Friday, September 3, 2021

Gara-Gara Olimpiade Tokyo 2020

Kali ini ceritanya agak panjang.
Berbicara pandemi COVID-19, berbicara banyak hal. 
Banyak sekali hal-hal yang berbeda hampir 2 tahun belakangan. Banyak yang kehilangan mata pencaharian, banyak yang menahan rindu untuk tidak bertemu orang terkasih mereka, banyak yang kehilangan orang terkasih mereka dan banyak lagi. 

Juga bagi saya. 
Tahun 2020 dan 2021 ini membuat saya compang-camping dari segi mental saya. 2 tahun ini seperti melewati quarter life crisis, kekecewaan, kehilangan datang secara beruntun. Saya sempat bertanya apakah Tuhan sedang menghukum saya atau menguji saya yang tak serajin dulu berdoa dan beribadah kepadaNya. Atau saya terlalu lelah bekerja tiada henti tanpa menghibur diri sendiri karena tinggal di remote area yang sedang lockdown.

Bahkan saya merasa tidak ingin melakukan hal-hal lain. Saya benar-benar dalam keadaan demotivasi dan tidak ada keinginan melakukan apa pun selain kerja, nonton film, tidur atau makan. Rasanya seperti sakit hati, marah, kecewa, sedih. Saya benar-benar kehilangan daya dan energi untuk melakukan sesuatu.

Sejujurnya saya tidak tahu mengapa demikian. Saya hanya percaya, ketika my mom and dad pergi beberapa tahun lalu, saya percaya "Time Will Heal". Tapi kali ini berbeda sekali. Ternyata waktu gak bisa menyembuhkan.

Ditambah dengan keparnoan saya karena COVID-19. Saya benar-benar menjaga jarak dari kehidupan luar. Saya sedikit lelah harus SWAB PCR karena tracing rekan kantor yang kadang dalam 1 minggu bisa 2 kali. Iya, saya masih Work From Office karena memang saya bekerja di remote area, jadi WFH tidak terlalu diperlukan.

Suatu malam, sambil menghadap langit-langit kamar dengan lampu yang sudah dimatikan, saya berpikir 

"Sampai kapan sih begini? Sampai kapan saya harus begini? Sampai kapan harus merasa seperti ini. Apa lagi yang harus saya lakukan,".

Suatu waktu ketika saya melakukan isoman menunggu SWAB PCR setelah melakukan kontak erat dengan rekan yang positif COVID-19, saya sangat stres. Saya di kamar sendirian, menunggu hari SWAB karena saat itu weekend dan memang petugas SWAB sedang off. Jadi saya harus SWAB di hari Senin. 

Selama 3 hari itu, saya merasa dalam tekanan. Saya bingung apa yang akan saya lakukan. Saya takut imun saya turun. Kemudian, secara tidak sengaja, di Instagram, saya menemukan postingan kalau saat itu sedang berlangsung Olimpiade Tokyo 2020. Tanpa pikir panjang, saya berlangganan Vidio, berharap semua cemas dan kekhawatiran saya, bisa hilang.

Awalnya saya nonton berbagai pertandingan, saya bingung, karena saya tidak mengerti. Akhirnya, saya hanya menonton basket dan badminton. Namun, karena saya terbiasa nonton NBA, jadi terasa kurang seru. Bukan belagu, tapi itulah yang saya rasakan.

Saya akhirnya fokus menonton badminton saja. tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga negara lainnya, seperti Thailand, China dan Korea. Ternyata seru dan memang diluar dugaan. Pertandingan-pertandingan mulai menghibur saya. Seolah-olah mendistraksi perasaan cemas kala itu. Saya lupa apa yang saya rasakan saat itu dan hanya fokus pada pertandingan.

Hari SWAB PCR pun datang dan bertepatan dengan Final Women's Double. Saya pergi swab pagi-pagi supaya bisa nonton Greysia Polii dan Apriyani Rahayu. Saya kira Greysia masih bermain dengan Nitya Krishinda Maheswari. Sudah lama sekali saya tidak update dengan yang namanya badminton. Hahaha

Walaupun tidak segreget pertandingan-pertandingan sebelumnya. Tetapi saat Indonesia menang, saya menjadi terharu karena sudah lama tidak menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan terharu, mungkin terakhir waktu my last tournament sebelum fokus UN dan kuliah.

Ternyata dengan hanya menonton pertandingan olahraga, kita bisa melupakan hal-hal yang kurang berkenan dalam hati dan pikiran kita.

To be Continue



Share:

0 comments:

Post a Comment