Menjalani Hari yang Sama, Berulang Kali
Pagi selalu datang dengan cara yang sama.
Alarm bunyi. Gue buka mata. Dan seperti biasa, bagian tersulit dari hari itu adalah bangun dari tempat tidur.
Bukan karena kurang tidur. Tapi karena gue tahu, hari ini kemungkinan besar akan mirip dengan kemarin. Dan kemarin mirip dengan hari sebelumnya.
Hari-hari jalan, tapi rasanya gue cuma jadi penonton. Bangun, kerja, pulang, tidur. Ulang lagi.
Bukan hidup yang buruk. Tapi juga bukan hidup yang bikin gue pengin cerita ke orang.
Di titik ini, gue sadar satu hal, menjalani hari ternyata butuh energi. Dan belakangan, energi gue sering habis duluan.
Gue sempat mikir, mungkin gue perlu tumbuh. Masalahnya, gue nggak tahu caranya.
Akhirnya gue balik lagi ke bangku sekolah. Bukan karena ambisi besar. Lebih ke alasan sederhana, biar ada sesuatu yang berubah.
Kadang gue kangen versi diri gue yang dulu. Yang masih sempat olahraga. Masih bisa ketawa tanpa mikir besok. Masih punya rasa ingin tahu yang nggak langsung kalah sama capek.
Sekarang, rasa capek sering menang duluan.
Di tengah semua itu, gue ada di fase masih pengin maju, tapi sering kelelahan. Masih pengin berubah, tapi nggak selalu tahu harus mulai dari mana.
Ada hari-hari di mana gue pengin punya tempat buat ngomong. Bukan buat dicari solusinya. Cuma buat didengerin.
Tapi dunia nggak selalu ramah sama orang yang lagi capek. Dan di situ gue sadar, mungkin gue nggak kurang bersyukur. Mungkin gue cuma lagi jauh dari diri gue sendiri.
Akhirnya gue memutuskan buat cari bantuan. Bantuan profesional. Cerita. Diam. Kadang bingung mau mulai dari mana.
Di salah satu sesi, gue dengar satu kalimat sederhana:
“Coba izinkan diri lo buat nyayangin diri lo sendiri.”
Kalimatnya pendek. Kedengarannya gampang.Tapi anehnya, itu salah satu hal tersulit yang pernah gue coba.
Belakangan, tidur jadi barang mahal. Bukan karena nggak capek. Justru karena kebanyakan mikir.
Tapi gue belajar satu hal kecil, selama gue masih bangun tiap pagi, masih jalanin hari, masih nulis, berarti gue belum berhenti.
Mungkin gue belum sepenuhnya bahagia. Tapi sejauh ini, gue masih bertahan.
Comments
Post a Comment