Tentang Hari-Hari yang Tidak Spesial
Belakangan ini, hidup gue terasa mirip orang belajar surfing tanpa pernah ikut les.
Kadang berdiri sebentar. Lebih sering jatuh. Cemas? Sudah kayak langganan. Datang rutin, nggak pernah izin, dan anehnya selalu tepat waktu.
Mood buruk juga nggak jauh beda. Bangun pagi, belum ngapa-ngapain, tapi rasanya sudah capek duluan.
Hal-hal yang dulu gue suka pelan-pelan kehilangan daya tariknya.
Olahraga? Sekarang cuma jadi niat baik.
Buku? Hurufnya tetap sama, tapi entah kenapa rasanya nggak masuk.
Drama Korea yang dulu bisa bikin gue betah begadang, sekarang cuma jadi suara latar sambil gue mikir hal lain yang juga nggak jelas.
Bukan hidup yang buruk.
Tapi rasanya seperti jalan jauh tanpa papan petunjuk. Gue tetap jalan. Tetap berusaha.
Cuma kadang muncul pertanyaan kecil di kepala:
“Ini sebenarnya lagi ke mana, ya?”
Di sepanjang jalan itu, gue ketemu banyak orang. Ada yang bikin hari terasa lebih ringan.
Ada juga yang bikin gue belajar satu hal penting, kesabaran ternyata bisa dilatih, walaupun dengan cara yang tidak menyenangkan.
Di satu titik, gue sadar sesuatu yang sederhana, nggak semua hari harus cerah. Dan mungkin, nggak apa-apa kalau sekarang lagi banyak mendung.
Gue mulai pelan-pelan nengok ke dalam. Ingat lagi kenapa dulu mulai jalan. Apa yang bikin gue bertahan sejauh ini, walaupun sering sambil ngeluh.
Gue mulai ngerapiin langkah. Bukan dengan keputusan besar. Lebih ke hal-hal kecil yang bisa gue lakuin malam-malam, sendirian, sambil ngobrol sama diri sendiri.
Kadang diselipin doa juga. Bukan yang panjang. Lebih ke, “Ya udah, gue coba lagi besok.”
Sekarang gue masih di sini.
Masih jalan.
Masih kadang capek.
Masih sering ragu.
Tapi setidaknya, gue nggak lagi pura-pura baik-baik saja.
“Kamu harus menjadi lebih kuat—seperti burung gagak yang tersesat.”
ReplyDelete