Posts

Showing posts with the label Refleksi

Selat Hormuz dan Paradoks Kesiagaan Energi

Beberapa minggu terakhir , mata dunia tertuju pada Selat Hormuz. Sebuah jalur sempit yang menentukan hidup mati distribusi energi global. Di sana, kita melihat sebuah anomaly,  "Cadangan energi melimpah di satu sisi, namun ia terjebak dalam ketegangan "siaga" yang tidak berujung". Energi itu ada, masif, dan siap menggerakkan industri, tapi ia tertahan oleh labirin geopolitik yang membuatnya hanya bisa "menunggu". Gue merasa, fenomena ini adalah cermin bagi banyak profesional saat ini. Kita sering berada dalam kondisi "Potential Overload". Ibarat kapal tanker bermuatan ribuan barel inovasi dan strategi, kita seringkali tertahan di sebuah chokepoint, jalur sempit yang memaksa kita untuk terus dalam mode "mesin standbye" tanpa benar-benar diizinkan berlayar menuju pelabuhan tujuan. Energi yang terus dipompa ke dalam tangki tanpa pernah dialirkan menjadi kerja kinetik hanya akan menciptakan tekanan internal. Secara statistik, suplai kita te...

Tentang Obrolan yang Tidak Mencari Kesimpulan

Seperti yang gue tulis pada tulisan gue sebelumnya , tahun 2025, gue pengin menulis tentang orang-orang yang, tanpa pernah tahu, menemani hidup gue di dua tahun terakhir yang cukup kacau. Bukan orang-orang yang menyelamatkan gue, bukan juga yang memberi jawaban atas hidup yang berantakan. Lebih ke mereka yang hadir sebagai suara latar, mengisi kekosongan tanpa mengganggu, dan bikin hari-hari tetap bisa dijalani meski kepala sering ribut sendiri. Di antara mereka ada Raditya Dika, yang sudah gue tulis di sini , dan Iqbaal Ramadhan, lewat obrolan-obrolan podcast yang menemani fase hidup gue yang lagi tidak teratur. Tulisan ini bukan ucapan terima kasih yang besar atau sentimental. Ini cuma catatan kecil tentang kehadiran yang nggak berisik. Gue dengerin podcast yang ada dia bukan karena pengin belajar sesuatu. Dan bukan juga karena berharap dapat pencerahan hidup. Gue dengerin karena obrolannya.Di podcast itu, nggak ada usaha buat terdengar pintar. Nggak ada niat buat mengarahkan pen...

Menulis Blog, Menjadi Introvert, dan Pekerjaan Pertama

Jadi menyambut tahun 2026, gue pengin nulis lagi. Tentang orang-orang yang sadar atau nggak, pernah nemenin hidup gue berjalan sejauh ini, khususnya sepanjang tahun 2025. Bukan untuk mengingat masa sulitnya. Tapi untuk menandai bahwa gue masih di sini. Masih jalan. Dan sejauh ini, masih baik-baik saja. ------------------------------------------------------------------------------ Tentang membaca blog orang lain, menulis tanpa niat jadi penulis, dan bagaimana sebuah tulisan sederhana membuka jalan hidup. Ada fase hidup di mana menulis bukan soal ingin jadi penulis. Buat gue, menulis waktu itu cuma cara paling tenang buat mikir. Itu pun karena gue tipe orang yang kalau kebanyakan ngomong, malah makin nggak jelas arah pikirannya. Waktu itu gue banyak baca blog. Salah satunya blog Raditya Dika . Jujur, gue lupa pertama kali bisa nyasar ke sana dari mana. Mungkin dari Google. Atau mungkin karena internet zaman dulu memang suka mempertemukan orang dengan hal-hal random tanpa alasan yang jela...

Tentang Kehilangan yang Tidak Pernah Selesai

“I miss you in waves. And tonight, I’m drowning.” Ada malam-malam di mana kalimat itu tak hanya terasa puitis, tapi real.  Malam ketika sunyi menjadi terlalu riuh, dan yang sudah tiada terasa paling hadir.  Dia yang dulu tahu isi kepala kita sebelum kita sempat mengucap. Yang tahu suara tawa kita dan juga diam-diamnya luka yang tak pernah kita akui.  Yang mengerti, bahkan ketika kita tak menjelaskan apa pun. Lalu dia pergi dan dunia tak lagi terasa utuh.  Waktu gak selalu nyembuhin.  Orang bilang, waktu akan menyembuhkan segalanya. Tapi siapa yang bisa benar-benar mengukur itu? Kadang waktu hanya memberi jeda.  Menambahkan jarak.  Membuat kita terbiasa menjalani hari… tanpa kehadiran yang dulu kita anggap akan selalu ada. Kalau lo sampai di tulisan ini karena sedang menahan luka semacam itu, g ue gak akan bilang “sabar ya,".  Gue gak akan pakai kata “ikhlas” sebagai obat serba guna. Karena gue tahu, ada kehilangan yang terlalu pribadi untuk dibing...

Ketawa Dulu, Overthinking Nanti

Belakangan ini, hidup rasanya kayak timeline medsos yang nggak ada matinya. Ada aja kabar kehilangan: teman dekat, teman lama, kenalan yang muncul setahun sekali di feed, tiba-tiba hilang, artis. Setiap ada notifikasi berita duka, rasanya makin lama makin absurd. Lah, hidup kok bisa kayak main Uno bareng takdir, ya? Baru mau teriak “Uno!”, eh… ketiban +4 dari langit. Sumpah, universe ini kayak bercanda. Gelap banget lagi bercandanya. Orang bilang kehilangan itu bagian dari hidup. Gampang ya ngomongnya. Prakteknya? Mau ngebanting HP rasanya...ke kasur dong, soalnya kalo ke lantai… aduh, sayang. Kalau ada kabar kehilangan, orang-orang biasanya rame bilang, “Sabar ya, waktu bakal nyembuhin.” Lah iya, waktu sih lewat, tapi nyembuhin belum tentu. Yang ada, waktu malah nambahin tagihan listrik, bikin punggung makin bungkuk, sama ngingetin gue bahwa rambut ini makin tipis pelan-pelan. Sumpah, gue kadang liat kaca aja pengen ketawa sendiri, “Hah, kamu siapa?” Lucunya, di tengah semua kehilanga...

Hari-Hari yang Terasa Kosong Tapi Tetap Jalan

Sudah tiga hari gue ngerasa hampa. Rasanya kosong banget. Kemarin lusa, gue bahkan udah masuk kerja, kerja dengan serius, pengin cepat-cepat pulang, dan rasanya overwhelmed banget. Tapi entah kenapa, walau gue ngerasa kosong begini, gue tetap bangun. Gue tetap kerja. Tetap makan. Dan walau kecil, gue rasa itu butuh sebuah keberanian. Gue gak tahu kenapa. Tapi gue ngerasa kosong banget jadi manusia beberapa hari ini. Setiap kali kayak gini, gue selalu menghela napas panjang, mencoba nulis apa yang gue rasain. Kadang gue tulis kayak cerita, tapi malah bikin gue makin lesu. Gak tahu mau ngapain. Gue cuma pengin baring. Baca cerita-cerita gue yang udah gue tulis. Gue juga lagi gak sedih. Tapi juga gak bahagia. Gue bahkan gak pengen buka media sosial. Gak pengen lihat Instagram, TikTok, atau YouTube. Gue kayak kehilangan arah. Seperti gak punya tujuan. Hidup gue diem, tapi waktu jalan terus. Tadi malam sebelum tidur, gue coba bersih-bersih ka...

