Sunday, November 17, 2019

Slamat Datang di Starbuck !

Slamat datang di Starbuck 😃

Saya bisa duduk berjam-jam, dimana aaja. Melihat orang berjalan, lalu lalang.

Kenapa sih mereka ke mall? Apa yang dicari?habisin duit aja.
Padahal saya juga habisin duit minum starbuck.

Kenapa pacaran harus di mall?gandengan?
Karena gak ada tempat lain.

Apa sih yang mereka cari?
Mencari hiburan untuk kesehatan djiwa.

Slamat datang di Starbuck 😃

Saya bisa mikir apapun ditempat ini.
Kadang mikir apa yang mau dibuat ke depan, apa yang sudah saya kerjakan, bagaimana saya harus menghadapi sesuatu.

Setelah meneguk habis green tea latte hangat kesukaan saya, saya mikir.

Ke sini cuma untuk melihat, mikir, dan merenung???? 

Share:

Thursday, November 14, 2019

Gara-gara Youtube !

Kurang enak badan.
Ngantuk.
Sering lapar.

Apa aku kurang sehat?
apa makananku Kurang bergizi?

Lalu...

Nonton Youtube.
Nemu Video.

Makanan sehat untuk dikonsumsi.
Oats
Buah
Sayur

Kemudian..

Pergi membeli semua makanan itu ke supermarket.

****

Kadang video youtube bikin terinspirasi.
Atau
Marketingnya bagus
Atau
Kontennya Bagus.

Tapiii

Sebagai millenial, saya sudah jarang sekali untuk mengkonsumsi makanan santan, berminyak dan minuman bersoda.
Selain gak punya banyak duit untuk menghamburkan untuk membeli makanan, saya juga kurang suka makan-makanan yang aneh.
Kebanyak teman-teman saya mengemas kesehatan menjadi gaya hidup baru yang terlihat cool dan kekinian.
Pergi ke gym, jogging, diet karbo, jadi vege, gak makan makanan hasil olahan dari makhluk hidup lainnya.


Share:

Wednesday, October 23, 2019

Tuesday, October 22, 2019

Tips Mudah Tidur

Sulit tidur.
Kebanyakan orang sulit tidur karena memegang smartphone, scrolling, kepo, nonton youtube, edit foto. Rencana tidur cepat hanyalah ilusi.

Sulit tidur karena lapar. Makanya harus tidur sebelum jam 9 supaya gak lapar.

Tapi ada juga yang bilang, sulit tidur karena gak punya duit. Memang, iman bisa goyah, tapi kemisqinan tidak.

Rutinitas tidur bisa dilakukan dengan mendengarkan lagu. Saya beri saran untuk lagu. Coba dengarkan Tulus.

Kenapa Tulus?

Entah kenapa Tulus seringkali saya dengarkan. Alunan musik yang santai dan tidak terlalu berat. Memang kadang, kalau nyanyi gak mesti teriak-teriak. Syahdu sekali suaranya. Menenangkan djiwa.

Mulai dari Teman Hidup, Sepatu, Monokrom, Jangan Cintai Aku Apa Adanya sampai Pamit bisa bikin tidur.

Selain lagu, mendengarkan podcast. 
Yeap, podcast.
Macam-macam sih yang didengarkan, bisa di settting berapa menit.
Selamat Tidur.



Share:

Wednesday, August 21, 2019

Mau Jadi bahan Baper Atau Belajar ?

Ah, masak saya begitu? Padahal kan saya udah begini, udah begitu. Udah Ngelakuin sesuai permintaan. Masih aja dikomen.

Sedikit banyak orang yang dewasa menerima masukan atau feedback atau kritikan. Kebanyakan senang dipuji. Ada yang bilang "Banyak nyamuk mati karena pujian". Dalam hidup harus ada kritik.

Kenapa?

Bisa jadi lebih baik lagi.

Setiap apa yang kita kerjakan, harus ada feedback supaya nanti jangan ada perasaan jumawa, santai dan merasa aman terus. Padahal kalau mau aktif cari feedback, outputnya bakal lebih maksimal.

Menerima feedback (and deciding what to do next) memang membuat deg-degan, badmood bahkan down parah. Tapi kembali lagi ke mentality kita terhadap feedback itu sendiri. Mau dimasukkan ke hati dan jadi bahan baper atau dipakai untuk bahan belajar.

Nah, sekarang gimana cara menyampaikan feedback.

Menurut saya sampein dengan sopan. Misalnya "bagus gambarnya, tapi coba deh warnanya yang dipake biru, kayaknya lebih bagus,". Sebaiknya hindari kata makian dan berkomentar tanpa solusi. 



Share:

Monday, August 12, 2019

Cara Mengatasi Ketidaknyaman

Saya ingin menulis tentang ketidaknyamanan. Sumber ketidaknyaman itu beragam. Ketidaknyamanan membuat tidak ada dialog yang jujur sehingga semua tidak bisa berjalan baik. Terkadang sumber ketidaknyaman itu dari hal-hal yang sensitif dan pribadi. Beban pribadi dan profesional menumpuk, bisa jadi tidak nyaman.

Kebanyakan generasi muda sekarang menganut budaya mempermalukan orang lain di depan khalayak netizen atau paling tidak WA grup, dibandingkan dengan berbicara langsung kepada orang terkait. Lebih sulit lagi, bagi pemegang jabatan. Curhat di sosial media atau menegur dengan di sebuah WA grup itu juga tidak baik. Tuhan aja tidak broadcast kesalahan manusia.



Masalah lebih serius adalah tentang pengabaian, perasaan diabaikan. Saya pikir sebagai pemimpin pada level apapun, kita harus memastikan bahwa semua orang memiliki kesempatan sama untuk bersinar dan tumbuh. Terkadang ada favoritisme tak disengaja karena kenyaman bekerja dengan seseorang.

Tidak ada pelajaran yang bisa diambil jika seseorang dalam kondisi yang tidak nyaman atau stress. 

Tapi....

Kalau masih muda, coba banyak hal, ambil kesempatan, tertawai diri sendiri adalah hal yang terpenting. Jika ingin tahu sesuatu, cobalah, fokuslah pada tujuan. Ubah semua hal jadi menyenangkan karena pekerjaan bisa saja membosankan. Ubah itu menjadi hal yang berguna dan menyenangkan.

Memiliki pekerjaan yang 100 persen hebat dan menyenangkan jika seseorang bisa membuat semuanya jadi seru, produktif, dan berdampak. Artinya, kita punya jiwa bermain, minat tinggi, dan punya tujuan.

PS : Tulisan ini untuk mereka yang mengalami ketidaknyamanan. Semoga bisa bangkit dan jadi yang terbaik diantara yang terbaik.
Share:

Friday, July 26, 2019

PUASA SOCIAL MEDIA

Perbincangan antara dua manusia :

👧 : Aku kok ngerasa susah fokus, susah tidur, sering cemas, ya?
👦 : Lha? kok bisa? Emang lagi banyak kerjaan?
👧 : Engga sibuk-sibuk amat kok. Kenapa ya? apa harus ke rumah sakit? tapi aku gak sakit apa-apa.
👦 : hhhmmm. Atau keseringan lembur kali. Coba kurangi lembur. Gak ada orang kaya karena lembur.
👧 : Ya gimana, namanya juga kerja. 
👦 : Belakangan aku sering lihat socmed kamu update terus. Kenapa? Lagi stress ya?
👧 : Mungkin. Tapi aku ngerasa makanku mulai banyak dan dalam 3 minggu naik sekilo. Aneh.
👦 : Nah, berarti kamu stress. Ya namanya juga kerja pasti ada stressnya. Kalau lagi stress, cerita, jangan dipendam. Itu bahaya, nanti kamu mati ! Minimal nanti kamu gila, mau? Coba deh relaksasi. Luangkan waktu buat diri sendiri, baca Al Quran, lakuin hobi, santai gitu. 
👧 : Kan udah cuti 2 minggu lalu. Tapi masih aja kayak gitu.
👦 : Atau kebanyakan main hp kali. Main sosmed. 
👧 : Kayaknya iya sih. Sering kali aku lihat hp. Gak bunyi pun aku rasa hp ku bunyi. Terngiang-ngiang di telinga.
👦 : Tuh kan. Kebanyakan main hp, liat hp, main socmed. Coba deh Puasa Socmed atau kurangilah-kurangilah paling enggak.
👧 : Bisa jadi sih. Belakangan sering lihat-liat instagram sampe lupa waktu. 
👦 : Tuh !
👧 : Tapi kan bosan kalau gak ngapa-ngapain.
👦 : Bosan juga bisa diobatin sama cara lain. Apa kek gitu.  Coba deh kurangi. Paling bagus puasa sih. Aku udah berapa tahun ya gak pakai socmed? Lupa ah. Tapi yang jelas, waktu gak pake socmed, aku jadi ngerasa nyaman. Kalau lagi pengen ngobrol sama orang, langsung ngubungi orangnya, minta waktu duduk bareng di ruang yang sama. Kalau rindu ngomong langsung, I miss you like I miss the rain. Jadi nikmatin koneksi yang sesungguhnya daaaaaaaan aku bisa fokus buat kerja keras bagai kuda.

---------
Saya jadi ingat waktu saya belajar sosiologi dulu, di zaman yang secanggih ini, seperti yang dikatakan Anthony Giddens, tak ada waktu dan ruang yang istimewa, ruang semakin lama semakin tidak dipakai, maksudnya dalam orang berhubungan dengan orang yang berjauhan jarak fisik.

Media sosial saat ini lebih banyak digunakan sebagai alat pencitraan diri oleh banyak orang, mereka berdramaturgi, begitu dikatakan oleh Erving Goffman. Membangun citra diri sebaik mungkin dan di share di akun miliknya sendiri dan atau menggunakan buzzer.

Kita semakin pasif, semakin tidak bisa membedakan antara yang nyata atau hanya sekedar tontonan. Kita kehilangan substansi pertemuan yang sesungguhnya, kualitas melebihi kuantitas. Mungkin di masa depan pertemuan di dunia nyata adalah hal yang langka, mungkin.

Ah, tapi saya tidak suka berdrama, apalagi berdramaturgi.
Share: