Tuesday, October 26, 2021

Mindset of Being A Writer From Raditya Dika

Kemarin saya mendengarkan podcasr Raditya Dika tentang menjadi seorang penulis. Raditya Dika adalah salah satu idola saya dalam hal menulis. Ketika saya masih SMP, saya SD, saya membaca blognya http://kambingjantan.com dan ketika saya SMA, saya menonton filmnya Kambing Jantan. Sebagai introverted introvert ketika itu, saya memang lebih suka menyampaikan sesuatu hal melalui tulisan atau chatting. Saya pun membuat blog di tahun 2009 dan sampai sekarang masih suka menulis. Mungkin bisa dibilang, karena menulis saya bisa bekerja di perusahaan sekarang, walaupun saya tidak pernah sekolah komunikasi atau pun kursus menulis.

Okay, we are back to his podcast. Menurut Raditya Dika, menulis itu adalah bahan baku dari banyak sekali hal yang bisa kita lakukan. Jika kita ingin menjadi Youtuber, akan lebih  mudah ide-ide konten tersebut ditulis. Dalam film pun, skenario juga harus ditulis. Jadi bisa dibilang menulis itu adalah fondasi utama dari karya kreatif.

Menulis itu bukan untuk kita keliatan keren.

Menulis itu bukan untuk kita kaya.

Menulis itu bukan untuk kita terkenal.

Celakanya, semakin kita berharap soal uangnya, maka semakin kita jauh dari uang. Kita akan menbak-nebak bagaimana menjadi laku, bagaimana cara bikinnya menjadi laku. Menebak-nebak selera pasar itu berbahaya. Ia menyarankan agar seseorang yang ingin menjadi penulis untuk menghindari pretensi itu, ingin kaya dan ingin terkenal.

Menulislah karena kamu punya kegelisahan yang ingin kamu sampaikan. Pada dasarnya, menulis itu adalah salah satu cara kita mengungkapkan sesuatu di hati kita yang ingin orang lain dengarkan. Misalnya, tulislah sebuah argument, orang lain sering melewatkan itu. 

Kenapa penting sekali untuk membuat argument? Karena dengan adanya argument, kita peduli dengan naskahnya. Karena juga tak sabar melihat orang lain memahami argumentasi kita.

Berbicara soal mood. Banyak yang mengatakan bahwa menulis mengikuti mood. Itu salah. Mood itu harus dijemput. Ide itu juga bukan untuk kita menanti kapan wangsit tiba, tapi sama dengan mood, ide itu juga harus dijemput.

Caranya dengann memikirkan tentang kejujuran yang pengen disampaikan dalam sebuah argument. Bagaimana mengembangkannya, bagaimana membuatnya menjadi menarik. Jadi, jangan menunggu mood. 

Kesimpulannya:

1. Menulis itu bukan buat kaya dan terkenal, tapi menyampaikan argumentasi untuk orang lain tahu

2. Jangan menunggu mood dan ide, karena semua itu harus dicari dan dijemput

3. Harus banyak baca dan mengkonsumsi cerita di sekitar, tapi dengan pendekatan intelektual. Tapi harus dibedah alur ceritanya. Kenapa gue mau tonton filmnya, apa argumennya, kenapa karakternya menarik, kenapa mau menonton sampai habis. Karena cara terbaik belajar menulis adalah dengan mempelajari tulisan orang lain seperti buku dan film. 

So, ada banyak cara dan jalan untuk kita belajar selama kita mau. 

Share:

Friday, October 15, 2021

Valuable Lessons From Greysia Polii and Popor Sapsiree

Hi Blog.

I just entered my bedroom at 9.15 PM after working for 13 hours. I can't sleep yet, still thinking about work. Maybe I'm chasing my passion too much, but I don't want to be a patient, because I'm still 20s. Hehehe. And then I remembered to continue the story about because of Tokyo Olympics 2020. 

Okay, here We go:

I had physically and mentally and emotionally trained. For my entire life. But, Since 2020, my mind is million places, all of sudden, just... BOOM!.  I feel like I'm going through a quarter life crisis, losing loved ones. The thought just came flooding in, more and more and more. 

I'm listening to talks on youtube of how to deal with it, how to beat it. Thinking "How am I gonna get through this?" I mean just basically, I feel like desperate. I didn't know what to do. My life at the "pain". All wanna do is just curl up in a dark room, and, like, just not see the world, but I have to work. I wasn’t enthusiastic living my life. I was wondering to myself :

“Is God angry with me?”

”Is God punishing me?”

Because I feel separated from God. I wasn’t diligent in praying and worshiping. May be, I wasn’t entertain myself because non-stop work. Yeap, I'm in a remote area which is still on lockdown since 16 March 2020. Many possibilities. Because of that, then I mumble, “Why is this happening to me?”.

I still hadn't come out about my problem with other. No matter how big our problems are, other people will continue to move forward. As if they don't care. No one understands, even though when we tell stories they will say "I know what it feels like". But they don't really know, because they are not in our position. No. People will treat us as usual. Without knowing what we are going through.

I start thinking the worst of things and needed professional help.

I tried various ways to get out of this phase, one of them with meditation, in the morning and before I sleep. Not enough. I was thinking when my parents passed away, I believed “Time will heal”, but it didn’t help me at that time. 

So, I try to find some formulas to get out of this phase. When I was self-isolation after PCR test because tracing from my college, they infected COVID-19, I remember Tokyo Olympics 2020. Accidentally, I watched Badminton Tournament. 

Greysia Polii, I know this name. She is badminton athlete and play Women’s double. But, I just knew her partner with Apriyani Rahayu. And they got gold medals. How come?

When I researched about her story, I found many life lessons. One of them bounced back after losing, injured, partner had to retired.

And I just knew she have good relationship with “Popor” Sapsiree Taerattanachai, Badminton Player from Thailand. I saw her at BCA Indonesia Open 2015 and ASIAN Games 2018 in Istora Senayan while I was business trip in Jakarta and refresh my mind by watching badminton tournament. She played with Earth and Bas.

Popor was injured when SEA Games 2017 in KL, Malaysia. I know what athletes think when they get injured  cause I was basketball athlete when I was a student. I got ankle injury and my waist, not because of basketball, but because an accident. I did therapy and recovered 2 years. And the end, I have to choose to love my body or not at all. At that time I still have goals and ambition, graduate school and continue studying nuclear physics. Walawee, why I talk about myself 😑.

Okay, back to Popor, maybe it's hard to bounce back, but it turns out, She can bounce back and play really well and got world number 2.

Finally, I started to think to eliminate this “pain”. One day, I bought Racket and playing badminton. 3 times a week. Futhermore, I also play golf once a weekIt turns out that playing badminton and golf  can help me get out of this pain.

The previous negative feelings are starting to lessen and I can see the world clearly again and recognize my life.

From Greysia and Popor, I learned how to get up again. Change my life. 

Maybe for other people it's simple, but for me, it means a lot.

Thank you Greysia and Popor. Even though I don’t know you guys, you have make positive impacts and help me get out from “ The Circle of Hell”. 

Always inspiring people!

Good luck for all tournaments this year. 

Go Fight Win!

Stay safe and keep healthy!

Pic from Google




Share:

Friday, September 3, 2021

Gara-Gara Olimpiade Tokyo 2020

Kali ini ceritanya agak panjang.
Berbicara pandemi COVID-19, berbicara banyak hal. 
Banyak sekali hal-hal yang berbeda hampir 2 tahun belakangan. Banyak yang kehilangan mata pencaharian, banyak yang menahan rindu untuk tidak bertemu orang terkasih mereka, banyak yang kehilangan orang terkasih mereka dan banyak lagi. 

Juga bagi saya. 
Tahun 2020 dan 2021 ini membuat saya compang-camping dari segi mental saya. 2 tahun ini seperti melewati quarter life crisis, kekecewaan, kehilangan datang secara beruntun. Saya sempat bertanya apakah Tuhan sedang menghukum saya atau menguji saya yang tak serajin dulu berdoa dan beribadah kepadaNya. Atau saya terlalu lelah bekerja tiada henti tanpa menghibur diri sendiri karena tinggal di remote area yang sedang lockdown.

Bahkan saya merasa tidak ingin melakukan hal-hal lain. Saya benar-benar dalam keadaan demotivasi dan tidak ada keinginan melakukan apa pun selain kerja, nonton film, tidur atau makan. Rasanya seperti sakit hati, marah, kecewa, sedih. Saya benar-benar kehilangan daya dan energi untuk melakukan sesuatu.

Sejujurnya saya tidak tahu mengapa demikian. Saya hanya percaya, ketika my mom and dad pergi beberapa tahun lalu, saya percaya "Time Will Heal". Tapi kali ini berbeda sekali. Ternyata waktu gak bisa menyembuhkan.

Ditambah dengan keparnoan saya karena COVID-19. Saya benar-benar menjaga jarak dari kehidupan luar. Saya sedikit lelah harus SWAB PCR karena tracing rekan kantor yang kadang dalam 1 minggu bisa 2 kali. Iya, saya masih Work From Office karena memang saya bekerja di remote area, jadi WFH tidak terlalu diperlukan.

Suatu malam, sambil menghadap langit-langit kamar dengan lampu yang sudah dimatikan, saya berpikir 

"Sampai kapan sih begini? Sampai kapan saya harus begini? Sampai kapan harus merasa seperti ini. Apa lagi yang harus saya lakukan,".

Suatu waktu ketika saya melakukan isoman menunggu SWAB PCR setelah melakukan kontak erat dengan rekan yang positif COVID-19, saya sangat stres. Saya di kamar sendirian, menunggu hari SWAB karena saat itu weekend dan memang petugas SWAB sedang off. Jadi saya harus SWAB di hari Senin. 

Selama 3 hari itu, saya merasa dalam tekanan. Saya bingung apa yang akan saya lakukan. Saya takut imun saya turun. Kemudian, secara tidak sengaja, di Instagram, saya menemukan postingan kalau saat itu sedang berlangsung Olimpiade Tokyo 2020. Tanpa pikir panjang, saya berlangganan Vidio, berharap semua cemas dan kekhawatiran saya, bisa hilang.

Awalnya saya nonton berbagai pertandingan, saya bingung, karena saya tidak mengerti. Akhirnya, saya hanya menonton basket dan badminton. Namun, karena saya terbiasa nonton NBA, jadi terasa kurang seru. Bukan belagu, tapi itulah yang saya rasakan.

Saya akhirnya fokus menonton badminton saja. tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga negara lainnya, seperti Thailand, China dan Korea. Ternyata seru dan memang diluar dugaan. Pertandingan-pertandingan mulai menghibur saya. Seolah-olah mendistraksi perasaan cemas kala itu. Saya lupa apa yang saya rasakan saat itu dan hanya fokus pada pertandingan.

Hari SWAB PCR pun datang dan bertepatan dengan Final Women's Double. Saya pergi swab pagi-pagi supaya bisa nonton Greysia Polii dan Apriyani Rahayu. Saya kira Greysia masih bermain dengan Nitya Krishinda Maheswari. Sudah lama sekali saya tidak update dengan yang namanya badminton. Hahaha

Walaupun tidak segreget pertandingan-pertandingan sebelumnya. Tetapi saat Indonesia menang, saya menjadi terharu karena sudah lama tidak menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan terharu, mungkin terakhir waktu my last tournament sebelum fokus UN dan kuliah.

Ternyata dengan hanya menonton pertandingan olahraga, kita bisa melupakan hal-hal yang kurang berkenan dalam hati dan pikiran kita.

To be Continue



Share:

Tuesday, August 24, 2021

When God Takes You Back

Waktu akan terasa sangat pelan. Jantung selalu berdegup kencang tiap ponsel berdering

Mungkin itu yang dirasakan keluarga pasien COVID-19 yang berada di rumah sakit. Belakangan ini banyak sekali berita-berita duka yang berseliweran di gawai saya. Mereka berpulang karena COVID-19. Tak sedikit yang kehilangan orang-orang terkasih mereka, bahkan ada yang sekaligus. Yang paling bikin hati sedih adalah melihat seorang ibu kehilangan anak laki-lakinya, bukan karena COVID-19, tetapi efek dari long itu. Membayangkan saja saya sangat sedih. 

Seorang teman April lalu, kehilangan ayahnya, kemudian Juli ini kehilangan ibu mertua. Biasanya ia menulis obituari ketika orang-orang sekitar dia mangkat. Namun, kali ini sulit baginya untuk menulis. Tidak mudah. Juga bagi saya, mengingat orang-orang terkasih yang sudah tidak berada di dekat saya, rasanya sangat berat. Walaupun dalam bentuk postingan di Instagram, kadang membicarakannya membuat luka bathin itu muncul kembali. Saya bahkan memilih untuk tidak membicarakannya atau melihat fotonya karena itu cukup berat untuk dibicarakan, karena...yah... belum sanggup. Kehilangan itu ...menyesakkan.

Mungkin butuh waktu untuk siap bercerita banyak soal kehilangan orang tercinta, yang lain hanya sebatas menjawab pertanyaan lalu mengalihkan pembicaraan lainnya karena itu cukup berat untuk dibicarakan. Atau kita memilih untuk terlihat biasa saja sambil tidak memikirkan hal yang pahit itu. Kadang kita meminta teman-teman kita yang lain untuk bersikap biasa saja saat kita merasakan kehilangan.

Banyak dari kita dulu mikir bahwa kita gak sanggup kehilangan orang tua, anggota keluarga kita, teman, pasangan, pacar. Kita gak bisa bayangin. Tapi waktu itu terjadi, kita masih bisa bernapas dan mencoba untuk memproses kenyataan yang kita alami, yaitu kehilangan.  

Saya ingat kalimat ini, tapi saya lupa siapa yang berbicara

"Ada beberapa kesedihan yang sudah membuat kita tidak lagi sesak jika sudah mengalaminya berkali-kali. Tetapi, tidak dengan kematian. Tidak sama sekali"

Kita hanya bisa mengingat moment-moment manis bersama mereka. Saat hidup adalah kecupan di pipi dan gelora di dada. Tak lebih dan tak kurang. Segalanya terasa pas. Moment-moment seperti ini tak bisa dipotret. Terlalu dangkal pula bila diumbar. Ini murni punya kita, bukan siapa pun di luar sana.

Memang, kehilangan orang yang kita sayang bukan hal yang mudah. Saat rindu tak bisa lagi diobati dengan sebaris pesan dan sepenggal suara ditelpon karena sudah terpisah alam. It’s hard to forget someone who gave us so much remember. That memory will always hurt.

Seperti Sheila on 7 bilang:

Sekeras apapun menangis, takkan mengubah yang telah terjadi. Kita harus melepaskan
Semua tempat jalan waktu bersama, setiap kata yang telah diucapkan, bagai warisan yang telah disiapkan, kita harus menjaganya

Selamat jalan

Sampai jumpa 

Sending love and prayers to my beloved ones. I will always miss you, my dear. My prayers always for you.



Share:

Monday, May 10, 2021

Kenapa Kita Harus Jadi Social Media Ambassador di Perusahaan?

Dua tahun belakang, saya mendapatkan tantangan baru bergabung dengan tim Digital Media APRIL, tempat saya bekerja. Namun, pekerjaan sebelumnya sebagai External Communication tetap saya jalankan secara bersamaan.

Bergabung di tim digital media merupakan hal yang menarik untuk di kulik. Saya yang dulu tergabung dalam Social Media Ambassador sekarang menjadi bagian dari tim yang mengelola social media perusahaan. Kok ya perlu perusahaan menggunakan karyawan sebagai Ambassador? Kan bisa membayar para influencer untuk mengkampanyekan perusahaan? Kok karyawan mau sih jadi Ambassador?

Awalnya saya bahkan tidak mengetahui untuk apa sih tugas sebagai Ambassador perusahaan. Posting di social media mengenai perusahaan di akun pribadi apa tidak kehilangan followers? Mengkampanyekan program perusahaan di akun pribadi karyawan apakah mereka efektif untuk membantu branding perusahaan?

Dari yang saya lihat, ternyata menjadikan karyawan sebagai Ambassador perusahaan tidaklah sulit. Saat ini orang-orang menggunakan smartphone, hampir sebagian dari kita menggunakan social media. Social media adalah bagian yang tak terpisahkan oleh kehidupan kita saat ini. Sebut saja Facebook, Twitter, Instagram, TikTok bisa dibilang banyak digunakan masyarakat. Orang-orang akan tertarik dengan apa yang orang lain posting, kehidupan pribadi, pencapaian, dan hal-hal yang menyedihan.

Nah balik lagi mengapa perusahaan memilih karyawan sebagai Social Media Ambassador mereka?  

Selain menaikkan personal branding mereka, para netizen yang budiman ternyata trust people more than they trust companies. It’s that simple. Karyawan menjadi media paling efektif sebagai channel komunikasi perusahaan kepada pihak eksternal. Juga, karyawan akan dengan ikhlas untuk mengkampanyekan pesan-pesan, nilai-nilai yang dianut oleh perusahaan, karena mereka adalah bagian dari penting dari perusahaan. Selama 8 jam lebih, mereka menghabiskan waktu untuk belajar, berkarir dan mencari nafkah di perusahaan tersebut.

Social Media Ambassador APRIL bersama Iman Usman

Karyawan juga dapat meningkatkan company branding perusahaan dengan membantu meng-amplify postingan terkait perusahaan di akun pribadi mereka sehingga membuat relasi antara perusahaan, karyawan dan orang eksternal yang melihat.

Dengan karyawan menjadi Social Media Ambassador, reputasi perusahaan dapat menjadi lebih baik di mata para masyarakat. Masyarakat juga mengetahui apa saja promo, program dan kehidupan di perusahaan tersebut. Dan itu mereka berikan secara sukarela tanpa ragu-ragu.

Ternyata, saya gak kehilangan followers, tapi malah bertambah !

Yuk jadi Social Media Ambassador perusahaan.

 

Share:

Tuesday, April 20, 2021

Jadi Orang Baik

Kita adalah orang baik.

Sebuah paradox.

Terkadang, orang yang merasa baik adalah orang yang paling sering menyakiti orang lain. Tapi orang yang nyadar, dia bisa berlaku jahat ke orang lain, dia akan berbuat baik kepada orang.

Kalimat yang menyatakan bahwa kita harus berbuat baik kepada orang, karena nantinya orang tersebut akan membalas berbuat baik kepada kita. Terdengar semacam take and give.

Kalau di pikir-pikir, sebagai manusia, harusnya kita berbuat baik kepada orang bukan karena ingin diperlakukan baik, tetapi kita melakukan perbuatan baik itu karena itulah yang benar.

Tapi...

Kita tetap saja sebagai manusia ada aja yang gak sukanya sama orang. Kadang mereka membuat kita sedih, kadang mereka membuat kita kecewa, kadang mereka membuat kita marah.

Kalau dipikir-pikir ya, itu adalah yang diluar ekspektasi kita. Kita terlalu berharap orang lain itu berperilaku sesuai dengan yang kita harapkan. Tentu gak bisa dong.



Share:

Saturday, April 3, 2021

Self-Healing dan Kurangi Perasaan Negatif

Sedikit ringan.

Itulah yang saya rasakan beberapa waktu belakangan. Semenjak saya memilih jeda dari rutinitas kerja yang setahun tiada henti, saya akhirnya pulang ke rumah sejenak. Saat itu saya benar-benar dalam keadaan demotivasi dan tidak ada keinginan melakukan apa pun selain kerja, nonton film, tidur atau makan. Rasanya seperti sakit hati, marah, kecewa, sedih. Mungkin kebiasaan ini dianggap malas, tetapi pada saat itu saya benar-benar kehilangan daya dan energi untuk melakukan sesuatu. Andai saja energi itu bisa di refill seperti teh ocha di Sushi Tei, mungkin saya bisa setiap hari me-refill nya, tapi sayangnya tidak.

Waktu itu saya hanya berkata dalam hati "Time will heal". Tapi faktanya adalah waktu gak bisa menyembuhkan. 

Pada saat melarikan diri itu, saya benar-benar berpikir, kok bisa? Kenapa hal ini tidak bisa pindah dari diri saya? Kenapa saya tidak bisa pindah? Lalu banyak pertanyaan muncul dalam kepala yang bikin pusing mencari jawabannya, sampai ngerasa kok hidup begini sih? Apa yang salah sih? Saya sadar saat itu saya benar-benar dalam kondisi tidak baik-baik saja.

Seorang berkata :

"Mungkin harus maafin orang-orang yang berada di masa lalu, supaya hidup ke depan terasa ringan, Atau memaafkan diri sendiri dan jangan terlalu keras dengan diri sendiri,"

Kalimat itu sontak membuat saya berpikir. Apa benar saya belum memaafkan orang-orang yang pernah menyinggung saya? Bahkan saya benar-benar tidak sadar itu terjadi.

Sambil memandang ke luar jendela, saya begitu banyak berpikir tentang apa yang saya rasakan. Flashback terhadap hal-hal yang membuat saya sedih. Ternyata, selama ini saya membuang energi terhadap orang-orang yang dulu pernah mungkin secara tidak sengaja menyakiti, entah saya yang terlalu take something personally. Saya sadar kalau hal itu yang membuat saya stress, mungkin aja pikiran seperti itu membuat kolesterol saya naik terus. Haahaha

Mikir keras sampai sembelit

Singkat cerita kemudian saya memilih untuk mengikuti meditasi, melatih pernapasan, menulis apa yang saya rasakan, ya semacam self healing gitu. Saya melakukan meditasi setiap hari, bangun tidur dan sebelum tidur. Kadang-kadang suka skip juga sih. 

Dari sana, dampak lainnya, saya pun ingin menghilangkan perasaan-perasaan negatif dalam diri saya. Mulai dari belajar melihat sisi yang positif dari berbagai hal, lebih banyak bersyukur sama yang udah dipunya dan mulai berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Mengurangi mengeluh terhadap sesuatu, kalau pun secara tidak sengaja keluar dari mulut saya, saya langsung mencoba"Udah-udah gak usah, stop, stop,". Saya cuma mau kurang-kurangin mengeluh.

Dari sana, perlahan saya mulai paham bahaya mengeluh. Apalagi ngeluh ke orang lain. Karena bisa aja mereka yang tadinya bersemangat, bisa banget ter-influence untuk jadi malas. Saya sadar betapa bahayanya orang-orang yang mentalnya ngeluh mulu.

Sekarang?

Sampai sekarang saya mencobanya, walaupun masih belum sepenuhnya. Tapi saya mulai membuka blog dan menulis tulisan yang rada serius. Dibalik semua itu, saya mulai paham, bukan waktu yang menjadi obat bagi luka kita, tetapi kemampuan diri kita untuk menyembuhkanlah yang menjadi obat yang paling penting dalam menyembuhkan kesakitan kita.

Yuk bisa yuk

Share: