Hal-Hal Kecil yang Bikin Gue Tetap Waras
Sejak 2021, gue belajar satu hal yang kelihatannya sepele tapi cukup menyelamatkan kepala gue, kalau hidup lagi kacau, kita nggak selalu butuh jawaban besar.
Kadang cukup nemu satu hal kecil yang bikin kita tetap waras. Tahun itu pandemi bikin hari-hari jadi seragam, bangun, kerja, olahraga, tidur, awalnya masih bisa ditoleransi, lama-lama rasanya kosong. Di satu fase isolasi mandiri gara-gara kontak sama rekan kerja yang kena virus yang namanya nggak usah disebut, gue iseng nonton Olimpiade badminton, tanpa niat apa-apa selain pengin lihat sesuatu yang nggak minta gue mikir.
Dari situ, entah gimana ceritanya, gue jadi rutin main badminton, sampai akhirnya ikut turnamen kantor dan dapet runner-up ganda putri under 30, iya, ini bagian yang masih sering gue ceritain ulang karena lumayan bikin bangga. Tapi hidup kan nggak pernah lurus, beberapa waktu kemudian kondisi down itu datang lagi, dan di situ gue sadar bahwa bahkan hal yang bikin kita senang pun nggak selalu cukup.
Gue balik ke kebiasaan lama, nonton YouTube tanpa tujuan, nyasar ke obrolan santai yang nggak sok pintar, sampai akhirnya ketemu episode yang ada Iqbaal Ramadhan. Jujur, awalnya gue biasa aja, gue tahu dia dari film Dilan, bahkan hampir keluar bioskop waktu itu tapi bertahan karena rame-rame sama teman dan generasi gue banyak yang ngefans sementara gue malah nggak terlalu paham siapa dia.
Baru belakangan gue tahu dia dulu personel CJR yang nyanyi “Eaa Eaa”, lagunya gue tahu, orangnya nggak, karena dulu gue jarang nonton TV dan sok sibuk belajar padahal juga sering bengong.
Yang bikin gue lanjut nonton bukan filmnya, tapi caranya ngobrol, pelan, nyasar ke musik lama, tahun 90-an, album, tanpa usaha terlihat keren atau pintar, tanpa narasi kejayaan masa kecil.
Dari situ gue mulai ngikutin karyanya, ada yang gue suka, ada yang belum masuk, dan itu nggak apa-apa, karena yang kena ke gue bukan soal karya mana yang paling bagus, tapi caranya berdiri sebagai dirinya sendiri, bukan mantan boyband, bukan ikon nostalgia, tapi seseorang yang lagi nyusun hidup dewasanya.
Dan mungkin itu yang gue butuhin di fase hidup yang naik turun ini, bukan cerita sukses masa lalu, tapi contoh orang yang fokus ke hari ini, karena hidup nggak dijalanin di kemarin, dan kalau kita terlalu lama tinggal di nostalgia, yang hari ini keburu lewat.
Gue nggak tiba-tiba jadi bahagia setelah nonton semua itu, hidup gue juga belum bener, tapi setidaknya ada satu hal kecil yang menemani, dan di masa-masa seperti itu.
Comments
Post a Comment