Showing posts with label lagi gila. Show all posts
Showing posts with label lagi gila. Show all posts

Monday, January 27, 2020

Usai di Sini

Saya bahkan gak terlalu menyukai lagu Raisa. Tapi setelah didengerin lagu Usai Sudah-nya Raisa. Dalam sekali makna lagu ini, liriknya bikin galau sekali. 



Lagu ini menceritakan sesuatu. Manusiawilah untuk memperjuangkan sesuatu. Kadang juga harus berani juga, bijaksana untuk tahu batasnya, kita mengusahakan sesuatu dan memaksakan sesuatu.

Kalau memaksakan sesuatu itu, kadang harus step back melihat dan berani bilang kalau kita saling menyakiti. Yang indah-indah jadi pahit-pahit, lebih baik usai di sini.

Seperti seseorang yang bijaksana dalam mengambil sebuah keputusan. Walaupun berat, dia sudah memilih untuk melanjutkan hidupnya daripada bertambah sakit hati.

Lagu menyiratkan bahwa seseorang pernah berada dikondisi yang dilematis. Ingin mempertahankannya, tapi sudah terlalu banyak mengorbankan perasaan. Ingin mengakhirinya, tapi masih menyimpan rasa sayang untuk kekasih. Semua jadi serba membingungkan.
Dari lagu ini seseorang yang terlihat tegar, terkadang justru yang menyimpan banyak beban di dalam dirinya.
Jika sudah tak tahan lagi, beban yang selama ini hanya disimpan saja lama kelamaan akan meledak. Jangan salahkan jika ia kemudian membuat keputusan yang pahit demi meredakan amarah yang selama ini terpendam.
Lagu ini mengajarkan dia untuk tidak menyesali keputusan yang telah dia buat. Tujuannya supaya dia bisa menjalani hidup yang positif.
Share:

Sunday, November 17, 2019

Slamat Datang di Starbuck !

Slamat datang di Starbuck πŸ˜ƒ

Saya bisa duduk berjam-jam, dimana aaja. Melihat orang berjalan, lalu lalang.

Kenapa sih mereka ke mall? Apa yang dicari?habisin duit aja.
Padahal saya juga habisin duit minum starbuck.

Kenapa pacaran harus di mall?gandengan?
Karena gak ada tempat lain.

Apa sih yang mereka cari?
Mencari hiburan untuk kesehatan djiwa.

Slamat datang di Starbuck πŸ˜ƒ

Saya bisa mikir apapun ditempat ini.
Kadang mikir apa yang mau dibuat ke depan, apa yang sudah saya kerjakan, bagaimana saya harus menghadapi sesuatu.

Setelah meneguk habis green tea latte hangat kesukaan saya, saya mikir.

Ke sini cuma untuk melihat, mikir, dan merenung???? 

Share:

Tuesday, October 22, 2019

Tips Mudah Tidur

Sulit tidur.
Kebanyakan orang sulit tidur karena memegang smartphone, scrolling, kepo, nonton youtube, edit foto. Rencana tidur cepat hanyalah ilusi.

Sulit tidur karena lapar. Makanya harus tidur sebelum jam 9 supaya gak lapar.

Tapi ada juga yang bilang, sulit tidur karena gak punya duit. Memang, iman bisa goyah, tapi kemisqinan tidak.

Rutinitas tidur bisa dilakukan dengan mendengarkan lagu. Saya beri saran untuk lagu. Coba dengarkan Tulus.

Kenapa Tulus?

Entah kenapa Tulus seringkali saya dengarkan. Alunan musik yang santai dan tidak terlalu berat. Memang kadang, kalau nyanyi gak mesti teriak-teriak. Syahdu sekali suaranya. Menenangkan djiwa.

Mulai dari Teman Hidup, Sepatu, Monokrom, Jangan Cintai Aku Apa Adanya sampai Pamit bisa bikin tidur.

Selain lagu, mendengarkan podcast. 
Yeap, podcast.
Macam-macam sih yang didengarkan, bisa di settting berapa menit.
Selamat Tidur.



Share:

Friday, July 26, 2019

PUASA SOCIAL MEDIA

Perbincangan antara dua manusia :

πŸ‘§ : Aku kok ngerasa susah fokus, susah tidur, sering cemas, ya?
πŸ‘¦ : Lha? kok bisa? Emang lagi banyak kerjaan?
πŸ‘§ : Engga sibuk-sibuk amat kok. Kenapa ya? apa harus ke rumah sakit? tapi aku gak sakit apa-apa.
πŸ‘¦ : hhhmmm. Atau keseringan lembur kali. Coba kurangi lembur. Gak ada orang kaya karena lembur.
πŸ‘§ : Ya gimana, namanya juga kerja. 
πŸ‘¦ : Belakangan aku sering lihat socmed kamu update terus. Kenapa? Lagi stress ya?
πŸ‘§ : Mungkin. Tapi aku ngerasa makanku mulai banyak dan dalam 3 minggu naik sekilo. Aneh.
πŸ‘¦ : Nah, berarti kamu stress. Ya namanya juga kerja pasti ada stressnya. Kalau lagi stress, cerita, jangan dipendam. Itu bahaya, nanti kamu mati ! Minimal nanti kamu gila, mau? Coba deh relaksasi. Luangkan waktu buat diri sendiri, baca Al Quran, lakuin hobi, santai gitu. 
πŸ‘§ : Kan udah cuti 2 minggu lalu. Tapi masih aja kayak gitu.
πŸ‘¦ : Atau kebanyakan main hp kali. Main sosmed. 
πŸ‘§ : Kayaknya iya sih. Sering kali aku lihat hp. Gak bunyi pun aku rasa hp ku bunyi. Terngiang-ngiang di telinga.
πŸ‘¦ : Tuh kan. Kebanyakan main hp, liat hp, main socmed. Coba deh Puasa Socmed atau kurangilah-kurangilah paling enggak.
πŸ‘§ : Bisa jadi sih. Belakangan sering lihat-liat instagram sampe lupa waktu. 
πŸ‘¦ : Tuh !
πŸ‘§ : Tapi kan bosan kalau gak ngapa-ngapain.
πŸ‘¦ : Bosan juga bisa diobatin sama cara lain. Apa kek gitu.  Coba deh kurangi. Paling bagus puasa sih. Aku udah berapa tahun ya gak pakai socmed? Lupa ah. Tapi yang jelas, waktu gak pake socmed, aku jadi ngerasa nyaman. Kalau lagi pengen ngobrol sama orang, langsung ngubungi orangnya, minta waktu duduk bareng di ruang yang sama. Kalau rindu ngomong langsung, I miss you like I miss the rain. Jadi nikmatin koneksi yang sesungguhnya daaaaaaaan aku bisa fokus buat kerja keras bagai kuda.

