? Kenapa saya tidak bisa pindah? Lalu banyak pertanyaan muncul dalam kepala yang bikin pusing mencari jawabannya, sampai ngerasa kok hidup begini sih? Apa yang salah sih? Saya sadar saat itu saya benar-benar dalam kondisi tidak baik-baik saja.

Seorang berkata :

"Mungkin harus maafin orang-orang yang berada di masa lalu, supaya hidup ke depan terasa ringan, Atau memaafkan diri sendiri dan jangan terlalu keras dengan diri sendiri,"

Kalimat itu sontak membuat saya berpikir. Apa benar saya belum memaafkan orang-orang yang pernah menyinggung saya? Bahkan saya benar-benar tidak sadar itu terjadi.

Sambil memandang ke luar jendela, saya begitu banyak berpikir tentang apa yang saya rasakan. Flashback terhadap hal-hal yang membuat saya sedih. Ternyata, selama ini saya membuang energi terhadap orang-orang yang dulu pernah mungkin secara tidak sengaja menyakiti, entah saya yang terlalu take something personally. Saya sadar kalau hal itu yang membuat saya stress, mungkin aja pikiran seperti itu membuat kolesterol saya naik terus. Haahaha

Mikir keras sampai sembelit

Singkat cerita kemudian saya memilih untuk mengikuti meditasi, melatih pernapasan, menulis apa yang saya rasakan, ya semacam self healing gitu. Saya melakukan meditasi setiap hari, bangun tidur dan sebelum tidur. Kadang-kadang suka skip juga sih. 

Dari sana, dampak lainnya, saya pun ingin menghilangkan perasaan-perasaan negatif dalam diri saya. Mulai dari belajar melihat sisi yang positif dari berbagai hal, lebih banyak bersyukur sama yang udah dipunya dan mulai berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Mengurangi mengeluh terhadap sesuatu, kalau pun secara tidak sengaja keluar dari mulut saya, saya langsung mencoba"Udah-udah gak usah, stop, stop,". Saya cuma mau kurang-kurangin mengeluh.

Dari sana, perlahan saya mulai paham bahaya mengeluh. Apalagi ngeluh ke orang lain. Karena bisa aja mereka yang tadinya bersemangat, bisa banget ter-influence untuk jadi malas. Saya sadar betapa bahayanya orang-orang yang mentalnya ngeluh mulu.

Sekarang?

Sampai sekarang saya mencobanya, walaupun masih belum sepenuhnya. Tapi saya mulai membuka blog dan menulis tulisan yang rada serius. Dibalik semua itu, saya mulai paham, bukan waktu yang menjadi obat bagi luka kita, tetapi kemampuan diri kita untuk menyembuhkanlah yang menjadi obat yang paling penting dalam menyembuhkan kesakitan kita.

Yuk bisa yuk

Share: