Tentang Obrolan yang Tidak Mencari Kesimpulan

Seperti yang gue tulis pada tulisan gue sebelumnya, tahun 2025, gue pengin menulis tentang orang-orang yang, tanpa pernah tahu, menemani hidup gue di dua tahun terakhir yang cukup kacau. Bukan orang-orang yang menyelamatkan gue, bukan juga yang memberi jawaban atas hidup yang berantakan.

Lebih ke mereka yang hadir sebagai suara latar, mengisi kekosongan tanpa mengganggu, dan bikin hari-hari tetap bisa dijalani meski kepala sering ribut sendiri.

Di antara mereka ada Raditya Dika, yang sudah gue tulis di sini, dan Iqbaal Ramadhan, lewat obrolan-obrolan podcast yang menemani fase hidup gue yang lagi tidak teratur. Tulisan ini bukan ucapan terima kasih yang besar atau sentimental. Ini cuma catatan kecil tentang kehadiran yang nggak berisik.

Gue dengerin podcast yang ada dia bukan karena pengin belajar sesuatu. Dan bukan juga karena berharap dapat pencerahan hidup. Gue dengerin karena obrolannya.Di podcast itu, nggak ada usaha buat terdengar pintar. Nggak ada niat buat mengarahkan pendengar ke kesimpulan tertentu.

Obrolannya mengalir, kadang muter, kadang nyasar, dan sering juga promo film, gue jadi tahu film-filmnya, ada yang gue nonton juga.

Banyak yang dibahas soal musik. Musik lama. Album. Lagu-lagu yang didengerin utuh, dari track pertama sampai terakhir. Bukan musik yang perlu dijelaskan kenapa bagus, tapi musik yang cukup diputar sambil hidup berjalan.

Di situ, obrolannya sering nyentuh musik Inggris, Britpop dan sekitarnya. Nama-nama yang kedengarannya familiar, tapi dibahas tanpa nada sok tahu.

Cara dia ngomongin musik juga nggak defensif. Nggak ada nada “selera gue lebih benar”. Nggak ada keinginan buat mendidik. Musik hadir sebagai teman ngobrol. Bukan sebagai identitas.

Gue sendiri memang suka Britpop. Nggak dalam rangka membuktikan apa-apa. Cuma karena musiknya enak didengerin ulang, terutama di hari-hari yang nggak butuh banyak penjelasan. 

Tapi lucunya, dari semua obrolan itu, satu nama yang selalu balik ke gue tetap, The Beatles. Mungkin bukan Britpop. Tapi rasanya semua musik Inggris yang gue dengar berutang ke The Beatles. 

Bukan karena nostalgia besar. Lebih karena lagunya terasa netral, bisa masuk ke fase hidup apa pun tanpa harus disesuaikan.

Di beberapa episode, obrolannya menyentuh soal proses. Bikin sesuatu tanpa harus ramai. Menjalani hari tanpa perlu diumumkan. Tentang tumbuh, tapi nggak pakai deklarasi besar.

Masa lalu jarang dibesar-besarkan. Nggak ada cerita kejayaan lama yang diulang-ulang. Nggak ada nostalgia yang dijadikan sandaran.

Fokusnya lebih ke sekarang. Ke apa yang sedang dijalani. Ke hal-hal kecil yang sedang dibangun, tanpa perlu dibingkai sebagai pencapaian.

Podcast ini juga nggak mencoba jadi relevan untuk semua orang. Dan justru di situ letak kekuatannya.
Obrolannya nggak menyuruh pendengar untuk berubah. Nggak mengajak jadi versi tertentu dari diri sendiri. Nggak memberi daftar hal yang seharusnya dilakukan.

Dia cuma ada. Dan membiarkan pendengar ikut duduk di sana. Di tengah banyak konten yang sibuk memberi arah, podcast ini memilih untuk berjalan pelan. Tanpa tujuan besar. Tanpa kesimpulan yang dipaksakan. Dan mungkin, itu yang bikin obrolannya terasa utuh. Bukan karena isinya penting. Tapi karena nggak mencoba menjadi penting.

28 Desember, ulang tahunnya. Tanggal yang sama dengan Raditya Dika, kebetulan kecil yang terasa terlalu pas untuk diabaikan.

Lucu juga, ya. Di hidup yang lagi ribut ini, justru dua orang yang menemani dengan cara paling tenang lahir di hari yang sama.

Jadi tulisan ini bukan ucapan selamat ulang tahun yang besar. Lebih ke catatan kecil, terima kasih sudah menemani, tanpa perlu tahu apa-apa tentang gue.

Comments

Popular posts from this blog

Hari-Hari yang Terasa Kosong Tapi Tetap Jalan

Tentang Hari-Hari yang Tidak Spesial

Teori Sosiologi Dan Cinta