Reclaiming Connection and Joy in Adult Life

Yeah, I've just realized it's been ages since I've had a good chat with someone. It's mostly just work-related talk during meetings or brainstorming sessions. I really miss having a yarn about random stuff and having a good laugh about life. After givin' it some thought, heaps of things have changed. Adult life is pretty simple, ya know? Monday to Friday, it's all about workin', and on the weekend, all I wanna do is sleep, do some sports, play music. A nd when I'm on holiday, I mostly just chill out in one place and watch people passin' by. Do I need to go back to school to be more productive? Ahahahaha Actually, it's not really what I need, you know. You guys already know, hahaha. Right now, the song that fits this phase is Depeche Mode, Somebody.

Kelola Emosi dengan Gaya Unik ala Power Ranger!

Image
Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan kabar yang kurang baik. Kali ini saya reaksinya sedikit berbeda dari biasanya. Saya berhasil mengelola emosi saya dengan baik yang biasanya saya langsung terpapar energi negative . Tetapi kali, reaksi saya lebih baik daripada sebelumnya. Saya jadi sadar, semua ini adalah hasil dari belajar mengenai aksi dan reaksi, ceramah-ceramah kehidupan, baca buku self improvement .  Secara tidak langsung, saya menerapkan apa yang saya lihat, dengar, rasakan (waduh, kayak lagu Sheila on 7 ya). Jika mendengarkan sebuah berita atau informasi, pilihan itu ada di diri saya sendiri dalam memilih, apa mau baik, apa mau buruk. Selalu ada sisi siang, ada sisi malam. Ada sis baik, ada sisi buruk. ada hitam, ada putih. Ada tinggi, ada pendek. Ada bagus, ada jelek. Ada orang kerap hanya melihat sisi buram, ada yang selalu melihat sisi optimis. Ya benar, Dunia memang tak adil. Bahkan, sehebat-hebatnya pencipta lagu, pasti kalah tenar dibanding penciptanya. Hai-hai ...

Kenapa Kita Harus Jadi Social Media Ambassador di Perusahaan?

Image
Dua tahun belakang, saya mendapatkan tantangan baru bergabung dengan tim Digital Media APRIL, tempat saya bekerja. Namun, pekerjaan sebelumnya sebagai External Communication tetap saya jalankan secara bersamaan. Bergabung di tim digital media merupakan hal yang menarik untuk di kulik. Saya yang dulu tergabung dalam Social Media Ambassador sekarang menjadi bagian dari tim yang mengelola social media perusahaan. Kok ya perlu perusahaan menggunakan karyawan sebagai Ambassador ? Kan bisa membayar para influencer untuk mengkampanyekan perusahaan? Kok karyawan mau sih jadi Ambassador ? Awalnya saya bahkan tidak mengetahui untuk apa sih tugas sebagai Ambassador perusahaan. Posting di social media mengenai perusahaan di akun pribadi apa tidak kehilangan followers? Mengkampanyekan program perusahaan di akun pribadi karyawan apakah mereka efektif untuk membantu branding perusahaan? Dari yang saya lihat, ternyata menjadikan karyawan sebagai  Ambassador perusahaan tidaklah sulit. ...

Kecemasan Finansial

Image
11.49 pm. Jam di laptop saya. Saya hanya membuka email, mengecek satu per satu email masuk, mencari sesuatu hal yang saya butuhkan, kemudian membuka blog ini. Pikiran saya benar-benar lari sana-sini. Memikir usia hampir 30 tahun beberapa tahun lagi, saya memikirkan apa saja yang sudah dilakukan dan apa yang belum dilakukan. Salah satu yang membuat pusing adalah kecemasan finansial .  Belakangan ini, di media sosial kita mungkin bersliweran informasi tentang how to manage money, right? Itu benar-benar membuat saya berpikir, selama saya kerja 5 tahun lebih, kemana saja uang saya selama ini ? Padahal saya bukan sandwich generation . Kalau dipikir-pikir uang saya pergi menjadi kotoran semua. Atau apa karena terlalu banyak informasi seperti itu membuat saya cemas? Reading some bullshit on the internet, brainwashed?  Benar-benar membuat saya cemas. Ditambah dengan impian saya untuk melanjutkan sekolah di salah satu sekolah paling bagus, menurut saya, dimana biaya per semesternya bi...

Cara Belanja Gen Z

Image
Beberapa waktu belakangan, saya mendownload TikTok untuk menghapus dahaga penasaran saya terhadap platform yang katanya banyak dibenci oleh generasi saya, generasi Z. Awalnya, saya memang kurang tertarik bermain TikTok yang 'katanya' berisikan prang berjoget-joget. Namun, ternyata anggapan itu tidak benar, paling benar ! Tapi, tergantung awalnya kita interest kemana dan di timeline kita akan muncul video-video yang kita sukai. Nah, di timeline saya yang tidak banyak orang joget-joget, ternyata banyak anak usia sekolah, kuliah, ya bisa dibilang generasi Z sering posting barang yang mereka beli. Ternyata setelah saya perhatikan, ada perbedaan dengan generasi saya, sebagai generasi millenial dalam berbelanja. Adanya pergeseran nilai. Mereka lebih terfokus pada nilai. mereka melihat suatu produk tersebut dan benar-benar memahami siapa pembuatnya, bahan bakunya berasal darimana, apa misi dari produk tersebut dan hal-hal lainnya. Ya, sepertinya mereka melakukan sesuatu lebih jauh da...

Ketika Corona Buat Kita Jadi Nothing

Virus Korona Corona Virus COVID-19 Berasal dari China, Wuhan Kemudian menyebar ke dunia berbagai belahan Korban mulai banyak berjatuhan Banyak orang mengalami kerugian Apakah ini hukuman? Corona beri kita secercah harapan Memberi kita alasan Untuk hidup setidaknya satu siang kedepan Tapi kita berdoa saja harusnya kita hidup ratusan bulan ke depan Kita mulai kerja dirumah Karena virus ini tidak ramah Sudah menjadi wabah Kita harus tabah Corona ini musuh tak terlihat Sekarang kita hanya bisa jaga diri agar selamat Jangan nongkrong di berbagai tempat Berhenti keluar rumah jika tidak perlu amat

Usai di Sini

Image
Saya bahkan gak terlalu menyukai lagu Raisa. Tapi setelah didengerin lagu Usai Sudah-nya Raisa. Dalam sekali makna lagu ini, liriknya bikin galau sekali.  Lagu ini menceritakan sesuatu. Manusiawilah untuk memperjuangkan sesuatu. Kadang juga harus berani juga, bijaksana untuk tahu batasnya, kita mengusahakan sesuatu dan memaksakan sesuatu. Kalau memaksakan sesuatu itu, kadang harus step back melihat dan berani bilang kalau kita saling menyakiti. Yang indah-indah jadi pahit-pahit, lebih baik usai di sini. Seperti seseorang yang bijaksana dalam mengambil sebuah keputusan. Walaupun berat, dia sudah memilih untuk melanjutkan hidupnya daripada bertambah sakit hati. Lagu menyiratkan bahwa seseorang  pernah berada dikondisi yang dilematis.  Ingin mempertahankannya, tapi sudah terlalu banyak mengorbankan perasaan. Ingin mengakhirinya, tapi masih menyimpan rasa sayang untuk kekasih. Semua jadi serba membingungkan. Dari lagu ini seseorang yang terlihat te...

Slamat Datang di Starbuck !

Image
Slamat datang di Starbuck 😃 Saya bisa duduk berjam-jam, dimana aaja. Melihat orang berjalan, lalu lalang. Kenapa sih mereka ke mall? Apa yang dicari?habisin duit aja. Padahal saya juga habisin duit minum starbuck. Kenapa pacaran harus di mall?gandengan? Karena gak ada tempat lain. Apa sih yang mereka cari? Mencari hiburan untuk kesehatan djiwa. Slamat datang di Starbuck 😃 Saya bisa mikir apapun ditempat ini. Kadang mikir apa yang mau dibuat ke depan, apa yang sudah saya kerjakan, bagaimana saya harus menghadapi sesuatu. Setelah meneguk habis green tea latte hangat kesukaan saya, saya mikir. Ke sini cuma untuk melihat, mikir, dan merenung???? 

Tips Mudah Tidur

Image
Sulit tidur. Kebanyakan orang sulit tidur karena memegang smartphone, scrolling, kepo, nonton youtube, edit foto. Rencana tidur cepat hanyalah ilusi. Sulit tidur karena lapar. Makanya harus tidur sebelum jam 9 supaya gak lapar. Tapi ada juga yang bilang, sulit tidur karena gak punya duit. Memang, iman bisa goyah, tapi kemisqinan tidak. Rutinitas tidur bisa dilakukan dengan mendengarkan lagu. Saya beri saran untuk lagu. Coba dengarkan Tulus. Kenapa Tulus? Entah kenapa Tulus seringkali saya dengarkan. Alunan musik yang santai dan tidak terlalu berat. Memang kadang, kalau nyanyi gak mesti teriak-teriak. Syahdu sekali suaranya. Menenangkan djiwa. Mulai dari Teman Hidup, Sepatu, Monokrom, Jangan Cintai Aku Apa Adanya sampai Pamit bisa bikin tidur. Selain lagu, mendengarkan podcast.  Yeap, podcast. Macam-macam sih yang didengarkan, bisa di settting berapa menit. Selamat Tidur.

PUASA SOCIAL MEDIA

Perbincangan antara dua manusia : 👧 : Aku kok ngerasa susah fokus, susah tidur, sering cemas, ya? 👦 : Lha? kok bisa? Emang lagi banyak kerjaan? 👧 : Engga sibuk-sibuk amat kok. Kenapa ya? apa harus ke rumah sakit? tapi aku gak sakit apa-apa. 👦 : hhhmmm. Atau keseringan lembur kali. Coba kurangi lembur. Gak ada orang kaya karena lembur. 👧 : Ya gimana, namanya juga kerja.  👦 : Belakangan aku sering lihat socmed kamu update terus. Kenapa? Lagi stress ya? 👧 : Mungkin. Tapi aku ngerasa makanku mulai banyak dan dalam 3 minggu naik sekilo. Aneh. 👦 : Nah, berarti kamu stress. Ya namanya juga kerja pasti ada stressnya. Kalau lagi stress, cerita, jangan dipendam. Itu bahaya, nanti kamu mati ! Minimal nanti kamu gila, mau? Coba deh relaksasi. Luangkan waktu buat diri sendiri, baca Al Quran, lakuin hobi, santai gitu.  👧 : Kan udah cuti 2 minggu lalu. Tapi masih aja kayak gitu. 👦 : Atau kebanyakan main hp kali. Main sosmed.  👧 : Kayaknya iya sih. Ser...

Only Time Will Heal

Bulan Ramadan ini adalah tahun ketiga saya tidak bersama orang tua. Sedih? Pasti. Semua mendadak berubah. Sejak mereka meninggal, saya lebih hati-hati meniti hidup. Mengapa begitu? Karena saya merasa kehilangan perisai terpenting. Doa orang tua. Bagi anak, doa orang tua lebih kuat 70 kali dari doanya sendiri. Tiba-tiba ingat kalimat ini 'Dan apabila tertutup mata Ibu kamu, maka hilanglah salah satu keberkatan di sisi Allah, yaitu doa seorang Ibu. Tapi... Saya merasa harus bisa jadi 'sesuatu'. Sebut saja Bruce Wayne, Tony Stark, Peter Parker. Mereka bisa jadi sesuatu tanpa doa orang tua. Walaupun itu fiksi sih. Eh tapi.. Ada juga yang nyata, Nabi Muhammad. Paling tidak hidup saya tidak lagi di"subsidi" oleh abang dan kakak saya. Ketika Abah dan Ibu meninggal, saya perlu waktu lama untuk mencernanya. Saya terbiasa pelan-pelan melumat perasaan. Only time will heal. Ramadan, yuk kita mulai.

Meracau Dini Hari

Image
Belakangan saya sulit tidur. Badan sudah capek tapi belum juga tidur. Seperti sekarang. Banyak sekali kata-kata yang sering bertabrakan di kepala. Membikin pusing. Saya selalu bilang ke orang lain kalau overthinking itu membunuh kita. Mulut memang lebih cepat. Not easy,  to be human is less grateful, sometimes happy, sometimes i am sad and depressed. God help me, please. Terlalu banyak kecemasan dan kepanikan belakangan. Terkadang itu tak bisa saya handle. Kadang saya biarkan itu berlalu begitu saja. Dalam hati selalu bilang "toh nanti juga berlalu".  Apa sih yang sudah saya buat? Ini yang tidak habis-habisnya. Saya tidak puas dengan apa yang saya kerjakan. Ingin menambah ini, itu. Mengapa bukan begini saja. Penting gak sih begini?. Kok cuma ini sih yang bisa dikerjain? Kalimat ini yang selalu jadi penguat saya "Saya bukan anak siapa-siapa, saya tidak punya power, tidak ada orang kuat dibelakang saya, jadi saya harus bekerja keras...

Racauan Akhir Tahun

Wuuuuuuz. 2017 terasa begitu cepat. Sampai saya tak menyadarinya. Berjalan begitu saja. 2017. Tahun pertama tanpa kedua orangtua saya. 9 tahun tanpa Ibu, 1 setengah tahun tanpa Abah. Beliau ini seperti injeksi penyemangat saya. Ibu saya misalnya, disiplin dan ontime. Selalu ada target dalam mengerjakan sesuatu dan pastinya jika mencapai target, selalu ada apresiasi. Selalu menyediakan yang saya butuhkan, bahkan disaat saya tidak meminta. Bagi beliau, liburan itu perlu untuk meregangkan saraf-saraf yang keriting. Gunung dan sawah adalah destinasi favoritnya. Krisdayanti adalah penyanyi favorit beliau. Selalu menonton Krisdayanti di televisi tanpa melewatkannya sedikitpun. Jantung melemahkan hari-hari beliau yang selalu bersemangat. Bolak-balik rumah sakit jadi rutinitas selama 6 bulan hingga akhirnya beliau menyerah ketika subuh 6 Januari 2007. Saya sempat down setelah kepergian beliau. Waktu itu 2 bulan menjelang UN saya tidak fokus belajar dan hanya bermain game. Kemudia...

Lima Cara Yang Harus Diingat Saat Bermedia Sosial

Saat ini kegandrungan untuk bermain di dunia maya sedang melanda kita semua. Bukan hanya anak kecil, tetapi ‘sindrome’ tersebut juga melanda orang dewasa. Banyak sekali manfaat dari menggunakan media sosial, tetapi banyak juga hal-hal yang merugikan anda. Tidak semua hal yang anda dapat bagikan ke media sosial. Tak ada salahnya menunda atau berpikir ulang sebelum mengunggah sesuatu di media sosial. Akun Facebook , twitter , instagram atau platform media soial lain memang milik anda, tetapi media sosial adalah ranah publik. Salah memposting sesuatu, buntutnya tak hanya merugikan anda, tetapi juga orang lain. Sebab, saat ini Indonesia telah memiliki Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Jadi ada hal-hal yang perlu lebih diwaspadai sebagai pengguna aktif media sosial. Cara bijak menggunakan Media Sosial : Pastikan konten yang disebarkan adalah benar dan bermanfaat. Jika konten tersebut akan merugikan pihak lain, sebaiknya urungkan...