Friday, October 23, 2020

Review Story of Kale : When Someone's in Love

Rekan-rekan saya yang solimin,
Menghabiskan waktu di akhir pekan, saya memilih untuk tidak kemana-mana dan hanya berbaring sembari mengingat apa yang akan saya lakukan di Jumat menjelang magrib, ya tepatnya karena pandemi, saya memilih seperti itu. Saya pun ingat, beberapa hari yang lalu, beli tiket nonton bioskop untuk pertama kalinya selama COVID-19 dengan harga Rp 10.000- belum termasuk pajaknya.

Banyak postingan di Instagram saya menunggu film ini. Mungkin karena ceritanya dekat dengan keseharian kita, bagaimana berhubungan, bagaimana menghadapi pasangan. Jadi banyak anak muda yang fit in sama jalan ceritanya.

Lho, kok murah?
Emangnya di Pangkalan Kerinci ada bioskop?

Ya gak ada. Kali ini untuk pertama kalinya saya nonton bioskoponline.com. Kalau kalian sebelumnya nonton film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) pasti kalian tahu cowok yang buaya-in awan. Saya memilih buaya karena lebih Indonesia, kalau yang Fu*k boy itu terdengar kasar banget.




Yup betul. KALE. 

Actually, saya kurang tertarik dengan film cinta-cintaan apalagi yang bucin-bucinan. Alasan saya menonton ini hanya ingin menikmati hiburan yang disajikan selama pandemi, sekaligus ingin melihat untuk kedua kalinya akting Ardhito Pramono. Musisi yang sangat menginfluence saya untuk kembali  mendengarkan musik-musik jazz zaman kuno dan lagu-lagunya yang menentramkan. Kedua, saya penasaran dengan drummer band Arah, Azizah Hanum berakting di film ini. Untuk kalian ketahui, Aziza Hanum adalah News Anchor CNN Indonesia. Menurut saya, Hanum biasa ia dipanggil sedikit berbeda dengan news Anchor lain. Ia punya dua sisi yang berbeda. Setelah Robert Harianto sisi lainnya suka mengoleksi sneaker Air Jordan 1 dan punya konten sendiri, Hanum pun begitu. Satu sisi ia adalah jurnalis yang serius di televisi dengan membacakan berita, di sisi lain ia adalah orang yang selalu terlihat happy. Kok tahu? hampir semua podcast atau wawancara yang ia lakukan diluar pekerjaannya sebagai jurnalis saya sudah menontonnya. Kesimpulannya dia menginspirasi.

Awal film ini saya sedikit kaget dengan kalimat yang dikeluarkan Dinda yang diperankan oleh Aurelie. Ketika Kale sedang bermain piano, ia mengucapkan kata putus kepada Kale. Dalam pikiran saya "Kok ya langsung putus, ini pasti ceritanya beralur mundur dan maju,". Ternyata tebakan saya benar. 


Saya pikir, dalam film Kale ini ada Angkasa, Aurora dan Awan. Ternyata pemain filmnya ada 7 orang :
  1. Kale
  2. Dinda
  3. Hanum
  4. Tanta
  5. Roy
  6. Gilbert
  7. Argo
Dan yang paling banyak dialognya 
  1. Kale
  2. Dinda
  3. Hanum
  4. Tanta
  5. Argo 
Oke, balik lagi ke cerita, setelah Dinda minta putus sama Kale, kita diajak flashback pertemuan Dinda dengan Kale. Waktu itu Dinda masih menjadi bucinnya Argo dan menjalani hubungan yang toxic, tapi dia gak sadar, Argo ini kasar banget dah. Melihat itu, Kale turun tangan menjadi super heronya Dinda. 

"Kalau dia sayang sama kamu, dia gak kasarin kamu, Din," - Kale

"Kamu pantas dapat yang lebih baik," - Kale


Terdengar seperti buaya jantan, kan. Saat adegan ini gue ingat film Dilan 1990 yang membuat saya dan teman saya saling bertatapan dengan menghela napas.


Singkat cerita mereka akhirnya jadian di depan Circle K saat band Arah yang di manageri oleh Dinda tour. Kale saat itu menjadi additonal player untuk Arah. Saat Kale nembak Dinda memang terlihat seperti drama sekali.

Kemudian kita dibawa untuk kembali ke situasi Dinda minta putus ke Kale. Kale hanya bingung mengapa Dinda minta putus tiba-tiba. 

"Aku gak mau ada dihubungan ini," - Dinda.

"Gak ada, Le. Gak ada orang yang bisa bertanggung jawab atas kebahagiaan hidup kita selain diri kita sendiri," - Dinda


Terdengar seperti buaya betina bukan?
Setelah kale memaksakan kenapa Dinda minta putus. Akhirnya dia menjawab karena dia selingkuh dan ingin menikah. Tapi, dia tidak diketahui menikah dengan siapa, hanya saja, saat band Arah tour, Kale bertemu Argo di lift hotel tempat mereka menginap dan Kale terkejut. 

Kale menemui Dinda dan mempertanyakan apakah Argo mendatangi Dinda. Dengan menjelaskan singkat, Dinda hanya bilang kalau Argo pamit karena dia mau menikah.

Saya sebagai penonton berasumsi, Dinda akan menikah dengan Argo. 

Tidak lama setelah itu, Kale mengaku sudah bosan bermusik dan ingin menjadi managernya Arah.


Ternyata Film ini adalah awal cerita Kale menjadi buaya bagi Awan karena Kale di-buaya-in oleh Dinda. 

"Emang kita ini apa?"
"Kamu maunya apa?"


Film dari Angga Sasongko ini sejak film NKTCHI adalah kisah-kisah yang dekat kehidupan sehari-hari kita. Mulai dari :
  1. Usahakan apa yang ingin kita dapatkan
  2. Berani berpendapat
  3. Toxic Relationship
  4.  Sebuah hubungan seringkali tidak berjalan sesuai harapan dan bagaimana itu terjadi
Saat ini, kata TOXIC amat populer seantero negeri dan layak untuk dijual. Ditambah dengan visual yang estetik yang saat ini disukai berbagai usia. Film ini menurut saya cukup merakyat walaupun terlalu drama bagi saya pribadi. Dan tidak membuat penonton bingung untuk jalan ceritanya yang alur mundur.


Secara sosiologis, interaksi atas dasar romantisme cinta adalah rasional. Kalau kata Weber, sarana atau cara yang digunakan atau prinsip yang dipegang sejalan dengan ends. Nah, disini Kale memegang cara yang digunakan untuk menjalani suatu hubungan harus menjalin komunikasi yang terbuka dengan pasangannya. Tapi Kale belum tahu tujuan hubungannya kemana. Nah, Kale ini mengingatkan saya ke Self- Interaction kalau dia bertindak sebagai aku objek sekaligus aku subjek.

Nah, kalau Dinda anak konflik banget. Dengan berkonfliknya dia dengan Argo, mereka bisa nikah.

Tidak terlalu banyak ingat persoalan sosiologis saat ini. Jadi rindu kuliah dan diskusi haha.

Oke kita sudahi sampai di sini postingan review film Kale-kale-an yang ternyata di film ini menjadi sad boy.
Share:

0 comments:

Post a Comment