Hujan lagi nafsu-nafsunya turun di kota gue tercinta ini,Pekanbaru. Tapi kebanyakan hujannya buat galau karena gerimis atau turun dengan ragu-ragu. Tidak masalah buat gue,ya gue bersyukur karena di kota gue ini masih banyak curah hujannya.Yang kasian itu di NTT dan NTB susah banget dapet hujan. Gue gak kebayang kalo tinggal disana,panasnya gimana,hujannya dikit,mungkin gerah. Hujan itu rentan buat yang suka galau.Karena kalau hujan,suasana hati bisa berubah menjadi sendu.Apalagi di tambah dengarin lagu mellow,maka beredarlah manusia-manusia galau di timeline gue. *ngomongin diri sendiri. Galau itu candu. Kita sering bangetkan galau,semua manusia pernah merasakan galau ,apapun bentuk galau tersebut.Terkadang mau makan aja galau.hahahhaa.Galau itu gak datang sekali,pasti bakalan datang dalam tiap kehidupan manusia. Galau tidak mengenal usia,kecuali bayi.Mungkin. Semua kalangan,muda dan tua,pasti ngerasain galau.Mungkin bayilah gak pernah galau,karena mereka...
“I miss you in waves. And tonight, I’m drowning.” Ada malam-malam di mana kalimat itu tak hanya terasa puitis, tapi real. Malam ketika sunyi menjadi terlalu riuh, dan yang sudah tiada terasa paling hadir. Dia yang dulu tahu isi kepala kita sebelum kita sempat mengucap. Yang tahu suara tawa kita dan juga diam-diamnya luka yang tak pernah kita akui. Yang mengerti, bahkan ketika kita tak menjelaskan apa pun. Lalu dia pergi dan dunia tak lagi terasa utuh. Waktu gak selalu nyembuhin. Orang bilang, waktu akan menyembuhkan segalanya. Tapi siapa yang bisa benar-benar mengukur itu? Kadang waktu hanya memberi jeda. Menambahkan jarak. Membuat kita terbiasa menjalani hari… tanpa kehadiran yang dulu kita anggap akan selalu ada. Kalau lo sampai di tulisan ini karena sedang menahan luka semacam itu, g ue gak akan bilang “sabar ya,". Gue gak akan pakai kata “ikhlas” sebagai obat serba guna. Karena gue tahu, ada kehilangan yang terlalu pribadi untuk dibing...
Seperti yang gue tulis pada tulisan gue sebelumnya , tahun 2025, gue pengin menulis tentang orang-orang yang, tanpa pernah tahu, menemani hidup gue di dua tahun terakhir yang cukup kacau. Bukan orang-orang yang menyelamatkan gue, bukan juga yang memberi jawaban atas hidup yang berantakan. Lebih ke mereka yang hadir sebagai suara latar, mengisi kekosongan tanpa mengganggu, dan bikin hari-hari tetap bisa dijalani meski kepala sering ribut sendiri. Di antara mereka ada Raditya Dika, yang sudah gue tulis di sini , dan Iqbaal Ramadhan, lewat obrolan-obrolan podcast yang menemani fase hidup gue yang lagi tidak teratur. Tulisan ini bukan ucapan terima kasih yang besar atau sentimental. Ini cuma catatan kecil tentang kehadiran yang nggak berisik. Gue dengerin podcast yang ada dia bukan karena pengin belajar sesuatu. Dan bukan juga karena berharap dapat pencerahan hidup. Gue dengerin karena obrolannya.Di podcast itu, nggak ada usaha buat terdengar pintar. Nggak ada niat buat mengarahkan pen...
SEMANGKA...
ReplyDeletesemangat kaka..
#korban iklan
hahaha ia,makasih yaaa ;)
ReplyDelete