Jakarta, dan Hal-Hal yang Pelan-Pelan Gue Cari Lagi
Gue pernah berdoa kepada Tuhan, untuk kerja di Jakarta. Doanya spesifik. Nggak ada embel-embel apartemen jendela besar. Nggak ada adegan minum matcha sambil ngeliatin gedung tinggi terus upload story dengan caption a little life update . Gue masih mikir dua kali beli kopi yang harganya setara nasi padang pakai rendang. Alasan gue murni karier. Eksposur lebih luas, networking lebih banyak, skala permainan lebih besar. Kalau doa itu proposal, latar belakangnya jelas, tujuannya terukur, dan nggak ada satu pun poin tentang “menemukan jati diri”. Dan doa itu dikabulkan. Masalahnya, Tuhan kayaknya nggak cuma baca proposal gue. Dia nambahin lampiran sendiri. Jakarta bukan kota baru buat gue. Gue tahu lima kilometer bisa lebih lama dari lima belas kilometer. Gue tahu trotoar Jakarta suka berhenti tiba-tiba, kayak hubungan tanpa kejelasan. Gue juga tahu orang sini jalan kaki dengan kecepatan seolah-olah dikejar deadline langsung dari Yang Maha Kuasa. Bedanya, dulu gue numpang lewat. Sekar...