---------
Saya jadi ingat waktu saya belajar sosiologi dulu, di zaman yang secanggih ini, seperti yang dikatakan Anthony Giddens, tak ada waktu dan ruang yang istimewa, ruang semakin lama semakin tidak dipakai, maksudnya dalam orang berhubungan dengan orang yang berjauhan jarak fisik.

Media sosial saat ini lebih banyak digunakan sebagai alat pencitraan diri oleh banyak orang, mereka berdramaturgi, begitu dikatakan oleh Erving Goffman. Membangun citra diri sebaik mungkin dan di share di akun miliknya sendiri dan atau menggunakan buzzer.

Kita semakin pasif, semakin tidak bisa membedakan antara yang nyata atau hanya sekedar tontonan. Kita kehilangan substansi pertemuan yang sesungguhnya, kualitas melebihi kuantitas. Mungkin di masa depan pertemuan di dunia nyata adalah hal yang langka, mungkin.

Ah, tapi saya tidak suka berdrama, apalagi berdramaturgi.
Share:

Tuesday, July 23, 2019

Brexit dan Kembali ke Awal

Halo.
Lagi menunggu hujan reda. Sudah lebih 3 jam. Scrolling handphone, baca-baca artikel lalu mati gaya. Oh iya, berita menarik hari ini terpilihnya Boris Johnson, Brexiteer dan mantan walikota London. Apakah dia mampu membawa Inggris keluar dari UE? Mari lihat saja nanti.

Bingung mau ngapain lagi, tapi gak mau ngobrol sama orang, lagi flu berat. Hachim. Hachim.

Well, sepanjang hari ini saya  mendengarkan lagu dari OST Twivortiare. Kembali ke Awal yang dinyanyiin sama Glenn Fredly, salah satu penyanyi favorit saya. So deep. Kalau gak salah, saya pernah beli novelnya Ika Natasha yang gambarnya lambang twitter itu kan, ya?. Tahun lalu saya beli dan belum sempat (belum ada niat) untuk baca. Jangan ditiru ya.

Lagu ini ngomongin tentang hubungan yang kalau dilanjutin ayo, udahan ayo juga. Malas chat tapi kangen. Ketemu tapi sibuk main handphone. Dieman tapi ga marahan. Gak ngabarin berminggu-minggu lalu tiba-tiba ngajak jalan tanpa rasa bersalah. Hubungan yang sudah difase berbahaya. Selagi masih waras, coba deh selamatin hubunganmu, ajak ketemu, bicarakan daei hati ke hati masing-masing, dan salah satu caranya ya 'KEMBALI KE AWAL' dan mengingat segala manis diawal dulu.

Pernah gak sih di fase ini?
Mau lanjut atau mau udahan?

Lirik lagu yang saya suka:
'Berikankan ku alasan untuk tetap bersamamu, setelah lelah berharap'
 'Berjarak dengan waktu, semoga mendewasakan arti rasa satu itu'. 

Beberapa hari ke depan, lagu ini akan terus saya dengarkan di telinga. 
hehehehehe

Share:

Tuesday, May 7, 2019

Only Time Will Heal

Bulan Ramadan ini adalah tahun ketiga saya tidak bersama orang tua. Sedih? Pasti.

Semua mendadak berubah.

Sejak mereka meninggal, saya lebih hati-hati meniti hidup. Mengapa begitu?
Karena saya merasa kehilangan perisai terpenting. Doa orang tua. Bagi anak, doa orang tua lebih kuat 70 kali dari doanya sendiri.

Tiba-tiba ingat kalimat ini
'Dan apabila tertutup mata Ibu kamu, maka hilanglah salah satu keberkatan di sisi Allah, yaitu doa seorang Ibu.

Tapi...
Saya merasa harus bisa jadi 'sesuatu'. Sebut saja Bruce Wayne, Tony Stark, Peter Parker. Mereka bisa jadi sesuatu tanpa doa orang tua. Walaupun itu fiksi sih.

Eh tapi..
Ada juga yang nyata, Nabi Muhammad.

Paling tidak hidup saya tidak lagi di"subsidi" oleh abang dan kakak saya.

Ketika Abah dan Ibu meninggal, saya perlu waktu lama untuk mencernanya. Saya terbiasa pelan-pelan melumat perasaan. Only time will heal.

Ramadan, yuk kita mulai.

Share:

Sunday, August 19, 2018

Meracau Dini Hari

Belakangan saya sulit tidur. Badan sudah capek tapi belum juga tidur. Seperti sekarang. Banyak sekali kata-kata yang sering bertabrakan di kepala. Membikin pusing. Saya selalu bilang ke orang lain kalau overthinking itu membunuh kita. Mulut memang lebih cepat.

Not easy,  to be human is less grateful, sometimes happy, sometimes i am sad and depressed. God help me, please.

Terlalu banyak kecemasan dan kepanikan belakangan. Terkadang itu tak bisa saya handle. Kadang saya biarkan itu berlalu begitu saja. Dalam hati selalu bilang "toh nanti juga berlalu". Apa sih yang sudah saya buat?

Ini yang tidak habis-habisnya. Saya tidak puas dengan apa yang saya kerjakan. Ingin menambah ini, itu. Mengapa bukan begini saja. Penting gak sih begini?. Kok cuma ini sih yang bisa dikerjain?

Kalimat ini yang selalu jadi penguat saya "Saya bukan anak siapa-siapa, saya tidak punya power, tidak ada orang kuat dibelakang saya, jadi saya harus bekerja keras". Kalau dipikir-pikir Hidup memang gak adil, siapa bilang adil?.

Charles Bukowski saja tidak terlalu banyak berusaha tapi bisa bikin buku bagus. Ini hanya contoh.
00.42.

Mencoba untuk tidur.
Share:

Sunday, December 24, 2017

Racauan Akhir Tahun

Wuuuuuuz.
2017 terasa begitu cepat. Sampai saya tak menyadarinya. Berjalan begitu saja.

2017.
Tahun pertama tanpa kedua orangtua saya. 9 tahun tanpa Ibu, 1 setengah tahun tanpa Abah. Beliau ini seperti injeksi penyemangat saya.

Ibu saya misalnya, disiplin dan ontime. Selalu ada target dalam mengerjakan sesuatu dan pastinya jika mencapai target, selalu ada apresiasi. Selalu menyediakan yang saya butuhkan, bahkan disaat saya tidak meminta. Bagi beliau, liburan itu perlu untuk meregangkan saraf-saraf yang keriting. Gunung dan sawah adalah destinasi favoritnya. Krisdayanti adalah penyanyi favorit beliau. Selalu menonton Krisdayanti di televisi tanpa melewatkannya sedikitpun. Jantung melemahkan hari-hari beliau yang selalu bersemangat. Bolak-balik rumah sakit jadi rutinitas selama 6 bulan hingga akhirnya beliau menyerah ketika subuh 6 Januari 2007. Saya sempat down setelah kepergian beliau. Waktu itu 2 bulan menjelang UN saya tidak fokus belajar dan hanya bermain game. Kemudian akhirnya saya tidak lulus di SMA idaman. Tapi tidak apa-apa, 6 bulan sekolah di Gonz sedikit demi sedikit mengembalikan keceriaan saya. Menjadi manusia susila terpelajar. Sesuai Mars nya.

Abah. Wiserman, seperti namanya, pria bijaksana. Setelah Ibu pergi, saya adalah roommate beliau. Selalu berusaha menjadi ibu sekaligus bapak. Santai dan menolak tua. Mau belajar dengan cara apapun, terserah yang penting hasilnya bagus. Kalau lagi malas ya udah gak usah sekolah atau kuliah, tapi harus bertanggung jawab dengan nilai. Suka nonton hockey, baseball, basket dan tentu saja, acara reality show Korea. Hobi menelpon anaknya, apalagi ketika saya merantau, setiap subuh beliau membangunkan saya melalui telpon, selalu menjemput saya di perhentian bus, kemudian kami bersenang-senang menikmati weekend. Mei 2016 beliau sudah jadi penghuni tetap rumah sakit. Tanggal 28 Juni 2016 sebuah kabar menabrak saya kalau beliau anfal dan saya pun langsung pulang dari kantor menuju rumah. Ketika sampai dirumah sakit, nafas Abah hanya tinggal satu-satu. Hanya 5 menit ketika saya sampai, beliau langsung pergi tidur dengan tenang saat adzan magrib h-4 Idul Fitri. Ternyata beliau hanya ingin menunggu saya. Sampai sekarang saya masih menyesal dan merasa bersalah tidak pulang di minggu terakhir karena harus kerja keluar kota. Salah besar memang.

Sekarang, pulang ke rumah dengan rasa yang beda. Tidak dikamar yang sama, menghabiskan weekend bukan ditempat yang sama saat bersama Abah. Hanya tidak ingin bersedih terlalu dalam.

2017.
Saya baru sadar, tahun ini saya tidak membeli buku. Tidak pula membaca buku yang ada. Padahal, masih ada buku yang belum selesai saya baca, IQ84, Dunia Kafka milik Haruki Murakami dan Kegilaan Peradaban Michel Foulcaut. Entah apa yang membuat saya kehilangan gairah membaca buku.

2017.
Tahun dimana saya jarang sekali menulis di blog. Keinginan menulis itu selalu ada, namun tidak bisa. Saya menuduh rutinitas menumpulkan otak saya. Saya memikirkan dua hal yang menyebabkan ketumpulan itu. Otak dan pikiran saya telah habis dimakan rutinitas. Bukan karena sering dipakai, justru karena tak pernah digunakan. Rutinitas dan kesibukan menumpulkan pikiran dengan cara yang yang saya tak tahu bagaimana.

2017.
Saya kembali menyalakan Playstation. Bukan tanpa alasan, Playstation mungkin alat penipuan diri bagi saya. Untuk menghilangkan 'hal-hal yang menyakitkan dalam hidup atau mengusir dementor'.

2017.
Dulu bareng-bareng siapa sih?. Ternyata semuanya sudah selesai.

2017 berlalu begitu saja. Menengguk kapitalisme. Karena kapitalisme selalu menang.
Share:

Thursday, January 12, 2017

Stress ! Go Out !

Beberapa hari belakangan, saya sedang kondisi dengan mood yang tidak baik alias stres. Mungkin saja saya sedang butuh liburan atau hiburan yang tidak biasa, akhirnya membuat bahagia. Banyak hal yang diluar kendali saya. Entah syndrome apa namanya.
Untuk mengusirnya, saya mencoba beberapa formula, diantaranya :
1.  Membersihkan Kamar
Memberishkan lemari pakaian saya yang tidak terlalu berantakan. Saya melakukan hal itu karena saya ingin lebih rapi saja, tidak lebih. Saya melipat pakaian saya serapi mungkin dan menyusun sesuai dengan item-itemnya Kemeja dengan kemeja, kaos dengan kaos, celama dengan celana, pakaian dalam dengan pakaian dalam bercampur dengan kaos kaki sapu tangan. Satu yang yang membuat saya senang baru-baru ini adalah mengepel lantai. Yap. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya mengepel lantai. hahahahaha. Lantai kamar saya yang sudah bersih saya pel lagi agar wangi dan lantai kamar menjadi bercahaya. hehehe. Tidak lupa saya jugamembersihkan barang-barang saya yang berada di bawah tempat tidur. Kegiatan ini mengingatkan saya dengan member Leeteuk Super Junior yang suka bersih-bersih. Heuheu
2. Berselancar di Dunia Maya
Seperti sekarang, saya melanglang buana di dunia maya. Apakah itu posting foto di Instagram saya @sarirezki atau membaca artikel aneh-aneh dan lainnya. Di dunia maya, saya tidak perlu bertemu dengan orang lain, bersalaman dengannya secara langsung, tidak perlu basa-basi, kemudian tertawa palsu. Saya bebas ingin kemana saja dan melakukan apa di dunia maya. Memang saya sudah menikmati candu dunia modern. Satu hal yang membuat saya bertanya-tanya, maya itu cewek atau cowok? Dia digajikah sama aplikasi medsos? hanya Maya yang tahu

Maia gak pake y tapi pake i
3. Nonton Drama Korea
Sudah lama saya tidak merasakan sensasi bahagia menonton drama Korea. Saat ini saya sedang mengkonsumsi drama Lee Minho dan Jun Ji Hyun , The Legend of Blue Sea. Kegiatan ini cukup ampubh menghilangkan kerutan yang ada di otak saya beberapa saat. Saya sedang menanti episode 16 nya. HAHAHAHA

Lee Minho mermaid
Sumber : google

4. Baca Buku
Yap. Membaca buku membuat saya sedikit berkhayal dengan ceritanya. Apalagi membaca buku Haruki Murakami, saya harus fokus. Karena butuh imajinasi yang lebih. Pokoknya saya membaca yang sedikit berat atau novel puitis yang menyentuh perasaan saya. 
Share:

Friday, February 12, 2016

Cita-citaku

12.49.
Sabda Rindunya Glenn Fredly tengah bergema di dalam kamar berwarna biru saya yang tak terlalu besar. Sesekali saya bersin-bersin karena jarang menyapu atau bisa dibilang jarang membersihkan kamar. Sesekali saya juga menarik cairan yang tak begitu banyak mengalir dalam lubang hidung saya yang besarnya tak seberapa.

Saya dari tadi berpikir, kok saya lelah, kok saya lesu, kok rasanya ada yang kurang. Ternyata saya belum makan malam. Pikiran saya memang dari pagi hingga malam tidak fokus, kusut. Makanya, saya mencoba mengurainya lewat tulisan blog saya.

Salah satu doa saya dikabulkan Tuhan "Untuk dapat yang lebih baik". Alhamdulillah. Jujur, saya senang sekali sekaligus deg -degan. Ah, nanti saya menceritakannya.

Kalau flashback, ketika saya masih kecil, katakanlah waktu SD, cita-cita saya banyak. Entah itu dokter, bahkan sampai astronaut.

Melaju sedikit masa SMP, saya lagi gila-gilanya dengan komputer dan internet. Dulu saya pikir, jadi operator warnet itu seru, bisa main internet setiap hari. Tapi tidak bisa karena saya harus melakukan ritual les, sekolah, latihan, dan menunggu jemputan atau menunggu angkutan umum.

Zaman SMA, saya tiba-tiba tidak ingin menjadi apa-apa, hanya sekolah, les, main basket, main internet, main game. Sibuk-sibuk mau lulus SMA, barulah saya berpikir jadi apa. Geolog atau engineer. Tapi saya lulus di jurusan sosiologi.

Saya masih ingat dengan jelas, ketika saya mendaftar untuk Yukdicium eh yudisium dan wis udah eh wisuda di Februari 2014, formulirnya terdapat isian cita-cita. Tanpa pikir panjang, saya menulis WARTAWAN, karena saat itu ada koran  didekat saya. Karena sore itu hari terakhir pendaftaran untuk wisuda.

Dan 10 bulan kemudian, apa yang salah tulis, ternyata menjadi nyata. Sekarang saya menjadi seorang wartawan. Wartawan di Tribun Pekanbaru.

Tapi, sekarang cita-cita saya ingin tidur 9 jam atau jam 9.
Share:

Tuesday, December 29, 2015

Kenangan dengan McDonalds

Why So Happy Meal?

Salah satu Restoran Cepat saji yang dulunya sangat saya gandrungi makanannya kini kembali hadir di Pekanbaru. Mc Donalds (Mekdi). Ada sebuah fenomena menarik saat restoran ini dibuka pada bulan Desember 2015 ini. Baru saja dibuka, restoran ini sangat banyak dikujungi oleh warga Pekanbaru, yang memang kerap jika ada sebuah restoran baru, warga kota madani nan bertuah ini lansung menyerbu tempat tersebut. Sebab, diduga takut ketinggalan atau bisa juga budaya konsumtif mulai merasuki jiwa warga Pekanbaru, tidak terkecuali saya.
Setiap ada sesuatu yang baru, mereka lansung menyerbu bahkan rela mengantri ber jam-jam untuk mendapatkan makanan yang baru. 

Apa Pekanbaru kurang tempat hiburan? Setiap hal yang baru seperti objek wisata, kuliner.
Atau ini sebuah globalisasi budaya yang sekarang merasuki pola gaya hidup bahkan selera makan warga Pekanbaru? atau warga Pekanbaru saat ini bukan mementingkan rasa? atau hanya mementingkan gaya?  atau bahkan label atau status? atau suka dengan sesuatu yang praktis? atau warga Pekanbaru sudah jenuh dengan restoran cepat saji lain ?

Terlepas dari itu. Saya selalu berdoa makanan fast food ini hadir di kota saya. Walaupun hingga sekarang saya belum makan di sana, hanya makan untuk bawa pulang alias dibungkus. Rasanya sih sama dengan ayam-ayam lainnya. Tidak ada yang berbeda, bagi saya.

Terakhir, Mekdi ini hadir ketika saya masih SMP, antara tahun 2004 atau 2005. Hampir disetiap Sabtu setelah pulang sekolah, saya mampir ke Mekdi bersama teman atau Abah dan Mama saya. 

Ayam Mekdi ini juga sampai dibawa ke rumah kakak saya yang saat itu masih tinggal di Perawang. Bahkan, Almarhum Mama saya kalau mau ke Perawang, pasti bawa Mekdi untuk cucunya saat itu. Ingat Mekdi ingat Mama saya, Mama saya waktu itu hanya bisa pergi ke Mekdi karena tidak perlu harus masuk ke dalam tempat perbelanjaan, di tengah kota dan dekat dengan SMP saya dulu di SMPN 13 Pekanbaru. Saya masih ingat beliau memesan empat potong ayam, bagian paha atas plus kentang goreng ukuran jumbo. Saya masih ingat. Ayam itu dimasukkan ke dalam wadah dan ditutup rapat-rapat sehingga ayamnya tidak peyot ketika sampai di Perawang. Sampai di rumah kakak saya, saya dan ponakan saya lansung melahap dengan nikmat. 

Dan sekarang saya Mekdi hadir kembali di Kota saya. Saya sampai sekarang belum membelinya secara lansung, duduk dan menikmatinya, dipastikan saya ke sana dengan suasana yang berbeda dan dengan orang yang berbeda pula.

6 Januari mendatang, tepat 9 tahun jiwa Mama saya pergi dari raganya.




Share:

Saturday, December 19, 2015

Pacar dan Pasangan

Malam ini, sambil mendengarkan lagu OST Once-Falling Slowly yang membuat pikiran tenang, lampu kamar yang sudah dimatikan, hujan gerimis yang membuat suram menghilang, terbesit dalam pikiran saya tentang suatu hal.

Entahlah.
Saya pun tidak dapat membayangkanya.

Saya melihat orang-orang yang disekeliling saya, tentunya yang sedang berpacaran ataupun yang telah menikah, hidupnya terlihat bahagia. Padahal, loving can hurt, loving can hurt, sometimes, kata Ed Sheeran di awal lagu Photograph . Tapi toh mereka tetap bersama dan terus menjalankan hidup. Tanpa takut kejadian sebelumnya yang menyakitkan, terulang kembali.

Dari yang saya lihat, mereka hanya saling mengabari satu sama lain, pergi nge date, melihat handphone sambil senyum-senyum seperti orang gila. Hanya itu. Entah apa yang terjadi dalam perasaan mereka. Hal itu dilakukan berulang-ulang, apa tidak bosan melakukan hal-hal yang itu-itu saja?. Saya sering mendengarkan lagu-lagu romantis dan saya merasa senang, sampai tak bisa diungkapkan lewat tulisan, apakah seperti itu ya?.

Kalau saya melihat orang-orang yang sudah seharusnya menikah tapi belum menikah, terlihat kesepian. Aneh. Seperti tak ingin melakukan hal yang menyenangkan dalam hidupnya.
Bagi saya, yang pernah patah hati hebat, untuk jatuh cinta itu sulit. Sebab, hati saya dicabik-cabik dengan pedang yang bercahaya di film Starwars lightsaber itu. Semacam ada trauma psikologis kalau gagal lagi, patah hati lagi. Bahkan sekarang, saya susah jatuh cinta, bagi saya cinta itu perlu usaha. Hati saya seperti es, dingin, super kuat, seperti cakar wolverine ada di film X-men yang sudah dilapisin sama besi adamantium.  Mungkin agak lebay.
Share:

Monday, December 14, 2015

Sing For You

Untuk Pertama kalinya saya memposting tentang Korea Selatan. Karena setahun belakangan saya kerap nonton drama korea hahahahahahahahahahaha. Diawali oleh teman saya yang merasuki dengan film-film korea terkini ke laptop saya. Oke.  Lirik lagu dibawah adalah lirik lagu Sing For You nya Exo. Ini Kalau mmaudownload lagu Sing For You, klik linknya aja --->>>>  Download  .


λ‚΄ 낑은 기타λ₯Ό λ“€μ–΄
ν•˜μ§€ λͺ»ν•œ 고백을
ν˜Ήμ€ κ³ μ§‘μŠ€λ ˆ 삼킨 이야기λ₯Ό
λ…Έλž˜ ν•˜λ‚˜ λ§Œλ“  μ²™
μ§€κΈˆ λ§ν•˜λ € ν•΄μš”
κ·Έλƒ₯ λ“€μ–΄μš” I’ll sing for you
λ„ˆλ¬΄ μ‚¬λž‘ν•˜μ§€λ§Œ
μ‚¬λž‘ν•œλ‹€ 말 μ•ˆ ν•΄
어색해 μžμ‘΄μ‹¬ ν—ˆλ½ μ•ˆ ν•΄
μ˜€λŠ˜μ€ 용기 λ‚΄μ„œ λ‚˜ 말할 ν…Œμ§€λ§Œ
λ¬΄μ‹¬νžˆ λ“€μ–΄μš” I’ll sing for you
The way you cry the way you smile
λ‚΄κ²Œ μ–Όλ§ˆλ‚˜ 큰 의미인 걸까
ν•˜κ³ ν”ˆ 말 놓쳐버린 말
κ³ λ°±ν•  ν…Œμ§€λ§Œ κ·Έλƒ₯ λ“€μ–΄μš”
I’ll sing for you sing for you
κ·Έλƒ₯ ν•œλ²ˆ λ“£κ³  μ›ƒμ–΄μš”
쑰금 우슡죠
내겐 κ·ΈλŒ€ 밖에 μ—†λŠ”λ°
가끔은 남보닀 λͺ»ν•œ λ‚˜
사싀은 κ·ΈλŒ€ ν’ˆμ—
머리칼을 λΆ€λΉ„κ³ 
μ•ˆκΈ°κ³  싢은 건데 말이죠
The way you cry the way you smile
λ‚΄κ²Œ μ–Όλ§ˆλ‚˜ 큰 의미인 걸까
λŒμ•„μ„œλ©° ν›„νšŒν–ˆλ˜ 말
사과할 ν…Œμ§€λ§Œ κ·Έλƒ₯ λ“€μ–΄μš”
I’ll sing for you sing for you
아무렇지 μ•Šμ€ μ²™ν•΄μš”
맀일 λ„ˆλ¬΄ 감사해 κ·ΈλŒ€κ°€ μžˆμ–΄μ„œ
μ‹ κ»˜μ„œ μ£Όμ‹  λ‚΄ μ„ λ¬Ό
였늘이 μ§€λ‚˜λ©΄
λ‚œ 또 어색해 할지도
ν•˜μ§€λ§Œ μ˜€λŠ˜μ€ κΌ­ λ§ν•˜κ³  μ‹Άμ–΄
κ·ΈλŸ¬λ‹ˆ λ“€μ–΄μš”
The way you cry the way you smile
λ‚΄κ²Œ μ–Όλ§ˆλ‚˜ 큰 의미인 걸까
ν•˜κ³ ν”ˆ 말 놓쳐버린 말
κ³ λ°±ν•  ν…Œμ§€λ§Œ μ’€ μ–΄μƒ‰ν•˜μ§€λ§Œ
κ·Έλƒ₯ λ“€μ–΄μš”
I’ll sing for you sing for you
κ·Έλƒ₯ λ“€μ–΄μš” I’ll sing for you

Ngerti bacanya? Saya pun tidak mengerti huruf hangul diatas. Silahkan googling.

Entah mengapa lagu ini enak ditelinga saya. Dengan petikan gitar yang entah siapa yang memainkan, melodinya cukup mengantarkan saya untuk tidur. Di lagu ini, hampir semua personil boy band yang telah meraih 5 penghargaan di MAMA Award 2015 ini bernyanyi. First stagenya pun di tayangkan secara live lewat V aplikasi. Saya baru mengetahui hal ini beberapa hari lalu hahahahahhahahahahaha.

Setelah google terjemahan menerjemahkan lagu ini, Lagu Sing For You seperti lagu yang dinyanyikan oleh pemuja rahasia. Dia tidak berani menyampaikan perasaannya kepada orang yang dia suka secara lansung. Akhirnya dia menyampaikan perasaannya lewat lagu dengan petikan gitar.

Tapi ternyata di videoklipnya, konon menceritakan tentang kisah perjalanan mereka. Yang berawal dari 12 orang, kemudian 11 orang , lalu 10 orang, dan sekarang 9 orang. Walaupun begitu mereka semangat. Jadi bagi yang susah move on, nontonlah movie video nya. Sudah tersedia di youtube kok.

Selain lagu ini, juga ada lagu Lightsaber yang merupakan kolaborasi dengan film Starwars

Share:

Sunday, November 22, 2015

Menonton Televisi

Sudah tiga kali saya tertidur didepan televisi. Membentangkan kasur kecil dengan gambar Hello Kitty. Saya putar kipas angin disebelah kiri Televisi, nyaman sekali.

Tidak jelas apa yang saya tonton, saya hanya menekan tombol remote tv menggunajan jari di tangan kanan aaya. Saya selalu berhenti di acara yang saya sukai. Tiga hari ini saya menonton The Target, Spiderman, X-Men, Captain America sampai saya tertidur.

Ketika menonton, saya menyiapkan cemilan. Kali ini saya memilih makanan asin. Jujur, saya saat ini ingin sekali makan makanan yang asin. Mungkin mengartikan saya dalam kondisi yang tidak baik. 

Bukannya saya tidak tahu penyebabnya, saya terlalu tervawa perasaan. Gampang sekali sakit hati. Bukannya saya tidak tahu diri saya sendiri, tetapi sudah banyak perkataan yang dari awal yang menyakiti.
Lancarkan semuanya, Tuhan.

Sekarang saya ingin menonton lalu tidur dengan nyaman, bangun dengan semangat, walaupun sulit.

