Menulis Blog, Menjadi Introvert, dan Pekerjaan Pertama
Jadi menyambut tahun 2026, gue pengin nulis lagi.
Tentang orang-orang yang sadar atau nggak, pernah nemenin hidup gue berjalan sejauh ini, khususnya sepanjang tahun 2025.
Bukan untuk mengingat masa sulitnya.
Tapi untuk menandai bahwa gue masih di sini.
Masih jalan.
Dan sejauh ini, masih baik-baik saja.
------------------------------------------------------------------------------
Tentang membaca blog orang lain, menulis tanpa niat jadi penulis, dan bagaimana sebuah tulisan sederhana membuka jalan hidup.
Ada fase hidup di mana menulis bukan soal ingin jadi penulis.
Buat gue, menulis waktu itu cuma cara paling tenang buat mikir. Itu pun karena gue tipe orang yang kalau kebanyakan ngomong, malah makin nggak jelas arah pikirannya.
Waktu itu gue banyak baca blog. Salah satunya blog Raditya Dika.
Jujur, gue lupa pertama kali bisa nyasar ke sana dari mana. Mungkin dari Google. Atau mungkin karena internet zaman dulu memang suka mempertemukan orang dengan hal-hal random tanpa alasan yang jelas.
Saat itu gue masih belasan tahun. Masih pakai modem Venus. Masih kartu CDMA Flexy. Masih main Ayodance sesekali dan sampai sekarang gue tetap menyangkal pernah jago di situ.
Gue ingat baca tulisan Kepada Kamu dengan Penuh Kebencian, After Funeral. Dan di kepala remaja gue yang isinya ribut semua, tiba-tiba muncul satu pikiran sederhana, “Bisa ya orang nulis kayak gini. Kayaknya gue coba aja deh,”.
Akhirnya gue bikin blog. Isinya nggak penting-penting amat. Keseharian gue. Pikiran gue. Hal-hal yang sekarang, kalau gue baca ulang, bikin gue sadar dua hal, pertama, gue dulu cukup alay. Kedua, gue ternyata sudah jalan lumayan jauh dari situ.
Lucunya, blog itu sekarang jadi semacam lorong waktu. Dari sana gue bisa lihat versi diri gue yang dulu, yang ribut, bingung, dan sok tahu soal hidup.
Gue nulis bukan buat belajar jadi lucu. Gue nulis karena tulisannya terasa jujur dan sederhana. Dan dari situ gue sadar satu hal, nulis nggak harus pintar. Yang penting jujur.
Blog itu akhirnya dibaca orang. Awalnya cuma circle terdekat. Sampai suatu hari, pas gue lulus, gue masukin blog itu ke CV gue.
Dan entah gimana ceritanya, itu justru nganterin gue ke kerjaan pertama gue. Bukan karena gue jago. Tapi karena tulisan-tulisan itu cukup menjelaskan cara gue mikir sebagai fresh graduate yang waktu itu masih merasa sudah paham hidup.
Sebagai introvert, menulis ngasih gue ruang. Dunia terasa lebih luas ketika gue bisa menjelaskan isi kepala gue tanpa harus banyak bicara.
Tulisan ini bukan surat terima kasih yang besar. Lebih ke penanda kecil bahwa tulisan sederhana yang kita buat, kadang bisa sampai ke orang yang bahkan nggak kita kenal.
Dan hari ini, bertepatan dengan ulang tahun Raditya Dika, just a quick thank you, your blog played a part in me starting to write, which led to my first job and the career I’m in now. Happy birthday. Hope you’re having a good one.
Comments
Post a Comment