Tuesday, August 24, 2021

When God Takes You Back

Waktu akan terasa sangat pelan. Jantung selalu berdegup kencang tiap ponsel berdering

Mungkin itu yang dirasakan keluarga pasien COVID-19 yang berada di rumah sakit. Belakangan ini banyak sekali berita-berita duka yang berseliweran di gawai saya. Mereka berpulang karena COVID-19. Tak sedikit yang kehilangan orang-orang terkasih mereka, bahkan ada yang sekaligus. Yang paling bikin hati sedih adalah melihat seorang ibu kehilangan anak laki-lakinya, bukan karena COVID-19, tetapi efek dari long itu. Membayangkan saja saya sangat sedih. 

Seorang teman April lalu, kehilangan ayahnya, kemudian Juli ini kehilangan ibu mertua. Biasanya ia menulis obituari ketika orang-orang sekitar dia mangkat. Namun, kali ini sulit baginya untuk menulis. Tidak mudah. Juga bagi saya, mengingat orang-orang terkasih yang sudah tidak berada di dekat saya, rasanya sangat berat. Walaupun dalam bentuk postingan di Instagram, kadang membicarakannya membuat luka bathin itu muncul kembali. Saya bahkan memilih untuk tidak membicarakannya atau melihat fotonya karena itu cukup berat untuk dibicarakan, karena...yah... belum sanggup. Kehilangan itu ...menyesakkan.

Mungkin butuh waktu untuk siap bercerita banyak soal kehilangan orang tercinta, yang lain hanya sebatas menjawab pertanyaan lalu mengalihkan pembicaraan lainnya karena itu cukup berat untuk dibicarakan. Atau kita memilih untuk terlihat biasa saja sambil tidak memikirkan hal yang pahit itu. Kadang kita meminta teman-teman kita yang lain untuk bersikap biasa saja saat kita merasakan kehilangan.

Banyak dari kita dulu mikir bahwa kita gak sanggup kehilangan orang tua, anggota keluarga kita, teman, pasangan, pacar. Kita gak bisa bayangin. Tapi waktu itu terjadi, kita masih bisa bernapas dan mencoba untuk memproses kenyataan yang kita alami, yaitu kehilangan.  

Saya ingat kalimat ini, tapi saya lupa siapa yang berbicara

"Ada beberapa kesedihan yang sudah membuat kita tidak lagi sesak jika sudah mengalaminya berkali-kali. Tetapi, tidak dengan kematian. Tidak sama sekali"

Kita hanya bisa mengingat moment-moment manis bersama mereka. Saat hidup adalah kecupan di pipi dan gelora di dada. Tak lebih dan tak kurang. Segalanya terasa pas. Moment-moment seperti ini tak bisa dipotret. Terlalu dangkal pula bila diumbar. Ini murni punya kita, bukan siapa pun di luar sana.

Memang, kehilangan orang yang kita sayang bukan hal yang mudah. Saat rindu tak bisa lagi diobati dengan sebaris pesan dan sepenggal suara ditelpon karena sudah terpisah alam. It’s hard to forget someone who gave us so much remember. That memory will always hurt.

Seperti Sheila on 7 bilang:

Sekeras apapun menangis, takkan mengubah yang telah terjadi. Kita harus melepaskan
Semua tempat jalan waktu bersama, setiap kata yang telah diucapkan, bagai warisan yang telah disiapkan, kita harus menjaganya

Selamat jalan

Sampai jumpa 

Sending love and prayers to my beloved ones. I will always miss you, my dear. My prayers always for you.



Share:

0 comments:

Post a Comment