Friday, June 17, 2022

Story of Comeback Stronger

Tulisan ini saya tulis ketika tahun lalu, ketika saya dalam kondisi tidak benar-benar baik. Hanya saja, saya belum berani untuk mempublish di blog saya. Sekarang kenapa? Entah, mungkin saya menyadari ada hal-hal baik yang mesti dibagikan.

Here we go:

Sudah lama sekali saya tidak menulis. Bahkan, baca buku saja sudah tidak ada gairah.

Hal ini sudah saya rasakan sejak 2020. Setelah saya mengikuti ujian masuk Magister UI, saya kembali, kemudian lockdown, dan juga dilanda patah hati. Hidup seperti biasa tanpa ada keinginan ini dan itu. Tidak banyak hal yang saya lakukan saat itu, hanya bekerja, makan, menonton film dan tidur. Hal-hal tersebut yang saya ulangi. Beruntung saat itu tidak terlalu berpengaruh dengan pekerjaan saya. Saya masih bisa bekerja dengan baik, bahkan masih tidak takut dinas ke China saat covid-19 lagi gila-gilanya di sana.

And next year, this was the first time that I felt these uncomfortable thoughts. I was really disappointed. I've tried my best, but the results are not good. And with an unreasonable reason. Memang, hidup tidak adil sih, tapi why me?. Berminggu-minggu saya memikirkan why, why and why. But telling people about it was showing weakness. I just kept it inside.

Ada seseorang yang mengatakan “Saya kira kamu bakal down setelah itu,”. Benar, diluar mungkin saya terlihat biasa saja, tidak terjadi apa-apa. Tapi ketika mendengar kalimat itu, saya benar-benar merasa stress, emotional roller coaster. Itulah alasan saya untuk tidak bercerita kepada orang lain, karena kita yang mengalami, mereka tidak benar-benar tahu, ketika kita bercerita, mereka tidak benar-benar tahu apa yang kita rasakan. Ya sudah, telan saja.
 
Pernah suatu malam, saya duduk, saya diam sebentar dan tidak sadar melihat jam sudah pukul 1.15 pagi.

“Oh man, so late,”.

And the all of sudden, like, out of nowhere, just, BOOM!”.

“Oh no”.

This is the first time that this happened in my life. Just the whole weight of stress came flooding in. And next day, I didn’t remember anything of the rest of my life activity, which is mind-blowing. I feel I was just another zone on another planet.

Pada saat itu, all wanna do is just curl up in a dark room, and, like, just not to see the world. But, saya masih sadar hidup tidak boleh seperti itu. Saya pun berusaha mencari formula bagaimana keluar dari masa-masa buruk ini.

Saya berusaha untuk mencari di google bagaimana mengatasi ini untuk diri sendiri dulu tanpa bantuan orang lain. Karena saya masih dalam kondisi lockdown, jadi belum bisa pergi kemana-mana.

Saya mencoba menonton youtube how to deal with it, how to beat it. Akhirnya, I did some meditation, mencoba hal-hal yang menyenangkan hati saya dulu untuk mendistract hal-hal negative dalam pikiran, kebetulan pada saat itu, ada olimpiade Tokyo dan saya tidak pernah melewatkan untuk menonton olimpiade ini, terutama badminton. Entah mengapa, saya selalu suka dengan badminton walaupun saya dulu bermain basket. Saya jarang melewati pertandingan badminton, terutama menonton idola saya sejak masa kecil, Super Lin Dan, Taufik Hidayat, Tony Gunawan, Hendra Setiawan, Lilyana Natsir, Greysia Polii, dan Sapsiree Taerattanachai. Beberapa dari mereka sudah pensiun dan saat itu yang bisa saya tonton hanya Greysia Polii dan Sapsiree alias Popor.

Saya tahu perjalanan mereka berdua sampai sekarang, Greysia bertukar-tukar pasangan, didiskualifikasi dari olimpiade London, cedera, partnernya cedera dan lainnya. Popor yang masih muda bisa juara Youth Olympic Games di Singapura, main semua cabang, single, women double dan mix double. Bagaimana ia berpasangan dengan Maneepong Jongjit, bagaimana dia ngetwit sekitar tahun 2011-2013, dan dia cedera pada 2017 saat Sea Games di Malaysia.

Saya kepikiran hal-hal itu. Kok bisa ya mereka masih bisa terus menjalani profesi sebagai atlet dengan baik walaupun dilanda berbagai macam ‘Gempa Bumi’ dalam hidup mereka? I was inspired by their story of how they was comeback and play really really well. Greysia Polii bisa jadi juara olimpiade, dan Popor bisa back to back juara di awal tahun 2021.

And saya tergerak untuk mencoba hal baru, bermain badminton. Saya belum pernah bermain badminton di lapangan badminton dan belum pernah punya raket sendiri. Akhirnya, I bought racket and played 3 times a week.

Dan sejak itu, saya merasa pikiran saya makin baik. Sementara saya masih bisa menemukan cara agar bisa waras saat ini. Semoga tidak perlu penanganan khusus. Mungkin saat ini saya sedang bertumbuh dewasa.

Thx to Greysia and Popor. Mungkin bagi orang-orang ini hal kecil, tapi bagi saya sangat berarti. Secara tidak langsung saya diarahkan Tuhan ke arah ini. Jika saya tidak pernah menonton Olimpiade, saya tidak akan ingat bagaimana mereka menjalani profesi ini. Saya jadi ingat 2015 dan 2018 nonton mereka langsung. Hanya saja saya bukan tipe yang mengabadikan moment, jadinya ya sudah, moment itu dalam pikiran saja, mungkin next harus ya. Semoga bisa menonton langsung. Semoga Covid segera selesai. Dan OPEN BORDEEEEERRRRR.

Ameen.



Dan akhirnya tahun ini border kembali dibuka. 2 tahun pandemi seperti cukup lama. Up and down dan sekarang secara perlahan kembali ke kehidupan sedia kala walaupun di beberapa sisi ada yang berubah.

Share:

0 comments:

Post a Comment