Share:

Thursday, July 30, 2015

Lima Jam Saja

Hampir lima jam lebih saya memegang gadget saya. Selama lima jam tersebut, saya mengurung diri dengan pintu terbuka dikamar. Kebetulan keponakan sedang tidak tidur dengan saya. Lampu masih menyala, pintu masih terbuka. Sambil berbaring di lantai menghadap ke langit-langit kamar, saya berselancar di dunia maya.

Satu per satu media sosial saya saya buka. Status-status galau, ngoceh tentang negara, mengeluh, membandingkan Indonesia. Itu banyak di update oleh mereka-mereka yang candu seperti saya. Saya kagum dengan demokrasi dengan dunia digital ini.

Jam 01.30, saya beranjak untuk mencuci muka ke kamar mandi dan kemudian kembali asyik dengan hp saya. Walaupun sekarang sedikit sakit kepala, saya masih semangat untuk bersiliweran di dunia maya, padahal besok pagi kerja.

Saya berpikir, sepertinya usaha saya untuk memperlancar bahasa Inggris saya ini, tidak ada usahanya. Hanya rencana, rencana dan rencana. Terkadang saya sendiri kesal dengan diri saya, kalau keperluan untuk sendiri sendiri saya tak punya tanggung jawab. Saya tak bisa memaksakan diri sendiri untuk kebutuhan saya sendiri, misalnya belajar bahasa Inggris. Kalau untuk tugas, Alhamdulillah saya bisa bertanggung jawab karena berkaitan dengan orang lain.

Saya juga mulai berpikir, ketika saya ingin melanjutkan sekolah. Saya ingin jadi akademisi, namun, saya bertanya dengan diri saya sendiri, apakah keinginan saya memang unfuk diri saya? Keluarga? Afau masyarakat?. Apakah nanti setrlah usia 35 tahun saya mendapatkan apa yang saya inginkan? Atau s2 saya hanya status dimasyarakat?

Semenjak saya bekerja, setiap hari saya menulis. Memang, saya suka menulis. Menulis saja, saya hanya suka menulis, tidak lebih. Ledua saya suka baca. Tergantung genre apa yang ingin saya baca, sekarang saya sedang berusaha melahap IQ84 Jilid 2 Haruki Murakami.

Sudahlah saya ngantuk.
Share:

Thursday, July 9, 2015

Bertemu Voldemort

Aduh. Sulit menuliskan apa yang saat ini saya pikirkan. Saat ini saya merasa begitu tertekan. Belakangan saya sering marah, marah dalam hati tepatnya.

Hal yang kecil saja, lansung perasaan fire fire lansung muncul. Misalnya dibangunkan sahur dengan mata di senter, makanan saya diambil abang, di ceramahi karena tidur lambat atau diprotes karena sahur tak cuci muka. Saat itu perasaan saya lansung kesal dan marah. Mungkin perut saya isinya bara api yang sangat membara.

Sekarang Lampu kamar masih menyala. Sambil berpikir,  sekarang saya begitu malas, begitu bosan, merasa frustasi. Apa saya kurang dekat dengan Tuhan?

Saat ini seperti melalui ujian yang lebih sulit dari ujian trigonometri. Seperti melalui banyak tikungan tajam. Di sana banyak paku berserakan, dan saya tak bisa menghindar. Saya seperti bertemu voldemort yang menakutkan itu, tapi saya belum pernah bertemu si kepala botak yang pesek itu. (?)

Saya berpikir bagaimana cara melewati jalan tersebut. Bagaimana hal-hal yang buruk bisa dilalui dengan baik oleh saya tanpa harus berpikir dalam.

Setiap hari saya tidur larut, kadang susah tidur. Berpikir bagaimana melakukan hari esok, bagaimana melakukan itu, bagaimana mengefisienkan waktu.

Biasanya kalau seperti ini saya pergi berjalan sendirian, makan sendirian atau duduk di suatu tempat sendirian, kemudian berpikir ringan atau saya berbicara dengan teman dekat saya tanpa dibatasi waktu yang larut. Tapi sekarang itu sulit untuk dilakukan, tubuh saya lebih memilih kasur. Memeluk guling dengan khusyuk sambil mengotak-atik si ASU..S ini.

Sekarang saya ingin ke pantai, mendengarkan suara ombak, minum air kelapa. Atau saya duduk di kereta sambil mendengarkan forget Jakartanya Adhitia Sofyan dari Jakarta menuju ke Bandung seperti dua tahun lalu. Saya selalu ingat hal itu. MEMBAHAGIAKAN.

BUTUH PENIPUAN DIRI.

Share:

Sunday, June 7, 2015

Ngomongin Kasur

Apa yang mau saya tulis disini,ya ? Saya bingung. Tiba-tiba pengen buka blog yang isinya gak jelas. Kadang senang, kadang sedih, kadang galau, kadang jatuh cinta. Entahlah. Mulai sedikit membaca, kurang kosakata, padahal kadang ke pustaka, tapi cuma nulis berita, tak ke lantai dua. Ah, sudahlah.

-~~~~

Saat ini tidur bagi saya adalah sebuah kenikmatan Tuhan yang tak dapat didustakan. Setiap hari saya rindu akan pembaringan dirumah. Memeluk guling dengan khusyuk diiringi lagu mellow di kamar gelap. Ah, mantap.

Saya susah bangun pagi. Saya selalu kalah dengan kasur. Alarm hp sudah berbunyi kemudian saya matikan, saya atur waktunya lagi sekitar setengah jam lagi. Setengah jam kemudian berbunyi lagi dan saya matikan lagi, saya atur lagi 15 menit. Setiap hari seperti itu (seperti itu : tiba-tiba ingat stiker Syahrini di Line).

Sekarang saya kepikiran tentang ruang privat. Jadi ingat Jean Baudrillard kalau bahas-bahas ruang privat. Tak banyak yang bisa disembunyikan, termasuk perasaan. Sebagai manusia, setiap orang saat ini kerap menyampaikan perasaannya atau apa yang ia alami ke media sosial. Termasuk saya, sejak blog ini saya buat waktu SMA dulu. Curahan hati yang tak bisa dibendung lagi.

Mau curhat aja sekarang lewat lagu di path. Seolah-olah hidup kita saat ini diketahui orang banyak, kita dimana, sedang apa, melakukan apa, dunia tahu. Ini menakutkan. Saya terbayang film-film detektif. Tiba-tiba ada nomer yang tak dikenal nelpon, trus nyuruh kita buat ngelakuin sesuati, kalau enggak kita mati atau ngeliat orang lain mati.

Kalau gak pakai medsos, gak up to date, kuno, serasa hidup di zaman klasik. Ketinggalan apa yang sedang mainstream, apa yang sedang hangat diperbincangkan.

Jadi aku kudu piye????

Aduh, kan ngawur gak jelas, mungkin kurang tidur, mari tidur. Semoga bangun dengan bahagia, udah jam 12 lewat.

Share:

Sunday, April 12, 2015

Happy Virus

Hari ke 12 di bulan April. Sekarang pukul 11.14 di jam handphone saya. Saya sedang tidak ingin berpikir tentang hal-hal yang berat dan yang tidak membuat saya bahagia.

Saya ingin bercerita tentang sesuatu yang bahagia. Salah satu hal yang membahagiakan di dunia ini adalah jatuh cinta. Kita, sebagai manusia normal memang wajib jatuh cinta, tanpa terkecuali. Walaupun banyak diantara kita yang memilih hidup melajang sepanjang hidupnya, saya yakin mereka juga pernah jatuh cinta, walaupun saya belum bertanya lansung.

Saya sempat berpikir seperti itu. Hidup tanpa pasangan, bekerja keras mengumpulkan pundi-pundi rupiah, membuka usaha, sukses, setelah itu berkebun atau melakukan perjalan.

Pikiran saya saat itu sempat diprotes oleh teman-teman saya. Tetapi waktu itu, hidup sendirian lebih menarik. Kita tidak diikat oleh yang namanya pernikahan, pacaran atau semacamnya, kita menjadi manusia bebas. Saat itu saya membaca buku dari seorang seoranh filsuf prancis, namanya saya lupa, ia mengaakan bahwa pernikahan adalah penindasan secara halus. Setelah menikah, istri diwajibkan untuk melayani suami, istri harus mendahulukan suami, istri harus selalu meminta izin suami dan semacamnya. Menurut saya ini memang penindasan secara halus, entah mengapa sampai sekarang  saya berpikir bahwa itu hal yang tak adil. Seperti lagu yang pernah saya dengar, wanita dijajah pria sejak dulu, sejak dulu wanita dijajah pria...

Sekarang, saya masih berpikir untuk hidup sendirian hingga usia 30 tahun. Saya ingin memuaskan hasrat melajang saya dahulu, baru saya akan memikirkan hal-hal yang menjadi sunnah nabi di agama saya.

Tetapi, sekarang ada hal yang membahagiakan singgah ke hidup saya. Rasanya seperti hal konyol yang saya rasakan. Ah, biarlah virus merah jambu ini terus menerus menggerogoti perasaan saya entah sampai kapan.

Saya mulai melakukan hal bodoh setiap pagi, melihat hp dan kemudian menuliskan berbagai kalimat-kalimat manis, kemudian menghapusnya, menuliskan lagi, menghapus lagi. Ya, saya ingin pesan singkat yang tak seberapa itu dibaca begitu sempurna, berharap yang membacanya tersentuh sandi jiwanya.

Saya hanya berharap semesta mempertemukan kami, disengaja ataupun tidak di sengaja suatu saat nanti. Jika diizinkan, dapat bersinggungan. Amin.

Share:

Monday, March 2, 2015

Untuk Sebuah Nama

kau hanyalah kau. Goresan yang nyata dilembar jiwa. Tak bisa ku hapus dan tak bisa ku lari, dari hatik yang pilu.
untuk semua yang terjadi antara engkau dan diriku. tak mungkin kupungkiri semua amarah dan segala kecewa. Namun harus ku maafkan meski lirih perih membekas. Ku kubur semua janji manismu dan runtuhkan lara yang merobek hatiku. ini semua untuk sebuah nama.
~~~
Ini sebuah lirik lagu dari penyanyi favorit saya, walaupun tidak full. yap. Glenn Fredly. Entah kenapa beberapa hari belakangan saya sering mendengarkan lagu ini. Mungkin sudah hampir seminggu saya sembelit. Padahal tadi pagi saya sudah pergi ke toilet rumah sambil menulis berita saya, tetapi tidak juga keluar ekspresi ini.

Ah, sudahlah saya meracau tidak jelas dan blog saya makin tidak jelas.
Share:

Saturday, January 17, 2015

Aku Ingin Pulang

Jam kantor sudah menunjukkan 10.55. Dimana di jalan sudah sepi. Volume kendaraan sudah berkurang. Saya masih di kantor untuk mmelanjutkan piket rutin yang entah kapan berakhir, setiap hari. Suasana kantor hari ini sangat sepi, beberapa dari redaktur libur hari ini.

Ditengah kegiiatan piket yang membosankan ini, saya hanya ingin mengatakan Aku Ingin Pulang, memeluk guling dengan khusyuk.
Share: