Wednesday, December 24, 2014

Racauan Akhir tahun

Banyak hal baik dan buruk yang terjadi di tahun ini, 2014 dalam hidup saya. Saya ujian skripsi kemudian wisuda. Kerennya saya lulus. Bagi saya lulus adalah kemerdekaan, karena kampus adalah penjara bagi saya. Saya tidak bisa semaunya, tidak bisa melakukan kehendak saya, ide-ide saya.

Setelah lulus, saya tidak mencari pekerjaan, saya ikut-ikutan teman-teman saya mencari pekerjaan, karena tidak enak diceramahi dan dicecoki oleh kata-kata malas. saya berencana untuk menikmati sedikit kebebasan saya dahulu. Saya melakukan apa yang tidak bisa saya lakukan dulu, pergi ke tempat yang belum pernah saya datangi, membayar hutang untuk keluarga saya, karena saya merasa saat-saat itulah saya harus peduli pada kelompok yang paling dekat di hati saya.

Pertengahan bulan ini, saya kembali "masuk penjara" yang bernama pekerjaan. Saya memilih pekerjaan ini karena saya ingin menjadi penulis, saya berpikir mungkin ini adalah pijakan awal saya untuk menjadi seorang penulis. Saya punya sedikit impian untuk menjadi penulis nantinya, semoga Yang Punya Hidup mengabulkan. Aamiin.

Sekarang saya sedang menjalani masa training, sungguh melelahkan pikiran dan tubuh saya, pergi pagi pulang malam. Tubuh dan pikiran saya tidak berhenti beraktivitas sampai saya kembali ke rumah, itupun saya harus membuat diary, tugas dari training sebagai reporter di Tribun Pekanbaru.

Saya adalah orang yang sangat tidak bisa jauh dari rumah berlama-lama, karena saya anak rumahan sejati,  ini terasa sangat berat untuk saya. Berada di luar rumah selama 12 jam lebih membuat beban tersendiri bagi saya. Selain pikiran dan tubuh saya, saya juga merasa intensitas bertemu dengan keluarga saya dirumah sangat sedikit sekali, saya pergi bekerja, bapak saya sudah pergi kerumah kakak saya, saat saya pulang, beliau sudah tidur. Saya hanya bertemu dan berbincang sesekali, seperlunya.

Saya merasa hari-hari belakangan seperti mimpi yang chaotic, tidak bisa dipercaya. Kekacauan berada dalam pikiran saya dan perasaan saya. Saya tidak bisa menolong perasaan saya sendiri, ya seperti sekarang, saya sedang kacau dalam pikiran dan perasaan saya. apakah saya bisa menjalutkan profesi ini kedepan? saya adalah yang mudah capek  introvert dan jarang sekali berinteraksi dengan orang, merecoki urusan orang dan peduli dengan urusan orang, profesi ini masih baru dan membuat saya agak kaget setengah mati.

Jika saya menyerah begitu saja, saya belum bisa melihat sisi dalamnya, saya masih di epidermis dalam dunia jurnalistik.

Ini sebuah dunia baru, pilihan baru saya, pilihan yang membentuk kebingungan baru, pilihan baru yang mesti dipilih. Ini seperti monster yang secara kontinu menggertakkan gigi, membikin ngilu di dada dan pening di kepala. Saya dipaksa membunuh satu moment demi kesempatan moment  lain, satu keinginan demi keinginan lain. Selama 9 hari ini, saya pembunuh berkeringat dingin.

Saat ini kepala saya berputar-putar, seperti menumpang roller-coaste dan my body is not delicious.

Share:

0 comments:

Post a Comment