Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Sunday, January 31, 2021

Ngomongin JOMO

Sarah Gibson jadi trending topic di dunia maya.
Siapa Sarah Gibson? Saya yang tidak tahu Sarah Gibson ini langsung searching di google
"Siapa Sarah Gibson?"
Kemudian link berita dari liputan 6 keluar
Ini beritanya; 


Ternyata Sarah Gibson adalah sahabat dari Awkarin, ternyata juga selebgram, Memang, belakangan saya kurang update dengan selegram-selebgram itu. Masih belum ada yang bisa saya ambil dari mereka untuk diaplikasikan ke kehidupan saya. Saya sudah tidak takut untuk ketinggalan hal-hal yang happening.

Apalagi saat ini banyak konten yang berseliweran di media sosial yang banyak menunjukkan trend-trend terkini. Eksistensi digital membuat kita terobsesi dengan banyak hal. Kita tak ingin ketinggalan berbagai postingan keributan politik, meme-meme usil yang menggelitik, tempat nongkrong  yang sedang hits, dan foto-foto liburan teman yang membuat iri.

Tapi buat apa sih? buat apa? 

Saya menemukan istilah di internet The Joy of Missing Out (JOMO) sepupu dari FOMO. Gak apa-apa kalau gak ikut trend. Benefit menjadi JOMO itu :

  1. Menikmati Waktu Istirahat. Kita sudah stress bekerja, sudah banyak tekanan hidup. Kita perlu untuk charge energi kita kembali. Kita perlu untuk menikmati waktu istirahat kita supaya terus waras.
  2. Memutuskan hubungan dengan media sosial (sementara juga boleh). Media sosial dianggap sebagai salah satu penyebab utama FOMO dan untuk memanfaatkan JOMO sebaik-baiknya, ada baiknya menyisihkan sedikit waktu untuk tidak bermain media sosial dan menikmati waktu tanpa media sosial. Bisa baca buku, olahraga, nonton film dan hal-hal positif lainnya.
  3. Be Present.  Kita benar-benar hidup di ruang fisik. Kita bisa menikmati waktu bersantai kita, ya me time lah istilah zaman sekarang. Bisa memanfaatkan waktu dengan orang yang kita cintai.
Menikmati JOMO jangan sampai menjadi lupa dengan bersosialisasi dengan manusia ya.




Share:

Monday, December 28, 2020

Kecemasan Finansial

11.49 pm.
Jam di laptop saya.
Saya hanya membuka email, mengecek satu per satu email masuk, mencari sesuatu hal yang saya butuhkan, kemudian membuka blog ini.

Pikiran saya benar-benar lari sana-sini. Memikir usia hampir 30 tahun beberapa tahun lagi, saya memikirkan apa saja yang sudah dilakukan dan apa yang belum dilakukan. Salah satu yang membuat pusing adalah kecemasan finansial

Belakangan ini, di media sosial kita mungkin bersliweran informasi tentang how to manage money, right? Itu benar-benar membuat saya berpikir, selama saya kerja 5 tahun lebih, kemana saja uang saya selama ini ? Padahal saya bukan sandwich generation. Kalau dipikir-pikir uang saya pergi menjadi kotoran semua. Atau apa karena terlalu banyak informasi seperti itu membuat saya cemas? Reading some bullshit on the internet, brainwashed? 

Benar-benar membuat saya cemas.

Ditambah dengan impian saya untuk melanjutkan sekolah di salah satu sekolah paling bagus, menurut saya, dimana biaya per semesternya bikin geleng-geleng kepala. 5 tahun dengan gaji di tempat yang sekarang, saya rasa 3 tahun tabungan belum bisa mencukupi.

Saya bahkan sudah menerapkan hidup minimalis, jika saya hitung, tabungan saya belum cukup. 

Fiuh, benar-benar membuat pusing kepala. Sampai saya berpikir untuk mencari pekerjaan sampingan selain pekerjaan tetap.

Menghindari pusing kepala itu, sepulang kerja hari ini, saya menonton Up In The Air. Filmnya bagus. Menceritakan seorang lelaki yang pekerjaannya memecat orang dan mengharuskan dia untuk melakukan perjalanan bisnis dari satu kota ke kota lainnya. Dia sangat suka dengan perjalanan tersebut, naik pesawat kelas bisnis, menginap di hotel mewah. 

Ucapan yang terngiang-ngiang sampai saya menulis di blog ini adalah
Kita membebani diri kita sendiri sehingga tak bisa bergerak. Jangan salah, bergerak adalah hidup

Kalimat yang diucapkan Ryan Bingham tersebut langsung membuat saya berpikir bahwa saat ini saya hanya stuck di sini, tidak kemana-mana. Saya harus bergerak, bergerak untuk maju, memperbaiki beberapa hal untuk mencapai tujuan. Bergerak dan terus bergerak. Bergerak dan berpindah. Jangan kebanyakan berpikir, just do it. Rezeki gak kemana. Semoga segera dipertemukan dengan hal-hal yang baik.

Harus dimulai dengan menyusun jadwal. Just Do It, jangan terlalu banyak berpikir.

Harus punya semangat yang sama seperti di kala sekolah dulu.

Awal-awal COVID-19 benar-benar banyak kursus yang saya ambil, mulai dari Communications Strategies, Management Conflict, Kursus bahasa Inggris sampe The Fundamentals of Digital Marketing Google yang ada ujiannya.

Please don't overthinking

Let's start !!! 

Share:

Friday, May 22, 2020

Fleksibel, Gesit, Inovatif, Penghematan

Hampir tiga bulan kita semua berperang secara tidak langsung dengan COVID-19 ini. Beberapa kali saya dan teman-teman ngobrol secara virtual. Mereka ada yang seperti saya, bekerja di kantor, ada yang dari rumah atau Work From Home (WFH), bahkan memang sudah ada remote working jauh sebelum COVID-19. Memang perubahan besar dapat terjadi dalam waktu yang singkat.

Ngobrol ngalor-ngidul pakai zoom, dari bahas ekonomi, politik, drama Korea, sampai meributkan masalah hampers dan parcel. 

pic from Pinterest

Saya mendengarkan pengalaman mereka bekerja. Jadi selama WFH, mereka harus fleksibel, gesit, inovatif dan menghemat anggaran. Misalnya, meeting menggunakan aplikasi zoom, google meet. Biasanya mereka meeting di cafe atau di kantor, sekarang hanya di kamar dan bisa bertemu banyak orang, dan tentu saja bekerja dilakukan dari jarak yang jauh.

Saya yang bekerja tidak WFH dan masih datang ke kantor pun demikian. Grup kerja saya dibagi menjadi A dan B. Ada yang tetap di kantor, ada juga yang pindah kantor tapi masih di lingkungan perusahaan. Bukan hanya meeting menggunakan zoom, tetapi penilaian tahunan pun dilakukan dengan zoom. Saya merasa seperti melakukan transformasi digital. 

Virus ini membuat kita mempercepat digitalisasi, saya jadi ingat dengan Industri 4.0 atau Revolusi Industri Keempat. Apapunlah istilahnya, faktanya saat ini ada seperangkat alat digital yang dapat mengurangi beberapa cost dengan mendorong hal yang bernama Fleksibilitas. Tentu saja, digitalisasi ini sudah terjadi sebelum virus ini menyerang, tetapi tidak secara keseluruhan. Industri 4.0 ini digambarkan sangat berbeda. Teknologi 4.0 menghadirkan solusi yang dulunya kita gak bisa melakukannya, misalnya, keluar kota harus meeting satu hari. Tapi sekarang kita bisa lakuinnya di kamar aja. Bahkan bisa meeting di tempat yang terpencil di ujung dunia asal ada jaringan internet. Semua ini tidak terlepas dari pentinganya big data sebagai bagian dari penerapan Internet of Things (IoT) di berbagai perusahaan. Pada dasarnya, IoT memiliki kemampuan mentransfer data tanpa memelurkan interaksi langsung antara manusia dengan komputer. 

Kita mulai terbiasa bekerja secara digital dan mengoptimalkan teknologi terkini. Sistem bekerja seperti ini membuat interaksi fisik kita banyak berkurang dan digantikan dengan interaksi secara digital. Mau tidak mau, kita harus mempunyai dan meningkatkan kemampuan menggunakan digital. 

Semoga internet Indonesia cepat se cepat cepatnya. Aku siap menikmatimu.





Share:

Friday, April 21, 2017

Dia juga Kartini

Peralatan operasional yang sangat dibutuhkan di bidang perindustrian dalam kegiatan pengangkutan, pengangkatan serta pemindahan barang berkapasitas besar yang biasa disebut forklift, biasanya dioperasikan oleh seorang pria.
Namun, jika dikendarai oleh seorang perempuan, tentu tidak biasa. Kendaraan itulah yang dikendarai oleh Lita Syafriana (22). Bukan tanpa alasan ia memilih untuk mengendarai kendaraan yang harusnya dikendarai oleh laki-laki. Ia memilih bekerja sebagai pengemudi forklift demi membantu perekonomian keluarganya.
Anak kedua dari lima orang bersaudara ini menjadi tulang punggung keluarga semenjak ayahnya wafat. Bersama kakaknya yang bekerja sebagai penjaga kebun, Lita membantu ibunya untuk membiayai dua orang adiknya yang masih bersekolah.
"Saya harus membantu ibu saya untuk menghidupi keluarga ini. Saya bersyukur mendapatkan peluang dan kesempatan dari PT RAPP (PT Riau Andalan Pulp and Paper). Meski saya perempuan, mereka percaya saya bisa melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan laki-laki," ujar Lita.
Sebelum bekerja sebagai pengemudi forklift, Lita pernah bekerja di salah satu klinik di Pangkalan Kerinci. Selain itu, ia juga pernah menjadi SPG di salah satu pusat perbelanjaan di kota Seiya Sekata ini. Setelah itu, ia mencoba melamar ke PT Riau Duta Berlian, salah satu mitra Community Development (CD) RAPP. Ia pun harus bersaing dengan 52 orang yang juga melamar sebagai pengemudi forklift ini. Ia terpilih bersama 11 rekan lainnya untuk menjadi pengemudi kendaraan pengangkut kertas tersebut.
“Mau bagaimana lagi, Siap tak siap harus siap. Mau tidak mau saya harus siap karena saya butuh pekerjaan. Tawaran kerja di sini (PT RAPP-red) gajinya lebih tinggi daripada sebelumnya jadi SPG dulu. Awalnya saya sempat bingung, tapi setelah saya diterima, saya pun diberikan pelatihan yang berkaitan dengan pekerjaan hingga saya bisa mengoperasikan forklift dan sekarang saya mendapatkan sertifikasi dari Disnaker sekaligus memiliki Surat Izin Operasi,” ujarnya.
Rasa cemas pun sempat menghantui pikiran Lita, ia khawatir tidak mampu menjadi profesi ini. Bahkan, awalnya ia sempat mengalami kecelakaan kecil saat bertugas. Namun, berkat pelatihan yang diberikan, ia kini sudah mahir mengendarai kendaraan besar tersebut, sudah tak ada rasa takut dan cemas yang terlihat saat Lita mengendarai Forklift.
Diakui Lita, ia senang denagn pekerjaan sebagai pengendara Forklift ini. Terlebih lagi bisa bergabung dengan perusahaan sebesar PT RAPP, merupakan sebuah hal yang membanggakan bagi warga Pangkalan Kerinci dan sekitarnya. Forklift yang mampu mengangkat beban hingga ribuan kilogram itu pada kenyataannya tidak semudah mengendarai mobil pada umumnya. Pusat gerakan kendaraan beroda tiga itu berada di ban belakang.
“Jadi kalau bawa forklift itu seperti bawa mobil jalan mundur. Tak semua orang yang mengendarai mobil bisa bawa forklift. Rasa bangga ada jadi perempuan diantara laki-laki. Tak menyangka bisa diterima, karena karyawan yang dipilih bawa forklift yang memiliki kaki sampai ke rem,” ungkapnya.
Sementara itu, Shift Superintendent RAPP, Nofriadi, mengemukakan RAPP telah memberdayakan pekerja lokal perempuan untuk mengendarai forklift sejak tahun 2004. Dia mengemukakan perempuan merupakan pekerja yang lebih halus dan lebih hati-hati dalam bekerja. Hal ini menjadi landasan perusahaan untuk mempercayakan produknya pada perempuan.
“Perempuan itukan sifat dasarnya lebih halus dan lebih hati-hati. Jadi produk kita pun akan lebih terjaga,” ucapnya.

Share: