Showing posts with label Sudut Pandang. Show all posts
Showing posts with label Sudut Pandang. Show all posts

Monday, January 27, 2020

Kobe, Media Sosial dan Sosiologi

2020 ngapain? 
Yap. Pagi-pagi ada kabar duka, Kobe Bryant dan anaknya Gigi tewas dalam kecelakaan helikopter. 😭
Oke saya gak mau bahas ini. Terlalu sedih.

2020?
Lagi seneng ngulik media sosial nih, dari trend sampe kenapa banyak gen z ninggalin instagram, lalu kok story intagram isinya TikTok?


Masih ingat Bowo anak TikTok? Apa sih goyang-goyang gitu? Alay. Tapi sekarang, banyak dari kita punya TikTok. Generasi Z sekarang kayaknya udah pada pake TikTok. Menurut saya, dulu aplikasi ini buat goyang, tapi setelah saya download, ternyata ada hal yang bermanfat, tergantung kita pilih interest kita apa. Kalau saya comedy dan science. Jadi gak banyak muncul orang goyang jari atau joget-joget.

TikTok sendiri nampilin kesenangan dan kreatifitas. Anak generasi z udah pindah dari instagram aesthetic ke TikTok, apa mereka bosan?
Oh ya, TikTok gak ada orang tua. Jadi seru.

2020 ngapain?
Ngulik-ngulik di google kenapa sih orang-orang pada ribut "Instagram is Listening?". Instagram ngerekam data kita, dia bisa tahu apa yang kita sedang cari lalu muncul iklan di home instagram-nya kita. Ternyata, itu karena data kita sekarang udah kayak butiran debu. Banyak aplikasi kita yang terkoneksi dengan berbagai hal. Sekarang aja kita bisa tahu followers kita umur berapa aja, dari kota dan negara mana aja, mereka interest kemana, dalam 1 postingan berapa interaksinya dan sebagainya. Kita sendiri aja bisa analisis akun media sosial kita sendiri, apalagi perusahaan besar sekelas Instagram. 

Setiap kita nge-like, setiap kali kita klik iklan, aplikasi yang kita pasang di smartphone, secara otomatis terhubung satu sama lain. Mungkin mereka ada kerjasama gitu.

Kadang waktu kita instal, kita gak sadar kalau kasih izin mereka banyak hal, termasuk mereka bisa tahu keberadaan kita. Karena kita mengaktifkan GPSZ di smartphone.

Bisa gak ya, kita gak ada rekam digital? Sekarang aja nyari nama lengkap di goggle, jejak digital kita keluar. Sebenarnya bisa sih, dikurangin aja main internetnya dan punya lebih dari 1 email.

2020?
Terus apa lagi yang dicari di tahun ini.

Kalau kata Mark Zuckerberg "The Future is Private". User sekarang sepertinya suka yang privasi tapi kalau ketemuan bikin cukup efisien. Kalau dalam sosiologi namanya perubahan sosial yang berkelanjutan. Halah. Kayaknya sesuai dengan apa yang dibilang Anthony Giddens kalau dunia post modern ini buat pertemuan itu gak butuh fisik. Online juga udah ketemu. Pacaran itu yang butuh sentuhan fisik, nanti bisa kalah sama yang terdekat. Anjiiiir gak nyambung.
Share:

Thursday, November 14, 2019

Gara-gara Youtube !

Kurang enak badan.
Ngantuk.
Sering lapar.

Apa aku kurang sehat?
apa makananku Kurang bergizi?

Lalu...

Nonton Youtube.
Nemu Video.

Makanan sehat untuk dikonsumsi.
Oats
Buah
Sayur

Kemudian..

Pergi membeli semua makanan itu ke supermarket.

****

Kadang video youtube bikin terinspirasi.
Atau
Marketingnya bagus
Atau
Kontennya Bagus.

Tapiii

Sebagai millenial, saya sudah jarang sekali untuk mengkonsumsi makanan santan, berminyak dan minuman bersoda.
Selain gak punya banyak duit untuk menghamburkan untuk membeli makanan, saya juga kurang suka makan-makanan yang aneh.
Kebanyak teman-teman saya mengemas kesehatan menjadi gaya hidup baru yang terlihat cool dan kekinian.
Pergi ke gym, jogging, diet karbo, jadi vege, gak makan makanan hasil olahan dari makhluk hidup lainnya.


Share:

Wednesday, August 21, 2019

Mau Jadi bahan Baper Atau Belajar ?

Ah, masak saya begitu? Padahal kan saya udah begini, udah begitu. Udah Ngelakuin sesuai permintaan. Masih aja dikomen.

Sedikit banyak orang yang dewasa menerima masukan atau feedback atau kritikan. Kebanyakan senang dipuji. Ada yang bilang "Banyak nyamuk mati karena pujian". Dalam hidup harus ada kritik.

Kenapa?

Bisa jadi lebih baik lagi.

Setiap apa yang kita kerjakan, harus ada feedback supaya nanti jangan ada perasaan jumawa, santai dan merasa aman terus. Padahal kalau mau aktif cari feedback, outputnya bakal lebih maksimal.

Menerima feedback (and deciding what to do next) memang membuat deg-degan, badmood bahkan down parah. Tapi kembali lagi ke mentality kita terhadap feedback itu sendiri. Mau dimasukkan ke hati dan jadi bahan baper atau dipakai untuk bahan belajar.

Nah, sekarang gimana cara menyampaikan feedback.

Menurut saya sampein dengan sopan. Misalnya "bagus gambarnya, tapi coba deh warnanya yang dipake biru, kayaknya lebih bagus,". Sebaiknya hindari kata makian dan berkomentar tanpa solusi. 



Share:

Tuesday, March 26, 2019

Kenapa Jadi Kutu Loncat ?


Saya bisa dikatakan sebagai kutu loncat. Pekerjaan pertama saya adalah jurnalis di Tribun Pekanbaru. Saya menggeluti pekerjaan ini hanya 1 tahun 3 bulan. Kemudian saya lopat ke PT RAPP sebagai Public Relation. Saya bekerja di sini sudah 3 tahun.

Mengapa saya pindah?

Bukan money orientied. Oke, jujur saja sebagai jurnalis gaji saya dengan saat ini berbeda, kalau gaji lebih besar dari sebelumnya itu bonus. Saya berpikir jika saya lebih memilih untuk pindah, saya jadi lebih banyak tahu mengenai situasi pekerjaan, peraturan, bahkan di lingkungan kerja.

Saya ingat ada salah satu pejabat yang ada di Pemerintahan Pekanbaru, ketika saya menjadi wartawan, dia sangat manis kepada saya. Ketika bertemu kembali dengan saya sebagai karyawan di RAPP, dia hanya datar dan tidak seperti biasanya. Silahkan menilai sendiri.

Saya berpikir untuk pindah karena ingin menilai dan mengembangkan kemampuan yang saya miliki.

Sudah 3 tahun, apakah saya ingin pindah?
Jujur saja, 60:40. Ketika ada kesempatan yang baik datang, saya akan pikirkan kembali. Ada kesempatan untuk lebih banyak belajar, saya akan pikirkan matang-matang.

Namun, ada teman saya, yang dalam kurun waktu 1 tahun, dia sudah bekerja di 3 perusahaan. Simak videonya diatas ya

Share:

Thursday, January 24, 2019

Jangan Jadi Down Sama Hidup

Bulan pertama di tahun 2019 hampir selesai.
Bagaimana hidup?
Berjalan dengan seperti biasa.

Bagaimana harapan?
Tidak terlalu berekspekstasi tinggi, tapi tetap saja kecewa.

Mengapa?
Perasaan-perasaan mengganggu seperti merasa tidak dihargai, tidak ada apresiasi, tidak ada hal-hal baru, seperti berjalan di tempat, nothing special. membosankan.

Mark Manson dalam buku "Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat" mengatakan secara pribadi kita bertanggung jawab atas segala hal dalam hidup kita. Kita bisa mengendalikan segala hal yang menimpa kita dengan cara kita merespon. 

Bagaimana cara merespon?
Ya dengan mengatakan kepada pikiran bodo amat atau I don't care about that. Tapi, tidak ada yang namanya tidak peduli, kita sebagai manusia pasti peduli terhadap sesuatu. 

Harus ada pelampiasan.

Yap. benar. Mencari pelampiasan terhadap sesuatu hal yang mengecewakan memang perlu. Namun, pelampiasan harus dilakukan dengan kegiatan-kegiatan positif. Ketika dipandang rendah, ya kamu harus menunjukkan yang terbaik dari diri kamu, buat mereka nanti menyesal dengan penilaian mereka selama ini. Mungkin terlihat kejam, tapi setidaknya kita bisa memotivasi diri kita sendiri dengan hal tersebut.

Mencoba hal-hal baru.
Dengan kondisi sekarang, saya menjadi punya waktu untuk mencoba hal-hal baru seperti menonton film dokumenter Brexit : The Uncivil War. Menonton TED X bagaimana mereka speech di depan umum. Bagaimana bisnis berjalan, bagaimana strategi untuk mengembangkan diri, membuat video  mengenai edukasi dan lainnya.  Intinya hal-hal baru tersebut menambah pengetahuan.



Saya gak mau membawa perasaan-perasaan yang menggangu ini dalam diri. Semacam penyakit yang kian menggerogoti diri. Tidak baik. Membuat diri jadi down tidak baik. Masih banyak hal-hal yang menyenangkan untuk dilakukan, masih banyak hal-hal baru yang dapat dipelajari. Jangan jadi katak di dalam tempurung. Jangan malas untuk belajar, jangan tunggu disuapi baru belajar. 

Kalau tidak ada diberikan kesempatan belajar bagaimana?
Halah, belajar bisa dari siapa saja dan darimana saja. Buat kesempatan sendiri. Ketuk sendiri. Tapi jika tetap tidak diberikan kesempatan? Sebagai orang dewasa, sudah harus tahu berbuat apa. 

Jangan lupa kalau...
Kesuksesan apa pu selalu dimulai dari titik awal. Titik nol. 
Setidak nyaman apa pun situasi kariermu sekarang, selalu ada jalan untuk mencari peluang yang lebih baik.
Yakin.
Semua ini pasti lebih baik dari pada diam di rumah dan mengganggur seharian.

Tetap Semangat.
Share:

Thursday, October 25, 2018

P-A-M-E-R

Pamer.
P-A-M-E-R.
Satu kata yang sebagian orang mengartikan itu sifat negatif. Kadang kita pun kesal terhadap orang yang suka pamer. Misalnya membangga-banggakan diri. Kita sebagai manusia tentu saja sedikit kesal terhadap orang yang suka membanggakan diri.


'Dia pamer karena gak ada orang yang membanggakan diri dia, Jadi dia banggain dirinya sendiri'.

Belum lagi mereka yang suka pamer di sosial media. 
Lagi makan di tempat mahal dan fancy, update status di WA grup. Lagi mau nonton film di bioskop, foto tiket, upload di instastory. Lagi liburan di Suriname, langsung upload di semua akun sosial media.
Norak.

Namun, tidak semuanya begitu. Ada hal-hal terselubung dibalik postingan di lini masa yang terkesan pamer.

Here We Go :

1.Ingin Diakui
Itu tadi, karena gak ada yang banggain prestasinya dia, jadinya banggain diri sendiri. Ia hanya ingin menunjukkan prestasinya ke dunia. Saat ini menunjukkan prestasi di media sosial sangat penting untuk menunjukkan personal branding dan #duniaharustahu. Apalagi untuk kaum millenials. Mereka ingin diapresiasi, dihargai apa yang mereka lakukan atau kerjakan.

2.Sering Dipandang Sebelah Mata
Nah ini, karena mereka sering diremehkan, mereka akhirnya menunjukkan jati dirinya agar orang lain mengakui dirinya. Mereka ingin menunjukkan pencapaian mereka kepada orang lain. Ini lho gue. Gitu.

Maka dari itu, sebagai manusia, kita tidak boleh memandang rendah seseorang. Hargai seseorang apapun statusnya.

3. Untuk Memberikan Informasi
Kebanyak netizen yang berada di lini masa, posting tentang kegiatan charity mereka kerap dianggap pamer. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, ternyata tidak juga. Bisa jadi mereka ingin mengajak khalayak netizen untuk ikut serta dalam kegiatan charity tersebut.

Dari semua ini, poin pentingnya dari pamer adalah niat, intensi, motivasi dan tujuannya. Sudut pandang kita berperan dalam penilaian untuk menentukan apakah sebuah perilaku yang dilakukan seseorang netizen termasuk pamer atau tidak.

Pamer kadang hampir disamakan dengan narsistik, jika tujuannya ingin dirinya terlihat hebat di mata orang lain. Pamer juga bisa muncul dari adanya rasa kurang percaya diri. Pamer digunakan untuk menutupi kelemahan diri.

Dunia maya saat ini mendorong orang untuk tampil sesuai apa yang mereka inginkan, tujuannya untuk eksistensi diri identitas dan membangun citra.

Pamer juga bisa berdampak positif yang dapat menginspirasi orang lain. Hal yang dipamerkan dianggap baik oleh orang lain dan mendorong mereka untuk melakukan yang sama atau lebih baik.

Be Positive J





Share:

Saturday, September 15, 2018

Ketika Kamu Merasa Menjadi Nothing

Oke.
Untuk kesekian kalinya, saya merasa menjadi nothing. Apa yang saya kerjakan tidak bernilai dan tidak dihargai. Ide saya seringkali tidak diterima. Bahkan ide dan pekerjaan saya sering diclaim oleh orang lain. Padahal saya bertanggung jawab dengan pekerjaan. Bukan karena itu permintaan bos atau ada bos, saya baru terlihat sibuk bekerja. Saya mengerjakan pekerjaan yang bahkan itu bukan di jobdesk. Pekerjaan orang yang dilimpahkan ke saya. 

Saya tidak mengerti tentang konsep 'mendelegasikan' pekerjaan dengan malas mengerjakan suatu pekerjaan kemudian pekerjaan itu dilimpahkan ke orang lain. Dan tidak jarang, orang yang melimpahkan pekerjaan mendapat apresiasi dan saya tidak.

Atau saya hanya orang bodoh, pesuruh bodoh yang mau mengerjakan pekerjaan itu yang dimulai dengan kata tolong.

Ah, itu mungkin perasaan saya saja.

Jadi, apa karena itu saya harus menyerah?  Tidak. Saya tidak ingin menyerah, saya tidak ingin menjadi orang yang lemah. Banyak orang diluar sana mungkin mengatakan apa yang saya jalani enak. Banyak orang di luar sana mungkin menginginkan pekerjaan saya. 

Saya harus bersyukur dengan apa yang telah saya dapatkan. Be grateful. Mungkin sekarang menjadi nothing. Bisa saja, nantinya tidak. Hidup berputar seperti roda.

Saya mulai berpikir pekerjaan yang saya lakukan, tidaklah sia-sia. Apa yang saya kerjakan, mungkin tidak ada nilainya di mata orang lain, tapi saya pasti belajar hal yang baru tanpa disadari. 

Perasaan-perasaan negatif ini jangan membuat saya menyerah begitu saja. Jujur, saya ingin menyerah. Tapi, saya berpikir lagi, jika saya menyerah, apa yang saya lakukan sebelumnya menjadi sia-sia.

For myself,  dont give up. Menjadi something memang harus ditempa tanpa jeda. Harus sabar tiada akhir. Hilangkan perasaan dan pikiran negatif. Terus belajar banyak hal. Terus melatih percaya diri. Do the best!!! Mengutip lirik lagu Tulus, yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik. 

*Awalnya ingin menulis apa yang membuat saya merasa menjadi nothing. Tapi lama-kelamaan menjadi tulisan seperti ini. Memang menulis salah satu bentuk terapi keluar dari perasaan negatif. 

Share:

Wednesday, April 5, 2017

Lima Cara Yang Harus Diingat Saat Bermedia Sosial

Saat ini kegandrungan untuk bermain di dunia maya sedang melanda kita semua. Bukan hanya anak kecil, tetapi ‘sindrome’ tersebut juga melanda orang dewasa. Banyak sekali manfaat dari menggunakan media sosial, tetapi banyak juga hal-hal yang merugikan anda. Tidak semua hal yang anda dapat bagikan ke media sosial. Tak ada salahnya menunda atau berpikir ulang sebelum mengunggah sesuatu di media sosial.

Akun Facebook, twitter, instagram atau platform media soial lain memang milik anda, tetapi media sosial adalah ranah publik. Salah memposting sesuatu, buntutnya tak hanya merugikan anda, tetapi juga orang lain. Sebab, saat ini Indonesia telah memiliki Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Jadi ada hal-hal yang perlu lebih diwaspadai sebagai pengguna aktif media sosial.

Cara bijak menggunakan Media Sosial :
  1. Pastikan konten yang disebarkan adalah benar dan bermanfaat. Jika konten tersebut akan merugikan pihak lain, sebaiknya urungkan niat untuk mempostingnya.
  2. Gunakan Media Sosial untuk hal-hal yang positif.
  3. Gunakan media sosial sebagai sarana sillahturahmi.
  4. Jangan melampiaskan amarah di media sosial. Ketika Emosi kita tak sadar dan tak pakai logika mengunggah sesuatu yang ternyata bisa berefek panjang. Selain itu, emosi di media sosial juga tidak baik untuk kesehatan.
  5. Tahan jempol Anda untukk tekan like/ retweet. Ketika kita tertarik pada suatu postingan, tetapi postingan tersebut belum tentu benar dan kita sudah memberikan like/retweet untuk postingan tersebut, secara tidak langsung, kita telah menyebarkan informasi yang belum tentu benar.

Share:

Wednesday, December 9, 2015

Setelah Melihat Foto Ridwan Kamil

Tulisan ini saya tulis ketika saya baru saja selesai berseluncur dengan mainan lama saya, instagram

Postingan  foto terakhir adalah akun Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil bersama si Cintanya, memakai baju merah berpose di jembatan dan di taman. Tidak lupa memakai payung, diduga ia berfoto saat hujan turun.

Kemauan saya untuk membuka instagram miliknya tak terbendung. Entah mengapa, ada semacam magnet yang membuat saya harus melihat-lihat koleksi foto-foto yang ada di akun tersebut.  Caption-caption yang ditulisnya kekinian sekali. Apa yang kerap menjadi bahan becandaan anak muda sekaligus mengingatkan anak muda untuk mencintai kota Bandung, kota yang saat ini ia pimpin.

Memang saya tidak pernah mengikuti perpolitikan di Bandung. Tapi apa yang di posting oleh Ridwan Kamil, adalah ajakan yang benar. Mencintai kota sendiri, menjaga lingkungan sendiri, dengan cara kekinian. Cara-cara yang anak muda sekali. Mungkin ini cara dia untuk mengubah pola pikir dari anak muda, karena yang tua agak susah diubah, terlalu banyak pakai slogan yang tanpa makna. Bahkan, dari media sosial, banyak yang mendukung Kang Emil, sapaan akrabnya untuk terus memimpin Bandung. 

Beberapa postingan juga ada yang kocak dan terlihat alay. Hehehe. Namun, apa yang dilakukannya adalah hal yang positif. Menghibur, mengajak untuk kebaikan, lebih mencintai Bandung. Cara yang berbeda dilakukan oleh banyak pemimpin di Indonesia.

Saya memang tidak tahu apa yang terjadi di sana, dari yang saya tahu, banyak orang yang bahkan bukan warga Bandung mencintai Bandung. Jika saya boleh berpendapat, Bandung adalah kota mode. Kota yang dapat dikatakan Gaul di Indonesia. Banyak karya kreatif yang dibuat anak muda disana. Dan Kang Emil, mendukung penuh. Opini saya ini diluar kebijakan yang dia buat, bukan semata-mata mendukung dia.

Instagram @ridwankamil
Share:

Saturday, July 12, 2014

Pilpres Dan Media

Indonesia sebagai Negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, baru saja memilih presiden lansung yang ketiga kalinya di 9 Juli 2014 lalu.  Dalam sebulan ini, banyak hal-hal yang memalukan di negeri ini menjelang pemilihan presiden Indonesia ke 7. Pilpres ini membuat masyarakat terpecah belah, apalagi jika kita melihat di media sosial, kalimat-kalimat yang tak semestinya dikeluarkan oleh setiap pendukung-pendukung capres, sopan santun tidak dibutuhkan lagi. Sebulan penuh mereka menuliskan, memberitakan, menginformasikan hal-hal negatif dari masing-masing capres yang mereka dapatkan dari media-media konvensional  yang sekarang tak lagi independen


Mereka saling serang sesama pendukung masing-masing capres, menjadi fanatikseperti sangat mencintai jagoan mereka masing-masing, merasa tahu tentang sejarah hidup capres masing-masing, padahal mereka hanya tahu dari suapan berita-berita media yang tak berimbang dan subyektif.  Bagus memang, masyarakat sekarang banyak peduli dengan pemilihan presiden sekarang. Tetapi sangat disayang, mengesampingkan fakta dan kebenaran, asal menyimpulkan, mengeluarkan kata-kata yang kadang tak pantas didengar, termakan berita media pendukung capres-capres.



Dan sangat disayangkan lagi, media atau pers yang seharusnya independen malah ikut serta untuk mendukung capres jagoan mereka masing-masing. Yang satu memberitakan capres ini, yang satu capres itu. Tidak ada yang benar-benar independen. Padahal  independen pers sangat diperlukan sebagai dasar sikap kemerdekaan berita dan penyampaian secara objektif. Media mempunyai peranan penting dalam membangun kepercayaan, kredibilitas, bahkan melegitimasi pemerintah. Opini publik tergantung tergantung pada pemberitaan pers

Para pemilik media-media konvensional ini sudah masuk ke ranah politik. Seperti kita tahu, politik itu mempunyai tujuan untuk kepentingan. Tentunya setiap pemilik media pers ini, punya kepentingan masing-masing yang kita tidak tahu yang sebenarnya, baik untuk kelompoknya atau pribadi. Mereka terlihat seperti akan haus posisi, haus kekuasaan. Dampak media ini sangat dahsyat, sampai ujung gunung, apalagi dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Mereka seenaknya menggunakan frekuensi publik untuk memberitakan partai-partai mereka.

Baru-baru ini juga terdapat banyak lembaga survey yang memihak dari masing-maing capres, dan kemudian saling mengklaim mereka menang, padahal hasil yang sebenarnya akan di keluarkan KPU pada tanggal 22 Juli mendatang. Dan masih tetap sama, kebisingan pendukung masing-masing masih terdengar.

Pemilihan presiden kali ini memang mempunyai euforia yang tidak pernah ada sebelumnya, kita bebas mengeluarkan pendapat dan kritik, tetapi harus tetap menjaga etika dan kesopanan dalam menyampaikan.
Share:

Wednesday, May 7, 2014

Sekarang Tuh Jamannya UPDATE di Media Sosial !


Jaman sekarang cangih banget ya, jaman saya SD dulu saya belum punya handphone,saya dikasih hp sama orang tua saya mau masuk SMP karena SMP jauh, Hp pertama saya berantena, Siemens A35, sebelum itu saya menggunakan jasa WARTEL, tempat paling enak buat ngadem murah, karena ada kipas kecilnya hahaha. Semakin canggih zaman, semakin mudah untuk manusia berkomunikasi. Baru bangun tidur kita udah bisa tau teman kita lewat path, kapan teman kita tidur, kita bisa nyusulin dia makan dimana. Udah canggih dengan hanya segenggam peralatan teknologi yang bernama smartphone. Keren broh.




Hidup dipermudah sejak ada namanya teknologi internet. Bahkan yang sangat ngehits sekarang adalah fitur-fiturnya seperti media sosial path, facebook, twitter dan seperangkatnya. Menggunakan media sosial sangat mudah dan tidak membutuhkan waktu yang lama, etapi tergantung koneksi kamu juga, kalau kamu pake kartu murahan, ya otomatis koneksi kamu lelet dan kamu murka. hahaha. makanya pake ALWAYS ON. Semoga perusahaan yang produknya mempunyai tagline yang saya tulis itu membayar saya karena saya sudah promosikan produknya, hahahaha.



Media sosial menghapuskan batasan-batasan dalam bersosialisasi. Dalam media sosial tidak ada batasan ruang dan waktu, setiap individu dapat menjadi berkomunikasi kapanpun, dimanapun, mereka berada, itu kalau kamu di accept sebagai Friend oleh temanmu dan tidak di unshare atau di block dan tentunya juga harus punya koneksi internet ya.


Media sosial mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan seseorang. Seperti saya, saya suka sekali menuliskan apapun yang saya rasakan di internet seperti blog, twitter, atau media sosial yang sedang ngethits sekarang setelah di beri si ARB yaitu PATH. Eh Curcol dulu sebentar, sekarang gak bisa buat alasan buat gak accept temen, sekarang path udah bisa 500 orang, gara-gara mahkluk perusak kehidupan rakyat Porong, Sidoardjo sana.


Kadang banyak orang yang suka nyinyir karena saya suka update yang mereka bilang gak penting, bodo amat dah, peduli setan aja, kalau kata orang minang, selamak pakak ajo. Toh mungkin kalau saya hidup di jaman dulu saya bakalan buat prasasti.


Selain itu media juga mempunyai pengaruh dalam kehidupan berbagai orang. Dari media sosial orang juga banyak menjadi terkenal. Ada yang terkenal karena gobloknya seperti Farhat Abbas yang super rasis. Dia terkenal karena media juga, media senang membesar-besarkan, karena banyak orang yang suka dibesar-besarkan, di sisi lain, banyak juga orang yang senang melihat atau membaca hal yang dibesar-besarkan. Ada yang terkenal karena tulisan yang dia tulis atau apa yang dia twit, kalau contohnya yang ini banyak sekali, tidak usah saya sebutkan, Tuhan tahu siapa orangnya. 


Dan media sosial juga membuat banyak orang, bukan saja remaja, tetapi berbagai umur menjadi hiperaktif di media sosial, dari bangun sampai tidur dunia pertemanannya tahu, lagi makan dimana lingkaran pertemannya tahu, ini bisa dinilai menggambarkan gaya hidup mereka.


Media sosial menurut saya penuh dengan dramaturgi. Banyak diantara orang pengguna media sosial mengatur kesan yang bagus, citra yang bagus. Tetapi kita tidak tahu apakah dia benar-benar begitu, kalau pengen tahu kita dibilang kepo. Tetapi dari semua itu, saya mengutip Randalls Collin
 “Pemisahan antara kerahasiaan di belakang layar menyebabkan Aku siap menghargai Erving Goffman”
Emang gak nyambung ya kutipan diatas, bodo amat, yang penting gaya (tuh saya pencitraan). By the way, saya menghargai orang, terserah dia mau bagaimana pencitraan mereka di dunia virtual, itu terserah mereka, karena dunia ini Panggung sandiwara kalau kata Godbless.

Nah, 2014 adalah tahun politik, jadi banyak akun-akun anonim bayaran, kalau kata Peter Steiner

" On The Internet Nobody Knows You're A dog"

Ya tapi tidak apa-apalah kalian ada, karena kalian punya hak, daripada mulut kalian di bungkam trus kalian di culik dan hilang.
Share:

Thursday, April 17, 2014

Iya, Saya Anak Sosiologi, Apa?Apa?

Saya sedang menikmati masa liburan panjang yang tak tahu kapan akan berakhir (baca : nganggur,ijazahpun belum ditangan). Beberapa panggilan kerja juga sudah ada, tetapi ada yang saya tolak karena masalah izin. Banyaknya sih tidak lulus.

Ada hal yang membuat saya sedih, sedih karena ilmu pengetahuan itu ada yang memandang sebelah mata,khususnya ilmu yang saya pelajari saat kuliah, sosiologi.  Ada yang mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu tidak bagus, susah cari kerja, prospek kedepan tidak jelas. Pada dasarnya semua ilmu itu ada gunanya, ada tempatnya. 

Saya banyak belajar dari sosiologi (selain jurusan kuliah saya tentunya), saya jadi bisa tahu masalah sosial, mengapa seperti itu, latar belakangnya apa, masyarakat itu bagaimana, bla,bla,bla. Di sosiologi bisa membahas isu apa saja, yang sensitif juga bisa dibahas, seperti agama dan penyimpangan.Di sosiologi saya jadi tahu tentang kemanusiaan, lebih peka terhadap “ada yang tidak beres” di masyarakat. Walaupun bukan ni saja yang saya dapatkan, tetapi itu salah satu contohnya.

Saya sedih sekali ketika orang memandang jurusan sosiologi sebelah mata. Pada dasarnya kita tidak boleh memandang suatu ilmu tidak seperti itu. Semua ilmu itu ada gunanya.


    From @soundofyogi ,"jangan terlalu serius menanggapi ini"
                                     
Share: